
"Sayang, bangunlah!" Titah Dave lembut sambil mengelus pipi istrinya.
"Engh..." Arvina mengerang kecil dan membuka matanya perlahan.
"Ada apa?" Tanya Arvina yang malah memeluk pinggang Dave manja.
"Ayo, kita makan dulu. Dari pagi kau belum makan apapun." Ajak Dave sambil mengelus kepala Arvina.
"Boleh suapi aku?" Tanya Arvina pelan dan memasang wajah imutnya.
"Tentu saja. Sebentar." Dave membantu Arvina untuk duduk bersandar pada kepala ranjangnya.
Dave kemudian turun dari ranjang untuk mengambil makanan yang ia letakkan di meja set sofanya tadi.
Dave melipat kedua kakinya dan menjadikan kedua kakinya sebagai penyangga nampan makanannya.
Dengan telaten Dave menyuapi istrinya dan dirinya sendiri.
"Ada apa? Apa kau sakit?" Tanya Dave khawatir setelah mereka selesai makan.
"Tidak. Hanya sedikit lelah." Jawab Arvina sambil meneguk air yang Dave berikan tadi.
"Ya sudah, kau istirahat lagi saja." Titah Dave lembut dan tangannya terulur membelai wajah istrinya.
"Tapi aku sudah tidak mengantuk sekarang." Sahut Arvina bergeser mendekati suaminya.
"Bagaimana kalau kita menabung saja?" Tanya Dave nakal.
Arvina mengangguk pelan dengan wajah merona malu.
Dave dengan lembut mulai melahap bibir ranum istrinya dengan posisi mereka masih duduk.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamar dari luar menggagalkan aksi Dave yang ingin menjelajahi leher jenjang istrinya.
"Arghh..kenapa harus ada yang mengganggu?" Erang Dave kesal karena harus menghentikan kegiatan mereka yang belum seberapa.
Arvina terkekeh geli melihat suaminya menekuk wajahnya karena kesal.
"Sudah, lihat dulu siapa dan ada apa?" Titah Arvina mendorong pelan suaminya.
Dave menurut dan turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamarnya.
"Ada apa Amy?" Tanya Dave setelah membuka pintu kamarnya.
"Ma maaf Tuan karena sudah mengganggu. Tuan Hansen sedang menunggu di bawah bersama seorang dokter." Jawab Amy merasa tidak enak hati karena sudah mengganggu mereka.
"Baiklah, aku turun sebentar lagi." Dave tanpa menutup pintu lalu berbalik berjalan kembali mendekati Arvina.
Amy sudah pamit undur terlebih dulu.
"Sayang, sepertinya dokter yang akan merawat Daddy sudah datang. Aku harus turun untuk melihatnya, kau istirahat saja." Ucap Dave lembut.
"Uhm...sayang, aku ikut. Aku rasa aku perlu tahu bagaimana keadaan Daddy yang sebenarnya karena nanti pasti aku akan terlibat dalam merawat Daddy." Pinta Arvina tulus.
Dave tersenyum melihat ketulusan istrinya.
"Baiklah, ayo!" Dave mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Arvina.
Mereka pun segera keluar dari kamar dan turun ke bawah.
"Hai bung, hai kakak ipar." Sapa Hansen memeluk Dave singkat.
Arvina hanya membalas dengan senyuman, tidak mungkin memeluk atau dipeluk Hansen.
Di ruang keluarga sudah ada Jeymian, Ken, Hansen, dan seorang dokter lelaki yang masih muda, mungkin seumuran dengan Hansen.
"Kenalkan Dave, ini dokter Bryn. Dia adalah dokter spesialis syaraf terbaik saat ini." Jelas Hansen sambil merangkul dokter muda di sampingnya.
__ADS_1
"Dave." "Bryn." Dave mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh dokter Bryn.
"Bryn." "Arvina." Bryn mengulurkan tangannya terlebih dulu dan disambut hangat oleh Arvina.
