TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Firasat Darvin


__ADS_3

London, Inggris.


Keesokan harinya


"Bagaimana?" Tanya Darvin cemas.


Ia kembali menghubungi Keanu setelah kemarin meminta bantuan dari Keanu untuk memantau keadaan putri kembarnya.


"Maaf, tapi harus kukatakan ini. Kedua putrimu tidak berada di rumah yang kau sebutkan. Hanya ada lelaki yang kau asuh itu keluar masuk dari rumah mu." Jelas Keanu.


Darvin mulai gusar.


"Lalu kemana mereka?" Gumam Darvin cemas.


"Orang-orang ku sudah mencari di hampir setiap sudut kota Sydney, tapi tidak menemukan mereka." Keanu menimpali.


Wajar saja Keanu sulit menemukan Arvina dan Arzena mengingat orang-orang Dave bertebaran di Sydney dan juga pergerakan Dave saat membawa Arvina dan Arzena sangat halus.


"Astaga, apa yang sudah terjadi sebenarnya?" Gumam Darvin frustasi.


"Darv, tenanglah sedikit. Jangan berprasangka dulu. Aku akan mencoba mencari lagi. Jika masih tidak menemukan mereka, maka aku akan menanyai anak lelaki itu. Aku rasa dia pasti tahu sesuatu." Ucap Keanu mencoba menenangkan Darvin.


"Terima kasih Ke, aku mengharapkan mu. Aku tidak bisa melakukannya sendiri saat ini karena harus menenangkan Zev dan juga perusahaan ku sedang mendapatkan proyek besar." Jelas Darvin.


"Santai bung. Kau bisa mengandalkan ku kapanpun." Ujar Keanu menimpali.


"Sekali lagi, terima kasih." Ucap Darvin dan panggilan pun diakhiri setelah mendapat jawaban dari Keanu.


"Darv, ada apa?" Tanya Zevina memeluk suaminya dari belakang.


"Maaf, tapi aku harus katakan ini. Putri kita menghilang." Ucap Darvin langsung berbalik dan memeluk erat istrinya.


"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa?" Tanya Zevina terisak.


"Tenanglah sedikit sayang. Jangan panik dulu, aku tahu kenyataan ini sangat berat. Tapi kita juga perlu tenang. Aku sudah meminta bantuan dari Keanu untuk mencari mereka." Jelas Darvin menenangkan istrinya.


"Aku takut Darv. Bagaimana kalau putri kita?" Zevina tidak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Sstt..yakinlah putri kita akan baik-baik saja." Ucap Darvin walau ia sendiri juga ragu.


"Jangan sampai kedua putri ku disakiti oleh orang yang tidak bertanggung jawab, atau aku tidak segan akan menghabisi mereka semua." Batin Darvin menahan emosinya.


Ia jelas tidak mungkin mengatakan sesuatu yang terlalu buruk tentang firasatnya, atau istrinya akan bersedih sejadi-jadinya.


•••••••••••••


Sydney, Australia


Jika di London saat ini adalah siang hari, maka di Sydney saat ini sudah memasuki malam hari.


Dan jika di London kedua orang tua mereka sedang mencemaskan mereka, maka di Sydney Arvina baru saja selesai berjuang membantu adiknya yang kembali sakaw.


Dokter Hansen memang membantu nya, namun tetap saja mereka kesulitan.

__ADS_1


"Apa-apaan? Itu cara yang kau bilang ampuh?" Gerutu Arvina kesal.


Bahkan lengan Arvina sudah terluka akibat cakaran dan cengkeraman Arzena tadi.


"Hei, kakak ipar kenapa jadi memarahiku? Apa kau tidak pernah membaca buku? Pelukan adalah salah satu cara untuk menenangkan seseorang dari segala rasa sakit." Ucap Hansen.


Hansen juga tak kalah berantakan karena ulah Arzena tadi.


"Bodoh! Aku mengira kau benar-benar dokter sungguhan, tapi nyatanya hanya seorang mesum berkedok dokter." Arvina kembali mengomel.


"Jika saja kau bukan wanita yang dicintai oleh Dave, maka tamat riwayat mu malam ini." Batin Hansen menatap tajam pada Arvina.


"Apa? Marah? Ingin menghabisi ku? Lakukan saja! Aku tidak takut." Ketus Arvina mengangkat wajahnya menantang Hansen.


Hansen hanya mampu mengepalkan kuat kedua tangannya.


Ia memilih berjalan masuk kembali ke dalam kamar Arzena dan..


BRAKK


Hansen menutup pintu kamar Arzena dengan kasar.


"Hei..buka pintunya! Jangan pernah menyentuh adikku!" Teriak Arvina berusaha membuka pintu kamar Arzena karena Hansen menguncinya dari dalam.


Hanse tidak peduli dengan teriakan Arvina dari luar.


Ia melepaskan kemejanya lalu naik ke atas ranjang disamping Arzena.


