
"Ken, kau siap pulang hari ini?" Tanya Dave yang sedang membantu Ken mengemas barang-barangnya.
Setelah satu minggu dirawat, kondisi Ken berangsur pulih dengan cepat dan akhirnya ia diijinkan pulang.
Ken mengangguk dengan semangat.
"Ah ya, satu lagi surat yang harus kau tandatangani sebagai syarat keluar dari rumah sakit." Dave memberikan seberkas dokumen yang telah ia bawa tadi pada Ken.
Ken menerima berkas itu dan membukanya lalu membacanya.
"Pemindahan Hak Kuasa Harta Kekayaan Atas Nama Dave Alexon sebanyak Lima Puluh Persen kepada ... Dave, ini tidak perlu." Ken menutup dokumen itu dan hendak mengembalikannya pada Dave.
"Tanda tangan Ken! Jika kau tidak ingin tanda tangan, maka selamanya aku tidak akan mengijinkanmu keluar dari rumah sakit ini!" Ancam Dave.
"Tapi ini terlalu banyak." Lanjut Ken menunduk terharu.
"Tidak banyak! Anggap saja itu untuk menebus kesalahanku yang dulu." Bujuk Dave.
"Tapi ... "
"Ken, sekali lagi kau katakan tapi, aku akan segera mengurus surat keputusan agar kau tinggal di sini selamanya!" Ancam Dave kesal.
"Baik baik, aku tanda tangan." Ken segera membuka berkas dokumen tadi dan segera menandatanganinya.
"Begitu kan lebih bagus. Aku tidak perlu buang tenaga untuk mengancam. Ayo, kita pulang. Aku punya hadiah untukmu." Ajak Dave merangkul kakaknya dan mereka keluar dari ruangan Ken menuju ke parkiran.
"Hadiah apa lagi Dave? Ini saja sudah terlalu banyak." Tolak Ken merasa tidak enak hati.
"Ken ... "
"Baik baik! Aku tidak menolak! Semua yang kau berikan akan aku terima." Ucap Ken akhirnya.
"Kau kuat dan pemberani hanya sebentar saja. Sekarang kembali lembek lagi. Haha.." Ledek Dave sambil tertawa kecil.
"Tidak seperti itu. Kau kan orang gila yang tidak main-main dengan ucapanmu." Sungut Ken kesal.
Mereka kini sudah di dalam mobil Dave.
"Em...Dave, apa boleh mengantarku ke rumah orang tua El? Aku ingin menyampaikan kepada mereka kalau aku akan menikahi El dalam waktu dekat, meski hubungan El dengan mereka sedang tidak harmonis." Tanya Ken ragu.
"Sure, why not? Aku akan mengantarmu! Tapi jangan lama-lama! Para ratu kita sudah menunggu di mansion dengan kejutan mereka." Ucap Dave menyanggupi.
"Tidak akan lama! Aku hanya menyampaikan apa yang harus aku sampaikan pada orang tua dari wanita yang aku cintai, meski mereka akan merendahkan diriku." Sahut Ken tersenyum.
__ADS_1
Dave pun segera menjalankan mobilnya meninggal kawasan rumah sakit.
"Apa kau yakin kau berani untuk berhadapan dengan orang tua El?" Tanya Dave berniat menggoda kakaknya.
"Em..aku sudah mempersiapkan diri. Aku hanya akan menyampaikan tujuanku untuk menikahi El, bukan yang lain." Jawab Ken tegas.
"Ken yang sekarang benar-benar berubah yah.." Dave terkekeh kecil.
Ken hanya diam dan menatap keluar jendela mobil.
Tak lama akhirnya mereka sampai.
Ken segera turun dan Dave menyusul di belakang.
"Siapa kalian? Ada apa kemari?" Tanya seorang pengawal yang sedang berjaga di kediaman Deron.
"Lihat baik-baik, aku siapa?" Titah Dave menunjuk dirinya sendiri pada pengawal itu.
Ia sangat yakin pengawal itu pasti mengenalnya.
"Ka kau, Dave Alexon?" Tanya pengawal itu gelagapan.
"Jadi bisa minggir dan ijinkan kami masuk?" Tanya Dave jengah.
"Kau kenapa selalu menakut-nakuti orang?" Tanya Ken kesal.
