
"Tuan Dave, kakakmu.." Seorang Dokter keluar dari ruang perawatan Ken dengan nafas tidak beraturan.
"Ada apa dengan kakakku?" Tanya Dave khawatir dan langsung menghampiri Dokter itu, begitu juga dengan Arvina, Jeymian, dan Liza.
"Tuan Ken sudah sadar, dan dia menyebutkan namamu terus dari tadi." Ungkap Dokter itu.
"Syukurlah! Bagaimana dengan kondisinya?" Tanya Dave penasaran sekaligus juga lega.
"Kondisinya sudah stabil dan bahkan di luar dugaan, Tuan Ken pulih dengan cepat selama ia koma tiga hari ini." Jelas sang Dokter lagi.
Dave menarik nafas panjang dan menghembuskannya lega.
"Silakan masuk untuk menemuinya, tapi usahakan untuk tidak terlalu memaksanya berbicara atau sebagainya. Kecuali dia yang ingin melakukannya sendiri, itu artinya kondisinya sudah siap." Lanjut sang Dokter sambil mempersilakan Dave dan yang lain untuk masuk.
"Terima kasih, Dokter." Ucap Dave.
Mereka berempat masuk setelah Dokter dan perawat yang memeriksa Ken, keluar.
"Ken." Sapa Dave pada kakaknya yang sedang terbaring lemah.
Ken hanya tersenyum sambil mengamati ke empat orang itu seperti sedang mencari seseorang.
"Oh, El! Kemarin dia sempat pingsan jadi aku menyuruhnya untuk pulang dan menenangkan pikirannya dulu." Ucap Dave yang menyadari kesedihan kakaknya.
Ken mengangguk pelan.
"Ken, mana yang sakit? Apa kau merasa lebih baik?" Tanya Arvina menghampiri Ken. Bagaimanapun pria itu dulunya adalah sahabatnya sebelum akhirnya menjadi kakak iparnya.
Ken menggeleng.
"Aku ingin pulang!" Pinta Ken lemah.
"Tidak! Tidak bisa sampai keadaanmu benar-benar pulih!" Tegas Jeymian.
"Aku tidak suka rumah sakit." Ungkap Ken lagi.
"Ken, jangan seperti ini. Hanya beberapa hari dan setelah itu kau bisa pulang." Bujuk Arvina menggenggam tangan Ken.
Dave cemburu, tapi ia mencoba mengerti keadaan saat ini. Semua berusaha dan mencoba menguatkan Ken.
Ken akhirnya memilih mengangguk.
"Kau istirahat saja lagi agar kondisimu cepat pulih. Kami akan menemanimu." Titah Dave mengacak rambut kakaknya.
Ken kembali mengangguk.
__ADS_1
"Um..aku keluar dulu untuk membeli makanan. Kalian pasti belum makan." Usul Arvina hendak beranjak.
"Aku akan temani." Dave menggenggam tangan istrinya hendak keluar dari ruangan Ken.
"Dave.." Panggil Ken lemah.
Dave berbalik dengan tatapan bertanya.
"Terima kasih." Ucap Ken tersenyum.
Dave mengedipkan sebelah matanya.
"Santai bung!" Sahut Dave dan ia pun keluar bersama Arvina dari ruang rawat Ken.
"Hah..lega rasanya. Ken akhirnya bangun juga." Ucap Dave merangkul mesra istrinya.
"Hem..aku bersyukur, kita tidak perlu kehilangan anggota keluarga kita lagi." Arvina tersenyum hangat pada suaminya.
"Kita akan beli apa?" Tanya Dave mengecup puncak kepala istrinya penuh sayang.
"Um...kita beli sesuatu yang lembut untuk Ken, dan selebihnya terserah saja." Usul Arvina.
Mereka melewati Jarod yang sedang melihat mereka dengan tatapan getir. Bukan karena iri, tapi Jarod menyayangkan sikapnya yang tidak pernah percaya pada istrinya. Melihat kemesraan Dave dan Arvina, membuatnya mengingat kenangan bagaimana saat ia mengejar istrinya dulu.
••••••••••••••
"Aku akan pergi dari rumah ini untuk selamanya!" Tegas Elviana sambil menitikkan air mata sedang tangannya memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper.
