TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Elviana Aliara


__ADS_3

"Ehm..Aston, aku minta maaf untuk semua hal yang aku lakukan pada kelompok kalian." Ucap Dave membuka pembicaraan.


Kaku sekali rasanya dan dari tadi ia dan Aston sama-sama berdiam diri hampir setengah jam.


"Ekhem...em..sebenarnya kau tidak perlu minta maaf. Kau melakukan itu untuk melindungi bisnis dan kelompokmu. Aku yang harus minta maaf karena selalu memancing kekacauan." Sahut Aston tulus.


Kedua pria yang dulunya sama-sama kejam itu, kini menjadi lebih lembut.


"Ehm..aku tidak mempermasalahkan yang sudah lewat." Ujar Dave tenang.


"Ah..satu lagi. Aku akan mengembalikan semua kerugian yang sudah Ken ciptakan atas perintah ku. Sebutkan saja nominalnya!" Titah Aston tidak enak hati.


"Tidak! Semua itu tidak perlu. Aku sebenarnya ingin menawarkan kerja sama." Sahut Dave sedikit tersenyum.


Aston mengernyit bingung.


"Kerjasama apa?" Tanya Aston tanpa menunjukkan rasa antusiasnya.


Aston sebenarnya mengagumi Dave sejak lama karena di usia mudanya ia mampu menjadi ketua gangster paling ditakuti. Hanya saja Aston juga iri sekaligus hingga selalu mencari masalah dengan Dave.


"Ekspor-impor senjata api. Tapi kali ini kita lakukan secara legal." Jawab Dave serius.


Dave melemparkan seberkas dokumen secara ringan ke hadapan Aston.


"Itu kontraknya, kau bisa pelajari dulu." Ucap Dave kini dengan mode serius.


Aston mengambil berkas dokumen tersebut lalu membukanya dan membacanya dengan teliti.


"Aku akan pelajari lebih lanjut." Sahut Aston menutupi senyumnya.


Dave mengangguk pelan.


"Satu lagi. Aku juga minta maaf karena telah menculik istrimu dan ... "


"Dan menciumnya?" Tanya Dave menaikan satu alisnya menyambung perkataan Aston yang terhenti.


Aston mengangguk lemah.


"Lupakan saja! Demi istriku, aku tidak akan membuat perhitungan denganmu!" Jawab Dave tegas.


Aston bernafas lega dalam hati.


"Baiklah. Kita ... "


"TOLONG AKU!!!"


Terdengar suara teriakan seorang pria dari bawah membuat perkataan Dave terhenti.


"Siapa itu?" Gumam Dave dan langsung berlari keluar dari ruangannya diikuti Aston.

__ADS_1


"Ada ap ... "


Pertanyaan terhenti saat Dave melihat Ken sedang berlindung di belakang istrinya sedang ketiga perempuan itu sedang berhadapan dengan dua pria berbadan besar.


"Ada apa? Siapa mereka?" Tanya Dave bingung.


"Aku tidak tahu. Tanyakan pada kakakmu!" Jawab Arvina bingung.


"Tuan Ken, bekerjasama lah! Kami hanya menjalankan tugas." Ucap seorang pria di hadapan mereka.


"Tidak! Nona kalian itu gila." Sahut Ken dengan nada kesal.


"Ada apa sebenarnya Ken?" Tanya Arvina bingung.


Ken menggeleng enggan menjawab.


"Tuan Ken sudah mengkhianati Nona kami. Dia berjanji untuk menemani Nona kami ke pesta tadi malam, tapi ternyata dia menghabiskan malamnya dengan sengaja menyibukkan diri." Jawab pria yang tadi.


Kelima orang yang mendampingi Ken serentak mengernyit bingung.


"Nona kalian gila! Siapa yang tahan menemaninya. Aku hanya seorang desainer kecil, tapi dia mengenalkanku pada semua orang sebagai kekasihnya. Aku tidak layak bersamanya. Pergi saja kalian!" Ucap Ken kesal.


"Tuan Ken, Nona kami adalah gadis yang tidak pernah mengejar lelaki. Kau harusnya bersyukur karena dia mau mengejarmu." Sahut pria berbadan besar tadi.


"Wooo..jadi kau dikejar oleh seorang gadis?" Tanya Aston dengan nada mengejek.


