
Dua Minggu Kemudian
"Dimana Dave?" Tanya Keanu bingung.
"Di dalam ruang mini barnya." Jawab Drick jengah.
"Bukankah kau bilang Vina sudah ditemukan? Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Keanu lagi.
"Panjang ceritanya Tuan Keanu. Intinya adalah Arvina terluka karena menyakiti Dave dan Dave terluka karena kebohongan Arvina." Jawab Drick berfokus pada layar laptopnya.
"Apa-apaan mereka?" Gumam Keanu sedikit kesal.
"By the way, kau dari mana saja selama berminggu-minggu menghilang Tuan Keanu?" Tanya Drick kini memandang Keanu.
"Aku fokus mencari Arvina juga melakukan pekerjaanku. Dan setelah mendengar darimu Arvina sudah ditemukan, aku langsung ke sini." Jawab Keanu duduk di samping Drick.
Drick hanya mengangguk sebagai tanda ia mengerti.
BRAKK
Terdengar bunyi pintu ruang mini bar Dave dibanting dengan sangat kuat membuat Drick dan Keanu tersentak kaget. Bahkan Keanu sampai mengelus dada.
Drick dan Keanu segera menoleh dan ternyata Dave berjalan sempoyongan menuruni anak tangga.
"Jangan dibantu Tuan! Biarkan saja dia! Jika dia jatuh dan mati itu lebih baik, semua karena kebodohannya dan keras kepalanya." Titah Drick dengan berbisik pada Keanu saat Keanu hendak membantu Dave.
Keanu akhirnya mengurungkan niatnya.
"Bawa aku ke tempat buruk rupa bangsat itu!" Titah Dave mencengkram kerah baju Drick hingga Drick tertarik berdiri.
"No! Kau pergi saja sendiri! Kau kan hebat dan selalu benar. Siapa kami ini yang berani menentang kebenaran yang kau ketahui." Drick dengan santai melepaskan tangan Dave dari kerah bajunya.
Selama dua minggu ini Drick dan Hansen selalu berusaha mengatakan kebenaran tentang penyakit yang diderita Arvina namun Dave selalu keras kepala dan menolak untuk mendengar.
"Kau! Tunggu saja hukuman dari ku!" Ucap Dave menepuk pipi Drick sedikit kuat.
Dave segera keluar dari mansion nya dan pergi dengan menaiki taxi.
"Hukuman? Hah, aku rasa kau yang akan mendapat karmanya, bodoh." Gumam Drick jengah.
•••••••••••••••
"Hei, kau mau makan sesuatu?" Tanya Aston lembut.
Ia dan Arvina saat ini sedang menonton televisi di ruang keluarga kediaman Aston.
Keadaan Arvina sedikit membaik meski kesedihannya tidak berkurang.
"Em..aku belum lapar." Jawab Arvina pelan.
"Bagaimana dengan cemilan? Aku baru ingat kemarin aku membeli cemilan untukmu." Usul Aston.
"Boleh juga. Dimana kau simpan?" Tanya Arvina memasang tampang antusias.
__ADS_1
"Aku menyimpannya di .... ah aku lupa. Kau tunggu di sini, aku cari dulu." Titah Aston lembut dan segera pergi untuk mencari cemilan yang ia beli kemarin.
Lima belas menit berlalu namun Aston masih belum juga muncul.
"Dimana dia?" Gumam Arvina bosan.
Arvina akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan memilih berjalan keluar dari kediaman Aston untuk sekedar menyegarkan otak.
"Hah, udara di luar segar sekali." Gumam Arvina sambil menghirup dalam udara yang terasa segar itu.
"Tumben sekali tidak ada pengawal yang menjaga?" Gumam Arvina lagi kemudian melangkahkan kakinya menuju ke taman disamping istana Aston.
GREP
Arvina merasa tangannya ditarik oleh seseorang dan mendorongnya dengan sangat kuat ke atas kursi taman yang terbuat dari besi itu.
Tanpa memberi celah Arvina untuk kabur, Dave langsung mengunci tubuh Arvina di bawahnya dan menerkam bibir Arvina dengan rakus.
Arvina terbelalak tak percaya saat melihat Dave di atasnya. Aroma minuman keras sangat kuat menguar dari tubuh Dave.
"Em..le..pas.." Pinta Arvina susah payah berusaha untuk melepaskan diri namun sia-sia.
Arvina bahkan merasa bibirnya kini terluka karena ulah Dave.
"Apa? Kau ingin pergi dariku? Kau lebih memilih pria bangsat itu? Maka rasakanlah, siapa yang mampu memuaskanmu?" Geram Dave berusaha membuka paksa pakaian Arvina.
