
Tak terasa waktu kembali berlalu dengan cepat dan sudah sebulan berlalu.
Arzena benar-benar sudah pulih dari ketergantungannya terhadap Devil.
Hubungannya dan Hansen juga sedikit mengalami peningkatan.
Setidaknya mereka sudah saling mengetahui masa lalu masing-masing.
Hansen bahkan rela memilih untuk tinggal di mansion Dave agar tetap dekat dengannya.
Arvina selalu mencoba mengganggu keduanya, bukan karena cemburu melainkan Arvina tidak ingin jika Hansen sampai menyakiti kembarannya.
Namun bukan Hansen namanya jika mudah menyerah.
Ia bahkan nekat memaksa tidur satu kamar dengan Arzena, tapi ia tidak sampai melewati batasnya.
Hansen wajib tidur dengan memeluk Arzena, bahkan tak pernah sedikitpun melepaskan pelukannya.
Seperti pagi ini. Arzena terbangun saat merasa tidak nyaman pada perutnya, namun ia kesulitan untuk bergerak atau bangun karena Hansen memeluknya dengan sangat erat.
"Uek.." Arzena dengan cepat membekap mulutnya dengan telapak tangannya saat ia merasa akan muntah.
Terpaksa dengan sekuat tenaga ia mengangkat dan memindahkan tangan Hansen yang melingkar sempurna di perutnya.
Setelah itu ia segera berlari ke kamar mandi.
UEKK HUEKK
Arzena memuntahkan isi perutnya.
Hansen yang tadi merasakan pergerakan nya dan mendengar suaranya pun segera bangun dan berlari ke kamar mandi.
Hansen membantu memijat tengkuk Arzena dengan lembut.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Hansen khawatir.
Arzena menggeleng.
Arzena lemas bersandar pada dinding kamar mandi
"Sudah selesai?" Tanya Hansen.
Arzena hanya mengangguk.
Hansen dengan sigap menggendong Arzena keluar dari kamar mandi dan membaringkan Arzena dengan hati-hati.
"Kau istirahat saja lagi. Aku akan membuatkan makanan dan sesuatu yang hangat untukmu." Titah Hansen lembut.
Hansen berbalik dan hendak melangkah namun Arzena menahan tangannya.
"Boleh aku minta tolong? Belikan aku testpack!" Tanya Arzena pelan.
Hansen sedikit terkejut dengan permintaan Arzena, namun ia mencoba bersikap biasa.
"Baiklah. Nanti aku akan meminta Drick untuk membelinya. Kau istirahat saja." Ucap Hansen mengelus lembut puncak kepala Arzena.
Ia pun turun ke dapur untuk membuatkan makanan untuk Arzena.
Sebelum itu, ia sudah menghubungi Drick untuk memesan apa yang Arzena butuhkan.
Sedang sibuk memasak, Hansen dikejutkan dengan tepukan kuat dibahu nya.
"Kai ini kenapa? Suka sekali mencari masalah denganku." Ketus Hansen pada Arvina.
Arvina hanya terkekeh.
"Dimana suamimu? Tidak biasanya kau sendirian." Tanya Hansen meledek.
"Dia masih tidur. Tadi malam dia tidur larut sekali." Arvina mengeluh.
"Kalian?" Hansen tersenyum jahil.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan!" Ucap Arvina mengusap kasar wajah Hansen.
"Kau.." Hansen menodongkan pisaunya ke arah Arvina namun Arvina malah menjulurkan lidahnya.
"Bung, ini testpack yang kau inginkan." Ucap Drick yang entah sejak kapan sudah ada di belakang mereka sambil meletakkan satu kantong kecil yang ia bawa diatas meja.
__ADS_1
"Terima kasih." Ucap Hansen.
"Tuan Dave belum bangun?" Tanya Drick penasaran.
Arvina hanya mengangguk.
"Untuk apa testpack itu?" Tanya Arvina bingung.
"Tadi adikmu terbangun dan muntah-muntah. Setelah itu dia memintaku membelikan testpack untuknya." Jelas Hansen.
