TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Perasaan Aneh


__ADS_3

Huekk Huekkk


Drick sedang di dalam kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


"Sial! Apa yang terjadi denganku?" Gumam Drick geram sesekali memukul dinding kamar mandi tempat ia bersandar sekarang.


Puas duduk di dalam kamar mandi, Drick akhirnya kembali ke kamarnya.


Drick tersenyum melihat wanita yang ia incar sedang terlelap dengan damai di atas ranjangnya.


Raina telah ia bawa ke markas Dave tanpa hambatan sedikitpun.


Drick benar-benar merencanakan semuanya dengan sempurna.


"Kau sangat indah sayang." Ucap Drick menatap wajah damai Raina.


Drick sudah mengganti gaun pengantin Raina dengan piyama tidur.


Drick kemudian naik ke atas ranjangnya dan berbaring di samping Raina, tak lupa memeluk erat Raina.


"Jangan berpikir kau bisa pergi dariku! Sejak malam itu, kau adalah milikku." Ucap Drick mengecup puncak kepala Raina.


Raina masih tertidur karena obat tidur yang disuntikkan kepadanya beberapa jam yang lalu.


__ Beberapa jam yang lalu __


"Nona Raina!" Seorang pria berbusana serba hitam tiba-tiba saja masuk ke dalam kamar Raina dan sudah berdiri tepat di belakang Raina.


"Ada apa?" Tanya Raina setelah berbalik.


Tidak ada kecurigaan dari Raina karena ia mengira pria itu adalah bawahan Velano.


"Ayo, ikutlah denganku!" Ajak pria itu sopan.


"Kemana? Sebentar lagi acara pernikahan ku dan Velano akan dimulai." Raina bertanya dan menolak halus.


"Kau tidak akan pernah bisa menikah dengan pria lain, Nona Raina! Tuan Drick sudah menandai dirimu miliknya!" Jelas pria itu.


Mendengar nama Drick, Raina sudah tahu siapa yang pria itu maksudkan.


"Hentikan! Aku sudah tidak ada urusan dengannya! Jangan pernah menggangguku lagi!" Bentak Raina kesal.


"Maaf Nona, aku hanya menjalankan tugas. Jika ingin komplain, bisa langsung kepada Tuan Drick." Sahut pria itu


"Brengsek kalian semua!" Bentak Raina lagi.


Raina segera berlari hendak keluar dari kamar itu namun sayangnya gerakan pria itu sangat cepat hingga berhasil menangkapnya.


"Menurut saja, apa susahnya?" Gumam pria itu dan langsung menyuntikkan obat tidur pada leher Raina.


Pria itu membawa Raina menuju ke balkon kamar hotel itu.


Dengan berhati-hati, ia menurunkan Raina menggunakan sebuah alat yang sudah mereka siapkan untuk mempermudah pergerakan mereka.


Setelah itu pria itu kembali dan meninggalkan selembar kertas, seolah itu adalah pesan dari Raina sendiri.


Pria itu kemudian keluar dari kamar Raina dan secepat kilat menuju ke tempat dimana ia Raina berada.


Segera ia memasukkan Raina ke dalam bagasi mobil Drick.


Setelah tugasnya selesai, ia kembali dengan penyamarannya sebagai staff hotel.

__ADS_1


__ Kembali saat ini __


Entah sadar atau tidak, tangan Raina terulur dan membalas pelukan Drick.


"Lihatlah, bukankah sudah ku bilang? Kau nyaman bersamaku." Ucap Drick lagi.


Raina kini mulai bergerak gelisah seolah ada sesuatu yang mengganggu tidurnya yang tak diinginkan itu.


Perlahan Raina membuka matanya.


"Kau? Lepaskan aku!" Titah Raina meronta penuh kebencian.


"Tidak akan pernah, sayang. Bukankah kau sudah ku tandai sebagai milikku? Atau kau lupa, semua yang ada dalam dirimu sudah ku miliki malam itu?" Tanya Drick menggoda.


"Bangsat! Aku bukan milikmu! Aku tidak mencintaimu! Dan Velano adalah yang terbaik untukku!" Raina dengan nada ketus dan terus meronta, namun Drick menahannya erat.


"Dia? Terbaik untukmu? Apa iya, seorang pria baik ingin menjebak kekasihnya dengan obat perangsang? Apa iya, seorang pria baik hanya diam dan menjadi penonton saat kekasihnya dibawa oleh pria lain? Sedangkan dia tahu, kekasihnya sudah meminum obat perangsang itu." Tanya Drick beruntun dan membuat Raina seolah tertampar dengan pertanyaannya.


Raina terdiam dan menatap Drick kesal.


"Ehm.." Raina menutup mulutnya karena merasa ia akan muntah.


Raina menepuk-nepuk tangan Drick memberi kode agar Drick melepaskannya.


Drick yang mengerti pun segera melepaskannya.


Raina segera turun dari ranjang dan asal berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Huekkk huekkk


Raina mengeluarkan semua isi perutnya.


Drick segera menyusul ke dalam kamar mandi dan memijat pelan tengkuk Raina.


