TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Kebahagiaan


__ADS_3

"ARVINA..."


"A-ada apa Drick?" Tanya Arvina cemas dan menghampiri Drick yang berdiri di depan pintu sambil mengatur kembali nafasnya yang tidak teratur.


"Istriku...Raina..."


"Iya..aku tahu kak Raina istrimu. Kenapa dengannya?" Tanya Arvina mencoba untuk tenang.


"Dia..." Drick berjalan masuk melewati Arvina dan menghampiri Dave. Tanpa mengatakan apapun lagi Drick langsung memeluk Dave yang masih terbaring lemah sambil menangis sesenggukan.


"Ada apa dengan kak Raina?" Bentak Arvina menarik Drick menjauh dari Dave. Drick tiba-tiba tersenyum dan menghapus air matanya.


"Raina sudah melahirkan dan anak kami seorang putra. Dia sangat tampan sepertiku. Raina juga sudah membaik" Drick hendak memeluk Arvina namun tangannya dicekal oleh Dave.


"Jangan sentuh istriku!" Titah Dave lemah dengan mata yang masih terpejam.


"Kau ini! Aku pikir kak Raina kenapa-kenapa tadi!" Arvina mencubit lengan Drick lalu meninju perut pria itu cukup kuat.


"Arghh...kenapa kau begitu kejam?" Drick mengerang kesakitan yang sebenarnya hanya dilebih-lebihkan.


"Pergi sana! Bukannya menemani istrimu malah datang kemari untuk berbuat drama" Arvina menggerutu namun ia juga bernafas lega mendengar kabar Raina sudah membaik.


"Cih...bukannya memberi selamat, malah mengasariku" Drick turut menggerutu.


"Seharusnya kau yang berterima kasih pada Dave" timpal Arvina.


"Ya ya..terima kasih Tuan Dave Alexon! Jika bukan karena bantuanmu, aku tidak tahu apa jadinya dengan istriku sekarang" Drick menggaruk tengkuknya. Dave mengibaskan tangannya.


"Aku perlu istirahat" ucap Dave lemah.


"Em...jika kau sudah lebih baik nanti datanglah untuk melihat putraku" Drick pun keluar sambil bersiul girang.


"Pria itu benar-benar menjijikkan. Aku heran kenapa kak Raina bisa mencintainya dengan mudah" Arvina berguma dan kembali mendampingi Dave.


"Bukankah dulu kau juga mengatakan aku iblis, aku jahat? Tapi sekarang kau juga sangat mencintaiku" Dave meraih tangan Arvina dan memeluknya seperti guling.


"Itu kan dulu" Arvina tersenyum kaku mendengar sindiran suaminya. Dave kembali tertidur.


"Kau sebenarnya adalah pria yang baik. Hanya saja karena kebodohanku saat itu, kau menjelma menjadi iblis yang jahat dan mengusahakan segala cara untuk mendapatkan apa yang kau mau. Terima kasih Dave, setidaknya sekarang semuanya jauh lebih baik dan masing-masing sudah mendapatkan kebahagiaannya" batin Arvina tersenyum.


••••••••••

__ADS_1


"Drick..." Panggil Raina dengan suara lemah.


"Iya sayang?" Drick sedikit tersentak karena ia hampir tertidur. Sejak Raina dipindahkan ke ruang perawatan, Drick setia duduk di samping istrinya sementara Jack dan Liz ia paksa kembali ke rumah untuk beristirahat.


"Dimana baby boy kita?" Tanya Raina pelan.


"Dia sedang di ruang perawatan khusus bayi. Besok jika kondisi kalian sudah stabil, baru kalian bisa digabungkan ke dalam satu ruangan" jelas Drick yang tak berhenti tersenyum.


"Siapa namanya?" tanya Raina lagi dengan senyuman.


"Etan. Aku ingin menamai dia Etan Drick Junior" Drick mengecup kening Raina.


"Etan Drick Junior. Nama yang bagus" Raina menatap kagum pada suaminya. Pria yang tidak pernah ia sangka-sangka akan menjadi suaminya.


"Apa kau lapar? Ingin makan sesuatu?" Tanya Drick sedikit cemas.


"Tidak. Aku tidak lapar" Raina kembali tersenyum.


"Ya sudah, ayo istirahat lagi" Drick kembali mendampingi istrinya hingga terlelap.


Matahari sudah menampakkan wajahnya, Drick sebenarnya merasakan lelah yang sangat luar biasa, tapi dia harus kuat demi istrinya. Sementara Raina terlelap ia memutuskan untuk keluar menuju ke ruang perawatan khusus bayi.


