
ROMA, ITALIA
"Kenapa sih teman-temanmu itu menyebalkan sekali?" Gerutu Arvina kesal.
Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju bandara untuk kembali ke Sydney.
"Hei, itu seharusnya memang tanggung jawabku sebagai ketua mereka. Lagipula jika nanti aku jatuh miskin, memang kau masih mau hidup bersamaku?" Tanya Dave membelai wajah istrinya.
"Aku tidak masalah kau mau miskin atau kaya. Yang penting kita tetap bersama. Lagipula harta keluargaku sangat banyak." Ujar Arvina sombong.
"Itu milik keluargamu. Aku adalah seorang pria, bagaimana bisa aku membiarkan istri dan anak-anakku kelak hidup susah bersamak?" Dave mencoba memberi pengertian kepada Arvina.
"Baiklah baik, tapi janji padaku! Nanti jika ada waktu kita akan ke sini lagi." Pinta Arvina tersenyum manis.
"Janji sayang! Apapun untukmu." Ujar Dave mengecup lembut kening Arvina.
Arvina hanya tersenyum manis.
Mereka kini telah sampai di bandara. Sama seperti saat datang. pulang pun mereka tidak membawa apapun selain barang-barang yang penting.
Bahkan oleh-oleh saja tidak mereka beli.
Setelah turun dari taxi, mereka pun segera masuk ke dalam bandara.
Mereka segera melakukan check-in dan sebagainya. Selesai dengan segala administrasi, mereka langsung di arahkan untuk masuk ke dalam pesawat karena memang pesawat yang akan mereka tumpangi akan segera lepas landas.
Tak lama menunggu akhirnya pesawat pun lepas landas.
Arvina dan Dave memilih untuk beristirahat sejenak karena perjalanan mereka akan memakan waktu kurang lebih satu hari penuh atau dua puluh empat jam.
••••••••••••••
SYDNEY, AUSTRALIA
"Drick, lihat ini!" Titah Hansen mengarahkan layar laptopnya kepada Drick.
Mereka masih bekerja untuk mengusut siapa yang telah mencoba menganggu ketentraman bisnis mereka.
Bahkan Hansen terpaksa harus membawa Arzena serta karena Arzena merengek bosan di rumah hanya bersama para pelayan.
"Apa?" Tanya Drick bingung.
"Ini, apakah dia sungguh anak buah kita?" Tanya Hansen menunjuk salah satu pria yang tampak mencurigakan dengan pakaian longgar serba hitam, tak lupa penutup kepala dan juga masker.
"Aneh, siapa dia?" Gumam Drick mencoba memperbesar tampilan layar laptop Hansen.
Mereka tengah mengecek CCTV gudang penyimpanan senjata dan obat-obatan mereka.
Bisnis yang mereka lakoni memang bisnis gelap, tapi tetap saja jika sudah mengalami kerugian besar mereka tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
"Bodoh, ini anggota Dark Bone lagi." Ketus Drick saat melihat sebuah tato di leher pria dalam layar laptop itu.
Tato yang sama dengan milik Aston di telapak tangannya yang merupakan lambang khusus untuk anggota mereka.
"Si mata satu lagi. Apa tidak bosan mencari gara-gara terus dengan kita." Gerutu Hansen kesal.
Hansen sesekali melirik Arzena yang sedang tertidur di sofa besar dalam ruangan kerja Dave
Saat ini di Sydney masih sore hari, berbeda dengan Roma yang sudah pagi menjelang siang karena perbedaan waktu mencapai tujuh belas jam.
Hansen dan Drick kembali menyimak rekaman di laptopnya.
"Dia bukan orang yang ahli melakukan kejahatan. Lihat saja caranya." Gumam Drick memperhatikan setiap gerak gerik pria yang terekam itu.
Terlihat jelas kalau pria itu sedang tidak fokus dan seperti orang linglung meski para anggota Dave tidak ada yang curiga.
"Apa mungkin? Apa mungkin dia adalah orang yang sama yang menjebak kita hari itu?" Tanya Drick tidak habis pikir.
"Yang kau maksud adalah pria lemah dan pengecut itu?" Tanya Hansen ikut tak percaya.
"Hubungi orang-orang di sana dan pastikan mereka bisa menahannya hingga kita datang, jika dia masuk ke gudang lagi." Titah Drick geram.
