
Satu Minggu Kemudian
"Hoam.." Arzena menguap besar saat terbangun dari tidurnya.
Ia merasakan sesuatu yang berat menimpa perutnya.
"Astaga pria ini kenapa selalu saja harus tidur disampingku dan memelukku erat seperti ini?" Gumam Arzena sedikit kesal melihat Hansen masih terlelap
PLAK
Arzena menepuk kuat pipi Hansen membuatnya tersentak dan spontan terbangun.
"Astaga, kau ini kenapa?" Gerutu Hansen mengusap kasar wajahnya.
Arzena hanya terkekeh.
"Kau mengerjai ku hah?" Tanya Hansen kembali memeluk Arzena.
"Aku hanya heran, kenapa kau harus tidur disamping ku setiap malam? Aku hanya meminta mu mengobati ku, bukan menemani ku tidur." Gerutu Arzena sebal.
Hansen tersenyum manis.
"Kau tahu? Kau adalah wanita terindah yang pernah aku temui." Ucap Hansen mencolek gemas hidung Arzena.
"Sudahlah, jangan pernah merayuku dengan kata-kata manismu. Aku tidak akan termakan dengan semua perkataan mu. Semua pria hanya manis diawal, akhirnya tetap urusan ranjang." Ketus Arzena menepis tangan Hansen.
Hansen kembali tersenyum manis.
"Kau manis sekali sayang. Aku akui semua pria memang sama, tapi bedanya adalah aku ingin hidup dengan mu! Aku ingin menikahi mu!" Ucap Hansen serius menatap dalam mata Arzena.
Sudah satu minggu ini Hansen mengobati Arzena hanya dengan memeluknya setiap kali Arzena sakaw. Terdengar sangat aneh memang, dan tidak mudah, tapi yang terjadi adalah Arzena pulih dengan sangat cepat.
"Terserah saja." Ketus Arzena langsung turun dari ranjang dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
"Sangat menggemaskan." Gumam Hansen.
•••••••••••
"Sayang bangunlah." Pinta Dave membangunkan Arvina perlahan.
"Jangan mengganggu ku! Jika ingin bangun, kau saja sendiri." Gerutu Arvina kesal.
"Hei, bangun! Ini sudah siang." Titah Dave lembut.
"Astaga, kenapa pria ini selalu saja mengusik ketenangan hidupku." Gerutu Arvina lagi dan bangun dari tidurnya menjadi duduk.
Dave hanya tersenyum melihat tingkah Arvina.
"Cepatlah bersiap! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Titah Dave lembut dan berjalan ke arah lemari pakaian dan memilih pakaian yang tepat untuk Arvina.
Arvina turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan dirinya.
Setelah selesai, Arvina pun keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit sempurna ditubuhnya.
"Kenapa kau masih disini?" Tanya Arvina kaget saat melihat Dave sedang duduk disofa ujung ranjangnya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Menunggumu sayang. Cepatlah! Pakaian mu sudah aku siapkan." Titah Dave lembut.
Arvina pun kembali menurut dan segera mengenakan pakaian yang sudah Dave pilihkan.
__ADS_1
"Cantik sekali." Puji Dave melihat penampilan anggun Arvina.
"Kemarilah! Aku bantu." Titah Dave melihat Arvina kesulitan menyeka rambut basahnya.
Arvina berjalan duduk disamping Dave dan Dave segera merebut pelan handuk kecil dari tangan Arvina lalu membantu Arvina mengeringkan rambutnya.
"Kita akan kemana Dave?" Tanya Arvina sedikit penasaran.
"Rahasia." Ucap Dave bangkit dari duduknya dan menuntun Arvina duduk didepan meja rias.
"Riaslah wajahmu, jika ingin." Ucap Dave sambil menyisir rambut Arvina.
Selesai dengan semuanya, Dave menggandeng tangan Arvina keluar dari kamar dan turun ke bawah.
Arzena dan Hansen sudah ada di ruang makan dan sedang menyantap sarapan mereka.
"Hei, kalian mau kemana?" Tanya Arzena melihat Dave menuntun Arvina berlalu begitu saja.
Arvina hanya mengedikkan bahunya, tanda tidak tahu.
"Apa dia akan menyakiti kakakku lagi?" Gumam Arzena khawatir.
"Tenanglah! Dave tidak mungkin menyakiti kembaranmu. Dia itu...hah sudahlah. Aku mengatakannya pun kau tidak akan percaya. Intinya dia tidak mungkin menyakiti kakakmu." Bujuk Hansen pada Arzena.
Arzena hanya mengangguk mencoba untuk percaya pada perkataan Hansen.
••••••••••••
Dave membawa Arvina ke satu pantai yang cukup indah.
"Ada apa kita kesini?" Tanya Arvina bingung.
Dave menggenggam tangan Arvina dan membawanya hingga ketepi pantai.
"Indah bukan?" Tanya Dave memeluk Arvina dari belakang.
Arvina hanya mengangguk pelan.
Dave kemudian melepaskan pelukannya dan memutar badan Arvina agar menghadapnya.