Raina menepis tangan Drick yang masih memijat nya.


"Peduli apa kau? Aku sakit ataupun mati, bukan urusanmu!" Gertak Raina.


Drick yang tidak suka dikasari oleh wanita yang ia cintai itu pun tersulut emosi.


Dengan gerakan cepat, Drick menggendong Raina keluar dari kamar mandi dan melemparkan Raina je atas ranjang.


Drick segera mengunci tubuh Raina dibawah kungkungannya.


"Mau apa kau? Jangan macam-macam!" Gertak Raina saat melihat tatapan mengerikan sekaligus berselimut gairah dari kedua mata Drick.


"Aku tidak macam-macam sayang. Aku hanya melakukan apa yang menjadi tugasku." Sahut Drick menelusuri wajah pucat Raina dengan telunjuknya.


"Jangan macam-macam! Jangan menyentuhku!" Bentak Raina kesal.


"Cih..kau lupa bagaimana malam itu kau memohon padaku? Ayo, kita ulangi tanpa obat sialan itu." Ucap Drick.


Dengan cepat Drick menyambar bibir ranum Raina dengan rakus. Lembut namun menuntut.


Raina hampir tidak sanggup menolak belaian yang Drick berikan.


Tangan Drick bergerak lincah memainkan kedua bukit Raina tanpa membuka pembungkusnya.


"Drick..ja..ehm.."


Drick langsung membekap mulut Raina dengan tangannya, setelah ia melepaskan pautan bibir mereka dan tahu Raina ingin menolak dirinya.

__ADS_1


Drick kini mencumbu leher jenjang Raina, bahkan tak lupa meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


"Arghhh.." Drick mengerang kesakitan karena Raina berhasil menggigit telapak tangannya yang sedang membekap mulut Raina.


"Kau.." Drick mengangkat tangannya hendak menampar Raina, namun dengan cepat ia mengurungkan niatnya saat melihat Raina memejamkan mata karena takut.


"Jangan pernah menolakku Raina! Kau adalah gadis pertama dan akan menjadi satu-satunya yang aku sentuh dan aku inginkan!" Tegas Drick.


Drick turun dari atas tubuh Raina dan berjalan keluar ke balkon kamarnya.


Ada perasaan bersalah karena sudah mengasari wanitanya itu.


Raina bangkit dan duduk setelah Drick berdiri tegak di balkon.


Entah apa yang ada dalam pikiran Raina, kakinya ingin sekali melangkah dan memeluk erat punggung kekar yang tampak sedikit lebih kurus dari beberapa bulan lalu.


"Ada apa sebenarnya? Apa ini pengaruh dari kehamilan ku?" Batin Raina bingung.


Benar saja, Raina tidak sanggup menahan kakinya untuk melangkah mendekati Drick.


Tangannya terulur begitu saja dan memeluk Drick dari belakang.


Drick kaget mendapat perlakuan yang tiba-tiba itu, namun hal itu sukses membuat senyumnya mengembang.


"Apa itu artinya kau mau menerimaku?" Tanya Drick lembut dan tangannya mengelus kedua tangan Raina yang melingkar sempurna di perutnya.


Raina menggeleng.


"Tidak! Hanya entah kenapa, aku ingin memelukmu." Jawab Raina pelan.


Raina bahkan memejamkan matanya merasakan kehangatan dari punggung Drick.


Drick menarik Raina hingga ke depannya dan kembali memeluk Raina.


"Jadilah milikku, Raina! Aku janji akan menjagamu dan memperlakukan dirimu dengan baik." Pinta Drick lembut.


"Aku ... "


"Kau tidak perlu jawab sekarang! Aku akan menunggumu. Tapi aku tidak akan mengijinkan dirimu pergi dariku lagi." Ucap Drick tegas.


"Aku lapar." Rengek Raina.


Entahlah, tapi kebencian dan kekesalannya luntur begitu saja setelah memeluk dan dipeluk Drick dengan penuh kasih sayang.


"Aku akan membuatkan makanan untukmu." Ujar Drick kemudian melepaskan pelukannya dan menarik tangan Raina agar mengikutinya.


••••••••••••••


"Maaf Tuan, tapi CCTV di seluruh sudut hotel itu rusak serentak dua jam sebelum Nona Raina menghilang." Ujar salah satu anak buah Velano.


"Bangsat! Kemana sebenarnya wanita manja itu?" Geram Velano mengacak kasar rambutnya.


"Kami masih terus mencarinya Tuan. Sayangnya, Nona Raina benar-benar menghilang tanpa jejak." Jelas anak buah Velano lagi.


"Sampai aku menemukannya, aku tidak akan segan-segan menghukumnya." Geram Velano.


"Cari dia disetiap sudut kota ini. Bawa dia ke hadapanku, hidup atau mati." Titah Velano mutlak.


"Baik Tuan!" Jawab anak buah Velano dan langsung pamit.


"Raina, aku sudah berbaik hati dan menjaga serta mencintaimu selama lima tahun ini. Kali ini aku tidak akan berlaku lembut lagi! Lihat saja bagaimana aku akan menghukummu nanti!" Gumam Velano geram.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2