TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Menyusun rencana


__ADS_3

"Uncle, aunty, dimana acara pernikahan Raina akan diadakan?" Drick bertanya antusias sedangkan tangannya memainkan ponselnya, lebih tepatnya mengirim pesan kepada bawahan Dave yang tersebar di London untuk berkumpul.


Mereka baru saja mendarat di London, dan Darvin menyuruh Drick mendarat di bandara pribadi milik Derex.


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Darvin, mereka memilih menggunakan taxi dan di London, hari masih pagi.


"Upacara pernikahan dan resepsi akan diadakan serentak dihari yang sama di hotel ... Hotel itu sangat aman dan dilengkapi fasilitas keamanan yang sangat canggih." Zevina menjelaskan tanpa merasa ada kecurigaan sedikitpun karena Drick pun sedang bersandiwara dengan apik.


Drick mengangguk paham.


Mereka telah sampai di rumah Darvin dan Zevina.


"Drick, tidak mau turun dulu?" Darvin menawarkan setelah mereka turun dari taxi.


"Um, lain kali saja uncle. Beberapa teman lamaku mengetahui aku datang ke London dan mereka mengajak untuk berkumpul." Jawab Drick berkilah.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Terima kasih sudah mengantar kami." Darvin dan Zevina pun pamit masuk ke dalam rumah, sementara Drick mengarahkan sopir taxinya meninggalkan kediaman Darvin dan Zevina.


Drick memilih pergi ke markas mereka yang ada di London. Senyum hangat yang ia jadikan topeng sejak kemarin kini luntur begitu saja.


Wajahnya kini datar tanpa ekspresi, matanya masih memancarkan kemarahan jika menyangkut soal Raina.


Ia tahu ini gila, tapi hasrat untuk memiliki Raina terlampau besar apalagi setelah malam panas mereka.


Malam itu menjadi malam tak terlupakan bagi Drick, dimana dia lah yang merenggut mahkota Raina dan menjadi pria pertama yang menyentuh Raina.


Satu jam kemudian Drick sampai di markas mereka.


Banya anak buahnya telah berdiri rapi menyambut kedatangan tangan kanan atasan mereka.


"Tuan Drick!" Sapa mereka serentak.


"Tidak perlu terlalu formal! Drick melangkah masuk ke dalam markas mendahului para anak buahnya.


Drick langsung duduk di kursi kebesarannya, disusul para bawahannya yang juga duduk berjejer rapi.


"Aku tidak ingin basa basi. Apa kalian tahu tentang hotel ... dan bagaimana sistem keamanannya?" Drick bertanya to the point.


"Aku tahu Tuan. Hotel itu adalah satu-satunya hotel terbaik dengan sistem keamanan yang sangat ketat." Jawab seorang anak buahnya.


"Apa ada cara untuk kita menerobos masuk tanpa meninggalkan jejak?" Tanya Drick.


Drick pusing mengingat untuk mendapatkan Raina benar-benar butuh usaha ekstra.


"Aku bisa mendapatkan jalan masuk ke dalam Tuan. Tapi kita harus membayar mahal agar salah satu dari mereka mau bekerjasama." Jawab anak buah Drick yang tadi.


"Berapa? Sebutkan saja nominalnya!" Titah Drick tegas.


"Nominalnya kita bicarakan nanti saja Tuan! Sekarang lebih baik kita susun rencana apa yang ingin kau jalankan? Agar semuanya tertata rapi dan mulus." Sahut anak buahnya tadi.


Drick pun mulai mengarahkan kepada seluruh anak buahnya tentang rencana yang akan dilaksanakan di hari pernikahan Raina nanti.


"Bagaimana? Kalian sanggup?" Tanya Drick menantang.


"Masalah kecil bos. Jika di depan sudah diatasi, sisa di dalam sangat mudah menyelesaikannya." Jawab anak buahnya tadi dengan yakin.


"Bagus! Aku butuh semangat seperti ini." Ucap Drick tersenyum puas.

__ADS_1


"Tapi bos, bagaimana paras kakak ipar? Kami jadi penasaran." Tanya anak buahnya lagi.


Drick mengeluarkan ponselnya dan memberikan foto Raina yang ada di ponselnya untuk para anak buahnya.


"Ternyata sangat cantik. Tidak kalah dari istri ketua dan bos Hansen." Ucap anak buah yang lain memuji.


Drick tersenyum semakin lebar mendengar pujian para anak buahnya.


"Well, aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun! Sebaiknya persiapkan diri kalian karena pernikahan mereka akan diadakan dua hari lagi." Titah Drick tegas.


"Tenang saja bos! Pasti akan kami selesaikan dengan baik." Jawab anak buahnya yang lainnya.


