TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Cerita masing-masing


__ADS_3

Tiga Hari Kemudian


Sesuai yang Dave janjikan tiga hari lalu, hari ini ia dan Arvina akan berangkat ke Roma, Italia untuk menikmati liburan bulan madu mereka.


Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara, diantar oleh Drick.


Kali ini Dave tidak menggunakan jet pribadinya.


Menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit akhirnya mereka sampai di bandara.


Mereka segera turun dari mobil dan masuk ke dalam bandara. Dave bahkan sengaja tidak mengijinkan Arvina untuk membawa apapun selain barang yang berharga dan penting.


"Berhati-hatilah disana. Jangan terlalu buas!" Ucap Drick menasehati kedua pengantin baru itu.


"Buas? Memangnya kau tahu arti buas?" Tanya Dave meremehkan, sedangkan Arvina dengan sengaja memeluk Dave manja.


Pikiran Drick seketika kembali mengingat pertarungan panasnya dengan Raina.


"Sial!" Maki Drick menjambak rambutnya.


Ia langsung pergi meninggalkan Dave dan Arvina begitu saja tanpa berkata apapun.


"Kenapa dia? Sudah seminggu lebih ini dia sangat aneh?" Tanya Arvina bingung.


Dave hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


Mereka pun kembali masuk ke dalam bandara untuk melakukan check-in dan sebagainya.


Selesai dengan segala administrasi, mereka di arahkan untuk masuk ke dalam pesawat kelas VIP.


Tak lama kemudian pesawat yang mereka tumpangi pun lepas landas.


Butuh waktu satu hari penuh untuk mereka sampai di Roma, Italia.


"Kau istirahat saja!" Titah Dave lembut sambil mengelus pipi istrinya.


"Kau?" Tanya Arvina bergelayut manja di lengan suaminya.


"Aku cukup menatapmu saja." Goda Dave pada Arvina membuat Arvina tersipu malu.


Arvina pun menurut dan memilih beristirahat.


•••••••••••••••


"Bangsat! Jadi wanita itu sudah resmi menikah dengan bajingan itu?" Maki Aston yang baru mengetahui tentang Arvina.


"Benar Tuan. Mereka menikah baru satu minggu lebih." Jawab bahawan Aston.


"Sepertinya wanita itu sangat menyukai tantangan. Well, kita lihat saja nanti aku atau bajingan itu yang bisa memuaskanmu." Ucap Aston tersenyum licik.


"Hubungi Velano Alderon! Hanya dia yang bisa membantu kita saat ini!" Titah Aston pada bawahannya.


"Baik Tuan!" Ucap sang bawahan menyanggupi dan pamit undur.


"Arvina, Arvina! Seandainya kau menurut padaku, mungkin hari ini kau sudah tertawa bahagia bersamaku. Sayangnya kau lebih suka menggali kuburmu sendiri." Gumam Aston sambil mengayunkan sebuah pisau di tangannya.

__ADS_1


•••••••••••••


Meninggalkan Dave dan Arvina yang sedang dalam perjalanan menuju Roma, Italia. Juga Aston yang sedang menyusun rencana jahat untuk merebut Arvina dari tangan Dave.


Drick kini sedang gusar memikirkan Raina.


Sungguh, seorang Raina membuat Drick menggila.


Setelah beranjak dari bandara tadi, Drick mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh hingga sampai ke rumahnya.


Sampai di rumahnya, ia langsung menuju ke ruangan khusus yang ia jadikan sebagai mini bar.


Drick mengambil sebotol minuman keras dan meneguknya kasar.


PRANGG


Drick melempar botol minumannya hingga pecah berantakan.


"Kau dimana Raina? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu?" Gerutu Drick sambil melepaskan kemejanya.


"Sudah ku bilang kau itu milikku! Kenapa kau masih berani pergi? Apa seburuk itu aku dimatamu? Apa kau tidak punya rasa malu? Keperawananmu hilang karena diriku, aku yang merenggutnya. Lalu kau ingin memberikan apa pada pria lain nanti? Tidak Raina, tidak! Aku pasti akan menemukanmu! Kau hanya milikku! Jika Dave saja bisa memiliki Arvina bahkan dengan cara kotor, maka aku juga harus bisa memilikimu! Kalian adalah perempuan khusus yang mampu membuat kami menggila." Celoteh Drick seolah sedang berhadapan dengan Raina.


Drick kembali mengambil sebotol minuman dan kembali meneguknya kasar. Bahkan ia sama sekali tidak peduli dengan badannya yang basah karena guyuran minumannya.