"Ada apa Tuan?" Tanya seorang perawat yang baru keluar dari ruangan itu.


"Kondisi baby E sudah sangat membaik. Setelah memastikan keadaan Ibunya nanti, baru kami akan mengambil keputusan untuk menyatukan mereka" perawat itu menunduk sopan.


"Boleh aku masuk ke dalam?" Tanya Drick.


"Silakan, tapi kenakan dulu pakaian steril yang tergantung di sana" sang perawat menunjuk ke arah jejeran jas plastik yang tergantung di dalam sterilisator khusus.


"Terima kasih" Drick pun melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Setelah selesai mengenakan pakaian yang diharuskan, Drick mendekati bayinya.


"Hey Etan. Selamat datang ke dunia, sayang. Daddy bangga memilikimu. Kau tahu? Jika bukan karenamu, Daddy mungkin tidak pernah bisa mendapatkan Mommymu. Daddy bangga padamu" Drick mengusap kening bayinya dengan berhati-hati dan sangat pelan.


"Segeralah pulih agar kau bisa segera bertemu Mommy" Drick mengecup kening bayinya dan memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.


"Hei..." Suara Arvina menghentikan langkahnya yang hendak kembali ke ruangan Raina. Saat ia berbalik, Arvina sudah bersama Dave yang terlihat jauh lebih segar


"Bagaimana keadaan bayimu?" Tanya Arvina.


"Kata perawat kondisinya sudah jauh lebih baik. Jika nanti siang menunjukkan peningkatan, maka ia akan segera bergabung dengan Raina" Drick tersenyum. Pria keras itu benar-benar menjadi sangat melow sekarang. Tidak seperti saat ia menggenggam senjata dan menembaki semua musuh-musuhnya.

__ADS_1


"Em...semoga cepet membaik. Maaf, aku harus membawa Dave pulang dulu. Nanti kami datang lagi setelah Dave benar-benar pulih" pamit Arvina.


"Em...sekali lagi terima kasih untuk kalian"


"Santai bung..." Dave mengacungkan jempolnya. Ia dan Arvina pun pergi setelah mendapatkan izin dari Drick.


"Aku juga butuh istirahat meski sebentar saja" Drick melangkah kembali ke ruangan Raina untuk sekedar memejamkan matanya.


••••••••••


"Ken, kau mau kemana?" Tanya Elviana yang melihat Ken sudah tampil rapi.


"Aku mau ketemu dengan klien, dan setelah itu aku ingin ketemu dengan Hana dan Kenzie" Ken tersenyum begitu lebar saat menyebut nama kedua bayi kembar itu. Berbeda dengan Elviana yang justru mengepalkan tangannya.


"Aku mau ikut" Elviana berusaha memamerkan senyum terbaiknya.


"Boleh. Ayo segera ganti pakaianmu" Ken kembali mengenakan sepatunya.


"Tidak! Aku begini saja, tidak memalukan kok" Elviana beranjak mengambil tasnya lalu mengenakan sneskernya. Setelahnya mereka pun pergi untuk bertemu dengan klien Ken di sebuah restoran China.


Sesampainya di sana, Ken segera membahas poin penting pertemuannya dengan kliennya tanpa ingin basa basi sementara Elviana menyimak dengan hati yang dongkol. Entah kenapa wanita itu sulit sekali menerima kenyataan bahwa suaminya begitu bahagia jika sudah membahas sesuatu yang berkaitan dengan si kembar.


Selesai dengan pertemuan itu, Ken dan Elviana pun segera melaju ke rumah Hansen.


"Ken, aku mau melakukan pemeriksaan minggu ini, kau bisa menemaniku?" Tanya Elviana dengan niat mengingatkan suaminya bahwa ia juga tengah mengandung.


"Tentu saja sayang. Aku tadi baru mau menawarkan" Ken meraih tangan istrinya ke dalam genggamannya.


"Sudah sampai" keduanya pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Hansen.


"Dad, Mom?" Sapa Ken pada Darvin dan Zevina yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Hansen dan Arzena. Mereka sedang bercanda dengan si kembar.


"Hai Ken..." Kedua orang tua itu menyambut Ken dan Elviana begitu juga dengan Hansen.


"Zena, aku ingin bicara denganmu"


...~ TO BE CONTINUE ~...


#####


..._____ CUSSS MAMPIR KUY ____...

__ADS_1




__ADS_2