TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Mengunjungi Derex


__ADS_3

"Dave, ayo bangun!" Titah Arvina menggoyangkan badan Dave.


"Apa? Aku sangat lelah." Tanya Dave malas.


Kali ini Dave yang kelelahan setelah berperang tadi malam melawan istrinya hingga menjelang subuh.


"Kau sudah janji akan mengajakku ke rumah Daddy Derex kan? Ayo bangun!" Titah Arvina lagi.


"Nanti saja ya sayang. Aku masih sangat lelah ini." Keluh Dave lalu kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Baik baik. Silahkan saja kau tidur sepuas hatimu. Aku akan pergi sendirian. Tapi jangan salahkan aku jika setelah ini kau tidak akan mendapatkan jatah sama sekali." Ucap Arvina mengancam.


Mendengar ancaman Arvina, Dave langsung saja tersentak bangun.


"Tunggu tiga puluh menit!" Dave langsung masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan diri.


Arvina tertawa penuh kemenangan. Ia memilih menyiapkan segala pakaian Dave.


Tidak sampai tiga puluh menit Dave sudah keluar dari kamar mandi.


"Sini, aku bantu." Pinta Arvina merebut handuk kecil yang Dave pakai untuk menyeka air di rambutnya.


Sementara Arvina mengeringkan rambutnya, Dave memilih mengenakan pakaiannya yang sudah disiapkan Arvina.


"Kau tampan sekali suami." Goda Arvina tersenyum manis.


"Jangan menggodaku jika kau masih ingin pergi!" Ancam Dave mencubit gemas pipi istrinya.


"Sudah siap?" Tanya Dave setelah membawa sebuah tas kecil yang berisi ponselnya dan Arvina kemudian dompet dan lainnya.


Arvina mengangguk semangat.


Mereka pun keluar dari kamar dan segera menuju ke mobil mereka.


Dave segera menyalakan mesin mobilnya dan tak lama ia pun menjalankan mobilnya menuju ke kediaman Derex.


"Hah, aku sudah lama sekali tidak ke rumah Daddy Derex." Gumam Arvina semangat.


"Apa sebahagia itu kau ingin bertemu mereka?" Tanya Dave sambil mengusap kepala istrinya.


"Tentu saja. Aku sudah lama sekali tidak bertemu si kembarnya uncle Ke." Jawab Arvina bahagia.


Dave mengernyit bingung, namun ia memilih fokus menyetir.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah mewah Derex.


Arvina segera turun dari mobil dengan semangat dan langsung berlari masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Dave.


Dave hanya bisa menggeleng pasrah melihat antusiasme istrinya.


"Daddy..." Arvina berteriak girang dan langsung memeluk Derex yang tengah bersantai di ruang tamu dari belakang.


"Oh hei..ya ampun kau membuat Daddy kaget saja." Gerutu Derex mengecup pipi keponakannya.


"Maaf Daddy." Ucap Arvina cengengesan.


"Kau datang dengan siapa?" Tanya Derex lembut.

__ADS_1


"Dengan Dave, Dad." Jawab Arvina sambil duduk di samping Derex.


"Senang bertemu lagi Tuan Derex." Sapa Dave dengan sopan.


"Kau datang bersama sopir? Dimana Dave?" Tanya Derex sengaja karena kesal Dave memanggilnya Tuan.


"Dave.." Arvina melotot pada Dave dan menggerakkan bibirnya menyebut kata Daddy.


"Senang bertemu lagi Dad." Ucap Dave memperbaiki kalimatnya.


"Oh, Hi Dave. Duduklah di sini." Titah Derex sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Dad, dimana yang lainnya?" Tanya Arvina penasaran.


"Aunty Alice sedang di dapur bersama para pelayan. Derice sudah berangkat ke kantor." Jawab Derex santai.


"Ya sudah, aku ke dapur saja. Jaga suamiku Dad." Ujar Arvina semangat dan langsung berlari masuk ke dapur.


"Bagaimana anak muda? Sudah berapa gol yang kau cetak?" Tanya Derex menggoda Dave.


"Sudah banyak Dad, hanya saja entah akan segera jadi atau masih harus menunggu." Jawab Dave tanpa rasa malu.


"Jika bibitmu unggul, aku rasa tidak lama lagi akan segera jadi." Ujar Derex tersenyum penuh arti.


Dave hanya mengangguk.


"Apa kau tahu kalau bayi Zena adalah kembar?" Tanya Derex lagi.


