
Satu Minggu Kemudian
"Sial! Kemana wanita manja itu sebenarnya? Bagaimana bisa sampai hari ini aku belum juga menemukannya?" Geram Velano menjambak kasar rambutnya.
Sudah satu minggu Velano mencari Raina kemanapun, tapi ia sama sekali tidak menemukan jejak Raina dimana-mana.
Velano tidak menaruh curiga apapun pada Drick bahkan ia tidak terpikir Drick sedikitpun.
Fokusnya adalah menemukan Raina.
"Apa ada yang sudah membantunya?" Gumam Velano menerka-nerka.
"Tidak, siapapun yang membantunya tidak akan pernah lolos dari pantauanku." Gumam Velano lagi.
"Aku harus bisa menemukannya." Velano keluar dari ruang kerjanya dengan membawa kunci mobil.
Setelah di dalam mobil, Velano segera mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya untuk kembali mencari Raina.
Velano berubah menjadi Velano yang penuh dengan obsesi. Tidak ada lagi Velano yang menguatkan Raina kemarin, yang ada hanyalah Velano yang dibutakan oleh kemarahan.
KYAATTTT BRAKKK
Velano menabrak seseorang karena ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tidak fokus.
"Sial!" Velano memukul setir mobilnya dengan kasar.
Mau tidak mau ia harus turun dari mobilnya dan melihat siapa yang ia tabrak dan bagaimana kondisinya.
"Sshhh.." Seorang wanita berusaha untuk bangkit dari aspal jalanan.
"Kau tidak apa-apa Nona?" Tanya Velano membantu wanita itu berdiri.
"Tidak, aku tidak ... "
"Kau?" Tanya Velano tak percaya.
Wanita yang ia tabrak adalah wanita mantan pelayan klub malamnya, juga gadis yang sudah ia renggut kesuciannya karena ulah jahil teman-temannya.
"Maaf, aku yang salah." Wanita itu membungkuk dan meminta maaf.
Velano diam mematung saat ia menatap dalam mata wanita itu, tersirat luka dan ketakutan yang coba ia sembunyikan.
Tanpa banyak bicara, wanita itu melangkah meninggalkan Velano yang masih diam mematung.
Velano hendak kembali ke mobil, sayangnya melihat darah segar mengalir dari celah paha wanita itu membuat Velano mengurungkan niatnya.
Dengan cepat ia berlari lalu menggendong wanita itu dan memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya.
"Tuan, aku sudah tidak punya urusan denganmu." Wanita menatap tajam kepada Velano.
"Diam!" Titah Velano dan langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Dalam waktu setengah jam mereka sampai di depan rumah sakit.
Velano segera turun dari mobilnya dan kembali menggendong wanita itu turun dari mobilnya.
__ADS_1
Velano membawanya ke ruang UGD dan ia segera meminta seorang dokter menangani wanita itu.
Velano menunggu dengan santai, namun entah kenapa ia juga merasa khawatir.
Satu jam kemudian, dokter yang menangani wanita itu keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana dokter?" Tanya Velano cemas.
"Istri anda dan kandungannya baik-baik saja." Jawab dokter itu.
"Dia hamil?" Tanya Velano gusar.
"Benar. Kehamilannya memasuki minggu kedelapan. Harap dijaga baik-baik karena kandungannya sangat lemah." Jelas dokter itu lagi.
"Baik." Jawab Velano.
Dokter itu pun pergi meninggalkan Velano.
Tak lama, wanita itu dipindahkan ke ruang inap.
Velano mengikuti para perawat yang memindahkan wanita itu.
"Silakan Tuan." Ujar salah satu perawat mempersilakan Velano untuk masuk.
Velano langsung masuk tanpa banyak bicara, ia duduk di kursi samping ranjang wanita itu.
"Kau hamil?" Tanya Velano tak percaya.
Wanita itu memalingkan wajahnya enggan menatap Velano.
"Aku bertanya padamu!" Velano mencengkram kuat lengan kecil itu membuat wanita itu meringis dalam diam.
"Apa itu anakku, Elle?" Tanya Velano dengan suara tercekat.
"Bukan!" Jawab Elle tetap enggan menatap Velano.
"Kau yakin?" Tanya Velano yang entah kenapa sangat berharap kalau itu adalah anaknya.