Ia menatap lekat wajah Arzena yang kini sudah damai.


"Kau tahu Nona, pesonamu membuat aku tidak ingin melepaskan mu walau sedetikpun. Aku berjanji akan menyembuhkanmu bagaimanapun caranya, dan aku pastikan kau akan menjadi milikku." Gumam Hansen.


Hansen kemudian berbaring disamping Arzena dan membawa Arzena kedalam pelukannya.


"Mungkin saat ini kau masih belum bisa merasakan efek dari pelukanku. Tapi nanti, pelukanku akan menjadi tempat ternyaman bagimu untuk bermanja." Gumam Hansen lagi.


CUP


Ia memberikan kecupan manis pada kening Arzena.


"Tidurlah. Kau sudah bekerja keras hari ini untuk meninggalkan kelam masa lalumu." Ucap Hansen.


Sementara didalam kamar Hansen sedang damai bersama wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, maka Arvina diluar kamar sedang mengumpat kesal.


"Bagaimana bisa dia mendapatkan lisensi untuk menjadi seorang dokter? Apakah semua pria di negara ini mesum seperti itu? Akh...aku bisa gila lama-lama dikelilingi para berandal seperti itu." Gerutu Arvina frustasi.


Ia tidak melihat Dave sejak tadi siang, entah kemana dan dimana Dave berada, ia sama sekali tidak diberitahu.


Arvina memilih turun ke bawah lalu berjalan hingga ke taman belakang mansion Dave.


Taman yang ditanami berbagai jenis bunga-bunga indah, namun tetap terlihat suram.


"Benar-benar tidak ada kehidupan ditempat ini." Gumam Arvina.

__ADS_1


Ia kemudian memilih berbaring di kursi panjang yang ada di taman tersebut sambil memandang langit mala yang kebetulan berbintang.


"Indah sekali." Gumam Arvina memandangi langit malam.


Arvina memejamkan matanya dan tanpa sadar ia malah terlelap.


•••••••••••


"Melelahkan sekali." Gumam Dave yang baru saja kembali dari markasnya untuk memeriksa pasokan senjata illegal dan obat-obatan terlarang yang akan ia ekspor ke beberapa negara diluar Benua Australia.


Dave langsung berjalan dan naik menuju kamarnya. Tujuannya adalah memeluk wanitanya untuk melepaskan penat dan rindu yang sudah ia pendam setengah hari ini.


"Dimana dia?" Gumam Dave saat tak mendapati Arvina dikamarnya.


Ia mencoba mencari di kamar mandi, tapi juga tidak ada.


"Sial! Apa dia berhasil kabur?" Gumam Dave mulai frustasi.


Ia kemudian berlari masuk kedalam ruang fitness nya, namun juga tak mendapati Arvina disana.


"Dimana dia?" Gerutu Dave menahan emosinya yang sebentar lagi akan meledak.


Langkah kaki Dave membawanya hingga ke taman belakang mansion nya.


Tempat yang sudah sangat tidak ingin ia datangi sejak kepergian pamannya.


Dave akhirnya bisa bernafas lega karena melihat Arvina tertidur ditaman, namun meringkuk kedinginan.


Ia segera melepaskan jaket kulit nya dan membungkus tubuh Arvina.


Kemudian ia mengangkat tubuh Arvina dan berjalan masuk menuju kamarnya.


Setelah didalam kamar Dave membaringkan Arvina dengan berhati-hati.


"Kenapa tangannya luka?" Gumam Dave bingung.


Ia akhirnya meraih kotak obat dari laci nakasnya dan membersihkan luka ditangan Arvina dengan alkohol serta mengolesi salep pada tangan Arvina.


Selesai mengobati tangan Arvina, Dave melepaskan kaos yang ia kenakan, lalu naik dan berbaring disamping Arvina dan memeluknya erat.


"Kau tahu sayang? Kau adalah cahaya yang paling terang yang aku inginkan. Belum pernah aku menginginkan seorang wanita hingga nekat berbuat gila selain dirimu." Ucap Dave di telinga Arvina.


"Aku bersumpah tidak akan pernah melepaskan mu dan mengijinkan mu lari dari ku. Tidak dikehidupan ini atau di kehidupan selanjutnya." Gumam Dave.


"I love you. Good night." Dave mengecup sayang kening Arvina, kemudian perlahan ia sendiri ikut terlelap.


...~ TO BE CONTINUE ~...


########


Well..terima kasih untuk semua yang masih setia mendukung TWINS.


Aku senang membaca komentar positif dari kalian..dan maaf untuk yang merasa ceritanya begitu2 aja dan gak ada pergerakan..aku memang bukan penulis handal..aku hanya menulis apa yang terpikir dalam otakku..

__ADS_1


untuk penyelesaian setiap masalah didalam cerita pasti dilakukan secara bertahap karena tidak mungkin sekaligus..jadi maaf bagi yang merasa keberatan dengan alur dan isi ceritanya..🙏🙏


__ADS_2