
"By, aku gugup." Arzena bergumam sambil menggenggam erat tangan suaminya.
Mereka kini sudah ada di rumah sakit dan sedang berada di dalam ruangan pemeriksaan untuk memeriksa dan memastikan kondisi Arzena sebelum melakukan operasi sesar.
"Ssttt..semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu dipikirkan karena itu justru akan mengganggu kondisimu nanti." Hansen menenangkan istrinya dengan satu tangan selalu mengelus sesekali merapikan helaian rambut istrinya.
Arzena tersenyum. Ia benar-benar bahagia pada akhirnya mendapatkan seorang pria yang begitu tulus mencintainya dalam segala hal.
"Apa kakakku tidak datang?" Tanya Arzena sedikit sedih mengingat tidak ada keluarga lain yang tampak selain suaminya.
"Mungkin sebentar lagi. Mereka saat ini mungkin sedang mendampingi Ken dan Elviana di resepsi pernikahan mereka." Hansen selalu mencoba menenangkan istrinya agar bisa membantu menjaga kondisi Arzena untuk tetap stabil.
Arzena menanggapi dengan anggukan dan senyuman.
"Dokter Hansen, kami sudah harus membawa istri anda ke ruang operasi." Salah satu dari dua orang perawat yang masuk menyapa Hansen.
Mereka yang bekerja di rumah sakit itu pasti mengenal Hansen, karena rumah sakit itu masih terhubung dengan rumah sakit miliknya.
"Baiklah." Hansen berdiri lalu mengecup kening istrinya penuh cinta.
Ia kemudian sedikit menjauh agar para perawat itu bisa memindahkan istrinya dengan mudah ke kursi roda yang sudah mereka bawa. Hansen sedikit membantu saat kedua perawat itu sedikit kesulitan karena harus berhati-hati.
"Terima kasih Dokter Hansen. Anda bisa mengikuti kami untuk menunggu di depan pintu ruang operasi." Perawat tadi membungkuk singkat dan tersenyum sopan.
Hansen menanggapi dengan anggukan.
Mereka pun keluar dari ruang pemeriksaan menuju ke ruang operasi. Hansen berjalan di samping istrinya dengan tangan yang setia menggenggam tangan Arzena karena Arzena yang meraih tangannya terlebih dulu.
Dua perawat itu salah tingkah melihat sikap manis pasangan itu.
"Semangat! Kalian pasti bisa." Hansen yang sudah berjongkok di depan Arzena pun kembali menyemangati istrinya sebelum istrinya dibawa masuk ke dalam ruang operasi.
Kecupan manis kembali Hansen hadiahkan untuk wanita itu pada kening dan bibirnya. Setelahnya Hansen hanya bisa menunggu di depan ruangan sambil berdoa di dalam hati. Dia sendiri pun merasa sangat gugup, hanya saja sedari tadi ia berusaha untuk terlihat tenang agar bisa membantu istrinya lebih tenang.
Beberapa saat setelah Arzena dibawa masuk, lampu merah di atas pintu ruangan itu pun menyala.
Hansen yang sedari tadi duduk akhirnya berdiri dan berjalan kesana kemari untuk menenangkan hatinya yang gugup. Pria itu benar-benar tidak menyangka pada akhirnya ia bisa merasakan momen menegangkan itu.
Meski yang dilahirkan Arzena bukanlah darah dagingnya, tapi ia tetap bertekad akan menyayangi kedua bayi itu dengan tulus dan adil jika kelak ia mempunyai anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Setengah jam telah berlalu, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda operasi akan segera selesai.
Hansen hanya bisa menunggu dengan sabar dan selalu berdoa berharap yang terbaik untuk istri dan anak-anaknya. Tidak ada yang tahu bahkan untuk satu menit kemudian, apa yang akan terjadi. Semua yang awalnya baik-baik saja bisa saja menjadi petaka yang tidak diinginkan di menit kemudian, itulah yang pria itu pikirkan.
"Hans, bagaimana?" Suara Ken tiba-tiba terdengar menyapa pria itu.
Saat Hansen mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, Ken benar-benar ada di hadapannya bersama Elviana juga ada Dave dan Arvina.
"Masih di dalam. Proses operasi masih berlangsung." Jawab Hansen menunjukkan ketenangan.
Ken mengangguk menanggapi.
"Bagaimana kalian bisa di sini? Bukankah seharusnya kalian masih ada di acara resepsi kalian?" Tanya Hansen merasa bingung pada Ken dan Elviana.
"Kami pamit duluan tadi. Jadi Drick di sana untuk meng-handle semuanya." Jawab Ken kemudian duduk di samping Hansen.
