
"Apa yang ingin kau makan?" Tanya Drick sambil menggeledah isi kulkas yang ada di markasnya.
"Aku ingin makan sesuatu yang pedas dan berkuah. Um..mie instan saja." Jawab Raina semangat.
"Tidak! Mie instan tidak sehat! Aku akan membuatkan ramen pedas untukmu." Ujar Drick tegas.
"Kau bisa membuat ramen?" Tanya Raina berbinar.
"Aku bisa memasak banyak makanan. Hanya saja malas." Jawab Drick enteng.
Raina terkekeh pelan.
Rasanya sekarang, kebenciannya pada Drick benar-benar meluap begitu saja.
"Baiklah Nyonya, kau duduk yang manis! Aku akan mulai memasak." Titah Drick setelah bahan-bahan masakannya terkumpul.
Raina mengangguk pelan.
Drick pun segera mengeksekusi semua bahan-bahan yang sudah ia siapkan tadi.
"Dia hebat sekali." Batin Raina memuji Drick.
Raina bahkan seakan telah melupakan Velano.
Tiga puluh menit kemudian Drick selesai membuat ramen.
Drick membaginya menjadi dua mangkok.
"Ini untukmu, dan ini untukku." Drick menyimpan masing-masing ramen di depan Raina dan dirinya.
"Em...sepertinya ini lezat." Raina menghirup dalam aroma ramen tanpa tersedak pedasnya.
Raina langsung mengambil sumpit yang sudah Drick sediakan dan menyantap ramen itu dengan semangat.
"Pelan-pelan." Titah Drick dengan satu tangannya memegangi rambut Raina agar tidak ikut termakan.
Drick bahagia melihat wanita itu bahagia.
Hanya butuh waktu sebentar saja, Raina telah menghabiskan ramennya.
"Maaf merepotkanmu." Ucap Raina merasa tidak enak hati karena Drick menyantap ramennya dengan satu tangan sedang satu tangannya memegangi rambut Raina.
"Tidak masalah." Drick akhirnya melepaskan rambut Raina.
"Kau juga suka ramen?" Tanya Raina penasaran.
Drick menggeleng.
"Tidak begitu suka. Tapi mendengarmu ingin makan, aku seketika juga rasanya ingin ikut makan." Jawab Drick yang sudah selesai makan.
Drick membawa mangkok kotor bekas mereka dan mencucinya di wastafel dapur itu.
"Ada lagi yang ingin kau makan?" Tanya Drick lembut dan satu tangannya terangkat mengacak pelan rambut Raina.
"Tidak. Tapi aku haus. Ingin minuman dingin dan es krim." Raina memasang tampang imutnya.
Drick tersenyum melihat Raina yang begitu menggemaskan.
"Apa dia sungguh secepat itu menerimaku?" Batin Drick penuh harap.
Drick tanpa menjawab lalu berjalan ke arah kulkas dan mengambil dua botol minuman dingin untuk dirinya dan Raina.
"Maaf sayang, tapi es krimnya tidak ada stok. Nanti saja kita akan membelinya." Ucap Drick merasa bersalah.
Raina mengangguk dan menerima minuman dingin dari tangan Drick dan langsung meneguk nya setelah membuka tutup botolnya.
Drick juga melakukan hal yang sama.
"Rasanya lega." Ucap Raina setelah menghabiskan sebotol minuman dingin itu.
__ADS_1
"Huek..huek..."
Raina mendengar suara muntah Drick dan saat ia menoleh, Drick ternyata sudah muntah di wastafel dapur.
"Kau kenapa? Kau sakit?" Tanya Raina bingung.
Raina seketika merasa khawatir begitu saja tanpa sebab.
Drick melambaikan tangannya pertanda ia tidak sakit.
"Apa dia merasakan yang aku rasakan juga? Baby, apa kau sedang menghukum Daddy mu?" Batin Raina bingung.
Senyum kecil terbit begitu saja di bibirnya.
Drick kini terduduk lemas di lantai dapur sambil memijat pelipisnya.
"Endrew..panggilkan dokter untukku!" Teriak Drick tiba-tiba dengan suara menggelegar membuat Raina tersentak kaget.