"El, kenapa harus pergi? Kita bisa bicarakan ini baik-baik!" Bujuk Deron pada Elviana.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Bahkan sampai detik ini pun kalian masih tidak mengerti apa mau ku! Dari kemarin kalian selalu berusaha menghalangiku keluar rumah dengan alasan agar aku beristirahat." Gertak Elviana kesal.
"El, dengarkan Daddy dulu. Kita bisa bicarakan semuanya. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia pasti akan..."
"Akan apa? Akan apa? Akan membuktikan keseriusannya? Apa masih belum cukup semuanya? Ken sekarang terbaring lemah di rumah sakit, berjuang antara hidup dan mati. Dan itu semua hanya karena menyelamatkan dirimu! Kau benar-benar tidak punya perasaan dan rasa terima kasih." Bentak Elviana tanpa mempedulikan sopan santunnya lagi.
Ia telah selesai berkemas, dan langsung menyeret kopernya keluar dari kamarnya meninggalkan Ayahnya.
Ia segera mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman orang tuanya. Tujuannya saat ini adalah rumah sakit.
•••••••••••••••••••
"Uncle, sepertinya aku harus pamit sekarang. Aston sudah menjemputku." Pamit Liza yang sedari tadi menemani Jeymian mengobrol.
"Baiklah. Hati-hati di jalan. Sampaikan salam uncle pada Aston." Ucap Jeymian mengijinkan.
__ADS_1
Liza mengangguk lalu menghampiri Ken yang masih terjaga.
"Kak Ken, aku pamit dulu. Nanti aku akan datang lagi dan membawakan makanan enak untukmu. Aku dan Aston masih harus menghadiri acara ulang tahun temanku. Jadi dia belum bisa menengokmu sekarang." Pamit Liza pada Ken.
Ken tersenyum dan mengangguk.
"Tidak masalah. Salam untuk Aston." Ucap Ken memberi ijin.
"Baik. Aku pergi dulu." Liza berbalik meninggalkan ruangan Ken setelah mendapat ijin.
•••••••••••••••••••
"Well, aku rass ini sudah sangat banyak, sayang." Arvina melihat semua pesanan mereka yang sedang disusun ke dalam paperbag oleh seorang pelayan restoran tempat mereka membeli makanan.
"Tidak masalah. Ken butuh banyak makan agar cepat pulih." Sahut Dave terkekeh.
"Kau sepertinya sayang sekali padanya sekarang?" Arvina menggoda suaminya.
Dave tersenyum dan memeluk istrinya.
"Rasa sayangku padanya tidak akan melebihi rasa cintaku padamu, sayang." Ucap Dave lalu mengecup singkat bibir istrinya.
Beberapa orang yang melihat kemesraan mereka dibuat iri, apalagi beberapa orang yang memang mengenal Dave sebagai ketua gangster kejam.
"Tuan Dave, ini semua pesanan kalian!" Ucap pelayan restoran itu menyerahkan empat buah paperbag berisi semua pesanan mereka dengan sopan.
"Terima kasih." Dave menerima semua paperbag itu.
"Ayo, kita pulang sekarang. Aku juga sudah lapar sekarang." Ajak Dave menggandeng tangan Arvina dengan satu tangannya.
Mereka pun beranjak meninggalkan restoran yang tidak jauh dari rumah sakit itu. Mereka tadi datang dengan berjalan kaki, jadi pulang pun berjalan kaki.
"Apa kau lelah? Kita istirahat dulu saja." Tanya Dave khawatir mengingat kondisi istrinya yang sedang hamil muda.
"Tidak. Berjalan sedikit tidak akan berbahaya untuk anak kita." Jawab Arvina lembut.
Dave mengangguk paham. Mereka kembali melanjutkan langkah mereka hingga sampai di depan rumah sakit.
"El?" Arvina bergumam saat melihat El berjalan masuk ke dalam area rumah sakit.
"Kenapa?" Tanya Dave bingung saat istrinya tiba-tiba berhenti berjalan.
"Ah, tidak. Tadi aku seperti melihat El. Mungkin aku salah." Jawab Arvina tersenyum.
Mereka kembali melanjutkan langkah mereka hingga sampai di depan ruangan Ken.
__ADS_1
"Dad, Woooo....."
...~ TO BE CONTINUE ~...