
Dua Minggu Kemudian
"Twins, bagaimana dengan kuliah kalian?" Tanya Darvin.
Mereka saat ini sedang sarapan di meja makan.
Kedua putrinya menunduk merasa bersalah.
"Kami sudah mengajukan cuti untuk waktu yang tidak ditentukan." Jawab Arzena pelan.
"Hei, jangan takut seperti itu! Daddy hanya bertanya." Ujar Darvin mengacak rambut Arzena yang memang sedang duduk dekat dengannya.
"Ekhem...aku selaku kakak tertua ingin bertanya, dimana kedua pria yang katanya pemberani dan ingin menikahi kalian itu?" Tanya Arzevin hanya berniat menggoda kedua adik kembarnya.
"Aku tidak tahu. Bahkan kami tidak bisa menghubungi mereka sama sekali." Jawab Arvina lemah.
Arvina terus saja teringat pada mimpinya malam itu.
"Jangan terlalu berharap pada pria seperti mereka. Daddy kalian masih mampu menghidupi kalian dan cucu Daddy. Jadi tidak perlu mengharapkan mereka. Jika memang mereka serius, maka mereka akan datang untuk kalian." Tegas Darvin.
Ia jelas tidak ingin kedua putrinya disakiti lagi.
Selesai sarapan Darvin pun pamit berangkat ke kantor bersama Arzevin.
Zevina memilih menemani kedua putrinya dirumah.
"Hallo, apa ada yang merindukanku?" Tanya seorang perempuan yang dengan santai melenggang masuk kedalam rumah mereka.
"Raina?" Zevina bertanya memastikan.
"Yes Mom, i'm Raina." Raina langsung memeluk Raina erat.
"Hah, kau sudah lama sekali tidak mengunjungi Mommy." Gerutu Zevina pura-pura kesal.
"Maaf Mom. Mommy tahu sendiri bagaimana sibuknya aku." Ujar Raina melepas pelukan mereka.
Raina saat ini adalah seorang model yang sangat terkenal di London.
"Hai Twins. Tidak ada yang mau memeluk kakak cantik ini?" Tanya Raina girang.
Raina masihlah gadis yang ceria dan bersemangat seperti dulu.
Raina langsung memeluk sikembar bergantian.
"Bagaimana kabar Jack dan Liz? Juga Jacki dan Liza?" Tanya Zevina antusias.
Liza adalah anak kedua dari Jack dan Liz setelah Jacki.
"Well mereka baik-baik saja. Jacki sedang sibuk membantu Daddy saat ini di perusahaan. Dan Liza sedang sibuk dengan magangnya." Jelas Raina.
"Oh ya, aku membawakan kalian sesuatu yang sangat enak." Raina mengeluarkan beberapa kota kue yang ia bawa dan membukanya satu persatu.
"Mom, Mommy harus coba ini. Ini sangat lezat." Raina mengambil sepotong kue brownies dan menyuapi Zevina kemudian ia juga menyuapi sikembar.
__ADS_1
"Em..ini sangat lezat. Sungguh." Ujar Arzena semangat.
"Benarkan?" Raina kegirangan.
"By the way, aku tidak bisa lama-lama disini karena aku masih ada photoshoot. Aku harus pamit sekarang. Lain kali lagi aku kemari." Ujar Raina lalu kembali pamit pergi.
"Gadis itu sudah sangat dewasa. Kapan dia akan menikah?" Gumam Zevina gemas.
"Mom, boleh aku pamit keluar sebentar? Aku sangat suntuk dirumah." Tanya Arvina.
"Silahkan saja sayang. Jika ingin menenangkan diri maka lakukan saja. Kalian memang memerlukan itu." Jawab Zevina tersenyum lembut.
"Zena, kau mau ikut?" Tanya Arvina melihat adiknya sangat bersemangat menyantap kue brownies tadi.
"Tidak. Kau saja twins. Bayiku sedang keenakan menyantap kue brownies ini." Jawab Arzena tanpa rasa malu.
Zevina terkekeh mendengar ucapan putrinya itu.
Arvina pun berjalan keluar dari rumahnya. Niat hati hanya ingin membuang bosan dan pikiran buruknya.
Arvina terus berjalan hingga sampai di taman bermain tempat ia memberikan ikat rambut nya pada Dave.
