
"Ken?" Dave berbalik melihat di belakangnya dan ternyata Ken sudah tidak di tempat.
Entah sejak kapan Ken sudah berlari ke arah Elviana dan yang lainnya dan kini sedang mengacungkan pistolnya kearah gerombolan pria yang hendak menculik dan menarik Elviana.
"Lepaskan wanitaku!" Ken memerintah dengan tegas.
"Wanitamu? Ck..kau bahkan tidak pantas bersaing dengan Tuan kami!" Ucap seorang pria berambut gondrong meremehkan Ken.
"Ken, kenapa kau bisa di sini? Dan apa maksudnya wanitamu?" Tanya Darvin heran dengan semuanya.
Ken memilih mengabaikan pertanyaan Darvin dan fokus melindungi Elviana.
"Hst..lepaskan mereka! Apa yang kalian inginkan?" Tanya Dave dengan nafas terengah-engah setelah berhadapan dengan para penculik itu.
"Waw..Dave Alexon rupanya. Sepertinya kau memang selalu berjodoh dengan Tuan kami." Pria gondrong tadi kembali berbicara.
"Siapa yang menyuruh kalian dan ada urusan apa kau dengan Elviana?" Tanya Ken geram.
Anggota keluarga yang lainnya benar-benar dibuat bingung dengan keadaan ini kecuali Arzevin yang memang sudah tahu hubungan Ken dan Elviana.
"Tidak penting siapa yang menyuruh kami! Yang jelas wanita itu harus kami bawa kehadapan Tuan kami!" Jawab pria berkulit hitam dan bertato.
"Kemarikan wanita itu!" Si pria kulit hitam berusaha menerobos dan ingin menyeret Elviana keluar dari tempat persembunyiannya.
"Brengsek! Aku bilang jangan sentuh wanitaku!" Ken menendang pria kulit hitam itu hingga terjungkal.
"Sepertinya kau mengajak berperang!" Pria gondrong tadi menimpali dan mengambil ancang-ancang.
Ia mengarahkan pistolnya ke arah Deron, Ayah Elviana.
"Tua bangka ini harus mati karena telah mengkhianati Tuan kami dengan mengatur perjodohan putrinya dengan pria lain!" Ucap pria gondrong itu sambil menarik pelatuk pistolnya.
"Bung, kita bisa bicarakan baik-baik!" Dave mencoba bernegosiasi.
"Nope! Kalian terlalu menjengkelkan!" Sahut si pria gondrong.
DORR
"KEN.." Elviana berteriak histeris saat Ken menghalangi peluru yang ditembakkan ke arah Ayahnya.
Ken tumbang di topang oleh Deron sedangkan Elviana langsung bersimpuh dan tangannya berusaha menahan bekas tembakan di dada Ken agar darah tidak keluar semakin banyak.
"Sial! Kita mundur sekarang!" Titah pria gondrong itu pada anak buahnya dan segera melarikan diri.
__ADS_1
Dave dan yang lain gelagapan membantu Ken.
"Bawa dia ke rumah sakit dengan mobilku! Tidak ada waktu menunggu ambulans!" Titah Dave pada anak buahnya dan mereka langsung membopong tubuh lemah Ken.
Elviana memaksa ikut bersama Dave, akhirnya mau tidak mau Dave mengijinkan.
"El, semoga kau tidak menyesal dengan semuanya!" Ucap Dave menekan kata-katanya.
"Apa maksudmu? Semua ini bukan ulahku!" Bentak Elviana dengan berderai air mata.
"Aku tahu! Tapi semua yang terjadi hari ini berasal dari kebodohanmu bersandiwara dan membohongi kakakku! Jika dari awal kau terus terang pada kedua orang tuamu dan tidak menjadi pengecut, semua tidak akan seperti ini! Kau dan keluargamu akan kami lindungi dengan baik!" Geram Dave kesal.
Elviana hanya diam dan terisak sambil memeluk kepala Ken yang berbaring di atas pahanya.
"Maafkan aku, Ken! Maafkan aku!" Pinta Elviana berulang kali berharap Ken membuka matanya dan tersenyum padanya.
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit.
Dave segera turun dan menggendong Ken masuk ke dalam ruang UGD. Para dokter pun segera masuk ke dalam ruang UGD untuk menangani Ken.
"Dave, sebenarnya ada apa ini? Mereka siapa?" Tanya Darvin penasaran. Ia baru saja sampai ke rumah sakit bersama anggota keluarga yang lain.
"Siapapun kelompok itu, aku akan mencari tahu. Dan untuk urusan Ken dan Elviana, Daddy bisa tanyakan langsung pada yang bersangkutan biar dia menjelaskan kenyataan sebenarnya." Jawab Dave menahan geram.
Dave hanya mengangkat tangannya pertanda tidak masalah.
Hansen menuntun Arzena duduk sedangkan dirinya berdiri mendampingi istri dan sahabatnya.
