
"Ken, gaun pengantin mana yang menurutmu cocok untukku?" Tanya Elviana memberikan beberapa lembar foto gaun pengantin kepada Ken.
"Terserah kau mau pilih yang mana! Semuanya cocok untukmu!" Ken menjawab asal karena sedang mengerjakan desainnya yang sudah dipesan oleh salah satu artis ternama.
Mereka sudah hampir dua minggu ini menyiapkan semua persiapan pernikahan mereka bersama. Dave, Arvina, dan Jeymian juga turut membantu.
Elviana merebut paksa buku gambar khusus yang sedang digunakan Ken untuk menggambar.
"El, apa yang kau lakukan?" Tanya Ken sedikit meninggikan suaranya.
"Kau sebenarnya niat atau tidak untuk mempersiapkan hari pernikahan kita?" Tanya Elviana dengan suara yang tak kalah tinggi dari Ken.
"Jika tidak ada niat, untuk apa aku berjuang dan melamarmu? Jangan kekanak-kanakan!" Ucap Ken hendak mengambil kembali buku gambarnya dari tangan Elviana namun Elviana menghindar.
Elviana memilih merobek buku gambar itu menjadi dua bagian.
"Kau! Menikah saja dengan buku gambarmu ini!" Elviana langsung beranjak dari ruang keluarga meninggalkan semua yang ada di sana.
"Kekanak-kanakan!" Ken memungut buku gambarnya yang sudah hancur dan kembali duduk lalu meraup wajahnya, frustasi.
"Ken, kenapa masih mengerjakan hal lain jika sedang fokus untuk mempersiapkan hari pernikahan kalian?" Tanya Jeymian sambil meremas lembut pundak Ken.
"Aku hanya ingin mengumpulkan sedikit dana tambahan. Aku tahu, Dave sudah memberikan setengah dari hartanya untukku, begitu juga Daddy. Tapi bukan berarti aku harus diam dan berpangku tangan tanpa bekerja lagi. Harta yang Dave berikan juga akan habis suatu hari nanti jika dipakai terus menerus, kan?" Ken menjelaskan kepada Ayah tirinya itu.
"Em..Daddy paham. Tapi seharusnya kau juga bisa membedakan mana yang prioritas dan mana yang bisa diketepikan? Hari pernikahanmu dengan El saat ini adalah prioritas, dan pekerjaanmu bisa dilakukan saat kalian sedang bersantai dan tidak sedang membahas semua persiapan pernikahan kalian." Jeymian kembali membujuk Ken.
"Um..biar aku yang bicara pada El." Arvina bangkit dari duduknya dan menyusul Elviana ke taman belakang mansionnya.
"Setelah ini jelaskan baik-baik pada El. Dia itu wanita, wanita cenderung lebih keras kepala saat merasa diabaikan. Dia bisa sangat garang jika kau selalu mengabaikannya." Kini Dave yang menakut-nakuti kakak tirinya itu.
"Em..nanti aku akan bicara padanya." Sahut Ken malas.
••••••••••••••
__ADS_1
"El.." Arvina memanggil Elviana dengan lembut.
Arvina menyusul Elviana yang kini tengah duduk di kursi taman belakang.
"El, kenapa?" Tanya Arvina lembut sambil membawa calon kakak iparnya ke dalam rangkulannya.
"Entahlah. Aku merasa Ken tidak serius dengan pernikahan ini. Selama dua minggu ini hanya aku yang antusias mempersiapkan semuanya bersama kalian. Dia hanya sibuk dengan urusan dan pekerjaannya saja. Bahkan ketika aku meminta saran dan pendapat, Dia hanya menjawab ala kadarnya saja. Jika tahu akan seperti ini, mungkin dari awal hubungan ini tidak perlu diteruskan." Elviana menjawab panjang lebar pertanyaan Arvina.
"El, Ken sebenarnya bukan tidak peduli. Dia hanya ingin kau menyiapkan semuanya dan menjadikan pernikahan kalian sebagai pernikahan impianmu. Jika Ken sibuk dengan pekerjaannya, aku rasa itu hal yang wajar. Dia itu mungkin hanya ingin menjadi pria yang bertanggung jawab untuk masa depan istri dan anak-anaknya kelak. El, jika kau keberatan dengan tindakan dan tingkah Ken, sebaiknya kalian duduk bersama dan bicarakan baik-baik. Kelak setelah kalian menikah, kami sebagai keluarga tidak mungkin akan terus-terusan menasehati kalian seperti ini." Ucap Arvina menjelaskan pada Elviana.
Elviana menjadi diam setelah mendengar nasehat dari Arvina.
"Bicarakan dengan baik setelah ini. Aku masuk dulu. Dave pasti akan menceramahiku jika aku terlambat meminum vitaminku." Arvina kemudian pamit dan masuk ke dalam mansion menuju ke kamarnya.
