TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Tekad Hansen


__ADS_3

"Engh.." Arvina melenguh pelan dan perlahan membuka matanya.


Setelah tadi malam ia mendapati keadaan Dave yang cukup kacau didalam ruangan fitness nya, ia akhirnya mau tak mau memilih untuk menenangkan Dave.


"Morning babe." Sapa Dave yang masih memeluk dirinya.


"Dave, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Arvina tersentak namun tidak bisa beranjak karena Dave memeluknya sangat erat.


"Menatap wajah cantik mu, dan ini adalah kamar ku. Lebih tepatnya kamar kita." Jawab Dave santai dan mengeratkan pelukannya


"Enyahlah! Aku memang berjanji tidak akan pergi, tapi itu semua karena keterpaksaan. Bukan berarti aku sudah memaafkan mu." Ucap Arvina ketus dan memaksa lepas dari Dave.


Setelah berhasil lepas, ia langsung turun dari ranjangnya lalu menghentakkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.


Dave hanya tersenyum melihat tingkah lucu wanitanya.


"Sekarang dia mudah sekali membuatku bergairah." Gumam Dave memikirkan hal kotor di otaknya.


Pikiran Dave semakin menjadi saat ia mulai mendengar gemericik air dari kamar mandi.


Ia memilih untuk berjalan ke arah kamar mandi dan mencoba menyelinap masuk.


Dewi Fortuna memang berpihak padanya, karena Arvina tidak mengunci pintu kamar mandi.


Ia sudah melepas semua pakaiannya dan tiba-tiba memeluk Arvina yang memanjakan diri dibawah guyuran air shower dari belakang.


Arvina terkejut dan berbalik.


"Dave, apa yang kau lakukan?" Tanya Arvina takut dan berusaha menutupi kedua area pribadinya dengan tangannya.


"Kenapa ditutup sayang? Aku bahkan sudah pernah merasakannya." Ucap Dave dengan seringai tipis.


"Jangan coba-coba mendekat Dave. Jika kau memaksaku untuk melayani mu, maka bersiaplah setelah ini kau hanya akan melihat jasad ku." Ancam Arvina.


Akhirnya Dave mengurungkan niatnya untuk menggempur Arvina.


Ia menarik paksa tangan Arvina dan meminta Arvina untuk tetap mandi bersama dengannya.


Selesai mandi, mereka keluar dari kamar mandi.


Arvina segera mencari pakaian yang cocok dan setelah ketemu ia langsung mengenakannya.


Setelah selesai, Arvina langsung turun kebawah untuk menghindari Dave.


Ia tidak ingin jika sampai Dave nekat memaksanya.


Arvina keluar dari kamarnya dan turun ke dapur dengan niat ingin membuat sarapan, namun niatnya batal saat melihat dokter Hansen berjalan masuk dari arah pintu utama mansion Dave.


"Hai kakak ipar." Sapa Hansen dengan percaya diri.


"Menjijikkan. Siapa juga yang mau jadi kakak ipar mu? Jangan berharap terlalu tinggi!" Ujar Arvina ketus.


"Ckckck..kau sungguh sangat temperamen seperti kekasihmu. Pantas saja kalian bisa berjodoh." Ledek Hansen pada Arvina.


Arvina memutar malas kedua matanya.


"Kakak ipar kemarilah! Aku sudah membawakan banyak sarapan bergizi untuk kalian." Ajak Hansen yang berjalan terlebih dulu kearah ruang makan.

__ADS_1


Arvina hanya menurut.


Hansen dengan semangat mengeluarkan banyak sekali makanan yang ia bawa.


"Banyak sekali? Apa dia pikir dia sedang memberi makan babi?" Gumam Arvina membuat Hansen tertawa kecil.


Hansen dan Dave mempunyai pendengaran yang tajam.


Dan Hansen adalah orang kepercayaan Dave setelah Drick, hanya saja Hansen tidak menampakkan secara nyata identitas nya sebagai anggota gangster.


"Makanlah, biar aku panggilkan calon istriku." Titah Hansen dengan percaya diri.


"Eh, tidak perlu. Jangan coba-coba mendekati adikku saat aku tidak bersamanya. Aku yang akan memanggilnya." Cegah Arvina.


"Baiklah kakak ipar, sepertinya itu lebih baik." Ujar Hansen tersenyum manis.


Dibanding Dave, Hansen mempunyai senyum yang manis walau usianya terpaut sedikit jauh diatas Dave.


"Apa Dave belum bangun? Rasanya tidak mungkin dia bisa tidur sesiang ini, sedangkan dulu dia sangat susah tidur." Gumam Hansen sambil mengunyah makanannya.


"Hei, siapa yang mengijinkan mu untuk duduk di kursi meja makan ku?" Ketus Dave dari arah tangga.


Hansen tersenyum sinis.