"Lepaskan aku.." Titah Arvina berusaha menghalangi Dave.
"Lepaskan aku.." Arvina terus menghalangi pergerakan tangan Dave.
PLAK
Satu tamparan melayang di pipi Dave dari Arvina.
"Kau mabuk Dave! Jangan gila!" Teriak Arvina penuh amarah.
"Gila? Aku gila katamu? Maka lihatlah bagaimana aku gila!" Geram Dave lagi dan mencumbu kasar Arvina.
"BANGSAT!" Aston yang baru datang langsung menarik Dave dan melemparkan Dave ke atas rerumputan.
BUKK BUKK
Aston melayangkan bogeman mentah di wajah Dave.
"Pria brengsek! Apa kau tidak punya mata untuk melihat keadaan istrimu? Dia sedang sakit dan menjadi kurus seperti itu semua karena memikirkanmu!" Bentak Aston geram dan mencengkram kerah baju Dave.
"ASTON STOP! JANGAN KATAKAN APAPUN!" Pinta Arvina.
"Kau diam!" Bentak Aston semakin geram.
"Aku tidak menyangka kau bisa menilai istrimu begitu rendah. Dia sakit bangsat! Penyakitnya membuatnya lebih menderita darimu. Dia hanya memiliki kemungkinan kecil untuk memberikanmu keturunan!" Geram Aston.
BUKK BUKK
__ADS_1
Aston kembali menghajar Dave di sembarang tempat.
"Aston hentikan! Aku mohon!" Pinta Arvina memeluk Aston dari belakang.
"Cukup! Aku mohon!" Pinta Arvina terisak.
Aston menghentikan aksi gilanya dan berdiri lalu memeluk Arvina erat.
"Maafkan aku!" Pinta Aston.
Arvina hanya mengangguk.
"Pulanglah! Kebahagiaanmu bukan milikku!" Titah Aston dan langsung melepaskan pelukannya lalu masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Arvina dan Dave.
Arvina hendak mengejar Aston namun pelukan Dave dari belakang menghentikan pergerakannya.
"Aku mohon, ikutlah pulang bersamaku!" Pinta Dave terdengar memerintah.
Arvina melepaskan tangan Dave yang melingkar di perutnya dan memilih memapah suaminya meskipun kesal.
Arvina menuntun Dave keluar dari rumah Aston dan pulang dengan menaiki taxi.
"Semoga aku benar-benar melepaskanmu Arvina. Semoga keajaiban berpihak padamu! Semoga setelah ini, hanya kebahagiaan yang ada dalam hidupmu!" Gumam Aston melihat kepergian kedua orang itu dari balkon atas.
•••••••••••••
"Kau yang benar saja?" Tanya Keanu serius kepada seseorang yang menghubunginya.
"Benar Tuan. Pria yang bernama Ken itu adalah anak dari Roy dan Rexa." Jawab anak buah Keanu yakin.
"Bagaimana mungkin?" Gumam Keanu memijat kepalanya yang terasa berdenyut.
"Saat ia berusia satu tahun, ia dibawa ke panti asuhan. Hanya saja data dirinya dilindungi juga dipalsukan oleh seseorang karena saat itu ukuran tubuhnya sangat kecil. Orang yang memalsukan data dirinya adalah suami dari Rexa saat ini. Rexa menjadi seorang model beberapa bulan setelah ia melahirkan Ken, dan bertemu dengan suaminya saat ini. Mereka juga punya seorang putra namun tidak diketahui datanya." Jelas anak buah Keanu.
"Siapa nama suami Rexa?" Tanya Keanu penasaran.
"Dari data yang aku dapat, suaminya adalah pengusaha handal di bidang otomotif. Namanya kalah tidak salah Jeymian Alexon." Jelas anak buah Keanu lagi.
"Jeymian Alexon? Alexon? Kenapa aku seperti tidak asing dengan nama ini?" Batin Keanu.
"Ya sudah, nanti jika aku membutuhkanmu lagi aku akan menghubungimu." Ujar Keanu dan segera menutup panggilannya.
"Dave, jangan seperti ini!" Titah Arvina kesal karena Dave terus saja berusaha mengecup lehernya.
Mereka sudah sampai di mansion mereka.
"Aku merindukanmu." Ucap Dave manja.
"Minta maaf padaku Dave Alexon! Baru kau bisa menjadi suamiku lagi." Ketus Arvina yang tidak sadar akan keberadaan Keanu dan langsung lewat begitu saja.
"Dave Alexon? Mungkinkah?" Batin Keanu mencoba mencerna semua kebetulan ini.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1