Hansen hanya menurut dan segera melaksanakan perintah dari Drick.
"Jika sampai kali ini benar-benar adalah dirimu, aku tidak akan mengijinkan dirimu hidup lagi." Gumam Drick geram.
"Bagaimana?" Tanya Drick melihat Hansen yang sudah mengakhiri panggilannya.
Zeco adalah kepala gudang yang bertanggung jawab saat ini untuk mengawasi gudang mereka.
"Bodoh! Bisa-bisanya mereka ceroboh seperti itu. Bahkan setelah begitu banyak barang yang hilang pun mereka masih begitu abai?" Celoteh Drick mengepalkan kedua tangannya.
"Tenang dulu bung. Semuanya belum jelas. Bisa saja dia adalah orang lain." Hansen mencoba menenangkan Drick.
Hansen tahu jika Drick tersulut emosi, ia akan menjadi tak jauh beda dengan Dave. Beringas dan kejam.
"Engh.." Arzena melenguh pelan dan terjaga dari tidurnya.
"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Hansen langsung menghampiri Arzena.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Arzena pelan.
"Sudah, kami sudah selesai untuk hari ini. Kau mau pulang?" Tanya Hansen lembut.
Arzena hanya mengangguk pelan.
"Baiklah, kita pulang." Ucap Hansen membantu Arzena berdiri.
"Aku duluan bung. Jika ada perkembangan terbaru aku akan menghubungi dirimu." Pamit Hansen dan hanya diangguki Drick.
__ADS_1
Drick memilih mengerti keadaan kedua sahabatnya yang sudah berkeluarga. Dan beberapa hari ini Drick seakan melupakan tentang Raina sekejab.
Drick memilih kembali melanjutkan pekerjaannya.
••••••••••••••••••
"Bagaimana? Kapan aku perlu ke sana lagi?" Tanya Ken yang kini berhadapan dengan Aston.
"Tunggu lagi perintah dariku!" Jawab Aston tersenyum licik.
"Baik. Aku pergi dulu." Pamit Ken hendak pergi.
"Tunggu! Kau membawa susu untuk Ibu hamil? Untuk Apa?" Tanya Aston penasaran melihat Ken menenteng satu kantong berisi beberapa kotak susu untuk Ibu hamil.
"Bukan urusanmu!" Ketus Ken dan langsung berlalu dari hadapan Aston.
"Wanita mana yang mau ia hamili? Pria lemah seperti itu?" Gumam Aston penuh hinaan.
••••••••••••••••••
"Hati-hati!" Titah Hansen menuntun Arzena masuk ke dalam rumah mereka.
Mereka baru saja sampai ke rumah.
Mereka langsung masuk ke dalam rumah karena memang hari sudah malam dan udara di luar sangat sejuk.
"Kau mau langsung istirahat atau duduk di sini dulu?" Tanya Hansen memberi istrinya pilihan.
"Aku ingin istirahat." Jawab Arzena pelan.
Meski usia kehamilannya masih muda, tapi perut Arzena sudah tampak lebih buncit dari usia kehamilannya karena memang bayinya adalah kembar.
Hansen pun hendak memapah Arzena masuk ke dalam lift di rumahnya, namun bunyi bel pintu membuat mereka mengurungkan niat.
"Siapa malam-malam begini?" Gumam Hansen mendudukkan Arzena kembali ke sofa.
Hansen berjalan tergesa-gesa menghampiri pintu dan membukanya.
"Siapa?" Tanya Hansen saat membuka pintu, namun nihil. Tidak ada siapapun di sana.
Hansen hendak berbalik masuk namun matanya menangkap sebuah bungkusan tergeletak di lantai.
"Susu hamil? Tapi kemarin Arzena baru membelinya bersama pelayan." Gumam Hansen bingung.
"Tidak, aku tidak boleh lalai. Sebaiknya aku buang saja. Aku tidak akan membahayakan bayiku dan Zena." Gumam Hansen lagi.
Ia kemudian mengambil susu susu tersebut lalu membuangnya di tempat sampah depan rumahnya.
Ia sama sekali tidak tahu kalau susu itu dari Ken dan Ken sedang melihat semuanya dari jauh.
__ADS_1
"Bangsat! Pria itu berani sekali membuang susu yang ku berikan? Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan.." Gumam Ken tersulut amarah.
...~ TO BE CONTINUE ~...