TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Elviana berulah


__ADS_3

"Hans, apa kau jadi menjemput Daddy dan Mommy di bandara?" Tanya Arzena yang sibuk menyusui kedua bayi kembarnya. Arzena terpaksa memberikan sufor tambahan karena ASInya tidak cukup sedangkan bayi kembarnya sangat kuat menyusu.


"Pasti sayang" Hansen sedari tadi memperhatikan bagaimana senangnya kedua bayi yang sudah genap dua bulan itu menyusu.


"Apa nanti mereka akan menginap di sini?" Tanya Arzena penuh harap.


"Sepertinya begitu. Mommy bilang dia ingin sekali tidur bersama cucu-cucunya malam ini" jawab Hansen yakin. Sekalipun kedua mertuanya tidak menginap di rumahnya ouny, ia akan memaksa kali ini. Jujur saja Hansen sudah sangat merindukan istrinya karena selama dua bulan ini mereka benar-benar fokus pada si kembar saja.


"Semoga saja." Arzena tersenyum dan meletakkan botol susu si kembar ke atas nakas. Untungnya hari ini hari sabtu, jadi jadwal Hansen tidak ada dan ia bisa membantu istrinya sebelum nanti pergi menjemput kedua mertuanya.


"Sayang, tolong jaga twins dulu. Aku gerah, ingin mandi" Arzena beranjak mengambil handuk dan bathrobe lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Twins, maukah kalian membantu Daddy? Ayo, Daddy tahu kalian menyayangi Daddy dan Mommy kan? Maka sekarang tidurlah!" Hansen dengan penuh keyakinan membujuk kedua bayi kembarnya untuk tidur. Dan benar saja, beberapa menit kemudian Hana dan Kenzie pun tertidur.


Hansen segera mengunci pintu kamarnya dan setelah itu ia segera menyelinap masuk ke dalam kamar mandi. Hansen menggunakan kesempatan yang ada untuk meluapkan rasa rindunya pada sang istri.


"Hans..." Arzena menggeliat saat merasakan cumbuan suaminya.


"I miss you" bisik Hansen dengan suara sensual.


"Em..aku juga merindukanmu" Arzena berbalik dan membalas cumbuan suaminya.


"Hans, untuk sekarang lakukan dengan cepat! Aku tidak ingin Hana dan Kenzie tiba-tiba terbangun dan menangis karena kita tidak ada" pinta Arzena.


"Sure, cepat tapi tetap menikmati" Hansen pun segera melakukan penyatuan dengan istrinya. Suara erangan erotis keduanya memenuhi kamar mandi. Setengah jam berlalu dan akhirnya mereka mendapatkan pelepasan.


"Thanks baby" Hansen kembali mengecup kening dan bibir istrinya penuh cinta.

__ADS_1


"Terima kasih kembali" Arzena tersenyum manis karena percintaan mereka yang sangat bergairah meski dilakukan dengan cepat. Keduanya segera membersihkan tubuh mereka dan keluar dari kamar mandi.


"Sayang, sepertinya aku harus pergi lebih cepat" Hansen menunjukkan ponselnya yang terdapat laporan mengenai kemacetan lalu lintas.


"Ya sudah, kau hati-hati" Arzena mengecup pipi suaminya dibalas kecupan kening dari Hansen.


"Kau istirahat saja sementara twins juga tidur. Nanti aku bangunkan setelah kami sampai" Hansen pun pergi meninggalkan istri dan kedua bayinya.


••••••••••


"Ken, kau mau kemana?" Tanya Elviana penasaran.


"Keluar sebentar" jawab Ken seadanya.


"Kemana? Menemui perempuan itu lagi?" Tanya Elviana geram. Untung saja mereka sudah tinggal terpisah dari Dave dan Arvina, jadi mereka tidak akan mendengar perdebatan mereka.


"Ken, aku juga bisa memberimu anak. Kenapa harus menemuinya terus. Ah, atau jangan-jangan kalian sudah membuat anak lain di belakangku?" Tuduh Elviana lagi.