"Aku belum sempat bertukar kabar dengan mereka. Aku sangat sibuk mencetak gol sejak sampai ke sini." Jawab Dave lagi.


Obrolan mereka berlanjut dan membicarakan banyak hal.


"Uncle Derex, kami mendapatkan kabar bahwa Arvina kemari." Suara seorang lelaki menyapa Derex dari pintu.


Saat Dave dan Derex menoleh, ternyata ada dua lelaki berwajah tampan dan mirip sedang berjalan mendekat.


"Kendra, Vindra? Bagaimana kalian bisa tahu?" Tanya Derex santai.


"Arvina baru saja mengabari kami uncle." Jawab Vindra.


Kendra dan Vindra adalah anak lelaki kembar dari Keanu dan Viandra.


"Arvina sedang di dapur." Jawab Derex menunjuk ke arah dapur.


Tanpa menunggu, kedua lelaki kembar itu segera berjalan masuk ke dalam dapur.


"Mereka itu anak kembarnya Keanu." Jelas Derex melihat Dave memasang ekspresi kesal.


Dave hanya mengangguk pelan.


Obrolan mereka berlanjut namun Dave kini lebih banyak diam.


Otaknya melayang memikirkan Arvina yang sedang di dekati dua lelaki sekaligus.


"Ah, kalian itu masih saja tampan." Suara Arvina terdengar dari arah dapur dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat.


"Kau juga tetap sangat cantik sayang." Puji Vindra mengacak rambut Arvina.

__ADS_1


Arvina menggandeng lengan kedua lelaki kembar itu.


Dada Dave naik turun melihat keakraban istrinya dengan kedua saudara kembar itu.


"Oh ya, ini suamiku Dave." Ucap Arvina memperkenalkan Dave kepada dua lelaki kembar itu.


Merek bersalaman secara bergantian, namun tatapan mata Dave sangat tidak bersahabat.


"Arvina, sepertinya nanti malam kau akan mendapatkan hukuman sayang." Ujar Vindra lagi kemudian mengedipkan satu matanya.


Vindra memang lebih ramah dan player, Kendra sang kakak lebih pendiam dan tertutup.


Arvina hanya mengernyit bingung.


"Ah, ya. Dad, kak Raina akan segera menikah, apa Daddy dan aunty Alice sudah tahu?" Tanya Arvina antusias.


Derex mengangguk.


"Baru tadi malam merek menghubungi kami, mereka juga meminta saran ini dan itu." Jawab Derex.


"Oh..hei kalian kapan menikah?" Tanya Arvina kepada Kendra dan Vindra.


"Aku nanti saja. Kakak sebenarnya menunggumu, tapi sayangnya kau sudah dimiliki orang lain duluan." Jawab Vindra sengaja.


Ia tahu sekali Dave sedang cemburu walaupun Arvina bergelayut manja memeluk lengan kekarnya.


Arvina hanya memutar malas kedua matanya mendengar jawaban Vindra.


"Ke, kau ini tidak pernah berubah. Masih saja sedingin bongkahan es." Gerutu Arvina meledek Kendra yang lebih banyak diam.


Kendra dan Vindra sebenarnya lebih muda beberapa bulan dari ia dan Arzena.


"Hei semuanya, ayo makan siang dulu." Panggil Alice dari dapur.


"Ayo." Ajak Derex kepada ke empat anak muda itu.


Mereka pun mengikuti Derex dari belakang, Dave merangkul Arvina dengan posesif.


Vindra dan Kendra hanya tersenyum geli melihat pria macho bertato itu sangat posesif terhadap istrinya.


Mereka bergabung di meja makan dan mulai menyantap makanan yang terhidang di atas meja.


Mereka menikmati makan siang mereka tanpa obrolan apapun.


Selesai menikmati makan siang, mereka kembali ke ruang keluarga dan berbincang kecil.


Arvina sangat bahagia, namun Dave memasang raut wajah tak suka. Bukan karena Arvina sibuk mengobrol dengan keluarganya, melainkan sikap Vindra yang sesuka hati menyentuh istrinya meski masih dalam tahap wajar.


"Um, Dad, aunty sepertinya aku dan Arvina harus pamit sekarang." Ujar Dave bangkit dari duduknya.


"Kenapa cepat sekali? Tidak ingin menginap?" Tanya Alice.


"Tidak aunty. Kami masih ada urusan penting di rumah." Jawab Dave datar lalu menarik lembut tangan Arvina untuk mengikutinya.


Dave ingin segera pulang ke rumah dan menghukum istri kecilnya itu.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2