
"Dave, ayo kita pulang." Keluh Arvina, pasalnya dari tadi pagi hingga malam begini mereka benar-benar menghabiskan waktu berdua di pantai.
Mereka sedang berbaring diatas pasir putih dengan beralaskan tikar, dan Dave setia memeluk Arvina tanpa merasa lelah atau bosan.
"Sebentar lagi." Pinta Dave manja.
"Astaga, ini sudah malam sayang." Gerutu Arvina kemudian langsung menutup mulutnya menyadari perkataan yang ia sebutkan.
Dave tersenyum lebar dan menatap dalam Arvina yang tengah menutup mulutnya.
"Baiklah, karena kekasih sangat manis hari ini maka aku akan menuruti semua keinginannya. Ayo." Ucap Dave semangat dan bangun dari posisinya, kemudian membantu Arvina bangun.
"Sungguh kau ingin pulang?" Tanya Dave memastikan.
Arvina mengangguk semangat.
"Aku khawatir pada Zena." Ucap Arvina pelan.
"Yakinlah dia akan baik-baik saja. Hansen pasti akan menjaganya." Bujuk Dave menenangkan Arvina sambil menuntun Arvina masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Dave pun melajukan mobilnya untuk kembali ke mansion nya.
"Dave, aku ingin bertanya tentang Hansen." Pinta Arvina.
"Jangan bertanya tentang pria lain!" Titah Dave kesal.
"Apa dia sungguh adalah dokter?" Arvina tetap bertanya mengabaikan perintah Dave.
"Ya, dia dokter. Tapi dia juga salah satu anggota ku." Dave menjawab jujur.
"Hah, kenapa sekarang hidupku dan adikku malah dikelilingi oleh orang gila." Gerutu Arvina kesal dan Dave hanya mengulum senyum.
"Biarkan saja dia bersama adikmu! Lagipula dia saat ini sedang melajang." Usul Dave.
"Saat ini sedang melajang? Memangnya sebelumnya tidak?" Arvina bertanya antusias.
"Sebenarnya dia itu sudah menikah enam tahun lalu. Tapi tiga tahun lalu istrinya berkhianat dan lebih memilih pria lain." Dave menjelaskan.
"Jadi statusnya sekarang duda?" Arvina kembali bertanya.
"Hem..setelah tahu istrinya berkhianat dan lebih memilih pria lain, saat itu juga ia langsung menceraikan istrinya." Jelas Dave.
"Tragis sekali. Pasti setelah bercerai dia menjadi suka bermain wanita." Gumam Arvina ngeri.
"Kau salah! Setelah bercerai, dia menutup diri dari wanita manapun, sampai saat ia bertemu dengan adikmu." Jelas Dave kembali.
Arvina hanya mengedikkan bahunya acuh.
Karena terus mengobrol sepanjang perjalanan, akhirnya tak terasa mereka sudah sampai di mansion Dave.
Dave masuk ke dalam pekarangan mansion nya tanpa menyadari ada sebuah mobil hitam yang sedang memantau mereka.
__ADS_1
Setelah didalam mansion, Arvina memilih merebahkan dirinya diatas sofa empuk di ruangan utama mansion Dave.
"Dave, aku lapar." Keluh Arvina dengan manja.
Dave tersenyum dan mencubit pelan pipi Arvina.
"Ingin makan apa?" Tanya Dave lembut.
"Sebenarnya aku sangat ingin makan burger." Arvina menjawab dengan tersipu.
"Em..tidak sehat jika makan makanan cepat saji terus. Tapi untuk kali ini aku beri kelonggaran." Ujar Dave lalu berjalan ke arah dapur, niatnya dia sendiri yang akan membuat burger nya.
"TWINS." Teriak Arzena dari arah kamarnya dan langsung berlari turun memeluk Arvina.
Hansen mengikuti dari belakang.
"Apa? Ada apa? Apa si duda berbuat mesum padamu?" Tanya Arvina khawatir setelah Arzena melepas pelukannya.
"Tidak. Dia tidak macam-macam padaku. Aku senang, karena hari ini sakitku sama sekali belum kambuh." Jelas Arzena bahagia.
"Benarkah? Ah..syukurlah." Teriak Arvina kegirangan dan memeluk erat adiknya.
Hansen hanya mengulum senyum melihat tingkah kedua wanita di depannya.
"Sayang, maaf tapi persediaan bahan untuk membuat burger sudah habis. Jika kau sangat menginginkannya, maka kita harus berbelanja." Ucap Dave dari arah dapur.
"Kita tinggal memesannya dari restoran cepat saji." Usul Arvina memelas.
"Dave, kami ikut!" Pinta Arvina menggenggam tangan Arzena lalu menariknya untuk ikut.
