TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Hiduplah dengan baik


__ADS_3

"Su sudah. Aku memaafkan mu. Sekarang pergilah!" Ucap Arzena dalam satu tarikan nafas.


"Hah.." Ken menghela nafas kasar.


"Aku memohon maaf dengan tulus. Bisakah kau maafkan aku dengan tulus dan bukan karena takut denganku? Aku ingin berubah, aku ingin hidup tanpa rasa bersalah." Ucap Ken memelas.


"Aku ... "


"Bangsat!"


Belum selesa Arzena berkata-kata, Hansen sudah datang dan langsung mencengkram baju Ken dengan sangat kuat.


"Apa lagi maumu, hah? Belum cukupkah kau menghancurkan hidup istriku?" Tanya Hansen geram.


"A aku ... "


BUKKK


Belum sempat Ken ingin membela diri, Hansen sudah melayangkan bogeman mentah ke pipi Ken hingga Ken jatuh tersungkur di tanah.


"Hans, stop!" Arzena langsung menahan suaminya yang hendak kembali menyerang Ken.


"Lepaskan aku sayang! Pria bangsat ini harus diberi pelajaran!" Geram Hansen.


"Stop, Hans! Semua tidak seperti yang kau lihat. Dia hanya ingin meminta maaf." Arzena mencoba menjelaskan.


"Pergilah Ken! Aku sudah memaafkan dirimu!" Titah Arzena kepada Ken.


Arzena hanya tidak ingin Hansen terbawa emosi dan melukai Ken lebih parah.


Ken menuruti perintah Arzena dan langsung meloloskan diri dari hadapan suami istri itu.


"Hans, sudah! Aku tidak apa-apa. Dia tadi hanya ingin minta maaf." Jelas Arzena lagi kepada Hansen.


"Ayo, kita pulang sekarang! Aku tidak ingin berlama-lama di sini bersama dengan orang itu." Ajak Hansen meraih tangan Arzena ke dalam genggamannya.


Arzena masih diam saat Hansen ingin melangkah.


"Kau membencinya Hans? Lalu bagaimana kau berhadapan dengan sahabatmu nanti? Aku tidak bermaksud membela siapapun di sini. Tapi keadaan sekarang berbeda, dia bukan musuh lagi. Dia kakak dari sahabatmu. Dia juga ... " Arzena menghentikan ucapannya.


"Dia juga Ayah dari anak-anak di dalam rahimmu, begitu?" Tanya Hansen datar.


"Em...aku mungkin bisa menghindari dia. Tapi, sampai kapanpun, darahnya tetap mengalir dalam tubuh kedua anakku kelak." Ucap Arzena sendu.


"Jadi, kau akan mengijinkan dia untuk mengakui anak-anak kita?" Tanya Hansen mengepalkan tangannya.


"Tidak sekarang! Aku akan ijinkan dia jika dia benar-benar membuktikan dirinya sudah berubah. Hans, aku tidak bermaksud mengecewakanmu. Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya jika kita tidak mengakuinya sebagai Ayah dari anak-anak ku." Jelas Arzena menatap dalam mata Hansen.


Hansen memilih melembutkan hatinya.


"Baiklah jika itu keputusanmu. Aku akan mendukungmu. Tapi ingat! Hanya jika dia benar-benar sudah berubah!" Ucap Hansen tegas.


Arzena mengangguk dan memeluk erat suaminya.

__ADS_1


"Terima kasih Hans. Kau memang yang terbaik." Ucap Arzena bahagia.


Perlahan tapi pasti, Arzena juga belajar untuk menjadi lebih dewasa dan tidak ingin mementingkan egonya lalu mengorbankan sesuatu yang tidak seharusnya dikorbankan. Apalagi untuk anak-anaknya kelak.


Meski sulit diakui, tapi dia tidak bisa menutupi fakta bahwa Ken adalah Ayah kandung dari bayi kembarnya.


"Jadi, bolehkan aku tetap di sini? Aku masih merindukan Daddy dan Mommy." Pinta Arzena memelas.


"Baiklah. Tapi aku tidak bisa menemanimu, pekerjaanku masih banya di rumah sakit." Sahut Hansen sedih.


"Tidak apa-apa. Asal kau tidak dekat-dekat dengan wanita bangkai yang masih berusaha merayumu hingga hari ini." Titah Arzena kesal.


"Tenang saja. Jika kau tidak ikut denganku, pengawalku banyak untuk menghalangi langkahnya." Jelas Hansen serius.


"Kalau begitu aku bisa tenang. Pergilah!" Titah Arzena lembut.


Hansen melepaskan pelukannya dan sigap menyambar bibir istrinya lembut.


"Aku pergi sekarang." Pamit Hansen setelah pautan bibir mereka dilepas.


Arzena mengangguk.


Hansen pun berlalu dari hadapan Arzena.


•••••••••••••


"Menyebalkan! Apakah semua orang yang pernah jahat akan selamanya jahat? Aku jahat, tidak aku bodoh juga karena keadaan. Jika saja...adikku yang gagah perkasa ini tidak mengganggu kehidupanku, aku juga tidak akan bertindak bodoh dan gila seperti itu." Gumam Ken kesal menatap tajam ke arah Dave.


