
...NOTE : MENGANDUNG UNSUR DEWASA!!!...
...HARAP YANG MASIH DIBAWAH UMUR MINGGIR DAN JANGAN COBA-COBA MENGINTIP!!!...
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya
Roma, Italia
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua puluh empat jam, Dave dan Arvina akhirnya sampai di Roma, Italia.
Mereka saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah mereka. Rumah yang Dave beli beberapa hari lalu, namun masih ia rahasiakan dari Arvina.
Arvina sedang memeluk manja Dave, dan Dave sama sekali tidak keberatan. Dave sangat menyukai sisi manja dan posesif istrinya.
"Sayang, apa kau lelah?" Tanya Dave sesekali mengecup puncak kepala istrinya.
"Tidak." Jawab Arvina lembut.
"Apa nanti aku boleh langsung memintanya?" Tanya Dave dengan suara beratnya.
Arvina hanya mengangguk malu sebagai jawabannya dan Dave tersenyum bahagia.
Menempuh perjalanan satu jam akhirnya mereka sampai di sebuah rumah mewah.
"Dave, ini rumah siapa?" Tanya Arvina penasaran.
"Rumah kita sayang. Aku baru membelinya beberapa hari yang lalu. Kau suka?" Tanya Dave lembut.
"Ehm..aku suka." Jawab Arvina memeluk suaminya.
Sejak mereka menikah rasanya Arvina sangat suka melekat pada Dave.
Dave pun menuntun Arvina masuk ke dalam.
Isi di dalam rumah itu sangat memanjakan mata dan di dominasi warna putih dan emas.
"Indah sekali." Gumam Arvina bahagia.
Dave tersenyum bahagia melihat kebahagiaan istrinya.
Arvina segera menaiki tangga dan masuk ke dalam salah satu kamar yang diyakini adalah kamarnya dan Dave. Dave menyusul dari belakang.
"Kau suka kamar ini?" Tanya Dave memeluk Arvina dari belakang.
"Em..aku sangat suka. Ini kamar kita?" Arvina kembali bertanya untuk memastikan.
"Benar. Ini kamar kita." Jawab Dave sambil mengecup leher istrinya.
"Dave, sebaiknya kita mandi dulu." Usul Arvina gugup.
__ADS_1
"Tidak. Aku ingin merasakan madumu sekarang." Ujar Dave masih mengecup leher Arvina sesekali menggigit kecil.
"Madu? Aku tidak punya madu lagi. Maduku sudah di renggut paksa oleh mu hari itu." Jawab Arvina kesal.
Dave sigap membalikkan tubuh istrinya hingga berhadapan dengannya.
"Apa maksudmu? Kau menyesal?" Tanya Dave sedikit kesal.
"Ya. Aku menyesal. Aku menyesal karena kau merenggut hak yang memang milikmu sebelum waktunya. Aku menyesal karena kau sangat bodoh. Aku menyesal em ... "
Dave langsung mengunci mulut Arvina dengan bibirnya. Ia mencium lembut bibir Arvina namun menuntut.
Perlahan Arvina mulai terbuai dan membalas perlakuan Dave.
Dave sigap mengangkat tubuh Arvina dan membaringkan Arvina di atas ranjang tanpa melepaskan pautan bibir mereka.
"Uhm.." Arvina melenguh pelan saat Dave menjelajahi lehernya dan tangan Dave memainkan gundukan kembarnya.
Tangan Dave bergerak membuka pakaian Arvina dan melemparkan ke sembarang tempat.
Kini Dave juga membuka semua pakaiannya hingga mereka berdua sama-sama polos.
Dave melanjutkan aksinya menjamah tubuh Arvina dengan bibirnya.
"Akh..Dave.." Desah Arvina saat Dave mengulum kedua bukit kembarnya.
"Lepaskan sayang! Sebut namaku!" Titah Dave dengan satu tangannya memberi sentuhan pada area inti istrinya.
"Dave..akh..now please!" Pinta Arvina karena hasratnya sedang memuncak.
"Tidak semudah itu sayang." Ucap Dave terus memberi sentuhan pada istrinya.
Dave tidak menghiraukan istrinya dan terus merangsang Arvina.
"Kau siap sayang?" Tanya Dave tersenyum saat tahu istrinya kembali meraih pelepasan kedua.
Arvina hanya mengangguk pelan dengan tatapan mata yang sayu.
