
...NOTE : MENGANDUNG UNSUR DEWASA!!!...
BAGI YANG DIBAWAH UMUR DAN MERASA TIDAK NYAMAN DIHARAPKAN UNTUK TIDAK MEMBACA BAB INI!!
...TERIMA KASIH...
.
.
.
.
.
"Sayang." Dave berusaha membangunkan Arvina dengan menyentuh area-area sensitifnya.
"Em.." Arvina hanya melenguh pelan dan berusaha menepis tangan Dave.
Dave tidak menyerah. Tangannya terus bergerak menjamah tubuh istrinya.
"Dave, jangan menggangguku! Shh..." Titah Arvina sambil meringis.
Dave masih saja terus nakal.
"Sakit Dave..tolonglah, aku ingin istirahat." Arvina menggerutu kesal.
Dave menjadi bingung saat istrinya mengatakan sakit, sedangkan ia dari tadi hanya memberi sentuhan lembut.
"Shh.." Arvina kembali meringis dan kini meringkuk memeluk perutnya.
Perlahan ia memilih membuka matanya lalu turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian Arvina kembali keluar dan melangkah mendekati lemari pakaian lalu mengambil pembalut.
Dave mendengus kesal saat melihat Arvina membawa pembalut.
"Gagal lagi." Gerutu Dave kembali berbaring.
Tak lama kemudian Arvina pun keluar dari kamar mandi dan naik ke atas ranjang untuk berbaring lagi.
Kali ini ia berbaring meringkuk memeluk perutnya yang sudah jelas pasti sakit ketika datang bulan.
Dave sebagai suami tentu saja merasa prihatin melihat istrinya kesakitan seperti itu.
Mau tak mau akhirnya ia turun dari ranjang lalu berjalan keluar kamar.
Dave memutuskan untuk membuat teh jahe hangat untuk Arvina.
Setelah selesai membuat teh jahe hangat tersebut, ia segera kembali ke dalam kamar.
Tak lupa, ia juga membawa kantong kompres yang berisi air hangat.
"Sayang, minumlah ini dulu!" Dave membangunkan Arvina dengan lembut.
Hari sebenarnya sudah pagi, tapi Dave tidak keberatan jika istrinya ingin bermalas-malasan terlebih saat sakit begini.
Arvina tidak bergeming saat dibangunkan.
"Sayang." Dave kembali menggoncang pelan tubuh mungil itu.
"Em.." Arvina membuka perlahan matanya dan berbalik menghadap Dave
"Minumlah ini dulu!" Dave membantu Arvina untuk setengah duduk.
Sambil Arvina menyesap tehnya, Dave dengan telaten mengompres perut Arvina.
"Terima kasih." Ucap Arvina dan satu tangannya mengelus lembut rambut Dave.
Arvina kini merasa beruntung memiliki Dave sebagai pasangannya terlepas dari semua kegilaan yang dilakukan Dave dulu.
"Kau kembali istirahat saja." Titah Dave sambil mengambil gelas dari tangan Arvina yang sudah kosong.
Dave hendak turun dari ranjang namun Arvina dengan cepat menahannya.
"Dave, i love you." Ucap Arvina lalu mengecup lembut bibir suaminya.
Dave tersenyum lebar.
"I love you more." Balas Dave mengelus lembut pipi Arvina.
__ADS_1
Dave pun meminta ijin untuk turun ke bawah dan menyuruh Arvina untuk istirahat kembali.
Dave berniat untuk membuat sarapan untuk istri tercintanya.
"Amy, kau sedang apa?" Tanya Dave dingin, sangat berbeda dari saat ia berbicara pada Arvina.
Amy menunduk "Aku sedang menyiapkan sarapan untuk Tuan dan Nona Arvina." Jawab Amy.
"Kau kerjakan yang lain saja! Biar aku yang membuat sarapannya hari ini!" Titah Dave.
"Baik Tuan." Amy pun pergi meninggalkan Dave.
Dave mulai sibuk dengan kegiatannya dan tampak seperti seorang chef handal.
Satu jam kemudian Dave selesai dengan kegiatan memasaknya. Ia segera menata makanan yang sudah ia buat di atas nampan dan segera membawanya naik ke kamar.