"Tidak ada yang berubah." Guman Arvina tersenyum miris.
Ia kemudian duduk di salah satu ayunan yang juga adalah tempat ia dan Dave duduk dulu.
"Dave, kau dimana?" Gumam Arvina memandang ke atas langit.
Air matanya meluncur begitu saja.
Arvina menoleh pada asal suara yang ternyata sudah duduk di sampingnya.
Pria dengan satu mata rusak dan bekas sayatan pisau di kening itu tersenyum pada Arvina.
"Maaf tampang ku menakutkan." Ujar Aston tersenyum.
Arvina juga tersenyum.
"Tidak. Hanya saja aku sedikit terkejut." Ujar Arvina tersenyum.
Dan Aston seakan langsung jatuh dalam pesona Arvina. Senyum manis yang begitu menenangkan.
"By the way, aku Aston. Kau?" Tanya Aston mengulurkan tangannya.
"Arvina." Arvina menyambut uluran tangan Aston.
Aston menemukan sasaran tepat yang memang ia incar.
Arvina kembali menatap langit yang mulai mendung.
"Kenapa setiap ke tempat ini, langit selalu mendung?" Gumam Arvina.
Aston tidak berhenti menatap Arvina, seakan ia merasakan ada kehidupan saat menatap Arvina. Selama ini Aston adalah pria dingin, egois, dan kasar terutama sejak wajahnya dan satu matanya rusak karena suatu insiden. Ia menjadi pria dingin dan kejam yang tak tersentuh.
__ADS_1
Bahkan tak jarang wanita yang ia pakai akan berakhir mengenaskan ditangannya.
"Kau sangat indah." Gumam Aston terus menatap Arvina.
Arvina tidak sadar karena ia memandang langit.
"Sebaiknya aku pulang sekarang atau aku bisa kena hujan." Guman Arvina.
"Aston, maaf tapi aku harus pulang sekarang. Sepertinya akan turun hujan." Arvina bahkan sangat sopan dan pamit dengan Aston yang bukan siapa-siapa baginya.
Aston hanya mengangguk dan tersenyum.
Arvina pun bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Namun gila, Aston menyerangnya dari belakang dan dengan gerakan cepat ia menyuntikkan obat tidur yang ia genggam sedari tadi didalam saku hoodie nya.
Arvina perlahan mulai hilang kesadarannya.
Aston menggendong tubuh lemah Arvina masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya pergi.
••••••••••••
Di London Arvina diculik oleh Aston, dan di Sydney Dave sedang berjuang antara hidup dan mati.
Peluru yang ditembakkan Aston berhasil menyentuh jantungnya.
Sudah seminggu ini ia kritis dan tak sadarkan diri sejak dokter berhasil mengeluarkan peluru tersebut dari jantungnya.
Hanya bunyi suara dari alat pemantau detak jantung yang menyatakan Dave masih hidup.
Drick dan Hansen tak kalah frustasi melihat kondisi sahabatnya lemah dan diambang kematian seperti itu.
Dokter sudah mengatakan kemungkinan untuk Dave bisa bertahan hidup sangat kecil.
Drick dan Hansen tidak putus asa dan tetap meminta pihak rumah sakit untuk memberikan perawatan terbaik untuk Dave.
••••••••••••••
"Dimana twins?" Arzena bergumam sendirian dan mondar-mandir gelisah di ruang keluarga.
Ia dari tadi sibuk menghubungi Arvina namun ponsel Arvina tidak dibawa. Arvina tidak membawa apapun saat keluar tadi.
"Kemana dia? Kenapa perasaan ku tidak enak begini?" Gumam Arzena gelisah.
"Bagaimana Zena? Apa sudah ada kabar dari Vina?" Tanya Zevina yang baru dari dapur.
"Tidak ada Mom. Twins tidak membawa ponselnya." Jawab Arzena khawatir.
"Ada apa lagi ini?" Zevina kini juga ikut khawatir.
"Begini saja Mom, kita tunggu sampai malam. Jika sampai malam twins belum kembali baru kita cari. Mau melapor pada polisi pun harus menunggu setelah dua puluh empat jam." Usul Arzena.
Zevina hanya mengangguk dan berdoa didalam hati.
__ADS_1
"Semoga saja bukan kejadian buruk lagi." Batin Zevina.
...~ TO BE CONTINUE ~...