Dave dan Arvina sempat mendengar keributan dari taman belakang mansion, namun saat mereja ingin mencari tahu, Ken sudah berlari keluar dari sana dengan wajah lebam dan berakhir dengan Arvina membantu mengompres wajah Ken.


"Sshh..sakit bo..pelan-pelan.." Ken mengurungkan niatnya untuk mengatai Arvina bodoh saat Dave melirik tajam padanya.


"Bung, kau akan pergi sekarang?" Tanya Dave yang melihat Hansen keluar dari taman belakang.


"Em..aku titip istriku." Jawab Hansen menekan kata terakhir.


"Tenanglah. Tidak ada yang akan menganggu Zena selama ada aku." Sahut Arvina yakin kembali menekan kantong kompres pada wajah Ken.


"Ssshh...aw...sakit Vina..astaga..kenapa tidak kalian bunuh saja aku?" Gerutu Ken merebut kantong kompres Arvina dan memilih mengompres wajahnya sendiri.


"Membunuhmu sangat mudah untuk ku lakukan! Tapi aku tidak ingin di cap sebagai pembunuh Ayah kandung mereka oleh anak-anak ku kelak." Ucap Hansen datar dan berlalu meninggalkan ketiga orang itu.


"Sekarang kau istirahat saja! Kami juga harus istirahat." Usir Dave dan langsung menarik Arvina meninggalkan Ken sendirian.


"Terserah saja." Ken memutuskan untuk berbaring di sofa ruang keluarga.


••••••••••••••


"Hai semuanya.." Sapa Drick bahagia kepada semua anggota keluarga Dave Arvina yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


"Cih..orang gila datang lagi.." Kini Arzena yang berdecih geli melihat tingkah Drick yang tidak seperti biasanya.


"Itu sifat yang buruk Zena. Jangan sampai menurun pada bayimu nanti." Ucap Drick menggoda Arzena dan mendapatkan tatapan tajam dari Hansen yang sudah berada di mansion Dave

__ADS_1


Semua anggota keluarga memang sedang berkumpul untuk menunggu kedatangan Drick dan menjemput Darvin dan Zevina.


"Well, Mom, aku titip kado ini untuk kak Raina." Ucap Arvina menyerahkan sebuah kotak yang sudah terbungkus rapi dengan kertas kado.


Drick segera merebutnya.


"Biar aku saja. Aku kan datang mewakili kalian." Ucap Drick tersenyum lebar.


Mereka yang tidak tahu isi pikiran Drick pun hanya tersenyum dan menggeleng kepala.


"Maaf Mom, Dad, kami tidak bisa mengantar kalian." Ucap Arvina memeluk kedua orang tuanya bergantian.


Arzena kemudian juga melakukan hal yang sama.


"Tidak masalah sayang. Lagipula ada Drick. Jaga diri kalian baik-baik. Terlebih kau Vina, konsultasikan dengan baik kepada dokter mengenai sakitmu." Ucap Zevina mengelus pipi kedua putrinya bersamaan.


"Em..aku akan konsultasikan nanti." Jawab Arvina tersenyum.


"Jangan bersedih. Jika ada waktu, kalian juga pulanglah ke London! Arzevin selalu menyebut tentang kalian, tapi karena pekerjaannya, dia tidak bisa mengunjungi kalian sesuka hati." Ujar Darvin penuh kasih sayang.


Kedua putrinya mengangguk serentak dan beralih menatap suami mereka.


Hansen dan Dave hanya tersenyum kaku.


Darvin dan Zevina kemudian berpamitan dengan yang lainnya, hingga akhirnya giliran Ken.


Ken hanya menunduk, tidak berani untuk menatap kedua orang tua yang sudah berjasa dalam hidupnya.


"Ken, tidak mau memeluk Mommy dan Daddy?" Tanya Zevina lembut.


Ken memberanikan diri mengangkat kepalanya dan mendapati Darvin dan Zevina tersenyum tulus kepadanya.


Ken langsung saja menghambur memeluk kedua orang tua itu.


"Maafkan aku Mom, Dad. Aku sudah mengecewakan dan menyakiti putri kalian." Pinta Ken tulus.


"Lupakan semuanya. Mulai detik ini, hiduplah dengan baik. Buktikan kau bisa berubah!" Titah Darvin tulus.


"Em..aku janji Dad. Aku akan janji tidak akan lagi mengecewakan kalian." Sahut Ken yakin.


Lama mereka berpelukan mengungkapkan isi hati masing-masing.


"Baiklah, Daddy dan Mommy harus berangkat sekarang. Jaga diri kalian baik-baik. Dan kau juga besan." Ucap Darvin kemudian kembali memberikan pelukan singkat kepada Jeymian.


Setelah berpamitan, Darvin dan Zevina pun mengikuti langkah Drick meninggalkan mansion Dave.


"Aku datang, Raina sayang." Batin Drick dan tersenyum licik.


...~ TO BE CONTINUE ~...


#######


...____ AYYYYYY...MAMPIR YOKKKK ___...

__ADS_1



__ADS_2