Bryn menggenggam tangan Arvina cukup lama dan erat, tak lupa mengunci kedua manik teduh itu.
"Ekhem.." Deheman kasar Dave membuat Bryn tersadar dari lamunannya dan langsung melepas tangan Arvina.
"Jadi, apa yang perlu di lakukan untuk memeriksa keadaan Daddy ku?" Tanya Dave sambil menarik Arvina lembut untuk duduk di samping Jeymian.
Hansen dan Bryn kembali duduk dan berhadapan dengan ke-empat orang itu.
Ken menunduk, takut melihat Hansen.
"Well..jika tidak keberatan, aku akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk bisa mengetahui secara spesifik gangguan apa yang dialami oleh Tuan Jeymian." Ucap Bryn sesekali melirik kepada Arvina.
"Lakukan saja yang terbaik! Aku akan membayar mahal untuk hasil kerjamu, jika Daddy ku bisa kembali pulih seperti dulu." Titah Dave dingin dan merengkuh posesif pinggang istrinya agar mendekat kepadanya.
"Baiklah!" Jawab Bryn dengan nada yang terdengar seperti sedang cemburu.
Bryn kemudian mengeluarkan beberapa peralatan yang sudah ia bawa dan langsung memeriksa Jeymian dengan teliti.
Proses pemeriksaan berlangsung kurang lebih satu jam.
"Syaraf kaki Tuan Jeymian belum mengalami kerusakan yang parah. Sepertinya racun yang diserap oleh syarafnya pun masih dalam kadar rendah namun efeknya memang cukup besar. Yang perlu dilakukan adalah, memberikan rangsangan kepada syaratnya yang hampir mulai lumpuh sempurna. Hanya saja semua itu tidak bisa dikatakan mudah." Jelas dokter Bryn.
"Lakukan saja yang terbaik!" Titah Dave dingin.
"Aku akan melakukan yang terbaik sesuai yang kau inginkan, Tuan Dave." Sahut Bryn masih berusaha melirik Arvina.
"Dave, malam ini biarkan Bryn beristirahat saja dulu. Kita bisa mulai pengobatannya besok." Ucap Jeymian.
"Baik Dad, jika mau Daddy begitu. Amy, tolong bawa dokter Bryn ke kamar tamu!" Jawab Dave, kemudian memberi perintah kepada Amy.
"Dad, kami kembali ke kamar." Pamit Dave dingin dan langsung merangkul Arvina meninggalkan ke empat orang itu dan kembali ke kamarnya.
"Maafkan aku." Pinta Arvina memeluk suaminya.
Ia tahu, Dave sedang cemburu.
"Kita istirahat saja! Kau juga pasti sudah lelah." Dave mengangkat Arvina dan membaringkan Arvina di atas ranjang dengan hati-hati.
"Kita berperang nya nanti subuh saja." Ucap Dave mencium gemas hidung istrinya berulang kali.
"Baiklah Tuan Alexon. Apa maumu saja." Sahut Arvina memeluk tubuh kekar itu.
Mereka memilih hening dan segera mengistirahatkan tubuh serta otak yang sudah lelah.
########
Malam telah berlalu dihalau oleh cahaya mentari hangat.
Hal itu tidak membuat dua insan yang sedang bertarung panas di atas ranjang terusik sedikitpun.
Sesuai janjinya tadi malam, Dave menggerayangi tubuh istrinya tadi subuh dan berakhir dengan pertarungan panas yang kini sudah tidak tahu kali ke berapa mereka mengulanginya.
Menabung, itulah yang yang disebut Dave.
"Sayang..uhm..kita akhiri dulu. Ini sudah pagi." Pinta Arvina yang berada di bawah kungkungan Dave.
"As your wish, babe." Dave semakin mempercepat gerakannya.
"Arghh.." Dave mengerang puas setelah kembali melepaskan benihnya yang kesekian kalinya di dalam rahim istri tercintanya.