"Oh, kemenakanku. Baik-baik kalian bersama Mommy kalian di dalam sana. Segeralah keluar untuk menemui aunty." Arvina dengan perasaan mellow malah menempel pada pintu ruangan operasi dan menatap ke dalam padahal dihalangi oleh tirai.
"Sayang, duduklah! Jangan sampai kau kelelahan dan tidak punya tenaga untuk menggendong kemenakanmu nanti." Dave memberi perintah dengan lembut pada istrinya.
Arvina menurut dan segera duduk di samping suaminya .
"Sabar sayang. Sebelum dirimu mungkin Raina akan lebih dulu. Atau kalau bisa kalian bersamaan saja." Dave terkekeh membayangkan istrinya akan melahirkan bersamaan dengan Raina. Pasti akan heboh sekaligus menegangkan.
Elviana hanya diam mengamati percakapan mereka yang ada di sana dan berkutat dengan pikirannya. Wanita itu tiba-tiba merasa khawatir jika Ken akan lebih memperhatikan Arzena setelah kedua bayinya itu lahir daripada dirinya yang bahkan belum ada tanda-tanda akan hamil.
Oe...Oe..
Tiba-tiba terdengar suara dua bayi menangis memenuhi ruang operasi.
"Sudah lahir." Arvina dengan semangat kembali menempel dan mengintip lewat kaca di pintu ruangan itu.
Yang lainnya juga ikut mengintip kecuali Elviana. Wanita itu merasa semakin gelisah dan tidak tenang saja.
"Ck..apa yang aku pikirkan?" Elviana segera menggeleng menepis pikiran anehnya.
Elviana mencoba tersenyum meski ia tidak ikut mengintip bersama ke empat orang itu.
Mereka melihat seorang dokter hendak keluar dari ruang operasi jadi mereka segera menyingkir dari pintu.
__ADS_1
"Dokter Hansen, selamat. Kedua bayinya sehat dan kondisi Ibunya juga stabil. Bayinya laki-laki dan perempuan." Dokter yang menangani Arzena tersenyum pada Hansen.
"Terima kasih dokter." Hansen menjabat tangan dokter itu dan tersenyum bahagia.
Kalian bisa segera menemui Nyonya Arzena setelah ia dan kedua bayinya dipindahkan ke ruang inap. Kalau begitu aku pamit dulu, sekali lagi selamat untuk semuanya." Dokter itu membungkuk kemudian melangkah pergi.
Rona bahagia terpancar dari wajah semuanya. Elviana pun begitu meski tidak seantusias yang lainnya.
Tak lama menunggu akhirnya Arzena dibawa keluar bersama dengan dua bayi mungilnya yang diletakkan di dalam box bayi berukuran besar. Arzena masih terbaring di atas brankar dan di dorong oleh dua orang perawat sedangkan box bayinya di dorong seorang perawat.
Anggota keluarga lainnya mengikuti dari belakang.
"Silakan." Seorang perawat mempersilakan semuanya untuk masuk setelah mereka memposisikan Arzena dan kedua bayinya dengan baik. Mereka pun kemudian pamit pergi.
"Sayang, terima kasih." Hansen menghampiri istrinya lebih dulu dan menggenggam tangan istrinya. Menghadiahi kecupan bertubi-tubi di wajah Arzena yang masih tampak pucat.
Kedua bayi mereka sudah berada di dalam gendongan Dave dan Arvina. Ken hanya berani menjadi penonton bersama Elviana. Meski ia adalah Ayah kandang kedua bayi itu, tapi ia cukup sadar diri untuk tidak menggendong kedua bayi itu, setidaknya sampai mendapatkan ijin dari Arzena dan Hansen.
"Siapa nama yang akan kau berikan pada mereka?" Tanya Arvina antusias.
"Hana dan Kenzie." Jawab Arzena bahagia.
"Gabungan nama ke-empat orang tuanya?" Tanya Hansen penasaran.
"Em.." Arzena berdehem dengan senyuman manisnya.
Hansen mengangguk paham.
"Ini, gendonglah!" Arvina hendak memberikan Hana yang sedari tadi ia gendong kepada Ken.
Ken tampak ragu untuk menerima.
"Tidak apa, Ken. Kau Ayah kandung mereka." Hansen berucap mengijinkan.
Akhirnya dengan gugup Ken menerima Hana dan menggendongnya. Sangat kaku, namun ia merasa bahagia dan bersyukur. Meski awalnya semua adalah kesalahan, tapi akhirnya mereka mendapatkan kebahagiaan yang tidak pernah diduga-duga.
"Terima kasih, little."
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1