TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Tidak takut ancaman!


__ADS_3

"Kau??" Tanya Arvina tak percaya karena ternyata yang memeluknya adalah Bryn, dokter yang merawat dan menangani Jeymian selama dua minggu ini.


"Lepaskan ak ... "


Bryn langsung membungkam mulut Arvina dengan tangannya.


"Jangan berteriak jika kau ingin aman! Kau tentu tidak ingin kan jika suamimu sampai melihatmu berada dalam pelukanku?" Ancam Bryn dengan tatapan tak biasa.


Arvina mengangguk pelan.


Perlahan Bryn menurunkan tangannya dari mulut Arvina.


"Aku ingin kau menjadi kekasihku!" Pinta Bryn tanpa basa-basi.


"Kau gila! Aku sudah menikah, jadi untuk apa aku harus menjadi kekasihmu?" Tolak Arvina geram.


"Karena nyawa mertuamu ada di tanganku! Dan aku punya bukti perselingkuhan mu dengan seorang pria yang buruk rupa." Ancam Bryn dengan satu tangannya membelai wajah cantik Arvina yang tidak menunjukkan raut ketakutan sedikitpun.


Arvina dengan berani mengalungkan tangannya pada leher Bryn.


"Perselingkuhan? Kau mengada-ngada! Jika ingin mengancam, berikan aku ancaman yang nyata. Jangan berhalusinasi, dokter Bryn. Jika kau mengancam dengan menggunakan nyawa mertuaku, itu tidak akan berefek padaku. Jika kau menyakiti mertuaku, itu sama saja mencoreng nama baikmu sebagai dokter." Ucap Arvina kini tangannya bergerak melepaskan tangan Bryn yang sedari tadi menahan pinggangnya.


"Aku bahkan sudah menemukan dokter pengganti, jika kau sampai berulah! Kau sepertinya lupa siapa suamiku dan Hansen. Sedikit saja kau membuat ulah, bukan hanya reputasi dan pekerjaanmu, nyawamu juga ikut menjadi taruhan." Ucap Arvina mendorong pelan dada Bryn hingga Bryn mundur beberapa langkah ke belakang.


Bryn menatap Arvina dengan tatapan penuh amarah.


"Apa melihatku begitu? Tidak puas dengan ucapanku? Atau kau ingin mendengarkan yang lebih mengerikan?" Tanya Arvina menantang.


"Kau akan menyesal karena sudah menolakku!" Ancam Bryn lagi.


"Cih.." Arvina berdecih meremehkan.


"Aku akan lebih menyesal karena sudah menerimamu dan mengkhianati suamiku. Dokter Bryn, jika sedang punya masalah dengan kekasihmu, selesaikan! Jangan malah mencari pelampiasan. Apa lagi sampai menggoda istri orang lain, itu tidak baik." Ujar Arvina.


Bryn mengepalkan tangannya menahan geram.


"Kau memang tampan dan berpendidikan. Tapi kau salah jika ingin menggoda dan merayuku dengan apa yang kau miliki karena suamiku jauh melebihi dirimu! Sebaiknya sekarang kau pergi dan lakukan pekerjaanmu dengan benar. Jangan mengecewakan orang yang sudah percaya padamu!" Ucap Arvina kemudian berbalik dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Mau tidak mau, Bryn beranjak dari dapur meninggalkan Arvina.


"Pria aneh! Apa kekasihnya kemarin masih kurang untuknya?" Gumam Arvina sambil memotong sayuran.


Arvina pun mulai memasak setelah selesai memotong semua sayuran dan menyiapkan bahan-bahannya.

__ADS_1


"Morning!" Bisik Dave sensual dan memeluk istrinya dari belakang.


"Morning sayang." Balas Arvina lalu mengecup singkat bibir suaminya.


"Sayang, terima kasih." Ucap Dave dan masih setia memeluk Arvina.


"Untuk apa?" Tanya Arvina bingung lalu menyuapi Dave makanan yang sudah ia buat tadi.


"Karena kau sudah membelaku dengan menghina dokter cabul itu." Jelas Dave bangga.


"Itu kan memang seharusnya aku lakukan sebagai istrimu." Sahut Arvina santai.


"Kau sangat berubah sayang. Dulu kau mungkin akan langsung ketakutan dan menuruti ancamannya, tapi sekarang kau menjadi sangat berani." Puji Dave bangga sambil membantu Arvina menyusun masakannya ke atas meja makan.


"Itu semua berkat dirimu. Kau membuatku menjadi lebih kuat dan berani." Sahut Arvina tersenyum.


"Tadi aku mendengar pria buruk rupa, apa si Aston datang lagi untuk menemuimu?" Tanya Dave penasaran.


