TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Arzena Cemburu


__ADS_3

"Hans, bolehkah hari ini aku ikut kau ke rumah sakit?" Tanya Arzena memelas.


"Tidak sayang. Rumah sakit bukan tempat yang aman untukmu. Kondisimu saat ini membutuhkan tempat yang nyaman dan aman." Jawab Hansen sambil mengelus pipi istrinya yang sudah mulai chubby.


"Tapi aku sangat bosan. Ingin mengunjungi twins juga mereka saat ini sibuk dengan orang tua Dave." Keluh Arzena merayu.


"Begini saja, aku janji sore ini aku akan pulang cepat dan setelah itu kita berkunjung ke mansion Dave. Setuju?" Tanya Hansen sambil mengunyah sarapannya.


"Janji?" Tagih Arzena mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji." Ucap Hansen menautkan jari kelingkingnya pada Arzena.


Arzena tersenyum bahagia dan kembali menyantap makanannya.


Selesai sarapan Hansen langsung pamit pergi setelah memberi kecupan perpisahan kepada istrinya.


"Nyonya, boleh saya merapikan mejanya?" Tanya seorang pelayan dengan sopan.


"Silakan. Jika ada yang ingin kalian makan, makan saja. Jangan sungkan." Ucap Arzena dan memilih berjalan ke taman belakang untuk menikmati matahari pagi.


"Baby twins, apa kabar kalian di dalam? Kalian harus sehat okay. Mommy dan Daddy Hans mencintai kalian." Gumam Arzena mengelus perut buncitnya yang kini berusia empat bulan.


"Benar-benar bosan." Gumam Arzena.


Arzena kemudian memilih untuk kembali ke kamarnya.


Setelah di dalam kamar, Arzena mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi keluarganya di London namun sayangnya tidak ada yang menjawab.


Ia kemudian mencoba lagi menghubungi keluarga Derex namun sama saja, tidak ada jawaban.


"Aku coba istirahat saja." Gumam Arzena dan membaringkan tubuhnya yang kini lebih berisi.


Arzena bersusah payah mencoba untuk memejamkan matanya.


"Hah, kenapa susah sekali? Kenapa sekarang rasanya aku tidak bisa berjauhan dari Hans meski untuk beberapa jam saja." Gerutu Arzena sebal.


Arzena kemudian mengambil kembali ponselnya dan mencoba mencari menu-menu makan siang di internet.


Niatnya ia akan membuatkan makan siang untuk Hansen dan memberikan kejutan kepada Hansen ke rumah sakit.


Arzena pun keluar dari kamarnya setelah mendapatkan beberapa menu dan ia langsung menuju ke dapur untuk membuat makanan sesuai menu yang ia dapatkan.


"Nyonya, apa perlu bantuan?" Tanya pelayannya dengan sopan.


"Ah, iya. Bisa bantu aku membuat makan siang untuk Hans? Sejujurnya aku kurang bisa memasak." Pinta Arzena malu-malu.


Si pelayan pun dengan senang hati membantu bahkan mengajari Arzena untuk memasak.


Mereka selesai memasak dan waktu hampir menunjukkan jam makan siang.


"Kau tolong aku susun ke dalam rantang setengahnya. Aku akan segera bersiap." Titah Arzena sopan dan langsung naik ke kamarnya untuk bersiap.


Arzena hanya mengganti pakaian karena wajahnya memang sudah dirias tipis tadi pagi dan masih bertahan hingga saat ini.


"Sudah?" Tanya Arzena menghampiri pelayan tadi.


"Sudah. Ini Nyonya." Jawab pelayan tadi menyerahkan rantang makanan itu.

__ADS_1


Arzena pun pamit pergi diantar oleh sopir.


Jalanan sedikit macet hingga membuat Arzena sedikit lama untuk sampai ke rumah sakit Hansen.


Empat puluh lima menit kemudian akhirnya ia sampai.


"Ya ampun, waktu makan siang sudah hampir habis. Semoga saja Hans masih belum makan." Gumam Arzena dan langsung menuju ke ruang kerja Hansen.


"Hans.." Panggil Arzena lembut sambil membuka pintu ruang kerja Hansen.


Pemandangan pertama yang Arzena lihat adalah seorang wanita merangkul Hansen dari belakang bahkan beberapa kali mengecup pipi Hansen, namun Hansen selalu menghindar dan berusaha melepaskan diri.


"Apa-apaan ini? Siapa wanita itu?" Batin Arzena kesal.


Muncul ide brilliant di otak Arzena.


Dengan langkah pasti Arzena mendekati Hansen dan langsung duduk di pangkuan Hansen.