Dave dengan berhati-hati menyatukan miliknya pada istrinya.
"Apa sakit sayang?" Tanya Dave khawatir karena ini baru kedua kali untuk Arvina.
Arvina menggeleng.
"Shit..milikmu sangat sempit sayang." Ujar Dave mulai bergerak di atas Arvina. Arvina hanya tersenyum malu-malu mendengar ucapan suaminya.
"Kau ingin Dave junior sekarang atau kita tunda dulu?" Tanya Dave.
"Akh..terserah saja sayang. Aku ikut maumu." Jawab Arvina terus saja mendesah.
"Baiklah, aku ingin secepatnya Dave junior hadir." Ucap Dave semakin mempercepat gerakannya.
Arvina sudah mencapai pelepasan untuk kesekian kalinya, namun milik Dave masih bertahan.
Dave membalikkan posisi menjadj Arvina di atasnya.
"Bergeraklah sesukamu sayang!" Titah Dave membantu Arvina menaik turunkan pinggulnya.
Pertarungan panas mereka semakin sengit ketika Arvina yang memimpin.
Desahan dan erangan lolos begitu saja dari bibir keduanya memenuhi kamar kedap suara itu.
__ADS_1
Kini Dave sudah kembali memimpin.
"Arghh...aku sampai sayang.." Erangan panjang lolos dari bibir Dave saat ia mencapai puncaknya.
Keduanya lemas bersamaan.
"Aku masih ingin sayang." Pinta Dave dengan tangannya yang bergerak nakal menjelajahi tubuh Arvina lagi.
"Sayang, bolehkah aku istirahat sebentar saja? Aku lelah." Tanya Arvina lemah.
"Tidak semudah itu sayang. Kau pernah bilang, sebanyak apapun aku ingin, kau tidak akan menolak." Ucap Dave kembali menindih Arvina dan mengulum kedua bukit kembarnya.
"Ehm..Dave..akh.." Arvina hanya bisa mendesah menikmati permainan suaminya.
Tanpa ingin menunggu lama, Dave langsung melakukan penyatuan dengan Arvina.
Pertarungan panas kembali terjadi lagi dan lagi.
"Sayang, sungguh aku sangat lelah sekarang." Ucap Arvina lemas.
"Baiklah, akan segera ku selesaikan!" Ujar Dave semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya ia mencapai puncaknya dan kembali menyemburkan benihnya ke dalam rahim istrinya.
Ia rebah di samping Arvina dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Terima kasih sayang." Ucap Dave mengecup kening Arvina.
Arvina hanya mengangguk pelan dan memeluk tubuh kekar suaminya.
"Semoga kau cepat hadir di dalam rahim Mommy mu sayang." Ucap Dave mengelus perut rata Arvina.
Mereka pun memilih istirahat karena sudah terlalu lelah.
••••••••••••
Sydney, Australia
"Tuan Drick, maaf mengganggu." Ujar salah satu bawahan Drick.
Drick tampak begitu kacau dengan beling botol berserakan dimana-mana.
"Katakan saja!" Titah Drick malas.
"Kami berhasil mengetahui keberadaan Nona Raina. Dia sekarang ada di London dan sedang mempersiapkan acara pernikahannya dengan kekasihnya yang bernama Velano Alderon." Jelas bawahannya.
"Acara pernikahan? Velano Alderon?" Gumam Drick mengepal kuat tangannya.
"Benar Tuan. Velano Alderon adalah ketua gangster terbesar di London saat ini." Jelas bawahannya lagi.
Drick tersenyum meremehkan.
"Apa yang akan dia berikan pada pria bodoh itu? Apa pria itu tidak tahu bahwa calon istrinya itu adalah bekasku?" Gumam Drick menghina.
"Apa kami harus bertindak sekarang Tuan?" Tanya bawahannya lagi.
"Tidak! Biarkan saja dulu mereka menikah. Aku ingin lihat berapa lama pria itu akan bangga mendapatkan seorang istri yang ternyata sudah bekas orang lain." Ujar Drick menghardik bawahannya.
"Raina, Raina. Kau bodoh! Kau pikir dengan menikah maka aku akan melepaskanmu begitu saja? Tidak! Tidak akan pernah!" Gumam Drick tersenyum licik.
"Sekarang kau bersenang-senang saja dulu! Sampai waktunya nanti aku akan membawamu pulang." Drick menimpali perkataannya sendiri.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1