
Roma, Italia
Dave dan Arvina baru saja sampai di rumah mereka.
Setelah turun dari mobil, Dave langsung menarik Arvina dengan sedikit kasar untuk masuk ke dalam rumah mereka
Tanpa basa basi Dave langsung melahap bibir mungil istrinya dengan buas dan kasar.
Arvina yang merasa tidak nyaman pun segera mendorong Dave hingga Dave menjauh.
"Kau ini kenapa?" Tanya Arvina dengan nada yang sedikit tinggi.
"Aku kenapa? Kau yang kenapa? Apa aku belum bisa memuaskanmu sampai kau harus menggoda pria lain?" Tanya Dave menahan geram.
"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak bertemu siapapun selain keluargaku dan kau juga tahu itu." Arvina benar-benar bingung dengan sikap Dave yang tiba-tiba beringas seperti itu.
"Keluarga? Ya, keluarga. Kau menyebut mereka keluarga, jadi mereka bisa seenaknya menyentuhmu. Begitu?" Dave membentak membuat Arvina sontak memejamkan matanya.
Arvina memberanikan diri untuk melawan, bagaimanapun dirinya memang tidak bersalah.
"Cemburumu tidak beralasan Dave! Mereka adalah adik-adikku juga, jadi apa salahnya jika mereka bermanja padaku? Kau tidak punya keluarga, maka dari itu kau tidak mengerti perasaan itu." Arvina juga tak kalah membentak.
"Ya, aku memang tidak punya keluarga. Aku tidak punya siapapun untuk ku banggakan, aku anak yang tidak diinginkan. Hina Arvina, hina suamimu ini semaumu!" Bentak Dave lagi.
"Kau bodoh Dave! Kau bersikap terlalu berlebihan. Aku kecewa padamu. Jika tahu akan seperti ini, sebaiknya aku tidak pergi tadi." Kini suara Arvina melemah.
Ia memutuskan untuk berlari naik dan masuk ke dalam kamar mereka.
BOOMM
Arvina membanting pintu kamar dengan sangat kuat bahkan Dave ikut tersentak mendengarnya.
"Arghhh..." Erang Dave frustasi dan menjambak kasar rambutnya.
Dave yakin, istrinya pasti sedang menangis saat ini. Egonya masih tinggi, hingga ia memutuskan untuk tidak menghampiri Arvina dulu.
Ia memilih duduk di sofa ruang tamu sambil merenungkan semua ucapannya dan ucapan Arvina.
Dave duduk dengan menengadah ke atas menatap langit-langit rumahnya.
Rasa bersalah lebih besar menyerang hatinya, namun ia memilih untuk diam sejenak menunggu hingga Arvina juga lebih tenang.
Lama menunggu hingga kantuk menyerangnya dan akhirnya Dave tertidur di sofa.
Dave tertidur dengan sangat pulas meski dengan posisi yang tidak terlalu nyaman.
Arvina yang baru saja turun dari kamarnya, memilih menghampiri suaminya.
Di tatap nya lekat wajah dingin yang menyimpan banyak luka itu.
__ADS_1
Arvina mengelus lembut pipi Dave.
"Maafkan aku. Seharusnya tadi aku tidak berbicara seperti itu padamu dan bisa menjelaskan dengan cara baik." Gumam Arvina pelan.
"Aku mencintaimu Dave, dan hanya kau! Jadi aku mohon jangan sekalipun meragukan itu. Mereka hanya adik-adikku. Lagipula aku istrimu, aku milikmu seutuhnya. Tidak ada yang akan merebutku darimu." Gumam Arvina lagi.
CUP
Arvina memberikan sebuah kecupan manis di bibir suaminya.
Arvina berdiri dan hendak pergi, namun tangannya dengan cepat di tarik oleh Dave hingga ia kini berada di atas Dave.
"Maafkan aku sayang. Aku yang terlalu takut kehilanganmu. Aku yang terlalu kekanak-kanakan." Pinta Dave tulus.
Arvina tersenyum.
"Em..aku harusnya mengerti kenapa kau bersikap seperti itu. Kita sama-sama bersalah dalam hal ini. Kita perbaiki sama-sama semuanya." Ujar Arvina menangkup wajah suaminya.
"Jadi, apa aku masih mendapatkan jatah makan malam?" Tanya Dave dengan senyuman menggoda.
"Tenang saja, kau akan mendapatkan sebanyak yang kau mau." Jawab Arvina tersipu malu.
"Baiklah, mari kita mandi bersama." Ajak Dave dan langsung menggendong Arvina kembali naik dan masuk ke dalam kamarnya.