"Kemarilah bung! Aku membawa banyak makanan babi untuk mu." Kelakar Hansen mengingat perkataan Arvina tadi.


Dibanding Drick, Hansen lebih bersikap santai pada Dave dan lebih menentang Dave jika memang Dave bersalah.


Dave mendekat dan duduk berhadapan dengan Hansen.


Dave hanya mengambil sebuah roti dan menyantapnya.


Tak lama dua wanita cantik berbeda penampilan pun berjalan mendekat ke arah mereka.


"Ya Tuhan, jantungku." Gumam Hansen melihat kearah Arzena.


"Singkirkan tatapan nyalang mu itu!" Tegur Dave kesal.


"Kau ini kenapa? Aku tidak buta! Aku bisa membedakan yang mana kakak ipar dan yang mana calon istriku." Ujar Hansen.


Hansen langsung berdiri dan menarik kursi di sampingnya untuk Arzena.


"Silahkan duduk sayang." Ujar Hansen tersenyum manis.


Arzena tidak menghiraukan dirinya dan langsung duduk.


Arvina duduk disamping Dave karena Dave menatap tajam padanya dan memberi kode agar ia duduk di sampingnya.


Mereka pun masing-masing menyantap makanan yang ingin mereka santap.


"Kau seorang dokter?" Tanya Arzena memecahkan keheningan pada Hansen.


Hansen tersenyum manis.


"Benar sayang. Aku seorang dokter. Dokter yang mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Tapi aku paling handal jika membuat anak " Jawan Hansen tanpa berdosa.


"Jaga ucapanmu dokter mesum!" Tegas Arvina menodongkan pisau kecil pada Hansen.

__ADS_1


Hansen tersenyum dan menggaruk tengkuknya.


"Apa kau bisa menyembuhkan seseorang yang kecanduan obat terlarang?" Tanya Arzena berharap.


"Itu bukan bidang ku. Tapi jika kau mau aku bantu, aku punya cara ampuh untuk menyembuhkan mu." Jawab Hansen masih dengan nada bercanda.


"Arghh.." Hansen mengerang kesakitan saat Arvina menendang tepat pada pusat pribadinya dari bawah meja.


"Kakak ipar, apa kau gila?" Tanya Hansen merintih kesakitan.


Dave menatap tajam pada Hansen, namun hatinya menertawakan Hansen.


"Sudah ku bilang, jangan berkata atau berbuat yang tidak sopan pada adikku!" Ketus Arvina.


"Aku tidak mengatakan apapun. Tapi yang aku katakan memang benar. Aku punya cara untuk menyembuhkan nya." Ujar Hansen membela diri.


"Baiklah. Apapun caranya, aku minta tolong oadamu. Aku ingin sembuh dari kecanduan ku!" Pinta Arzena serius.


"Satu bulan cukup untukku menyembuhkanmu. Tapi kita harus melakukan dirumah ku." Usul Hansen sedikit modus.


"Jangan harap! Jika kau ingin membawa adikku pergi, aku tidak akan pernah setuju dan lebih baik kami mencari alternatif lain." Ancam Arvina.


"Baiklah baik. Aku akan mengobati adikmu disini. Tapi setelah dia sembuh, aku ingin menikahi nya." Ujar Hansen tanpa ragu.


"Apa apaan? Seenaknya saja menikahi adikku. Berpikirlah dulu sebelum berbicara!" Ketus Arvina.


Setelah Dave, kini hadir seorang Hansen yang selalu membuat darahnya terasa mendidih.


"Well..aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Aku juga tidak pernah ingkar janji. Bagaimanapun caranya, aku pasti akan menikahi adik kembarmu." Ucap Hansen serius menatap tajam Arvina.


Arvina juga membalas tatapannya tak kalah tajam.


"Dan pengobatan akan dimulai hari ini." Tegas Hansen.


"Baik." Jawab Arzena menyanggupi.


Arzena sudah bertekad untuk berubah, dan ia tidak ingin lagi membuat kakaknya bersedih setelah semua yang mereka alami.


######


London, Inggris


"Keanu, aku ingin meminta bantuan padamu." Pinta Darvin melalui sambungan telepon.


"Katakan saja!" Titah Keanu tegas.


"Bantu aku untuk memantau keadaan kedua putriku! Aku dan Zev selalu merasa tidak tenang akhir-akhir ini, terutama setiap kali memikirkan mereka." Pinta Darvin.


"Baiklah! Serahkan padaku. Aku akan kerahkan beberapa bawahan ku di Sydney untuk memantau keadaan si kembar." Jawab Keanu menyanggupi.


"Terima kasih, bung." Ucap Darvin.


"Santai." Jawab Keanu dan panggilan pun mereka akhiri.


"Perasaan ku semakin tidak nyaman, aku tidak bisa lagi tinggal diam. Tapi semoga saja semua firasat ku dan Zev hanya karena kami terlalu khawatir saja." Gumam Darvin.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2