
"Sayang, kau sudah selesai?" Tanya Arzena saat melihat Hansen melepaskan jas kedokterannya dan menyimpannya.
"Em.." Jawab Hansen pelan.
Hansen kemudian duduk di kursi kerjanya lalu lanjut mengerjakan sesuatu di komputernya.
"Arghh.." Erang Hansen pelan sambil meregangkan ototnya.
Setelah mematikan komputernya, Hansen mendekati Arzena dan mengulurkan tangannya.
"Ayo, aku sudah selesai." Ajak Hansen.
Arzena menyambut uluran tangan Hansen dengan bahagia.
Mereka berjalan keluar dari ruangan kerja Hansen.
"Awh.." Pekik Olivia dengan sensual saat bersentuhan tubuh dengan Hansen.
Olivia memang sengaja menunguu Hansen keluar sejak beberapa menit yang lalu.
Hansen geram dan tidak segan mendorong Olivia hingga tersungkur di lantai.
"Aku tegaskan Olivia, jangan coba-coba untuk merayuku ataupun menyentuhku lagi! Aku tidak sudi meski hanya terkena tetesan keringatmu!" Tegas Hansen geram.
Hansen langsung menarik Arzena dengan lembut untuk pergi dari ruangan kerjanya.
Arzena menoleh dan menjulurkan lidahnya serta mengacungkan jari tengahnya kepada Olivia.
"Dasar wanita bangkai! Tidak bisakah dia mencium baunya sendiri?" Gumam Arzena dan masih bisa didengar oleh Hansen.
Mereka kini sudah berada di dalam mobil.
Hansen segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
"Sayang, kenapa diam?" Tanya Hansen merasa tak nyaman karena Arzena sedari tadi hanya diam.
"Tidak." Jawab Arzena sendu.
Hansen seolah mengerti apa yang ada di dalam pikiran istrinya, ia pun mengarahkan mobilnya menuju ke arah mansion Dave.
Arzena belum menyadari hal itu.
Satu jam kemudian mereka pun sampai di mansion Dave.
"Sayang, kita kenapa datang ke sini?" Tanya Arzena bingung namun tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya.
"Agar kau bisa bertemu kakakmu dan kita akan menginap di sini malam ini." Jawab Hansen tersenyum manis.
"Terima kasih sayang. Kau sungguh yang terbaik." Ucap Arzena girang dan langsung memeluk Hansen.
"Aku akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu agar kau tidak pergi dariku." Ujar Hansen.
"Tidak perlu Hans. Kau cukup menjadi dirimu, mencintaiku dengan caramu, dan jangan melirik wanita lain, itu sudah cukup bagiku." Sahut Arvina melepaskan pelukannya.
"Ayo kita turun." Ajak Hansen.
Mereka pun turun dari mobil dan segera masuk ke dalam mansion Dave.
__ADS_1
"TWINS.." Arzena berteriak girang memanggil Arvina.
"Hei, di sini!" Sahut Arvina sambil melambaikan tangannya dari arah ruang makan.
Terlihat ada kedua orang tua Dave juga.
"Oh hai semuanya." Sapa Arzena sopan.
"Vina, kau memiliki saudari kembar?" Tanya Rexa berbinar.
"Ya Mom." Jawab Arvina singkat dan tersenyum manis.
"Duduklah! Kalian pasti belum makan." Titah Dave.
Aura kebencian yang Dave tebarkan selama ini terutama menyangkut kedua orang tuanya kini sudah tidak terlalu menonjol lagi.
"Kau sedang hamil, makanlah yang banyak." Titah Arvina menyendok berbagai macam makanan untuk Arzena.
"Terima kasih twins." Ucap Arzena berbinar.
"Hah, melelahkan." Ketus Drick yang tiba-tiba sudah berada di hadapan mereka.
"Oh my.." Drick kaget saat mengetahui ada enam pasang mata yang tengah menatapnya heran.
Drick tersenyum kaku dan membungkuk untuk memberi hormat.