"Sayang, aku membawakan makanan untukmu." Ucap Dave sambil membuka pintu kamarnya.
Dave tersenyum karena Arvina sudah bangun dan sedang duduk bersandar di ranjang.
Dave berinisiatif untuk menyuapi Arvina dan Arvina pun tidak menolak. Mereka menyantap makanan yang sudah Dave buat hingga tak tersisa satu pun.
"Ini, minumlah!" Titah Dave memberikan segelas air hangat kepada Arvina.
Arvina menerima dengan senang hati dan meneguknya hingga tersisa setengah.
"Sayang." Panggil Arvina manja.
Dave tersenyum bahagia mendengar suara manja istrinya.
"Ada apa?" Tanya Dave lembut.
"Bolehkah hari ini kau temani aku? Jangan bekerja! Aku janji, jika aku sembuh nanti, aku akan memberikan jatahmu sebanyak yang kau inginkan." Rayu Arvina.
Dave tersenyum semangat.
"Baiklah, aku akan menemanimu." Jawab Dave dan langsung duduk di samping Arvina lagi.
Arvina langsung memeluk tubuh kekar itu.
"Terima kasih." Ucap Arvina manja. Dave hanya mengelus sayang kepala istrinya.
Dave dengan senang hati menemani istrinya sepanjang hari hingga malam.
"Beginikah rasanya menjadi lajang ditengah sahabat yang sudah berkeluarga?" Gerutu Drick kesal.
Ia ditugaskan untuk melakukan pekerjaan Dave sedangkan Dave enak-enak dirumah.
Malam ini ia ditugaskan untuk memantau keadaan club malam mereka, dan kini Drick baru saja sampai.
Ia segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam club.
"Wow, sepertinya tattoo baru bos?" Salah satu pengawal di depan club menggoda Drick saat melihat salah satu tangan Drick dipenuhi tattoo.
"Keren bukan? Sudah satu minggu aku membuatnya, tapi aku sembunyikan." Jawab Drick bangga.
Sang pengawal tadi hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.
Tanpa menunggu lebih lama, Drick pun segera masuk ke dalam Club dan menuju ke ruangan kerja Dave untuk memeriksa segala yang harus periksa.
Selesai dengan semua pekerjaannya, ia pun keluar dari ruangan kerja Dave.
Niatnya ingin bersantai sejenak dan minum sedikit.
Saat ia baru saja akan duduk, matanya menangkap sosok Raina yang sedang duduk di meja bartender dan di dekati seorang pria.
"Pria itu lagi." Gumam Drick kesal.
Entah kenapa Drick sangat tidak suka jika ada pria lain yang mendekati Raina.
Segera, Drick pun menghampiri Raina.
"Sayang, kau di sini? Aku sudah mencarimu kemana-mana." Ucap Drick memang khawatir dan spontan memeluk Raina mengabaikan pria asing di depan Raina.
Drick bingung sebenarnya siapa pria itu, namun baginya Raina lebih penting.
Entah mendapat dorongan dari mana, Raina juga membalas pelukan Drick.
"Ayo kita pulang." Ajak Drick setelah pelukan mereka terlepas.
__ADS_1
Raina mengangguk, namun sebelum itu ia menenggak habis segelas minumannya yang tersisa.
Drick menuntun Raina keluar dari club, lalu menuntun Raina masuk ke dalam mobilnya.
"Dimana kau menginap?" Tanya Drick lembut.
"Aku menginap di hotel ... " Jawab Raina namun suaranya terdengar tak biasa.
"Ah..kenapa mobilmu panas sekali?" Gerutu Raina meraba-raba tubuhnya dan bahkan ia menurunkan tali dressnya hingga menampakkan pundak mulusnya dan membuat Drick menelan kasar salivanya.
"Mobilku tidak panas dan hentikan gerakan erotis mu itu atau kau bisa bahaya!" Ucap Drick menekan.
Bukannya mendengar, Raina malah bergerak semakin liar. Seat beltnya ia lepaskan, dan tangannya kini berusaha menyentuh Drick.
"Astaga, sepertinya ada yang ingin menjebakmu." Ucap Drick tersadar dengan minuman yang Raina minum Tadi.
