TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Mimpi buruk


__ADS_3

"Oh wow..aku kedatangan tamu rupanya." Pria yang memakai hoodie tersebut bersuara, lalu melangkah hingga berhadapan dengan Dave dan yang lainnya.


"Setelah kalah terus menerus dari ku, sekarang kau ingin memanfaatkan pria lemah itu untuk menyusup masuk ke dalam area ku? Licik sekali?" Gerutu Dave kesal.


"Well, aku tidak selemah itu sampai harus menggunakan penyusup. Hanya saja, dia datang kepadaku dan memohon belas kasihan padaku." Pria tersebut menurunkan topi hoodie nya dan melepas masker hitam nya.


Pria itu tampak masih muda dan mungkin seumuran dengan Hansen, hanya saja satu matanya cacat. Dan keningnya terdapat bekas sayatan pisau yang cukup panjang. Semua itu hanya membuatnya terlihat menakutkan, namun tidak mengurangi ketampanan nya.


"Lemah. Kau sangat lemah Aston." Hina Dave mengacungkan jari tengah pada pria bernama Aston itu.


Aston tersenyum meremehkan.


Tak lama, segerombolan orang menakutkan dan membawa senjata masuk mengepung Dave dan kawan-kawan nya. Mungkin berjumlah diatas tiga puluh orang, tidak sebanding dengan yang Dave bawa.


"Bangsat! Kau menjebak ku? Besar juga nyalimu rupanya." Geram Dave menarik pelatuk pistol ditangannya.


"Well..aku tidak menjebak mu bung. Kau yang datang sendiri padaku." Aston kembali tersenyum meremehkan dan mundur beberapa langkah.


Aston memberi kode kepada anak buahnya untuk menyerang Dave dan kawan-kawan.


"Sial!" Teriak Drick geram.


DOOR DOOR


Belasan pengawal bayangan yang Hansen siapkan tanpa sepengetahuan Dave dan Drick pun keluar untuk menyerang duluan hingga memberi celah untuk Dave dan yang lainnya mencari tempat berlindung.


"Pria lemah itu tidak bisa diremehkan begitu saja. Fisiknya tidak kuat, tapi otaknya sangat licik." Gerutu Hansen.


DOOR DOOR


Suara tembakan menggema diseluruh ruangan.


Mereka bertiga berlindung dibalik tembok-tembok beton yang sebagian sudah hancur sambil sesekali juga melepaskan tembakan ke pihak musuh.


Semakin lama orang-orang Aston malah semakin banyak berdatangan dan menyerang mereka membuat mereka kewalahan.


Aston hanya duduk di kejauhan dan menyaksikan semuanya seolah sedang menonton film, sedangkan Ken berdiri gemetar dibelakang Aston.


"Hah, ini seru sekali. Kenapa tidak dari dulu saja datang?" Guman Aston semangat.


Ia bahkan mengeluarkan sebatang rokok dari saku hoodienya dan membakarnya lalu menghisap nya dalam.


"Wuuu.." Aston berteriak kegirangan saat melihat orang-orang Dave semakin berkurang dan berkurang.


Bahkan pengawal bayangan pun sudah tumbang.


"Sial!" Drick menggerutu geram.


"Kalian tetaplah di sini! Aku akan mengatasi mata satu itu!" Titah Dave dan langsung keluar dari tempat persembunyian.


Door


Dave menembak orang yang hendak menyerangnya.

__ADS_1


Door


Door


Begitu seterusnya hingga ia sampai dihadapan Aston.


Aston memberi kode agar anak buahnya berhenti menyerang.


"Wow..kau masih hebat bung." Ucap Aston dengan nada meremehkan.


"Aku akan selalu hebat. Aku hanya ingin mengambil si lemah itu. Berikan dia padaku! Dan masalah ku anggap selesai." Titah Dave tak ingin basa basi lagi.


"Siapa lemah yang kau maksud? Dia bahkan bisa memancing kalian kemari." Aston seolah membela Ken, namun kenyataan ia hanya memanfatkan Ken.


