TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Terima Kasih


__ADS_3

"Ken.." Sapa Elviana yang langsung masuk ke dalam ruangan Ken tanpa setidaknya mengetuk pintu terlebih dulu.


Ia dari kediaman orang tuanya dan langsung menuju ke rumah sakit tadi.


"El, kau datang? Apa sudah sehat?" Tanya Jeymian penuh perhatian.


"Oh, uncle. Maaf tidak sopan. Aku kira tidak ada orang lain. Aku baik, uncle. Sudah tidak apa-apa." Jawab Elviana sedikit menunduk.


Ken hanya diam menatap wajah pucat wanita yang ia cintai itu, wajah Elviana cantik alami tanpa polesan make up saat ini.


"Well, uncle rasa kalian butuh sedikit privasi. Uncle keluar dulu." Jeymian bangkit dari duduknya dan beranjak keluar dari dalam ruangan Ken.


Ia berjalan menuju toilet karena mendapatkan panggilan alam.


"Ken, maafkan aku!" Elviana membungkuk dan memeluk tubuh ringkih Ken seadanya.


"El, bisa bantu aku untuk duduk dulu? Begini sangat tidak nyaman." Pinta Ken lemah.


Elviana menurut dan segera membantu Ken dengan duduk dengan hati-hati.


"Aku dengar kau pingsan kemarin? Apa sudah baikan?" Tanya Ken khawatir.


"Jangan khawatirkan aku! Aku baik-baik saja." Jawab Elviana menarik kursi yang ada di samping ranjang Ken lalu duduk di sana.


Elviana meraih tangan Ken dan menggenggamnya erat.


"Ken, maafkan aku! Maafkan semua kebodohanku. Jija malam itu aku tidak memilih untuk bersandiwara, semua ini pasti tidak akan terjadi." Pinta Elviana terisak.


"Hei, jangan menangis. Aku tidak marah padamu. Aku justru bersyukur kau melakukan sandiwara payah itu. Aku jadi tertantang untuk menjadi kuat dan tangguh untuk mendapatkan dirimu. Terima kasih." Ucap Ken menghapus air mata Elviana.


"Tapi kau jadi terluka seperti ini bahkan hampir saja mati." Elviana merengek manja.


"Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja." Sahut Ken tersenyum tulus.


Elviana tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"Jadi kau benar-benar sudah baik-baik saja?" Tanya Elviana semangat.


Ken mengangguk pelan.


"Mana buktinya?" Tanya Elviana menantang.


Ken tersenyum malu-malu. Tangannya terulur meraih tengkuk Elviana hingga wajah mereka menjadi sangat dekat, dan detik kemudian bibir mereka menyatu saling meluapkan rasa rindu mereka selama kurang lebih dua minggu ini. Mereka berciuman dengan sangat panas.

__ADS_1


"Dad, Woooo....." Dave kaget melihat dua insan yang sedang berciuman mesra itu. Dengan cepat ia menutup kembali pintu ruangan Ken yang sudah sempat ia buka tadi.


"Ada apa sayang?" Tanya Arvina penasaran.


"Em...di dalam sedang ada adegan horor. Lebih baik kita tunggu hingga adegan itu selesai." Jawab Dave mengulum senyumnya.


Arvina seketika mengerti maksud Dave, dan menjadi yakin kalau tadi ia memang melihat Elviana.


"Jangan bodoh, Dave. Ken baru saja bangun, jika mereka kebablasan dan melakukan hal tidak senonoh, Ken bisa bahaya." Ucap Arvina mengingatkan, tidak ada maksud lain, ia hanya tidak ingin kakak ipar sekaligus sahabatnya itu terluka lagi.


Arvina nekat membuka pintu ruangan Ken dan masuk ke dalam disusul Dave.


"Ekhem..." Dave berdehem kasar membuat dua insan yang masih bergelut bibir itu gelagapan menyudahi aksi nakal mereka.


"Arvina, Dave? Ka kalian kemari?" Tanya Elviana basa basi serta gugup dan malu.


"Kami memang di sini dari pagi, El." Jawab Arvina lembut.


"Oh.." Elviana kehabisan kata-kata untuk sekedar basa basi lagi sedangkan Ken masih menggenggam tangannya erat.


"Ken, ini. Kami sudah membelikan bubur untukmu. Makanlah." Arvina memberikan bubur yang tertata rapi di dalam kotak makanan kepada Ken.


"Sini, biar aku yang menyuapimu." Elviana gesit merebut bubur yang Ken pegang.


"Ken, Daddy dimana?" Tanya Dave celingukan.