Elviana sedang menceritakan semuanya pada orang tuanya dan juga Darvin sekeluarga.
"Astaga El, kenapa kau tidak bilang dari awal kalai kau mempunyai pria yang kau cintai." Ucap Deron merasa bersalah.
"Jika aku bilang, apa Daddy akan mendengarku? Apa Daddy akan menerimanya dan merestui kami?" Tanya Elviana dengan berderai air mata.
"El, siapapun pilihanmu, Daddy tidak melarang." Sahut Deron ingin memeluk putrinya, namun Elviana menghindar.
"Bohong! Saat aku menolak perjodohan ini saja, Daddy bahkan tidak bertanya apa alasannya! Yang Daddy mau hanya aku menuruti semua keinginan Daddy. Semua yang aku lakukan salah dimata Daddy! Memang Daddy terlihat tidak pernah menuntut, tapi aku di belakangku, Daddy dan Mommy selalu menjelekkan diriku!" Bentak Elviana meluapkan semua kekecewaannya.
"El, tenangkan dirimu!" Zevina menghampiri Elviana dan memeluk Elviana untuk memberinya dukungan dan ketenangan.
"Maaf aunty, tapi aku benar-benar tidak bisa menikah dengan Arzevin!" Jelas Elviana terisak.
"It's okay, El. Dari awal pun sebenarnya aku sudah menolak perjodohan ini. Tapi Tuan Deron menginginkan kita untuk saling mengenal dulu dan aku memilih menghormatinya. Ken sudah seperti saudaraku sendiri dan aku juga tidak mungkin merebut seseorang yang menjadi miliknya." Arzevin bersuara berusaha menutupi kekecewaannya. Ia berbohong, padahal dari awal ia sangat antusias dengan perjodohan ini saat tahu perempuan yang akan dijodohkan dengannya itu adalah Elviana.
__ADS_1
Tapi setiap Elviana berusaha menghindari dirinya, Arzevin sadar, ia tidak akan pernah memenangkan hati Elviana.
"Sekarang sebaiknya kita fokus pada operasi Ken! Semoga saja semuanya lancar dan dia baik-baik saja." Ucap Darvin merangkul putra sulungnya.
Keadaan kini hening hingga seorang anak buah Dave datang.
"Tuan Dave, Tuan Hansen! Aku sudah mengetahui siapa yang membayar gerombolan perusuh tadi!" Ucap anak buah Dave yakin.
"Siapa?" Tanya Dave mengepalkan tangannya.
"Jarod! Pria yang pernah menembakmu hari beberapa bulan lalu. Dia mengincar Nona Elviana karena beberapa waktu lalu Ayah Nona Elviana berjanji untuk menikahkan Nona Elviana dengannya. Sebagai gantinya. ia akan melakukan investasi besar-besaran di perusahaan Tuan Deron. Tapi ia kecewa karena Tuan Deron membatalkan semuanya secara sepihak." Jelas anak buah Dave.
"Brengsek itu lagi rupanya! Kalian terus awasi dia. Kita tidak bisa membalas begitu saja karena dia tidak akan tinggal diam. Aku akan mengatur waktu untuk bernegosiasi dengan mereka." Titah Dave menahan emosinya.
"Baik Tuan! Aku permisi!" Ucap anak buahnya lalu pamit mengundurkan diri.
Suasana kembali hening.
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang UGD karena operasi Ken terpaksa dilakukan di dalam sana.
"Bagaimana keadaan kakakku?" Tanya Dave khawatir setelah menghampiri dokter itu.
Dokter tersebut menggeleng.
"Kondisi kakakmu tidak baik. Peluru yang mengenai dadanya berhasil menembus jantungnya. Meski tidak dalam, tapi hal itu tetap berbahaya untuknya. Kemungkinan untuk dia bertahan hidup hanya tiga puluh persen. Kami dokter hanya bisa melakukan semua yang kami bisa, sisanya terserah kepada sang Pencipta." Jelas dokter itu lemah.
Dave terduduk kembali di tempatnya sedangkan Elviana luruh terduduk di lantai.
"Ken, aku mohon jangan tinggalkan aku!" Isak Elviana terdengar pilu.
"Tangismu tidak ada gunanya! Semua karena kebodohanmu dan keegoisan keluargamu!" Geram Dave pada Elviana.
"Dave, tenanglah! Semoga keajaiban berpihak pada Ken." Bujuk Hansen menenangkan sahabatnya itu.
"Ken! Kau harus bertahan! Putra putrimu sayang padamu! Kau sudah bilang akan memberikan nama pada mereka!" Batin Arzena yang sedari tadi hanya diam sambil mengelus perut buncitnya.
Meski tidak ada rasa cinta pada Ken, bagaimana Ken tetap Ayah biologis dari bayi kembar di dalam rahimnya.
"Bertahanlah bangsat! Kau bahkan membuat istriku menangis!" Batin Hansen merangkuk istrinya erat.
"Kau pasti bisa Ken! Aku yakin kau bisa!"
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1