TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Rencana Dave


__ADS_3

"ARGHH..SIAL! BANGSAT! KENAPA HARUS DIA? KENAPA HARUS MEREKA LAGI?" Ken menjambak kasar rambutnya dan memukuli tiang pembatas rooftop restoran itu berulang kali.


Apa yang ia tahan selama menyamar menjadi pegawai restoran tadi, kini ia luapkan semuanya. Perasaannya seakan hancur berkeping-keping saat melihat pria yang akan dijodohkan dengan Elviana ternyata adalah Arzevin.


Pria itu, kakak dari perempuan yang sudah ia nodai hingga hamil anaknya. Lalu, apa ini salah satu hukuman yang harus ia terima? Apa ia harus menyerah atas Elviana dan membiarkan Arzevin menikah dengannya dan dia akan kehilangan wanita itu lagi seperti kesalahannya sebelumnya?


"Tidak! Tidak bisa! Ini tidak bisa terjadi! Tidak boleh! El milikku! Milikku!" Ken duduk memeluk tubuhnya sendiri sesekali menghapus air matanya kasar menggunakan telapak tangannya.


"Kenapa Kau mempermainkan hidupku seperti ini? Kenapa Kau membuatku bahagia sejenak lalu melemparku langsung ke dasar jurang? Apa aku tidak berhak bahagia? Hah? Katakan sesuatu!" Tanya Ken sambil memandang ke langit seolah berbicara kepada sang Pencipta.


"Akhirnya aku menemukanmu." Ucap Dave yang baru muncul dengan nafas terengah-engah.


"Pergilah! Aku sedang ingin sendiri!" Titah Ken datar.


"Tidak bisa! Aku tahu isi otakmu, kau pasti berencana lompat dari sini untuk mengakhiri hidupmu." Dave duduk di samping kakak tirinya itu sambil melepaskan kain pengikat kepala serta kacamata yang ia kenakan tadi.


"Ini, minumlah!" Dave menyerahkan sebotol bir pada Ken.


Ken menerima bir tersebut dan menenggaknya kasar.


"Well, tadi itu pertahanan yang bagus! Kau masih bisa bersandiwara hingga tugas kita selesai meski apa yang kita rencanakan tidak terwujud dan sempat hampir gagal di awal!" Dave juga meneguk bir miliknya.


Ken diam dan terus saja menenggak bir yang dibawakan Dave. Dave tidak hanya membawa satu atau dua botol, tapi beberapa botol.


"Ken, aku tanya padamu dan kau jawab jujur!" Dave merebut botol bir yang Ken pegang dan satu tangannya mencengkram dagu kakak tirinya itu agar menatapnya.


"Apa kau mencintai El?" Tanya Dave serius.


Ken mengangguk.


"Lalu kenapa kau selalu menghindarinya?" Tanya Dave lagi.


"Karena aku merasa tidak layak untuknya. Aku hanya seorang desainer pemula, sedangkan dia model yang sedang naik daun dan juga putri dari seorang konglomerat." Jawab Ken sendu.


"Jika kau tidak percaya diri karena harta, aku bisa memberimu setengah dari asetku! Tapi apa kau yakin kau berani melawan keluarga Anthony? Kau berani melawan Daddy Darvin dan Arzevin?" Tanya Dave memancing.


Ken terdiam sejenak.

__ADS_1


"Sudah kuduga kau tidak akan berani!" Dave kembali meneguk bir miliknya.


"Ken, saat kau yakin kau menginginkan seseorang itu, kau harus berani melakukan apapun untuk mendapatkannya. Jika cara baik-baik tidak bekerja, kau bisa gunakan cara kotor! Aku bukan mengajarimu untuk berbuat kriminal, tapi ada kalanya cara kotor lebih efektif untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Ken, kau sudah meniduri El, jika kau beritahukan pada orang tuanya ataupun pada keluarga Anthony, apa kau yakin mereka masih akan mengijinkan El menikah dengan Arzevin?" Tanya Dave mencoba menghasut.


"Tidak! Tidak cara itu, Dave! Meski aku menginginkan El, tapi tidak dengan cara itu! Itu sama saja aku merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita. Aku tidak bisa!" Jawab Ken gelisah.


"Bagus! Itu yang aku ingin dengar! Itu artinya kau tulus padanya. Aku akan memberimu ide lain, tapi berjanjilah padaku kau harus ikuti semua aturan dan permainan yang akan aku susun! Hanya kita yang tahu, tidak orang lain, bahkan istriku sendiri!" Ucap Dave menatap serius kakak tirinya.