"Aku mohon bantu aku! Ini sangat tidak nyaman!" Pinta Raina semakin menggeliat erotis.
Drick akhirnya memutar mobilnya untuk kembali ke rumahnya karena untuk kembali ke hotel tempat Raina menginap sangatlah jauh.
"Panas.." Gumam Raina lagi berusaha melepaskan dressnya namun Drick menahannya.
Tiga puluh menit kemudian Drick sampai di rumahnya.
Ia turun dari mobilnya dan langsung menggendong Raina turun dari mobilnya dan membawa Raina masuk ke dalam rumahnya bahkan ke dalam kamarnya.
"Aku mohon, siapapun kau, bantu aku!" Raina terus meraba gelisah tubuhnya.
Drick tersenyum licik.
"Kita bukanlah pasangan sesungguhnya Nona, dan hanya satu cara agar kau bisa bebas dari rasa panasmu itu. Kau dan aku harus menyatu." Ucap Drick lantang.
Raina melotot namun tatapannya sangat sayu dan ia sudah sangat terbakar gairahnya yang memuncak namun belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Terserah, lakukan apapun asal aku bisa bebas!" Ucap Raina dengan memerintah.
"Tidak tidak. Kau bisa menyesalinya." Ucap Drick.
"Itu urusanku! Lakukan saja bagian mu!" Titah Raina.
Drick segera memeluk Raina dan melahap bibir sensual Raina dengan rakus. Kaku, namun Raina mencoba membalasnya.
Tangan Drick bergerak kemana-mana menjelajahi tubuh sexy Raina dan itu membuat Raina semakin terbuai.
Dengan gerakan cepat. Drick merobek paksa dress yang Raina kenakan lalu mengangkat tubuh Raina dan melempar Raina ke atas ranjangnya.
Ia meraih seutas tali dari nakasnya dan hendak mengikat tangan Raina.
"Jangan hanya ingin menjadi dominan! Ajari aku untuk menjadi dominan juga!" Titah Raina hingga membuat Drick mengurungkan niatnya.
"Sepertinya kau sudah berpengalaman namun hanya didominasi yah?" Gumam Drick sambil melepas semua pakaiannya dan pakaian dalam Raina.
Ia kembali mencumbu rakus tubuh molek Raina hingga membuat Raina mendesah keras.
"Akhirnya adik kecilku akan berfungsi untuk pertama kalinya." Gumam Drick dan tanpa aba-aba ia menyatukan miliknya dengan Raina.
"Argh..bangsat..kau menyakitiku! Apa tidak bisa pelan sedikit?" Gerutu Raina merasakan sakit luar biasa pada bagian intinya karena ini pertama kalinya dan Drick malah berpikir Raina sudah pernah terjamah.
"Sial, kenapa aku sebodoh ini?" Gerutu Drick saat melihat darah mengalir dari bagian inti Raina.
"Sudah, teruskan saja!" Titah Raina karena pengaruh obat perangsang yang ia minum tadi masih terasa.
Pria asing itu memasukkan obat perangsang ke dalam minuman yang Raina minum sebelum Raina meninggalkan club malam tadi.
"Mulai malam ini dan seumur hidupmu, kau adalah milikku Raina." Ucap Drick lantang sambil bergerak di atas Raina.
"Terserah kau saja, cepat selesaikan tugasmu agar aku bisa pergi!" Titah Raina namun ia sangat menikmati sentuhan Drick.
"Itu tidak akan pernah terjadi, kau tidak akan ku biarkan pergi dari hidupku." Ujar Drick tegas.
"Ah..cepat sedikit.." Pinta Raina mendesah.
Drick menurut dan terus bergerak cepat hingga mereka mencapai puncak bersama.
Drick merasa tidak puas dan memaksa mengulanginya, Raina hanya menurut karena ia juga menikmati permainan buasa Drick.
Mereka bertarung berulang kali hingga akhirnya sama-sama tumbang.
"Kau milikku Raina. Tanpa ataupun dengan cinta, mulai malam ini dan seterusnya kau adalah milikku!" Ujar Drick memeluk Raina yang sudah tertidur di sampingnya.
Tak hentinya Drick mengecup wajah cantik itu hingga kantuk menyerangnya dan perlahan ia pun terlelap.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...