Drick beranjak dari tempatnya menuju ke kamar pribadinya yang memang tersedia di markas itu begitu pula untuk Dave dan Hansen.


"Raina, kau pikir aku akan menyerah begitu saja dan membiarkanmu menikah dengan pria lain? Tidak, tidak akan pernah! Mati sekalipun, aku akan tetap mengejarmu dan mendapatkanmu!" Ucap Drick menatap pantulan bayangannya dicermin.


Drick kemudian memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di ranjang.


•••••••••••••••


Huekk...huekkk


Raina termuntah di kamar mandi padahal ia baru bangun dari tidurnya.


Ia mengeluarkan semua isi perutnya begitu saja.


"Sial..apa yang terjadi dengan perutku? Kenapa beberapa pagi ini aku selalu mual dan muntah?" Gumam Raina bingung.


"Mungkin aku masuk angin karena semalaman lupa mematikan AC." Gumam Raina lagi dan ia kemudian memutuskan untuk membersihkan dirinya.


Setelah tiga puluh menit akhirnya ia selesai dengan ritual paginya.


Setelah itu ia pun turun ke bawah.


"Wow, bidadari ku turun juga akhirnya." Jacki menggoda kakak tirinya.


"Diamlah!" Raina memberi tatapan sinis kepada adik lelakinya itu.


"Raina, mau makan apa?" Tanya Liz lembut saat Raina sudah duduk bersama mereka di depan meja makan.


"Aku ingin ... Huekk.."


Raina langsung berlari ke wastafel terdekat dan kembali muntah namun kali ini hanya cairan yang keluar.


"Aku benci bau coklat!" Ketus Raina menutup hidungnya.


Liz tadi memang membawa secangkir coklat hangat dan akan diberikan kepada Raina.


"Rai, bukankah kau menyukai coklat hangat?" Tanya Liz merasa curiga.


"No Mom, i hate it." Ketus Raina lagi.


"Ya sudah, Mommy berikan kepada pelayan saja." Ucap Liz kemudian memanggil seorang pelayan dan memberikan coklat hangat itu.


"Raina, apa yang sebenarnya terjadi? Apa kau hamil?" Tanya Liz khawatir dan menuntun Raina duduk di kursi.


"Tidak mungkin Mom. Aku dan Vel belum pernah ... "

__ADS_1


Ucapan Raina terhenti dan otaknya kembali berputar mengingat kejadian malam dua bulan lalu bersama Drick.


Raina mengepalkan kuat tangannya.


Ia langsung bangkit dari tempat duduknya dan beranjak meninggalkan Liz dan Jacki.


"Sayang, kau mau kemana?" Tanya Velano yang baru saja datang.


"Ke rumah sakit." Jawab Raina datar.


"Biar aku antar!" Velano pun menyusul Raina.


Setelah di dalam mobil, Velano segera mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit.


Tak sampai satu jam, mereka sudah sampai di rumah sakit.


Raina langsung menemui pusat informan dan menanyai tentang dokter spesialis kandungan.


Velano sedikit bingung kenapa Raina harus menemui dokter kandungan, namun Velano memilih mendampingi calon istrinya.


"Silahkan Nona!" Raina diarahkan masuk ke dalam ruang dokter kandungan.


Raina segera masuk dan Velano mengikuti dari belakang.


Seorang dokter wanita tersenyum hangat menyambut Raina, berbeda dengan Raina yang bermasam muka.


"Apa keluhanmu Nona..Raina?" Tanya dokter itu lembut.


"Sudah beberapa pagi ini aku selalu terbangun dan muntah. Selera makanku juga berubah. Aku cenderung menyukai sesuatu yang sebelumnya aku tidak suka." Jelas Raina.


"Terakhir menstruasi?" Tanya dokter itu lagi.


Raina mencoba mengingat kapan dia terakhir datang bulan.


"Sepertinya dua bulan lalu dokter." Jawab Raina.


Jantungnya mulai berdegup kencang tidak siap dengan kenyataan yang ada.


"Baiklah, mari kita periksa." Dokter tersebut menuntun Raina masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan mereka segera melakukan pemeriksaan dengan USG.


"Selamat, Nona Raina. Kau hamil." Ucap dokter itu tersenyum hangat.


Raina seketika mematung mendengar pernyataan dokter itu.


Air matanya lolos begitu saja. Dunianya serasa runtuh untuk kedua kalinya.


Dokter itu kemudian menuntun Raina keluar dari ruangan pemeriksaan.


"Selamat Tuan, istrimu sedang hamil dan kehamilannya memasuki usia tujuh minggu." Ucap dokter itu kembali tersenyum hangat.


"Aku ingin menggugurkan janin ini."


...~ TO BE CONTINUE ~...


##########


...___ AYOKKK PADA MAMPIR YOKKKK ___...

__ADS_1



__ADS_2