"Em..tadi dia keluar. Mungkin sedang jalan-jalan." Jawab Dave sambil mengunyah bubur yang ada di dalam mulutnya. Bubur tersebut memang bukan bubur yang super halus melainkan sejenis bubur nasi.


"Aku keluar dulu untuk cari Daddy." Dave pamit sebentar pada Arvina lalu keluar dari ruangan Ken.


Lima belas menit kemudian Dave kembali, tapi tidak hanya Jeymian bersamanya, melainkan ada Hansen dan juga Arzena.


"Oh, hai.." Arvina menyapa kembarannya juga adik iparnya bergantian.


"Hei, kau sudah lebih baik?" Tanya Arzena mendekati Ken.


"Em.." Jawab Ken seadanya lalu menatap Hansen sekilas. Ia masih takut pada Hansen meski ia tidak selemah dulu lagi.


Kini tatapan mata Ken terus tertuju pada perut buncit Arzena. Ingin rasanya bisa mengelus perut buncit itu, pikirnya.


"Um..twinsnya Vina? Boleh Ken mengelus perutmu? Bagaimanapun Ken adalah Ayah biologis mereka kan?" Tanya Elviana dengan berani seolah mengerti pikiran Ken.


Arzena melirik ke arah Hansen, dan ternyata Hansen mengangguk dan tersenyum tulus.

__ADS_1


"Silakan." Arzena mendekati Ken dan Elviana memberi tempat untuk mereka agar lebih dekat.


Tangan Ken terangkat perlahan mengelus perut buncit Arzena.


"Hai, Twins. Ini Daddy kalian! Maaf, Daddy tidak pernah menyentuh kalian sebelumnya dan ini yang pertama kalinya. Tapi percayalah, Daddy juga mencintai kalian." Bisik Ken getir.


"Maafkan Daddy juga, membuat kalian hadir di rahim Mommy kalian dengan cara yang salah. Terima kasih karena tumbuh dengan baik dan sebentar lagi akan hadir di tengah-tengah kami semua." Bisik Ken lagi.


Semua yang ada di sana hening melihat pemandangan haru itu. Hansen memilih menepikan egonya, meski ia sangat benci istrinya di sentuh pria lain.


"Bo bolehkah aku mengecupnya?" Tanya Ken melihat ke arah Hansen.


Hansen diam dan menatap Ken datar.


"Jika tidak boleh, tidak apa." Lanjut Ken sedih.


"Lakukan saja, kau Daddy biologis mereka. Bagaimanapun darahmu secara nyata mengalir di dalam tubuh mereka." Ucap Hansen akhirnya.


Ken dengan bersemangat langsung mengecup perut buncit Arzena dua kali.


"Daddy mencintai kalian." Ucap Ken bahagia.


"Segeralah menikah dengan El, agar twins cepat punya saudara lagi." Ucap Arzena menepuk pundak Ken.


"Tidak, tidak. Setidaknya tunggu aku berhasil dulu." Sanggah Ken malu-malu.


"Aku akan memberimu hartaku sebagian. Dan warisan Daddy Jey juga ada, nanti kita masih bisa bagi berdua." Usul Dave merangkul Ayahnya.


"Tapi itu semua milikmu." Sanggah Ken lagi.


"No! Milik kita. Tidak menerima penolakan, Ken." Tegas Dave, sedang yang lain tertawa gembira.


"Aku bahagia akhirnya aku punya keluarga." Batin Ken haru.


"Em..ayo, yang belum makan, kita makan bersama. Dan Hans, seharusnya kau mulai membiasakan Zena menggunakan kursi roda. Lihat perutnya sudah sangat besar." Ajak Arvina lalu protes pada Hansen.


"Bukan aku tidak mau, cerewet. Tapi istriku yang menolak. Katanya banyak berjalan tidak akan berbahaya selama dia hati-hati." Jawab Hansen jengkel. Ingat kan? Hansen dan Arvina memang musuh bebuyutan sedari awal bertemu. Tapi bukanlah musuh sesungguhnya, mereka hanya suka sekali berdebat.


"Bilang saja kau pelit!" Sarkas Arvina.


"Aku akan belikan gudang kursi rodanya sekalian!" Tegas Hansen dan mendapat tatapan tajam dari Arzena.


"Terima kasih, hidup! Untuk kesempatan yang kau berikan pada kami! Untuk kami berubah menjadi lebih baik, lebih tangguh, dan lebih kuat. Untuk setiap momen yang akan terangkai indah mulai detik ini! Kami bersyukur, setiap yang sudah terjadi, kini membentuk kami menjadi pribadi yang lebih baik dan kuat. Mejadikan kami insan yang saling menyayangi dan melengkapi. Terima kasih!"

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2