"Diamlah!" Titah Ken melayangkan tatapan benci pada Aston.


"Kalian tidak tahu perempuan itu gila!" Ucap Ken kesal.


"Kau tega Ken! Aku tulus padamu tapi kau malah mengatakan aku gila?" Ucap seorang perempuan dari belakang kedua pria berbadan kekar tadi.


"Elviana Aliara? Kau model yang sedang naik daun itu?" Pekik Liza girang dan langsung menghambur berlari memeluk perempuan yang berbicara tadi.


Elviana membalas pelukan Liza tak kalah erat.


"Aku salah satu pengagum mu. Kau lebih cantik saat di lihat langsung." Ucap Liza girang.


"Terima kasih." Sahut Elviana sopan.


"Kalian keluarga Ken?" Tanya Elviana sopan.


"Em..kami keluarganya. Tapi aku keluarga jauh." Jawab Liza bahagia.


Mereka masih setia berpelukan.


"Oo.." Elviana manggut-manggut.


Elviana melepaskan pelukannya begitupun Liza.

__ADS_1


"Perkenalkan! Aku Elviana Aliara. Aku adalah kekasih Ken." Ucap Elviana sambil membungkuk.


"Tidak!" Sahut Ken tegas.


"Jangan tidak mengakui hubungan kita sayang! Bisa bahaya nanti." Ucap Elviana menatap tajam pada Ken.


"Perempuan gila! Pergi sana!" Usir Ken ketus.


Elviana seketika merubah mimik wajahnya menjadi sendu dan tak lama kemudian air matanya menetes bebas.


"Kau tega Ken! Setelah semua yang kita lalui, dan aku berikan padamu, kau sekarang tidak mau mengakui ku." Ucap Elviana terisak.


"KEN!!!" Ke-lima orang yang berada di dekat Ken langsung membentak bersamaaan dan menoleh ke arah Ken.


"Kalian salah paham. Yang dia katakan itu tidak benar. Dia itu memang perempuan gila." Ujar Ken membela diri.


"Ken, lebih baik kau selesaikan masalah kalian! Jangan pulang dengan membawa masalah!" Titah Dave.


Dave kemudian menarik Ken keluar dari persembunyiannya dan mendorong Ken ke depan.


"Tolonglah! Semua ini tidak sesuai yang dia katakan. Aku keluarga kalian tapi kenapa kalian lebih percaya padanya?" Bentak Ken geram.


"Ken, seorang perempuan tidak mungkin mengatakan sesuatu yang terlalu pribadi jika hanya ingin berbohong. Pergilah dan selesaikan semua masalah kalian." Ucap Arvina.


"Terserah kalian saja!" Ucap Ken kesal dan langsung pergi dari mansion Dave.


"Terima kasih kakak-kakak atas pengertiannya." Ucap Elviana membungkuk sopan.


"KEN..TUNGGU!" Teriak Elviana dan langsung berlari keluar mengejar Ken diikuti kedua pengawalnya.


"Aku tidak menyangka, ada perempuan yang akan mengejar si lemah itu." Ucap Aston seraya menggelengkan kepalanya.


"Lemah begitu dia tetap seorang pria." Timpal Liza terkekeh.


"Ya sudah, aku dan Liza harus pamit. Lain kali aku datang lagi untuk membahas kerjasama kita." Ucap Aston meremas pelan pundak Dave.


Dave hanya menjawab dengan anggukan.


Aston dan Liza pun pergi setelah mendapatkan ijin.


"Aku jadi kepikiran. Apa Elviana bisa menerima anakku jika nanti ia benar-benar menjalin hubungan dengan Ken dan mengetahui aku mengandung anaknya?" Tanya Arzena sendu sambil mengelus perut buncitnya.


"Jangan berpikir terlalu berlebihan. Semua akan baik-baik saja. Sebaiknya sekarang kau istirahat." Bujuk Arvina merangkul kembarannya.


Arzena mengangguk dan berjalan pelan masuj ke dalam kamar yang biasa ia gunakan.


"Sayang.." Panggil Dave manja dan merangkul posesif pinggang Arvina.


"Aku tahu yang kau inginkan sayang." Sahut Arvina mengalungkan tangannya memeluk leher Dave.

__ADS_1


"I love you." Bisik Dave dan sigap menggendong istrinya ke kamar mereka.


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2