•••••••••••••••


Meninggalkan Drick yang tengah menggila karena memikirkan Raina.


Ada dua sejoli yang sedang saling memberikan kasih sayang.


Hansen dan Arzena kini tengah memeriksakan kandungan Arzena yang telah memasuki usia tiga bulan.


"Hans, aku sangat gugup." Ucap Arzena tak tenang.


"Tenanglah sayang! Semua pasti baik-baik saja." Ujar Hansen menenangkan istrinya.


Mereka sedang menunggu giliran mereka dipanggil.


"Nyonya Arzena!" Seorang perawat keluar dari ruangan dokter spesialis kandungan dan memanggil nama Arzena.


Hansen membantu Arzena berdiri dan mereka berjalan masuk ke dalam ruangan dokter itu.


Beberapa pasang mata melihat mereka dengan tatapan kagum, apalagi dengan sikap yang Hansen yang begitu manis pada Arzena.


"Nyonya Arzena?" Dokter wanita itu menyebutkan nama Arzena untuk memastikan.


"Benar, itu aku." Jawab Arzena tersenyum gugup.


"Kehamilan pertama?" Tanya Dokter itu.


"Benar dokter. Dan baru pertama kali kami datang untuk periksa." Jelas Arzena.


Dokter wanita itu tersenyum.


"Mari." Dokter itu membantu Arzena masuk ke dalam ruangan periksa.

__ADS_1


Sang dokter mengoleskan gel dingin di atas perut Arzena dan mulai menggerakkan alat transduser secara memutar.


"Nyonya Arzena, wow..di dalam rahimmu ada dua janin. Lihatlah!" Ujar dokter wanita itu girang.


Arzena menatap layar monitor USG dengan perasaan campur aduk. Tampak ada dua gumpalan daging yang sudah sedikit berbentuk terpampang di layar monitor USG.


"Keadaan janinmu baik-baik saja, semuanya normal." Jelas dokter wanita itu lagi.


Mereka pun menyudahi sesi pemeriksaan.


Sang dokter membantu Arzena turun dari ranjang periksa dan membantu Arzena keluar dari ruangan periksa.


"Sayang." Arzena menghampiri Hansen dengan langkah cepat dan memeluk Hansen bahagia, tapi Hansen malah panik.


"Ada apa? Bayi kita baik-baik saja kan?" Tanya Hansen mengusap punggung istrinya.


Arzena mengangguk sambil melepaskan pelukannya.


"Bayi kalian kembar Tuan Hansen, maka dari itu Nyonya Arzena sangat bahagia." Jelas dokter itu memecah rasa penasaran dan khawatir Hansen.


"What? Sungguh?" Tanya Hansen tak percaya dan Arzena mengangguk.


"Oh my.." Hansen terharu dan kehilangan kata-kata hingga ia hanya bisa memeluk istrinya kembali.


Meski janin di rahim Arzena bukan benihnya, namun Hansen tidak keberatan. Baginya itu tetap buah hati mereka.


"Lalu bagaimana keadaan bayi kembar kami dokter?" Tanya Hansen sambil melepaskan pelukannya.


"Keadaannya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jelas dokter itu.


"Ini resep vitamin untuk Nyonya Arzena dan bayi kalian." Ucap sang dokter memberikan selembar resep pada Hansen.


"Terima kasih dokter." Ucap Hansen bahagia mengambil resep tersebut.


Mereka pun pamit dan meninggalkan ruangan dokter tersebut untuk menebus resep vitamin yang diberikan dokter tadi.


Saat sedang di apotek, mereka tidak sadar ada Ken di dekat mereka, karena Ken menggunakan masker.


"Sayang, sungguh aku bahagia sekali. Kita akan memiliki dua bayi sekaligus." Ucap Hansen merangkul mesra Arzena.


"Aku juga sayang. Terima kasih, kau sudah mau menerimaku dan bayi ku." Ucap Arzena mengelus pipi Hansen.


"Bayi kita sayang." Hansen memperbaiki ucapan Arzena.


"Nyonya Arzena." Seorang apoteker memanggil nama Arzena.


Hansen segera menghampiri apoteker itu dan mengambil vitamin tadi.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan apotek tersebut tanpa tahu sedikitpun Ken berada di dekat mereka.


"Kembar? Bayiku kembar?" Gumam Ken tersenyum miris.


"Lahirkan Arzena! Lahirkan bayi ku! Setelah itu kita akan besarkan mereka bersama!" Gumam Ken lagi.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


######


Maaf kalo part ini sedikit tidak memuaskan..otak lagi kusut


__ADS_2