"Sayang, aku minta maaf atas semua yang aku lakukan. Aku yang bersalah untuk semua rasa sakit mu dan adikmu. Maafkan aku." Pinta Dave menggenggam erat kedua telapak tangan Arvina.
"Dave, penyesalanmu itu sudah terlambat. Kau ingin meminta maaf sampai lidahmu putus sekalipun, keadaan tidak akan kembali seperti semula." Ucap Arvina sendu.
"Aku tahu. Tapi tetap aku ingin meminta maaf padamu." Pinta Dave.
"Minta maaf lah pada adikku juga! Kau yang membuatnya terjerumus dengan obat-obatan terlarang mu itu, kau juga yang menggagahi nya didepan ku." Titah Arvina mutlak.
"Tapi dia juga sudah tidak ... "
"Meskipun dia sudah tidak perawan, tapi bukan berarti kau harus menggagahi nya hanya untuk menyakitiku." Ketus Arvina memotong perkataan Dave.
"Baiklah. Aku akan meminta maaf padanya, tapi setelah kau memaafkan ku." Ujar Dave memelas.
Hah...
"Aku tidak bisa berkata tidak kan? Hidupku sekarang sudah sepenuhnya terbelenggu oleh mu." Ucap Arvina datar.
Dave tersenyum. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jaket kulit nya.
__ADS_1
Ia membuka kotak kecil berwarna hitam tersebut yang ternyata isinya adalah cincin berlian yang sangat indah.
"Sayang, menikahlah denganku!" Pinta Dave tanpa keraguan.
"Aku akan menikah dengan mu, tapi tidak sekarang Dave. Aku tidak mungkin menikah tanpa persetujuan dan kehadiran Keluargaku, terutama kedua orang tuaku." Ucap Arvina tanpa berniat menolak lamaran Dave.
Arvina tahu, sampai kapanpun ia tidak akan pernah lagi bisa lari dari pria bernama Dave Alexon ini.
"Baiklah, aku akan temui orang tuamu dan melamar mu didepan mereka. Aku juga akan akui semua kesalahan ku pada kalian didepan mereka." Ujar Dave yakin.
"Tidak sekarang Dave! Aku ingin Zena sembuh dulu. Baru setelah itu kita bahas pernikahan." Usul Arvina.
Dave langsung memeluk Arvina erat.
"Terima kasih sayang. Berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkan ku!" Pinta Dave.
Arvina hanya mengangguk sebagai jawaban untuk Dave.
•••••••••••••
"Ikutlah dengan kami!" Titah dua orang bertubuh tinggi besar menghalangi jalan Ken saat ia hendak keluar dari rumah Arvina.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian. Lagipula apa yang bos kalian inginkan sudah ia dapatkan, bahkan keduanya sekaligus." Ketus Ken mengira kedua orang tersebut adalah anak buah Dave.
"Apa yang aku inginkan darimu yang sudah aku dapatkan?" Tanya seorang pria dari belakang kedua pria berbadan tinggi besar itu.
Kedua pria itu menepi memberi jalan untuk atasannya.
"Uncle Keanu?" Gumam Ken saat melihat ternyata adalah Keanu yang ingin bertemu dengan nya.
"Katakan dimana Arvina dan Arzena? Kau pasti tahu sesuatu." Titah Keanu tanpa basa basi.
Dave menelan kasar saliva nya sambil mencari jawaban yang tepat.
"Um..mereka ditahan oleh seorang ketua gangster bernama Dave. Mereka dibawa paksa karena Arvina menolak ajakan pria itu untuk menjalin hubungan." Ucap Ken berbohong.
"Dimana mereka sekarang?" Tanya Keanu datar.
"Em..um..aku tidak tahu. Tapi aku yakin mereka dijaga ketat oleh anak buah pria itu. Mereka juga diancam agar tidak mengatakan apapun atau melapor pada orang mereka." Ken menambahkan kebohongan nya.
"Siapa nama pria itu?" Tanya Keanu lagi.
"Dave. Hanya itu yang aku tahu." Jawab Ken dengan jantung yang berdegup kencang.
"Cari tahu pria yang bernama Dave begitupun dengan kediamannya." Titah Keanu pada bawahannya.
"Um..uncle Ke, jika ingin menyelamatkan Arvina dan Arzena, sebaiknya uncle melakukan persiapan yang matang. Dia itu sangat kejam, dan sudah bisa dipastikan tempat ia menyekap Arvina dan Arzena pasti terdapat banyak penjaga." Ujar Ken memberi hasutan pada Keanu.
"Lalu bagaimana kau bisa bebas?" Tanya Keanu curiga.
"Aku memang tidak ditangkap, tapi aku sempat disiksa oleh nya juga. Bahkan aku kehilangan pekerjaan gara-gara aku dekat Arvina." Ungkap Ken.
"Ya sudah, kau lakukan saja yang mau kau lakukan sekarang!" Ucap Keanu berbalik badan dan melangkah pergi.
"Temui kematianmu sebentar lagi Dave!" Gumam Ken setelah Keanu berlalu.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#######
__ADS_1
maaf kalau alurnya mungkin membingungkan atau nggak nyambung..lagi nggak fokus soalnya...