"Tapi jangan sampai melukai El apalagi keluarga Anthony! Aku tidak ingin menyakiti siapapun." Ucap Ken menunduk.


"Tegakkan kepalamu! Seorang pria tidak menunduk!" Titah Dave dengan lantang.


Ken sontak mengangkat kepalanya.


"Hanya ini rencana yang tersisa jika kau tidak ingin melawan secara terang-terangan. Jika kau setuju, aku akan membantumu! Jika tidak, kita pikirkan jalan lain!" Tegas Dave.


"Aku ikut! Semua, apapun caranya, aku ikut!" Sahut Ken yakin.


"Bagus! Satu minggu dari sekarang kita persiapkan semuanya!" Dave melakukan toast botol birnya dengan milik Ken.


Ken kembali meneguk bir miliknya hingga tandas.


Mereka beranjak turun dari rooftop itu menggunakan lift yang tersedia dan langsung menuju ke tempat parkir.


"Ken!" Suara Elviana terdengar memanggil Ken.


Dave dan Ken yang hendak masuk ke dalam mobil sontak berbalik.


Elviana segera berlari dan berhambur memeluk Ken.


"Aku merindukanmu." Ucap Elviana yang sedari awal sudah menyadari penyamaran Ken dan Dave.


Ken menoleh ke arah Dave dan Dave menggeleng memberikan kode. Ken memegang kedua pundak Elviana dan memaksa Elviana melepaskan pelukannya.


"Kita selesai El! Kau sendiri yang menginginkan itu. Jadi semoga kau bahagia dengan Arzevin!" Ucap Ken memasang senyum palsu.


"Tidak Ken! Aku tidak ingin menikah dengannya!" Bantah Elviana kembali ingin memeluk Ken, namun Ken segera menghindar.

__ADS_1


"Stop! Kau akan segera menjadi istri pria lain, jadi usahakan jaga tingkah lakumu!" Titah Ken serius.


Tett...


"Cepatlah!" Dave sengaja membunyikan klakson mobilnya agar Ken tidak kembali melemah.


"Ken, aku mohon jangan seperti ini!" Pinta Elviana meraih tangan Ken namun segera Ken tepis.


"Semoga kau bahagia! Dan jika kau mengandung anakku kelak, aku akan tetap bertanggung jawab." Ucap Ken dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Ken, aku mohon dengarkan aku! Ken.." Pinta Elviana memukul kaca jendela mobil Dave.


Dave segera menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran.


"Ken..aku mohon dengarkan aku! Ken...." Elviana mengejar mobil Dave yang sudah melaju pergi hingga ia lelah dan terduduk di aspal jalanan.


"Ken..maafkan aku..aku hanya mengujimu. Aku tidak benar-benar menginginkan perpisahan kita!" Ucap Elviana terisak.


•••••••••••••••••••


"Jangan lemah Ken! Ini hanya sebentar!" Bujuk Dave yang sedikit merasa bersalah karena harus menyiksa dua sejoli itu.


"Em.." Ken hanya berdehem singkat.


"Mulai besok kita latihan fisik! Aku tadi sempat mendengar, pernikahan itu akan dilaksanakan dua bulan lagi dan itu artinya kita masih punya banyak waktu. Jangan menyerah Ken! Aku yakin kau bisa!" Ucap Dave meyakinkan kakak tirinya itu.


"Terima kasih! Meski aku selalu menyusahkanmu, pada akhirnya kau yang ada untuk mendukungku." Ucap Ken dengan suara hampir tenggelam.


"Cih..jangan ucapkan kata-kata menjijikkan itu. Ingatlah, kita itu saudara meski beda Ayah tapi kita lahir dari rahim yang sama. Aku hanya melakukan apa yang wajib aku lakukan sebagai seorang adik." Dave meninju pelan pundak Ken.


Ken sedikit terkekeh.


"Jangan bersedih, okay! Sandiwara ini hanya sebentar! Setelah itu yakinlah, El akan menjadi milikmu seutuhnya." Bujuk Dave lagi mengacak rambut Ken yang memang sudah sedikit berantakan.


Ken mengangguk kecil.


"Milikku tetaplah milikku! Tidak ada yang boleh memilikinya kecuali aku sudah mati!"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2