Aston bukanlah pria yang mempunyai hati.


"Serahkan dia padaku!" Titah Dave geram dan mengacungkan senjatanya pada Aston.


Aston berdiri dari tempatnya.


BUKK


Dengan gerakan cepat ia menendang Dave hingga Dave jatuh terjungkal dan senjatanya terlempar entah kemana.


BUKK BUKK


Aston menyerang wajah Dave bertubi-tubi.


"Bermimpilah untuk selalu menjadi pemenang. Akan ku habisi kau malam ini dan kau tahu? Ternyata wanitamu sangat menggoda." Ucap Aston menyeringai dan terus menyerang Dave.


"Bagaimana ini?" Gumam Hansen mencari cara agar bisa membantu Dave.


Aston memberi kode pada Ken sebagai tanda ia meminta pistolnya.


Ken segera mengeluarkan pistol yang dimaksud dari dalam tas nya.


"Matilah kau! Dan setelah ini wanitamu akan menjadi budak ku." Ucap Aston.


DOOR


Satu tembakan Aston lepaskan pada dada Dave membuat Dave mengerang kesakitan.


"Sial!" Teriak Drick.


Door Door


Drick menembaki Aston, namun ia berhasil mengelak.


Aston mundur dengan santai sambil mengelak setiap serangan, sedangkan Hansen menyerang anak buah Aston.


Anak buahnya telah tumbang semua.


Ken? Ken masih mematung ditempat melihat Dave yang tak berdaya dengan darah yang mengalir deras dari dadanya.

__ADS_1


DOOR


Satu tembakan Hansen lepaskan dan mengenai dada Ken membuat Ken langsung tumbang.


Entah masih bernyawa atau tidak, mereka tidak peduli. Yang mereka utamakan saat ini adalah Dave.


Drick segera mengangkat tubuh lemah Dave keluar dari gedung kumuh itu dan memasukkan Dave kedalam mobil.


"Biar aku saja. Kau jaga dia dibelakang!" Titah Hansen merebut kunci mobil dari tangan Drick.


Hansen pun segera menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit terdekat.


•••••••••••••


"Dave.." Arvina mengigau dalam tidurnya.


Saat ini di London memang sudah siang, dan Arvina tidur siang karena ia merasa sedikit lelah.


"Dave..tidak..jangan pergi.." Pinta Arvina dalam tidurnya.


Ia bahkan berkeringat dingin dan tubuhnya gemetaran.


"Tidak..jangan pergi Dave..aku mohon.." Ucap Arvina lagi.


"DAVE" Arvina berteriak histeris dan terbangun dari tidurnya.


"Dave, apa yang sudah terjadi?" Gumam Arvina terisak.


"Ada apa twins?" Tanya Arzena yang baru masuk kamar karena mendengar teriakan Arvina.


Arzena segera memeluk Arvina.


"Ada apa?" Tanya Arzena khawatir.


"Aku bermimpi tentang Dave. Dia meninggalkan ku." Jawab Arvina terisak.


"Stt..jangan berpikir yang tidak tidak. Mimpi itu hanya bunga tidur. Jangan dianggap serius. Mungkin kau hanya merindukan Dave." Bujuk Arzena menenangkan kembarannya.


"Tapi aku takut." Ujar Arvina dengan suara bergetar.


"Jangan takut. Semua pasti baik-baik saja. Tenanglah." Ujar Arzena mengusap lembut kepala Arvina.


"Sekarang tidurlah lagi. Mommy sedang keluar. Daddy dan kakak Ar masih di kantor." Ujar Arzena membantu Arvina berbaring.


Arvina menurut.


"Aku keluar lagi. Aku sedang membuat kue di dapur." Pamit Arzena.


Ia pun keluar setelah mendapat anggukan dari Arvina.


"Semoga semuanya baik-baik saja. Semoga itu bukan pertanda atau firasat buruk." Batin Arzena khawatir.


Jujur saja ia jadi ikut mengkhawatirkan Hansen walau ia tidak yakin ia sudah mencintai Hansen atau belum.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2