"Oh astaga..Maaf aku mengagetkan dirimu." Pinta Drick merasa bersalah dan langsung memeluk erat Raina.
Tangan Raina terulur membalas pelukan hangat Drick.
"Huek.." Raina melepaskan pelukannya secara paksa dan kini giliran dirinya yang memuntahkan semua makanan yang ia makan tadi.
"Kau kenapa? Kau sakit?" Tanya Drick panik.
Drick menuntun Raina duduk di kursi mini bar dapur setelah Raina menyelesaikan aktivitas mengganggu itu.
"Aku ... " Raina ragu untuk menjawabnya.
"Apa dia bisa menerima kenyataan jika aku sudah mengandung bayinya? Apa dia akan memaksaku untuk membunuh bayiku? Aku terlanjur sayang pada nyawa kecil ini." Batin Raina penuh keraguan.
"Hei..ada ap ... "
"Tuan, ini dokter yang kau minta tadi." Suara Endrew memotong pertanyaan yang ingin Drick tanyakan.
"Dokter, ikuti kami!" Titah Drick sambil menarik lembut tangan Raina untuk mengikutinya.
Drick membawa Raina dan dokter itu masuk ke dalam ruangan kerja Dave.
"Jadi siapa yang sakit Tuan?" Tanya dokter itu sopan.
"Aku." Jawab Drick singkat.
"Apa keluhanmu?" Tanya dokter itu lagi.
"Aku sejak beberapa hari lalu selalu saja muntah baik itu setelah makan atau saat bangun pagi. Aku juga seakan tidak menyukai makanan yang aku sukai selama ini." Jelas Drick seadanya.
"Sepertinya kau mengalami Sindrom Kehamilan Simpatik, Tuan." Ucap dokter itu mengurungkan niatnya untuk memeriksa Drick.
"Apa maksudmu? Aku hamil?" Tanya Drick dengan suara lantang.
Dokter itu tersenyum ramah lalu melirik sekilas ke arah Raina yang sedang menunduk.
"Hal ini akan kau rasakan ketika istrimu sedang hamil karena ikatan batin yang kuat di antara kalian. Dan bisa saja setelah ini kau juga merasakan gejala kehamilan lainnya. Tapi hal ini akan berlalu dengan sendirinya. Jadi kau harus sabar Tuan, hadapi dengan senyuman." Ucap dokter itu dan menasehati Drick.
Drick terdiam di tempat mencoba mencerna setiap perkataan dokter itu.
"Ini resep vitamin untuk istrimu dan kandungannya. Harap banyak bersabar Tuan, tidak semua suami bisa merasakan momen indah ini. Kalau begitu aku permisi." Ucap dokter itu meletakkan selembar kertas resep di atas meja dan keluar dari ruangan itu.
Drick masih mematung dan mencerna setiap perkataan dokter itu.
"Sindrom simpatik? Hamil? Istri?" Drick bergumam bingung.
Raina hanya menunduk takut dan bimbang. Ia sangat takut jika Drick akan menyuruhnya menggugurkan kandungannya.
"Tunggu..kau hamil?" Tanya Drick dengan nada yang sulit di artikan.
Raina mengangguk dan tetap menunduk.
__ADS_1
"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Tanya Drick kesal.
"Drick, aku tidak akan menuntut pertanggungjawaban darimu. Aku bisa merawat bayi ini sendiri, jangan menyuruhku untuk membunuh mereka!" Ucap Raina memberanikan diri menatap tepat ke dalam mata Drick.
Drick bahagia mendengar Raina justru ingin mempertahankan bayinya.
"Apa yang kau bicarakan? Untuk apa aku membunuh hasil benihku sendiri?" Tanya Drick menangkup wajah cantik Raina yang sedikit pucat.
"Kau..kau tidak keberatan jika aku mengandung darah dagingmu?" Tanya Raina tak percaya.
"Tentu saja tidak. Aku bahagia sayang." Drick langsung saja memeluk Raina.
"Terima kasih, Raina. Terima kasih kau memilih mempertahankan bayi kita." Ucap Drick haru.