"Sayang, aku merindukanmu." Ucap Arzena dan langsung mencium bibir suaminya tanpa ragu.


Hansen sedikit terkejut namun ia sama sekali tak keberatan dan justru membalas perlakuan istrinya.


Wanita yang merangkul Hansen tadi terbakar amarah dan melepaskan rangkulan nya dari Hansen.


Arzena juga mengakhiri sesi ciumannya dengan Hansen.


"Siapa dia Hans?" Tanya wanita itu marah.


Hansen tidak menggubris sama sekali pertanyaan wanita itu.


"Kau kenapa datang? Bukankah aku sudah bilang akan pulang cepat?" Tanya Hansen lembut dan memainkan rambut istrinya.


Arzena mengacungkan jari tengahnya kepada wanita yang ada di belakang Hansen membuat wanita itu semakin marah.


"Tunggu saja kalian." Ucap wanita itu dan langsung pergi dari ruangan Hansen.


"Siapa dia sayang?" Tanya Arzena geram menangkup wajah Hansen dengan kasar.


"Mantan istriku." Jawab Hansen datar.


"Kau mengijinkan mantan istrimu menyentuhmu? Keterlaluan!" Ketus Arzena dan memaksa mencium leher Hansen tepat di area bekas mantan istri Hansen tadi.


Hansen tersenyum dan membiarkan Arzena berbuat semaunya.


"Apa kau cemburu?" Tanya Hansen terkekeh saat Arzena sudah selesai dengan aksinya.


"Tentu saja aku cemburu. Wanita mana yang tidak cemburu saat suaminya bermesraan dengan wanita lain apalagi wanita itu adalah mantan istrinya." Jawab Arzena dengan dada yang naik turun karena kesal.


"Apa cemburumu itu berarti kau mencintaiku?" Tanya Hansen lagi.


"Ya, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu." Jawab Arzena penuh keyakinan.


Hansen tersenyum manis.


"Terima kasih. Tapi kau tidak perlu khawatir, dia hanya masa laluku. Dan aku hanya milikmu!" Ucap Hansen menyembunyikan wajahnya pada dada Arzena yang jauh lebih berisi dari sebelum ia hamil.


"Kau bawa apa tadi?" Tanya Hansen antusias.

__ADS_1


Arzena turun dari pangkuan Hansen dan mengambil rantang makanan yang ia bawa lalu menyusunnya di meja set sofa di dalam ruangan Hansen.


Hansen segera mendekati istrinya.


"Makanlah. Semoga saja enak. Aku tidak terlalu mahir memasak." Ucap Arzena malu.


Hansen tersenyum dan segera mencicipi makanan yang dibawa Arzena, semuanya.


"Ini enak sayang. Sungguh aku tidak berbohong." Ucap Hansen semangat tanpa kebohongan.


Arzena tersipu malu.


Hansen dengan bersemangat melahap makanannya hingga tak tersisa sedikitpun.


"Aku kenyang." Ucap Hansen menepuk perutnya.


Arzena tertawa geli.


"Ya ampun, aku lupa. Kau sudah makan?" Tanya Hansen panik.


"Aku belum lapar. Jika aku lapar aku pasti sudah meminta makananmu tadi." Jawab Arzena jujur.


Hansen akhirnya bernafas lega.


"Sayang, malam ini tidak usah ke mansion Dave saja. Aku tidak ingin merepotkan mu." Ucap Arzena memeluk Hansen.


"Tidak apa-apa." Jawab Hansen tulus.


"Tidak. Lain kali saja kita pergi." Ujar Arzena.


"Baiklah. Aku ikut maumu." Sahut Hansen.


"Hans, apa aku boleh menunggumu di sini saja. Sungguh, rasanya rindu sekali jika tidak bersamamu." Pinta Arzena memelas.


Hansen merasa kasihan dengan istrinya.


"Baiklah. Kau boleh di sini sampai aku selesai bekerja." Ucap Hansen memberi ijin.


"Terima kasih." Arzena memeluk manja Hansen.


Hansen tersenyum dan sangat bahagia karena akhirnya istrinya mengakui kalau ia mencintai dirinya.


Hansen meminta ijin untuk melanjutkan pekerjaannya dan Arzena mengijinkan.


"Kau milikku Hansen. Tidak ada wanita lain yang boleh merebutmu dariku. Awas saja jika mereka berani coba-coba." Batin Arzena kesal.


...~ TO BE CONTINUE ~...


########


- IMAJINASI VISUAL DAVE ALEXON



- IMAJINASI VISUAL HANSEN


__ADS_1


- IMAJINASI VISUAL DRICK



__ADS_2