Dave tumbang di samping istrinya, nafas mereka tidak beraturan.
"Ayo, mandi bersama." Dave sigap menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
Mereka segera menyelesaikan ritual pagi mereka, karena memang Angelo juga akan datang pagi ini untuk menjemput Ken.
__ADS_1
Selesai mereka mandi, mereka segera keluar dari kamar mandi dan mengenakan pakaian.
Arvina memilih warna senada untuk baju Dave dan dressnya.
Arvina mulai terbiasa mengenakan dress sejak ia menikah dengan Dave, karena memang delapan puluh persen pakaiannya adalah dress berkat suaminya.
Selesai bersiap, mereka langsung keluar dari kamar dan turun ke bawah.
Dave menggandeng posesif tangan Arvina.
"Angie.." Sapa Arvina girang saat melihat Angelo sudah berada di ruang keluarga dan sedang menunggu mereka.
"Hai sweetie. Apa kabarmu?" Tanya Angelo dengan gaya gemulainya dan memeluk singkat Arvina.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Tanya Arvina girang.
"Aku. sangat luar biasa. Kau tahu, istriku sedang hamil anak ketiga kami." Ucap Angelo bahagia.
"Selamat untuk kalian." Ucap Arvina bahagia, Arvina tidak lagi bersedih mengingat sakitnya.
Bukan tidak, ia hanya ingin menjadi kuat dan mensyukuri setiap keadaannya. Toh, Dave saja sangat positif dengan masa depan mereka, jadi ia juga harus begitu.
"Hai, Tuan Jey." Sapa Angelo yang melihat Jeymian mendekat dengan Ken yang mendorong kursi rodanya.
"Hai.." Balas Jeymian tersenyum hangat.
"Well, bagaimana kalau kita sarapan dulu?" Tanya Arvina sopan.
"Um, aku tidak ikut. Aku sedang diet sarapan." Jawab Angelo
Arvina mengernyit bingung.
"Akh, hanya para banci yang tahu akan hal ini." Ucap Angelo tersenyum konyol kepada Dave yang sering memanggilnya banci.
"Um, ya sudah. Kalau begitu aku juga pergi denganmu sekarang saja." Ucap Ken serius.
"Ken, kenapa terburu-buru?" Tanya Jeymian.
"Tidak apa Dad, aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatanku." Jawab Ken tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Ayo." Ajak Angelo.
"Ken, kau pasti bisa. Kau harus bisa!" Ucap Arvina mengacak rambut Ken.
"Terima kasih." Ucap Ken terharu.
Dave menarik Arvina dan memeluknya posesif.
"Pergilah! Jangan kembali sebelum kau berhasil! Aku tidak ingin punya saudara yang lemah dan selalu gagal." Ucap Dave menyembunyikan rasa sedihnya.
Dave punya cara sendiri untuk mengungkapkan rasa sayangnya kepada orang-orang disekitarnya.
"Cih..aku akan buktikan kalau aku bisa melebihi dirimu." Ucap Ken angkuh untuk menyemangati dirinya.
"Kau harus bisa! Karena kau adalah seorang kakak." Sahut Dave.
"Sudah sudah. Ayo, kita pergi sekarang. Nanti saja aku akan mentraktir mu sarapan." Ajak Angelo.
"Aku pergi dulu, Dad." Pamit Ken memeluk singkat Jeymian.
"Berhati-hatilah." Ucap Jeymian tulus.
"Aku pergi dulu. Aku akan kembali dan membuat kalian bangga padaku. Segeralah punya bayi lucu agar aku bisa menjadi desainer pribadinya." Ucap Ken haru.
Angelo beranjak terlebih dulu dan dengan berat hati Ken pun berbalik meninggalkan mansion itu demi impian dan masa depannya.
"Kau pasti bisa, lemah!" Batin Dave menatap punggung Ken yang semakin menjauh.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1