TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Ceraikan Dia!


__ADS_3

"Ken..." Panggil Arvina kepada Ken yang sedang dikepung oleh para anak buah Dave yang menjaga di depan pintu.


Ken hanya menatap kesal kepada Arvina dan para anak buah Dave.


"Sudah! Jangan mengganggunya!" Titah Arvina membuat para anak buah Dave pun melepaskan Ken.


"Masuklah! Dave ingin bicara." Titah Arvina kepada Ken.


"Ti tidak. Tidak ada yang perlu dibicarakan." Tolak Ken terbata-bata.


Arvina mendengkus kesal.


"Masuk sendiri atau aku yang menyeretmu!?" Tanya Arvina dengan nada memerintah.


Ken menelan kasar air liurnya sebelum menjawab.


"Ba baik, a aku masuk." Jawab Ken.


Ken melangkah dengan enggan masuk ke dalam ruangan Dave.


Setelah Ken masuk, Arvina memilih keluar dan memberikan ruang dan waktu kepada dua saudara tiri itu untuk berbicara.


Setelah masuk ke dalam ruangan Dave, Ken hanya menunduk. Entah takut atau gugup, hanya dirinya yang tahu.


Dave masih memalingkan wajah menatap ke arah lain seolah enggan tapi terpaksa harus menerima kenyataan bahwa mereka adalah saudara satu Ibu.


"Ba bagaimana lukamu?" Tanya Ken mengakhiri sesi hening mereka.


Dave akhirnya memalingkan wajahnya untuk menatap Ken yang ternyata masih menunduk.


"Te terima kasih karena sudah menangkis peluru itu." Ucap Ken lagi.


"Aku tidak apa-apa." Jawab Dave akhirnya.


Keduanya kembali hening sejenak.


"A apakah aku sungguh masih mempunyai Ibu?" Tanya Ken kini memberanikan diri untuk menatap Dave.


Dave mengangguk.


"Kau senang?" Tanya Dave mencoba tersenyum.


Ken menggeleng namun detik kemudian ia mengangguk.


Dave mengernyit bingung.


"Aku senang karena masih mempunyai Ibu, tapi aku tidak senang karena kau adalah adikku." Ucap Ken.


"Aku juga tidak pernah berharap mempunyai saudara lemah seperti dirimu." Balas Dave kesal.


"Aku tidak lemah. Aku hanya tidak suka mencari masalah." Ketus Ken tak kalah kesal.


"Jelas sekali kau itu lemah. Setelah terpuruk bukannya bangkit kau malah membuat onar dimana-mana." Sahut Dave meninggikan suaranya.


"Hei, bagaimana aku bisa bangkit jika kau menutup akses jalanku?" Tanya Ken juga ikut meninggikan suaranya.


Dave terdiam.

__ADS_1


"Apa sungguh aku sekejam itu?" Batin Dave.


"Berhentilah berbuat onar! Aku akan menggantikan apa yang hilang darimu lima kali lipat." Ucap Dave seolah membuat penawaran.


"Aku tidak butuh uang banyak darimu! Aku hanya ingin jalanku menjadi desainer kau bukakan kembali!" Sahut Ken tegas.


"Kenapa kau sangat ingin menjadi desainer?" Tanya Dave bingung.


"Desainer bisa menghasilkan banyak uang." Jawab Ken datar.


"Kenapa tidak menjadi gangster sepertiku?" Tanya Dave datar tapi niatnya menggoda kakak tirinya itu.


"Gangster terlalu buruk dan mengerikan untuk orang lemah sepertiku." Jawab Ken kini berani menatap tajam kepada adik tirinya itu.


"Kenapa kau itu suka sekali dengan uang?" Tanya Dave mengejek.


"Karena aku tahu bagaimana rasanya dikucilkan, direndahkan dengan penuh hinaan hanya karena aku tidak punya uang dan orang tua. Hanya Arvina, kakaknya, dan kedua orang tuanya yang menganggapku keluarga mereka. Tapi kau datang merusak segalanya dan menjadikanku seorang penjahat di mata mereka. Kau membunuhku, membunuh kebahagiaan yang sebentar lagi akan ku gapai. Kau membuatku seolah menjadi seorang monster yang tidak tahu berterima kasih bahkan menghancurkan kehidupan kedua putri mereka. Jika saja kau tidak menutup jalanku dan pekerjaanku, mungkin semua itu tidak perlu tidak terjadi." Jawab Ken geram dan menumpahkan segala kekecewaannya.


Kini giliran Dave yang menunduk dan merenungi setiap perbuatannya.


"Kita sama....Ken. Sama-sama tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua kita. Bedanya adalah kau dibuang dan masih bertemu dengan orang baik. Aku dipelihara tapi seolah aku tak ada. Hanya uncle, kakak dari Mommy kita yang merawatku." Sahut Dave sendu dan memalingkan wajahnya.


"Sebenarnya aku sudah tidak memikirkan tentang orang tua. Aku hanya ingin bisa bekerja kembali dan mendapatkan uang banyak, itu saja." Ujar Ken santai.