••••••••••••••••••••
"Bangsat! Kenapa bisa seperti ini?" Gerutu Drick melempar setumpuk dokumen di hadapannya.
"Ada yang sedang menguji kesabaran kita bung." Ujar Hansen menimpali.
Sejak Dave pergi berbulan madu dengan Arvina, ada seseorang yang mencoba menghalangi jalan bisnis mereka hingga membuat mereka mengalami kerugian yang cukup besar.
Tak jarang, barang-barang mereka dari gudang akan hilang begitu saja namun tidak terlihat siapa yang mengambil atau mencurinya.
"Lihat saja, sampai aku menemukan siapa dalang di balik semua ini, aku tidak akan mengampuni seorang pun dari mereka." Ketus Drick mengepalkan kuat tangannya.
"Aku rasa sebaiknya kita kabari Dave." Usul Hansen.
"Kau tega mengganggu bulan madu sahabatmu?" Tanya Drick kini dengan tatapan mengejek.
"Berbulan madu bisa kapan saja, tapi jika bisnisnya semakin anjlok seperti ini, bagaimana dia akan menghidupi anak istrinya nanti?" Tanya Hansen lagi.
"Kau benar juga, dan aku bisa-bisa juga ikut terbawa dalam kesulitan ini." Timpal Drick.
"Biar aku saja yang menghubunginya." Usul Hansen.
Hansen kemudian meraih ponselnya dari saku celananya dan segera menghubungi Dave.
"Ada apa? Akh..Dave..lebih cepat.." Dave menjawab panggilan dari Hansen di sertai desahan erotis Arvina.
__ADS_1
"Hei bung, tutuplah dulu mulut istrimu." Titah Hansen terkekeh.
"Sial, cepat katakan!" Maki Dave kesal.
"Bisnismu mengalami kekacauan. Aku dan Drick sudah mencoba mencari dalang di balik semua ini, namun hasilnya nihil." Ujar Dave menahan senyum karena desahan Arvina masih sesekali terdengar.
"Kalian urus dulu! Aku akan usahakan pulang secepatnya." Ucap Dave dan langsung mematikan panggilannya.
"Dave, Dave. Dulu kau tidak segila itu terhadap seorang wanita. Siapa yang mengira bahwa semua itu karena kau menyimpan sebuah nama selama belasan tahun." Gumam Hansen tersenyum.
"Bagaimana?" Tanya Drick gusar.
"Dia hanya mengatakan akan usahakan untuk pulang secepatnya, tapi tidak mengatakan pasti akan pulang secepatnya." Jawab Hansen membingungkan.
"Terserah saja, yang penting dia sudah tau sebentar lagi dirinya akan menjadi gelandangan." Ujar Drick terkekeh.
"Sudahlah, kita lanjutkan saja dulu pekerjaan kita agar aku bisa segera pulang untuk menemui istriku. Ini sudah hampir pagi." Ujar Hansen melirik jam tangannya.
Drick mengangguk dan mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka.
•••••••••••••••••
"Arvina..sebentar lagi aku akan menjemputmu sayang." Gumam Aston yang sedang duduk di kursi kebesarannya ditemani segelas anggur merah.
"Kita lihat, apa kau akan tetap bertahan dengan suamimu yang sebentar lagi akan jatuh miskin atau kau akan berlari ke dalam pelukanku." Gumam Aston lagi.
"Hei, mana uang yang kau janjikan?" Tanya Ken yang kini bekerja pada Aston.
Aston tersenyum meremehkan.
Ia kemudian mengambil segepok uang dan melemparkan ke hadapan Ken.
"Itu semua untuk mu, pria lemah! Bersenang-senanglah sesukamu. Ah, atau kau juga mau wanita untuk menemanimu? Aku aan sediakan untukmu." Ujar Aston girang.
"Aku hanya membutuhkan uang. Untuk wanita, aku bisa mencarinya sendiri." Jawab Ken santai.
Ken hendak berbalik, namun Aston menghentikannya.
"Ini bonus untukmu! Jika aku memerlukan jasamu lagi, kau harus segera hadir!" Titah Aston melemparkan segepok uang lagi pada Ken.
Ken tersenyum puas.
"Kau tinggal menghubungiku." Jawab Ken dan langsung pergi meninggalkan ruangan Aston.
Aston tersenyum licik membayangkan wajah cantik Arvina dan suara lembutnya.
"Akh..Arvina kau sungguh indah. Membayangkan mu saja membuatku menegang.." Gumam Aston.
...~ TO THE CONTINUE ~...
__ADS_1