"Itu bukan menakut-nakuti. Lagipula dia dia sangat tidak sopan. Pengawalku saja tidak seangkuh itu." Ujar Dave malas.
"Wow..Anak muda. Sudah sembuh rupanya." Ucap Deron menyambut Ken, namun terdengar seperti mengejek. Deron hendak memeluk singkat kedua pria itu namun keduanya menolak.
"Aku tidak ingin basa basi. Aku kemari untuk menyampaikan bahwa aku akan menikahi Elviana dalam waktu dekat." Ucap Ken tegas.
"Cih.." Deron berdecih meremehkan.
"Apa yang kau punya? Kau hanya desainer pemula. Bahkan penghasilanmu saja tidak seberapa." Deron berusaha merendahkan Ken.
"Aku memang ... "
Ucapan Ken terhenti saat Dave memegang lengannya dan mengangguk seolah meminta persetujuan agar ia yang berbicara. Ken akhirnya mengijinkan.
"Tuan Deron, aku Dave Alexon! Aku rasa aku tidak perlu mengenalkan diri lebih jauh pun kalian pasti sudah mengenal nama itu. Jika kalian mengungkit tentang harta, well, setengah dari hartaku adalah milik Ken selaku kakakku. Jika kalian bertanya tentang usaha, aku hanya perlu menjentikkan jariku dan sebuah perusahaan untuk Ken akan jadi dalam sekejap mata. So? Ah, tapi kami datang kemari bukan untuk meminta restu, hanya menyampaikan berita saja kalau Ken akan menikahi Elviana secepatnya. Dan kalian tidak perlu khawatir, pestanya akan sangat meriah dan mewah. Aku bahkan akan mengundang para petinggi di negara ini agar kalian bisa berjabat tangan dengan mereka. Dan obrolan ini aku akhiri sampai di sini!" Ucap Dave menahan geram melihat kakaknya diremehkan seperti itu.
Deron seketika bergidik melihat tatapan dan mendengar ucapan Dave.
__ADS_1
"Ayo, Ken!" Dave menarik tangan Ken untuk keluar dari rumah itu.
Ken mau tidak mau menurut, namun ia masih sempat membungkuk beberapa kali untuk pamit pada Deron.
"Kau ini kenapa bicara seangkuh itu?" Tanya Ken kesal.
"Itu belum seberapa Ken. Lagipula ucapanku selalu bisa aku realisasikan. Aku tidak terima mereka merendahkan dirimu." Jawab Dave setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Tapi aku jadi tidak nyaman." Sahut Ken menunduk.
"Cih..itulah kelemahanmu. Kau rela direndahkan tapi tidak berani membalas. Ingat Ken! Kau sekarang adalah orang kaya! Harta kita sama banyaknya, jadi jangan mau lagi direndahkan seperti tadi!" Tegas Dave sambil menjalan mobilnya meninggalkan kediaman Deron.
Ken hanya mengangguk pelan.
"Well, aku dan istriku sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu. Semoga kau suka dan tidak marah pada kami." Ujar Dave mengulum senyum.
"Awas saja jika kejutanmu adalah El akan menerima pinangan Arzevin!" Ancam Ken.
"Itu tidak mungkin! El saja sudah sangat tidak sabar ingin menyambutmu pulang. Bahkan tadi pagi saja dia memaksa ingin ikut, tapi istriku melarang." Sahut Dave girang.
Jantung Ken menjadi berdegup kencang memikirkan kejutan apa yang akan Dave dan Arvina berikan padanya.
Satu setengah jam kemudian mereka sampai di mansion.
"Ayo turun!" Ajak Dave.
Setelah keduanya turun, Dave mengambil selembar dasinya yang berada di dalam mobil, lalu menutup mata Ken.
"Dave, kenapa harus ditutup?" Tanya Ken penasaran.
"Kejutan, Ken! Harus benar-benar kejutan! Sekarang ikuti langkahku!" Titah Dave.
Ia kemudian menuntun Ken dengan perlahan dan hati-hati melangkah masuk ke dalam mansion.
"Kau sudah siap?" Tanya Dave setelah mereka berhenti tepat di depan pintu utama mansion itu.
Ken mengangguk antusias.
"Dalam hitungan ketiga, buka matamu!" Titah Dave sambil melepas dasi yang menutupi mata Ken.
"One..two...three...open your eyes!" Titah Dave semangat.
"What? Ini..."
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...