"Bergabunglah Drick." Titah Arvina.
"Tidak, aku baru saja selesai makan." Tolak Drick halus dan memilih untuk duduk di ruang keluarga.
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga sambil berbincang kecil.
"Mom, sebaiknya Mom dan Dad istirahat dulu. Ini sudah malam." Titah Arvina sopan pada kedua mertuanya.
"Baiklah, kami permisi dulu." Ucap Rexa kemudian mendorong kursi roda Jeymian menuju kamar mereka.
"Sayang, boleh aku berbicara dengan Hansen dan Drick sebentar?" Tanya Arvina meminta ijin kepada Dave.
Dave tampak berpikir sejenak.
"Em, tapi jangan lama-lama." Jawab Dave memberi ijin.
Arvina mengangguk.
"Ikut aku!" Titah Arvina menatap tajam kepada Hansen dan Drick.
Mereka pergi meninggalkan Arzena dan Dave.
Arvina membawa Hansen dan Drick menuju ke taman belakang.
"Ada apa kakak ipar?" Tanya Hansen tersenyum jahil.
"Ken adalah kakak tiri Dave." Ucap Arvina.
"APA? KAU YANG BENAR SAJA?" Pekik Hansen dan Drick bersamaan.
"Ssttt..diamlah! Pelankan suara kalian! Saat ini Dave belum mengetahui kebenarannya." Ujar Arvina pelan.
__ADS_1
"Lalu kau tahu darimana?" Tanya Drick penasaran.
"Uncle Ke." Jawab Arvina singkat.
"Lalu, kapan kau akan memberitahu Dave tentang ini?" Tanya Hansen gusar.
"Itu dia masalahnya. Aku bingung." Ujar Arvina memasang tampang memelas.
"Sebaiknya kau beritahu dia saat keadaan sudah lebih kondusif." Ucap Drick memberi masukan.
Arvina mengangguk paham.
"Dari Ayahnya atau Ibunya?" Tanya Hansen penasaran.
"His Mom." Jawab Arvina.
Mereka melanjutkan pembicaraan sambil menyusun strategi dan waktu yang tepat untuk memberitahukan kebenaran tentang Dave dan Ken kepada Dave.
•••••••••••••••••
Arzena yang ditinggal sedari tadi hanya bersama Dave mulai merasa tidak nyaman.
"Lama sekali?" Gumam Arzena gusar.
"Ekhem...Arzena." Panggil Dave tiba-tiba.
"A ada apa?" Tanya Arzena panik.
"Aku minta maaf untuk semua perbuatanku padamu. Semua kegilaan ku dan apa yang pernah aku lakukan kepadamu dan semuanya. Aku minta maaf." Ucap Dave gugup.
"Em..tidak apa-apa. Aku juga bersalah saat itu." Jawab Arzena tulus.
Dave lega begitupun Arzena.
"Hei, apa yang kalian bicarakan?" Tanya Arvina merangkul Dave dari belakang.
"Tidak." Jawab Dave mengelus lembut lengan Arvina.
"Ayo, kita istirahat. Aku sudah mengantuk." Ajak Arvina kepada Dave.
Dave menurut dan mereka pun segera naik ke kamar mereka begitupun dengan yang lainnya. Drick juga memutuskan untuk menginap.
••••••••••••••••••
"ARGHHHH..." Erang Ken frustasi.
Sejak mengetahui kebenaran bahwa dia dan Dave adalah saudara, Ken begitu frustasi.
Hari-harinya ia habiskan dengan mengurung diri di dalam rumah dan mabuk-mabukan.
"Kenapa? KENAPA HARUS DIA YANG MENJADI SAUDARAKU? AKU BENCI MEREKA!" Teriak Ken menggila.
"TIDAK, SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN MENERIMA MEREKA MENJADI SAUDARAKU! TIDAK AKAN PERNAH!" Teriak Ken geram.
Ken kembali meneguk minumannya botol demi botol, kaleng demi kaleng.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1