"Huum..dia datang beberapa hari ini saat kau tidak ada. Dia meminta saran dariku, bagaiman untuk mendekati seorang gadis tanpa pemaksaan?" Jawab Arvina jujur.


Dave mengangguk paham.


"Selamat pagi." Suara Arzena memotong obrolan mereka.


Akhir-akhir ini Arzena memang sering sekali mengunjungi Arvina di mansion.


Hansen dan Arzena menurut.


"Aku panggil yang lainnya dulu." Ucap Arvina lalu beranjak pergi.


Arvina pergi ke kamar tempat Raina masih tertidur.


"Oh..wooo..kenapa tidak mengunci pintu?" Tanya Arvina kesal karena Drick sedang bercumbu mesra dengan Raina.


"Ada apa?" Tanya Drick santai.


"Sarapan sudah siap!" Arvina langsung menutup kembali pintu kamar itu dan melangkah pergi ke kamar Jeymian.


"Dad, sarapan sudah siap! Ayo, aku akan membantumu." Ajak Arvina dan dengan hati-hati membantu Jeymian untuk menggunakan tongkat model jenis elbow nya.


"Terima kasih, Vina." Ucap Jeymian bahagia.


"Dimana dokter Bryn?" Tanya Arvina penasaran.

__ADS_1


"Dia belum ke sini dari pagi tadi." Jelas Jeymian.


Arvina mengangguk paham dan setia menuntun mertuanya menuju ke ruang makan.


"Pelan-pelan." Ucap Arvina membantu Jeymian duduk lalu melepaskan tongkatnya.


"Dimana Bryn?" Tanya Hansen penasaran.


"Biar aku coba panggil." Usul Arvina dan langsung berjalan menuju kamar Bryn.


Saat baru membuka pintu kamar Bryn, Arvina bisa melihat pria itu berdiri di balkon luar kamarnya.


"Hei, jika ingin bunuh diri, jangan di mansion suamiku! Kau bisa memilih tempat lain!" Celetuk Arvina santai.


Bryn menatapnya sekilas kemudian kembali membuang pandangannya lurus ke depan.


"Katakan! Katakan apa yang harus aku lakukan?" Tanya Bryn tiba-tiba.


"Apa maksudmu?" Tanya Arvina bingung.


"Bukankah kau bilang tadi jika aku punya masalah dengan kekasihku? Berarti kau sudah melihat kedatangannya beberapa hari lalu." Ucap Bryn menatap lurus ke depan.


"Ooo..ya aku sudah melihat dan sempat mendengar semua pertengkaran kalian. Bryn, aku bukan siapa-siapa untuk menasehati dirimu. Jika kau mencintainya, kau pasti bisa menerimanya dengan tulus." Ucap Arvina menepuk pelan pundak Bryn.


"Tapi dia hamil dengan pria lain bahkan di saat aku menjaganya dengan baik. Mencium bibirnya saja aku harus menahan diri untuk tidak melakukannya. Tapi dia malah membawa benih pria lain di dalam rahimnya." Jawab Bryn geram.


"Bryn, setiap orang bisa saja melakukan kesalahan. Jika kau merasa siap, tidak ada salahnya kau menerimanya dan bayi itu. Tapi jika kau tidak bisa, maka selesaikan masalah kalian dengan baik. Jangan malah mencari pelampiasan di luar. Itu akan semakin memperburuk keadaan." Ucap Arvina menenangkan.


"Aku sangat kagum padamu. Aku juga cemburu melihat bagaimana kau mencintai suamimu. Ingin sekali berada di posisi itu." Ucap Bryn tertawa kecil.


"Kau pasti bisa jika menemukan orang yang tepat. Sudahlah, ayo kita keluar. Semua orang sedang menunggumu untuk sarapan bersama." Ajak Arvina kemudian berjalan terlebih dulu.


Bryn secepat kilat menarik tangan Arvina hingga Arvina berbalik dan masuk ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku tadi sudah lancang kepadamu. Rasanya ingin sekali memilikimu. Tapi kata-katamu membuatku sadar bahwa aku adalah seorang pria yang harus berjuang. Seberapapun rasa sakit yang harus aku hadapi, aku akan hadapi." Ucap Bryn sendu.


"Bryn, percayalah! Setiap orang memiliki hari sedihnya sendiri. Yang harus kau lakukan adalah kuat dan bangkit untuk menghadapinya." Sahut Arvina tulus.


"Terima kasih. Rasanya aku akan mempercepat proses pengobatan mertuamu agar aku bisa segera menyelesaikan masalahku." Lanjut Bryn.


Arvina mengangguk


"Ya sudah! Ayo, kita keluar. Semua orang sudah menunggu ... "

__ADS_1


"Sayang.."


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2