"Argh...menyebalkan!" Elviana menghentakkan kakinya ke atas rerumputan taman itu lalu akhirnya beranjak masuk ke dalam mansion untuk menemui calon suaminya.
•••••••••••••••
"Ken.." Elviana memanggil Ken sambil membuka pintu kamarnya.
"Hey, sejak kapan kau merokok?" Tanya Elviana merebut rokok Ken dan membuangnya.
"Entahlah, aku sendiri sudah lupa. Mungkin sejak saat aku terpuruk." Ken menjawab asal dan berdiri dari tempat duduknya.
"Ken, aku minta maaf sudah merusak pekerjaanmu tadi." Ucap Elviana menepikan gengsinya.
"Em..sebenarnya aku juga bersalah. Maaf tidak bisa membedakan yang mana yang lebih penting dan yang mana yang bisa dikesampingkan." Ken mendekap Elviana dari belakang.
"Aku hanya ingin bekerja dan mengumpulkan lebih banyak uang untuk masa depan kita nanti. Aku tidak ingin kau nanti malah hidup susah bersamaku." Ken mencoba menjelaskan kepada calon istrinya itu.
"Tapi kau kan punya banyak harta pemberian Dave." Elviana masih sedikit kekeh dengan pola pikirnya.
Ken memang harus lebih sabar menghadapi wanita yang belum sepenuhnya mempunyai pemikiran dewasa itu.
__ADS_1
"Sayang, harta pemberian Dave pun akan habis jika kita pakai terus menerus tanpa mengembangkannya. Maka dari itu aku sekarang bekerja ekstra untuk bisa membangun bisnis fashion kita nantinya." Ken kembali memberi penjelasan dengan sabar pada wanita itu sesuai masukan dari Ayah dan saudara tirinya tadi.
Elviana tampak diam dan berpikir. Ia kemudian berbalik dan memeluk Ken.
"Baiklah. Aku mengerti. Aku minta maaf, sudah sangat egois. Tapi aku juga tidak ingin mempersiapkan pernikahan kita sendirian. Ini pernikahan kita, bukan pernikahanku sendiri." Rengek Elviana manja.
"Em..aku akan belajar membagi waktu dan mengutamakan dirimu dan keluarga kecil kita kelak. Berjanjilah, jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hatimu, sampaikan padaku langsung. Jangan berulah seperti tadi, tidak enak dilihat orang lain." Ucap Ken sambil membelai rambut Elviana.
"Em..aku janji akan belajar lebih menghormatimu lagi setelah ini. Maafkan aku." Sahut Elviana lembut.
"Bukan hanya kau, tapi kita saling menghormati dan menghargai. Rumah tangga itu saling, bukan hanya kau atau aku. Dan hentikan mengucapkan kata maaf atau aku akan menerkammu sekarang!" Ujar Ken gemas dengan calon istrinya.
"Aku siap, jika kau ingin menerkamku hidup-hidup. Aku rela, Ken." Sahut Elviana yang malah menggoda Ken.
"Ck..wanita ini..bersiaplah!" Ken mengangkat Elviana masuk ke dalam kamar dan melempar Elviana ke atas ranjang.
"Jangan menyesal, sayang!" Ucap Ken dan langsung melancarkan aksi bejatnya pada Elviana.
•••••••••••••••
"Sayang, bagaimana tadi?" Tanya Dave sambil mengelus perut istrinya. Ia sedang berbaring manja di atas paha istrinya.
"Em..sepertinya El mau mendengarkan saranku." Jawab Arvina yang sedang memainkan rambut suaminya.
"Syukurlah. Semoga saja mereka bisa lebih dewasa lagi dalam menghadapi segala permasalahan yang akan terjadi nanti. Bagaimanapun kehidupan rumah tangga itu tidak mudah." Timpal Dave tersenyum manis pada Arvina.
"Menurutmu, apa perjalanan rumah tangga kita rumit?" Tanya Arvina penasaran.
"Em..tergantung bagaimana kita menilainya. Bagiku semua yang terjadi dalam rumah tangga kita bukan sesuatu yang patut untuk disesali karena semua ada pelajaran dibaliknya. Yang paling penting adalah, aku bahagia karena sebentar lagi akan menjadi Ayah. Dan terlebih bahagia karena kau berhasil ku miliki seutuhnya meski tidak mudah. Semua impian masa kecilku menjadi nyata. Terima kasih." Ucap Dave lalu membawa kepala istrinya sedikit menunduk dan memberikan kecupan pada bibir istrinya.
"Em..aku mencintaimu." Ucap Arvina kembali mengecup kening suaminya.
"I love you more."
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...