"Kau..sudah ku bilang jangan sentuh adikku!" Ketus Arvina kini menodongkan pisau pada Hansen.
"Hei, jangan kasar Nona! Aku belum pernah menyentuh adikmu sedikitpun selain memeluknya. Aku menghargainya karena aku mencintainya. Jadi jangan menuduh ku sembarangan!" Ucap Hansen merebut pisau dari tangan Arvina.
Drick hanya menggeleng pelan melihat perdebatan keduanya.
Suasana kembali hening.
Tak lama Hansen selesai memasak dan ia menata makanan yang ia masak diatas nampan.
Ia segera naik kekamar Arzena membawa nampan berisi makanan dan juga testpack yang Arzena pesan.
Arvina dan Drick mengikuti dari belakang.
"Ayo makan dulu." Ajak Hansen membantu Arzena bangun.
"Apa pesanan ku ada?" Tanya Arzena ragu melihat Arvina dan Drick dibelakang Hansen.
"Ini." Hansen menyerahkan kantong berisi testpack pada Arzena.
Arzena mengambil kantong tersebut dan segera berlari masuk kedalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi ia segera melakukan pemeriksaan kehamilan dengan urin nya.
Menunggu kurang lebih lima belas menit dan hasilnya sudah terlihat jelas di testpack, dua garis merah.
"Ini tidak mungkin. Tidak! Aku tidak mungkin hamil." Ucap Arzena histeris.
Hansen yang mendengar suara teriakan Arzena pun langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.
"Ada apa?" Tanya Hansen khawatir.
"Tenanglah! Jangan gegabah!" Ucap Hansen berusaha menghentikan Arzena namun ia terus memukuli perutnya.
"Aku tidak ingin bayi ini. Aku tidak sudi hamil dari pria miskin itu!" Arzena kembali berteriak dan menangis meraung.
Ia terus memukuli perutnya.
PLAK
Hansen melayangkan satu tamparan pada pipi mulusnya.
"Sadarlah! Jangan bertindak bodoh! Janin dalam rahim mu tidak bersalah!" Teriak Hansen geram.
Hansen segera memeluk erat Arzena.
"Jangan bodoh Zena. Semua orang mempunyai masa kelamnya sendiri. Tapi jangan sampai kau bertindak bodoh dengan membunuh janin yang tidak berdosa itu." Bujuk Hansen.
Arvina ingin marah karena Hansen menampar adiknya, namun Drick mencegahnya.
"Aku akan bertanggung jawab. Aku yang akan bertanggung jawab untuk bayi mu, bayi kita. Jangan bertindak bodoh lagi." Ucap Hansen lembut.
"Ada apa ini?" Tanya Dave mendekati Arvina dan Drick.
"Dave, Zena hamil." Ucap Arvina dan langsung memeluk Dave.
Arvina terisak.
"Sstt..tenanglah. Apa semua itu karena perbuatan si lemah itu?" Tanya Dave mengusap punggung Arvina.
Arvina hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kita harus meminta pertanggung jawaban dari nya." Tegas Dave.
"Tidak perlu!" Hansen yang menuntun Arzena keluar dari kamar mandi pun tak kalah tegas.
Ia menuntun Arzena untuk duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Tidak bisa begitu. Dia harus tahu akibat dari perbuatan gilanya itu." Ucap Dave.
"Baiklah! Hanya untuk memberinya pelajaran! Aku tidak akan mengijinkan dia mengambil Arzena dari ku." Ucap Hansen tegas.
Semuanya pun setuju.
Hansen kembali memeluk Arzena.
"Jangan menangis lagi. Kau harus bahagia, jangan menyalahkan janin kecil ini." Ucap Hansen kemudian berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Arzena.
"Aku akan segera menikahi mu. Jangan bersedih lagi! Ini adalah bayi kita." Ucap Hansen mengelus perut Arzena. Ia juga menghapus air mata Arzena dengan telapak tangannya.
"Aku akan membantumu bersiap." Ujar Hansen.
Yang lain pun keluar dari kamar Arzena.