"Kita berjalan kaki saja. Supermarket nya tidak jauh." Usul Dave menarik Arvina kedalam pelukannya sedangkan Arzena ditarik oleh Hansen.
Mereka berjalan beriringan menuju ke supermarket dekat tempat tinggal Dave.
Mereka masih tidak sadar bahwa mereka dipantau oleh seseorang.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di supermarket yang dimaksud.
Arvina dan Arzena berjalan kearah lemari es krim dan mereka memilih begitu banyak es krim, para pria berburu bahan makanan yang menjadi prioritas mereka.
Setelah selesai, mereka langsung mengantri dikasir.
Beberapa pasang mata menatap kagum mereka, namun tidak ada yang berani bersuara karena tahu sekali dengan Dave.
Selesai membayar semuanya, Arvina dan Arzena segera merebut kantong yang berisi es krim mereka dan hendak menikmati bersama.
Namun mereka ditarik oleh pria mereka masing-masing, hingga akhirnya mereka kembali berjalan berpasangan.
"Em..ini enak sekali. Kau harus coba ini." Titah Arvina menyodorkan sesendok es krim pada Dave.
Dave menerima dengan senang hati walau sebenarnya ia tidak terlalu suka makanan manis.
__ADS_1
"Punyaku juga sangat lezat twins, kau harus coba!" Arzena menimpali.
Hanya saja saat ia hendak menyuapi Arvina dan Arvina sudah membuka mulutnya, Hansen malah merebut sendokan es krim Arzena dengan mulutnya membuat Arvina kesal.
"Pak duda mesum. Selain mesum kau juga rakus sekali." Gerutu Arvina kesal.
Hansen hanya mengedikkan bahunya acuh dan tersenyum bodoh.
"Sudahlah, jangan bertengkar. Kalian itu kakak dan adik ipar, harus akur." Kelakar Dave mengusap lembut puncak kepala Arvina dari belakang.
"Kita sudah seperti kencan ganda saja, walaupun hanya pergi ke supermarket." Ujar Hansen tersenyum geli.
"Dalam harapanmu. Siapa juga yang mau berkencan denganmu?" Gerutu Arzena berjalan mendahului ketiganya.
"Hei, jangan pernah berharap lari dariku." Teriak Hansen dan langsung mengejar Arzena.
"Dalam mimpimu aku mau denganmu." Teriak Arzena tak mau kalah dan terus berlari hingga masuk kedalam mansion Dave.
Dave dan Arvina hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah kedua orang berbeda usia itu.
Mereka segera masuk ke dalam mansion dan Dave bersama Hansen segera membuat makanan yang wanita mereka inginkan.
#####
"Ada yang aneh." Gumam Keanu yang sedari tadi memantau keadaan mansion Dave dan melihat semua hal yang dilakukan Arvina dan Arzena bersama kedua pria mereka.
"Jika mereka ditahan paksa, seharusnya mereka tertekan. Tapi yang aku lihat mereka baik-baik saja, bahkan tidak ada raut tertekan sedikitpun." Gumam Keanu lagi.
Keanu kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi anak buahnya.
"Kau bawa beberapa teman-teman mu untuk mengawasi anak tadi pagi! Jangan sampai dia menghilang dari hadapanmu! Aku rasa ada sesuatu yang tidak benar dengannya." Titah Keanu dan langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
Ia kemudian memilih menghubungi Darvin agar setidaknya Darvin bisa lebih tenang.
"Darv, aku sudah menemukan kedua putrimu." Ucap Keanu tanpa basa basi.
"Dimana mereka? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Darvin cemas.
"Tenanglah! Yang aku lihat mereka baik-baik saja. Tapi mereka dijaga oleh dua orang pria yang sepertinya adalah kekasih mereka." Jelas Keanu.
Keanu tak ingin berbohong.
"Kekasih?" Gumam Darvin.
"Begini saja, aku akan terus memantau keadaan mereka. Jika ada perkembangan terbaru aku akan mengabarimu. Jangan khawatir, yang aku lihat mereka diperlakukan dengan baik oleh kedua pria itu. Tapi maaf, mungkin aku belum bisa membawa mereka pergi untuk saat ini." Ucap Keanu.
"Tidak apa selama mereka baik-baik saja. Maaf merepotkan mu Ke." Ujar Darvin, terdengar sekali Darvin bernafas lega mendengar kabar tentang kedua putrinya.
"Baiklah, aku akhiri dulu." Pamit Keanu dan panggilan pun berakhir.
"Ken, Ken. Siapa yang berbohong sebenarnya? Kau atau kedua anak perempuan itu?" Gumam Keanu dengan seringai menakutkan diwajahnya.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...