"Jadi kau tidak ingin bertemu Ibumu?" Tanya Dave memastikan.


"Terserah. Sungguh, aku tidak pernah berharap masih mempunyai orang tua. Dari kecil aku memang hidup sendiri dan tumbuh dengan segala cacian dan hinaan. Jadi ada atau tidak ada orang tua, aku tidak terlalu memikirkan itu." Jawab Ken kembali menunduk.


"Dengar! Aku minta maaf untuk semua kejahatanku kepadamu. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan itu bisa membuat seorang lemah sepertimu menjadi seorang monster. Untuk pekerjaanmu, aku akan mengembalikannya dan aku akan merekomendasikan dirimu menjadi asisten desainer Angelo. Dia adalah desainer terbaik yang pernah aku kenal dan percaya." Ujar Dave tulus.


"Sungguh?" Tanya Ken berbinar.


Dave mengangguk pelan.


"Setelah kau lulus menjadi Asisten Desainer, kau bisa saja dicari dan dipercaya beberapa artis atau model untuk menjadi desainer pribadi mereka seperti Angelo." Jelas Dave lagi.


Raut bahagia semakin terpancar dari wajah Ken.


Ken langsung mendekati Dave dan mendekapnya erat.


"Terima kasih. Kau memang yang terbaik." Ucap Ken spontan.


Dave tersenyum kecil.


"Apa ini rasanya mempunyai seorang saudara?" Batin Dave.


"Lepaskan aku! Aku bisa mati karena dekapanmu!" Titah Dave melepaskan Ken darinya.


"Maaf, maaf. Aku terlalu bahagia." Ujar Ken tersenyum lebar.


Mereka kembali terdiam sejenak.


"Bolehkah aku meminta sesuatu yang lain?" Tanya Ken ragu.


"Katakan! Selama kau tidak meminta istriku atau istri sahabatku, aku akan berikan!" Jawab Dave menajamkan tatapannya.


"Bu bukan itu, tapi masih ada hubungan dengan mereka. Aku ingin kau bisa membantuku untuk meminta maaf kepada mereka sekeluarga terutama Arzena. Kesalahanku sudah terlalu banyak kepada mereka." Pinta Ken menunduk lesu.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membantumu. Aku juga bertanggung jawab atas kejahatan konyolmu itu." Sahut Dave menyanggupi.


"Jadi, apa kau akan memanggilku kakak?" Tanya Ken tersenyum.


"Jangan berharap! Memanggil namamu saja membuat lidahku kelu. Jika aku harus memanggilmu kakak, bisa-bisa aku mati ditempat." Ejek Dave.


Ken tersenyum kaku dan menggaruk tengkuknya.


Mereka kembali terdiam hingga suara Arvina terdengar.


"Sayang, bisakah aku ijin pulang sebentar?" Mommy dan Daddy sedang di mansion.


Tanya Arvina mendekati Dave.


"Bisa. Aku juga akan ikut pulang." Jawab Dave.


"Dave, lukamu pasti masih basah. Itu tidak akan baik untukmu." Ujar Arvina khawatir.


Dave menangkup wajah istrinya lembut.


"Sayang, percayalah! Aku tidak apa-apa. Jika ada masalah nanti, kau bisa memanggil Hansen untuk mengobatiku. Aku sangat benci rumah sakit." Ucap Dave meyakinkan istrinya.


Arvina akhirnya memilih mengalah.


"Baiklah." Ujar Arvina.


Dave segera melepaskan selang infus dari tangannya juga selang oksigen yang sedari tadi masih menempel di hidungnya.


"Pelan-pelan." Titah Arvina membantu Dave turun dari ranjang.


"Kau ikut atau ... "


"Ikut." Jawab Ken cepat sebelum Arvina menyelesaikan pertanyaannya.


Ken tidak sanggup melihat sisi kasar Arvina.


Mereka pun berjalan keluar dari ruangan perawatan Dave menuju ke parkiran tempat mobil Dave disimpan, sebelumnya Arvina sudah menyuruh orang-orang Dave untuk mengurus administrasi rumah sakit.


Arvina menyetir, sedangkan Dave di sampingnya dan Ken dibelakang.


"Ada masalah apa tiba-tiba Mommy dan Daddy ke mansion?" Tanya Dave lembut dan satu tangannya selalu mengelus rambut istrinya.


"Entahlah. Mungkin mereka merindukanku." Jawab Arvina tersenyum.


Satu jam kemudian mereka sampai di mansion.


Arvina membantu Dave untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion, sedangkan Ken mengikuti dari belakang.


Saat baru memasuki pintu mansion, ketiganya bisa melihat dua pasang orang tua yang sedang duduk dengan ekspresi tak biasa.


"Mom, Dad.." Sapa Arvina kepada Darvin dan Zevina.


"Sayang.." Zevina dan Darvin berdiri hendak menyambut anak dan menantunya, namun diluat dugaan Rexa berdiri dan langsung menghalangi jalan mereka.


"Dave, ceraikan dia!"


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2