Arvina dan Dave memilih untuk bersiap, Drick menunggu dibawah.
Setengah jam kemudian mereka semua sudah berkumpul di ruang keluarga.
Ketiga pria tak lupa membawa senjata.
Mereka pun berangkat dengan menggunakan dua buah mobil.
Arvina dan Dave, Drick menjadi sopir untuk Hansen dan Arzena.
Keanu yang sudah memantau mereka selama satu bulan ini juga mengikuti mereka dari jarak aman sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.
Dave sudah mendapat lokasi tempat Ken berada, yaitu di gudang obat terlarang nya.
Menurut info yang Dave dapat, Ken menjadi saat satu pengedar obat terlarang nya untuk bertahan hidup karena Dave tidak mengembalikan pekerjaannya.
Mereka telah sampai di gudang Dave.
Dave menuntun yang lain untuk masuk kedalam area gudang tersebut.
Gedung kosong dengan banyak kotak kayu tertata rapi dan beberapa ruangan tertutup.
Keanu juga menyelinap masuk dengan aman.
"Dimana dia?" Tanya Dave dingin pada seorang bawahannya.
"Ada didalam bos." Jawab anak buah Dave menunjuk salah satu ruangan yang tertutup.
"Bawa dia keluar!" Kini Hansen yang bersuara.
Sang anak buah pun menurut dan masuk kedalam ruangan tersebut lalu menyeret Ken keluar.
Dave, Hansen, dan Drick menatap Ken dengan tatapan bengis dan ingin membunuh, sedangkan Arvina memeluk Arzena dan berlindung dibelakang ketiga pria itu.
"A ada apa?" Tanya Ken gemetar.
"Ada apa? Jika aku berkata Arzena hamil bayi mu, apa yang ingin kau katakan?" Tanya Hansen dingin sambil menarik pelatuk pistolnya.
"Di dia tidak mungkin hamil anak ku. La lagipula di dia pasti banyak ditiduri pria lain." Ucap Ken gemetar dan gelagapan.
Hansen tersenyum sinis begitupun Dave dan Drick.
"Wow..sungguh kau adalah pria diluar dugaan. Tampang mu yang lugu itu mampu menipu semua orang dan mengira kau adalah pria baik-baik. Tapi nyatanya kau bahkan lebih rendah dari seekor binatang!" Ujar Hansen geram.
DOORR
Hansen melepaskan tembakan disisi kaki Ken membuat Ken ketakutan dan melompat.
"Padahal kami datang tidak untuk memintamu bertanggung jawab, tapi ternyata nyalimu sangat kecil. Baiklah, kau boleh terus hidup dan saksikan kebahagiaan dari perempuan yang sudah kau hancurkan dan kau rendahkan harga dirinya." Ucap Dave kini.
"A aku tidak merendahkan nya. Dia memang sudah ditiduri banyak pria. Kau juga pernah." Ken kini melemparkan kesalahan pada Dave.
"Well, aku akui aku memang pernah. Tapi kami melakukan atas dasar sama-sama ingin dan tidak ada unsur pemaksaan. Dan aku akui aku yang bersalah, tapi kau sangat munafik. Mengakui kesalahan saja tidak mampu. Tidak layak untuk disebut pria." Ucap Dave dengan penuh hinaan.
Arzena hanya terisak memeluk kakaknya yang setia menenangkan nya.
"Lebih baik kita pergi. Aku tidak ingin wanitaku semakin tertekan berhadapan dengan pria pecundang sepertinya." Ajak Hansen dan menarik Arzena kedalam pelukannya.
Mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu.
"Jadi Arzena hamil sekarang dan itu adalah ulah Ken? Tidak bisa, sudah saatnya aku bertindak dan membawa mereka pulang. Jika kedua pria itu benar-benar mencintai twinsnya Zev, mereka yang harus berjuang untuk menjemput kedua anak perempuan itu." Gumam Keanu dan kembali menyelinap keluar dari gudang Dave.
__ADS_1
...~ TO BE CONTINUE ~...