"Anak siapapun yang aku kandung, bukan urusanmu Tuan! Sekarang pergilah!" Jawab Elle sedikit meninggikan suaranya.
"Aku akan melakukan tes DNA!" Tegas Velano kini berhasil membuat Elle menatapnya.
"Jangan! Aku tidak ingin melakukan tes sialan itu! Jangan khawatir, aku tidak akan menuntut apapun darimu. Tapi jangan sakiti bayiku dengan memaksaku melakukan tes DNA." Tolak Elle tegas.
"Jadi itu anakku?" Tanya Velano berharap Elle menjawab tegas dan mengatakan iya.
"Bukan! Dia anakku." Jawab Elle kembali memalingkan wajahnya.
"Apa gunanya kau mempertahankan dia jika kau menghukumnya dan memisahkannya dari Ayahnya?" Tanya Velano geram.
"Karena aku tahu, Ayahnya pasti tidak menginginkannya. Bahkan Ayahnya saja tidak percaya pada Ibunya, bagaimana mungkin bisa mau menerimanya?" Jawab Elle menitikkan air mata.
"Apa maksudmu?" Tanya Velano bingung.
"Tuan, malam itu sungguh bukan aku yang menjebakmu. Aku juga di jebak oleh teman-temanmu. Aku diminta untuk mengantarkan minuman kepadamu, dan aku sama sekali tidak tahu kalau kau sedang dipengaruhi oleh obat-obatan. Dan kehadiran kekasihmu, aku juga tidak tahu sedikitpun." Jelas Elle berani dan menatap mata Velano.
__ADS_1
Velano kaget mendengar kejujuran wanita yang selama ini ia anggap sebagai perusak dan sangat ia benci.
"Aku harus pulang." Elle melepaskan infus dari tangannya dan turun dari ranjang lalu berjalan hendak keluar dari ruang inap itu.
Velano berhasil menarik tangan Elle dan mencengkram cukup kuat.
"Biarkan aku menikah denganmu dan mempertanggungjawabkan semuanya." Pinta Velano menatap mata Elle.
"Tidak! Aku tidak mau merusak hubungan orang lain. Aku bisa merawat dan membesarkan bayiku sendiri." Tolak Elle.
"Jangan membantahku!" Velano menarik Elle keluar dari ruang inap itu dengan kasar
"Masuk!" Titah Velano setelah membuka pintu mobilnya.
Mau tidak mau akhirnya Elle masuk ke dalam mobil Velano.
Setelah masuk, Velano langsung mengendarai mobilnya pergi dari rumah sakit itu.
Sepanjang perjalanan mereka diam tanpa obrolan sedikitpun.
Mereka kini sampai di depan sebuah rumah mewah.
Velano turun terlebih dulu, lalu Elle.
"Ayo, aku akan selesaikan semuanya hari ini." Ajak Velano menggenggam erat tangan Elle. Tidak seperti tadi, Velano kini lebih lembut.
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu.
Terlihat dua pasang orang tua sedang duduk dan ada yang mondar-mandir, gusar.
Mereka adalah Jack dan Derex dengan istri masing-masing.
"Uncle Jack, uncle Derex, ada yang ingin aku sampaikan dan jelaskan hari ini." Ucap Velano tegas dan yakin.
"Velano? Kemarilah." Jack melambaikan tangannya.
Velano membawa Elle duduk berhadapan dengan ke empat orang tua Raina.
"Jadi apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Jack heran, apalagi ia melihat Velano setia menggenggam tangan Elle.
"Aku ingin membatalkan pernikahan dengan Raina, seluruhnya! Bukan mengundur tetapi membatalkan!" Tegas Velano.
"Kau gila? Tega sekali di saat putriku hilang kau malah enak-enak dengan wanita lain." Bentak Jack geram.
"Tenanglah uncle! Aku bisa menjelaskan satu persatu." Ucap Velano tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Jelaskan apa yang ingin kau jelaskan!" Titah Derex.
Velano pun mulai menceritakan semua tentang dirinya dan Elle, kemudian tentang Raina yang salah paham padanya, hingga kehamilan Raina.
Jack seketika shock mendengar cerita Velano.
"Jadi aku memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan Raina. Aku akan menikahi Elle dan bertanggungjawab untuk semua kesalahanku." Ucap Velano.
"Jadi kau ... "
__ADS_1
"Dad, Mom..."
...~ TO BE CONTINUE ~...