PLAKK


Untuk pertama kalinya Ken menampar istrinya.


"Jaga ucapanmu El! Zena bukan wanita hina seperti itu! Jika semuanya bukan karena kesalahanku, apa kau pikir Zena sudi mengandung dan melahirkan benihku? Berhenti merendahkan wanita sebaik Zena!" Ken bahkan menunjuk wajah istrinya sekarang.


"Lihatlah! Kau bahkan menamparku dan membelanya. Sebenarnya siapa istrimu sekarang Ken?" Tanya Elviana dengan mata memerah.


"Istriku hanya kau! Tapi aku minta kau juga bisa menghargai Ibu dari anak-anakku. Coba posisikan dirimu menjadi Zena, maka kau akan tahu bagaimana rasa sakit itu!" Tekan Ken dengan nada melemah. Sangat sulit meyakinkan Elviana.

__ADS_1


"Hamili aku Ken! Aku bisa memberimu anak-anak yang lebih lucu darinya" Elviana kini bersimpuh memeluk kaki Ken.


"Kau memintaku menghamili dirimu? Lucu sekali. Kau pikir bagaimana kau bisa hamil jika setiap hari kau meminum pil sialan itu setelah kita bercinta?" Ken menarik kakinya lalu menjauh dari Elviana.


"Kau..kau tahu semua itu?" Tanya Elviana gelagapan.


"Aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu El! Aku benar-benar tidak tahu sekarang apa kau benar-benar mencintaiku atau hanya karena obsesi karena aku selalu menolakmu dulu. Jadi, dinginkan pikiranmu dan pikirkan baik-baik kelanjutan hubungan kita" Ken memilih pergi dari rumah meninggalkan Elviana. Ken mengendarai mobilnya menembus keramaian kota hingga ia sampai di rumah Hansen.


Para pelayan rumah Hansen sudah mengenalnya, jadi tidak ragu lagi untuk mengijinkan Ken masuk ke dalam rumah.


"Apa Hansen dan Zena ada?" Tanya Ken tersenyum menutupi hatinya yang gusar.


"Ada. Tuan Ken duduk saja dulu. Biar aku buatkan minum, nanti aku akan memanggil Nyonya" seorang pelayan menjawab sopan. Ia pun pergi dari hadapan Ken menuju ke dapur.


Ken memutuskan untuk mengelilingi rumah Hansen. Rumah yang tidak terlalu besar namun memiliki fasilitas yang mumpuni. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Ken sangat tahu itu ruangan apa karena ia pernah masuk ke sana sebelumnya. Perlahan ia pun mendekati pintu itu dan membukanya. Tampaklah Arzena dan kedua bayi kembarnya yang sedang tertidur di dalam box bayi.


Ken mendekati box bayi dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Ia tersenyum melihat Hana dan Kenzie yang begitu menggemaskan. Hana begitu mirip dengan wajahnya, dan Kenzie lebih mirip Arzena.


"Little, kau mendapatkan Ayah dan Ibu yang tepat. Setidaknya Daddy Hansen tidak pernah cemburu saat aku menemui Ibu kalian karena ingin melihat kalian" gumam Ken mengelus pipi gembul Hana.


"Em..." Arzena berdeham pelan dan perlahan membuka matanya.


"Ken? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arzena langsung menarik selimut menutupi tubuhnya. Arzena panik dan sedikit takut. Ia hanya mengenakan gaun tidur yang tipis dan Hansen sedang tidak di rumah.


"Ma-maaf, aku tidak berniat buruk. Aku tadi hanya melihat pintu kamarmu terbuka dan aku masuk untuk melihat twins. Maaf" Ken membungkuk beberapa kali dan segera keluar dari kamar Arzena. Ken memutuskan untuk segera pergi dari rumah Hansen karena tidak ingin membuat Arzena semakin tidak nyaman.


"Ken, tunggu! Jangan pergi!"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2