"Se sebenarnya tidak begitu. Awalnya aku ingin menggugurkan dia, ta tapi Velano melarangku." Ucap Raina jujur.
"Setidaknya kau tetap mempertahankannya." Sahut Drick bahagia.
Drick melepaskan pelukannya kemudian berlutut di hadapan Raina.
"Raina White, aku mohon berikan aku satu saja kesempatan untuk membuktikan ketulusanku! Aku tahu hubungan kita terbangun dengan cara yang tidak benar. Tapi aku mencintaimu sejak pertama kali menatapmu. Ijinkan aku memperbaiki semuanya, menikahimu, dan menjagamu. Melindungimu serta buah cinta kita." Pinta Drick tulus.
Raina menatap mata Drick berusaha mencari sebuah kebohongan di sana, namun nyatanya Nihil.
"Kau tidak perlu menerima sekarang. Kau hanya perlu membuka hatimu untuk merasakan ketulusanku. Sungguh, sejak malam itu pikiranku tidak pernah lepas darimu sedikitpun. Aku ingin memilikimu dan menjagamu dengan nyawaku. Dan sekarang aku juga ingin menjadi Daddy yang baik dan menjaga malaikat kecil kita." Ucap Drick lagi.
Raina terharu dan kembali memeluk Drick terlebih dulu.
"Aku kira kau akan menyiksaku dan memaksaku untuk membunuhnya." Ucap Raina terisak.
"Apa yang kau katakan? Untuk apa aku membunuh darah dagingku sendiri?" Tanya Drick keberatan.
"Karena dia ada gara-gara kesalahan satu malam itu." Jawab Raina menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Drick.
"Dasar bodoh. Apa kau tidak berpikir semua itu sudah dituliskan oleh garis takdir? Kita dipertemukan untuk bersatu Raina." Ucap Drick lembut.
Raina diam dan tidak menjawab apapun.
"Aku akan menemui keluargamu dan mengatakan hal yang sebenarnya. Aku juga akan meminta restu mereka untuk menikahimu." Ucap Drick serius.
"Tidak. Ma maksudku, apa harus secepat ini? A aku takut jika Daddy ku akan marah, belum lagi Daddy Derex yang sudah mengenalmu." Ujar Raina cemas setelah melepaskan pelukannya.
"Trust me! Aku bukan pengecut atau pecundang yang melarikan diri dari masalah. Terlebih dari wanita yang aku cintai. Ijinkan aku menikahimu dan menjaga kalian." Ujar Drick lagi.
Raina tersenyum dan seketika jantungnya berdegup kencang, perutnya serasa digelitik oleh ribuan kupu-kupu yang membuatnya ingin tertawa lepas.
"Aku akan menyelesaikan semuanya. Kau hanya perlu diam dan lihat hasilnya." Ucap Drick mengecup kening Raina penuh cinta.
"Besok, kita temui keluargamu!" Ucap Drick tegas.
"Drick, bisakah jangan terlalu tergesa-gesa. Aku ingin setidaknya kita perbaiki hubungan kita. Maksudku, aku ingin memperbaiki caraku menilaimu. Em..satu minggu. Satu minggu saja dan setelah itu kita temui keluargaku." Usul Raina.
"Apapun untukmu asal kau tidak pergi dariku!" Tegas Drick.
"Terima kasih. Drick, maaf sudah berpikir buruk tentang dirimu." Pinta Raina tulus.
"Aku tidak marah. Aku mengerti. Wajar saja jika kau berpikir seperti itu, tapi aku buktikan kepadamu kalau aku tidak seburuk yang kau pikirkan." Ucap Drick tulus.
Raina mengangguk.
"Dan sepertinya bayi kita sangat menyayangimu. Dari tadi rasanya ingin selalu dekat denganmu." Ucap Raina malu-malu.
"Peluk aku semaumu! Cium aku sepuas hatimu! Lakukan saja apa yang ingin bayi kita lakukan padaku." Ucap Drick bahagia.
Raina mengangguk dan setia memeluk Drick
"Terima kasih. Terima kasih untuk kado terindah dan kebahagiaan ini. Aku janji aku akan menjadi pria yang melindungi kalian dengan nyawaku." Batin Drick.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1