
Arzena turun ke bawah membawa Hana dan Kenzie yang sudah ia pindahkan ke dalam stroller. Arzena turun menggunakan lift.
"Kau pasti merindukan mereka" Arzena tersenyum tulus pada Ayah dari anak kembarnya. Ken pun tersenyum dan langsung berjongkok melihat Hana dan Kenzie yang sudah terbangun dari tidurnya.
"Ken, di mana El?" Tanya Arzena celingukan.
"Dia tidak datang" Ken menjawab singkat.
"Ken, sebaiknya lain kali kau datang bersama dia. Bagaimanapun juga sekarang dia istrimu. Aku tidak ingin dia menyalahartikan kedekatan kita" Arzena menyentuh pundak Ken tanpa ada maksud lain. Ken mendongak menatap Arzena dengan tatapan sulit diartikan.
"Kau tahu? Terkadang aku berpikir apa aku sudah salah menikahi Elviana?" Ken bangkit dan mendekat pada Arzena.
"Mungkin hanya komunikasi antara kalian yang kurang Ken" Arzena mencoba untuk bersikap tenang meski instingnya menangkap sinyal bahaya.
"Aku rasa Elviana benar. Aku mencintaimu, mencintai Ibu dari anak-anakku" Ken tiba-tiba menindih Arzena dan menyerang leher Arzena.
"Ken..." Arzena berusaha mendorong pria itu untuk menjauh, nyatanya ia tidak mampu. Akhirnya ia pasrah dan tampak begitu menikmati cumbuan Ken.
"Ken..KEN.."
"Hah?" Ken terperanjat dari tidurnya.
"Ada apa?" Tanya Ken pada istrinya yang baru membangunkannya.
"Kau kenapa? Aku dari tadi membangunkanmu tapi kau tidak merespon sedikitpun" Elviana duduk di samping Ken dan meraba kening pria itu.
"Maaf, aku tadi mimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk" Ken menarik Elviana dan segera memeluk erat istrinya.
"Gara-gara pertengkaran kita tadi, aku jadi bermimpi aku benar-benar mencintai Zena. Maafkan aku, aku sadar aku yang salah selama ini karena tidak terlalu melibatkan dirimu saat ingin bertemu twins" Ken memeluk Elviana semakin erat.
__ADS_1
"Sudahlah Ken, aku juga salah. Maafkan aku, aku juga terlalu egois dan memaksa padahal aku tahu kau hanya melakukan tanggung jawabmu sebagai seorang Ayah" Elviana mengusap pundak Ken yang sedikit bergetar.
"Em...sebenarnya aku membangunkanmu karena ingin memberimu sesuatu" Elviana memaksa Ken melepas pelukannya.
"Apa?" Tanya Ken bingung.
"Ini" Elviana tersenyum dan memberikan sebuah alat panjang berwarna putih pada Ken.
"Ini? Kau hamil? Benarkah?" Ken menggenggam tangan istrinya erat.
"Em..tapi belum bisa dipastikan berapa usianya" Elviana mengangguk bahagia.
"Nanti kita periksa. Terima kasih sayang" Ken kembali memeluk istrinya.
"Tapi, bukankah kau masih mengkonsumsi pil sialan itu?" Tanya Ken kembali melepas pelukannya.
"Sayang, maaf. Sebenarnya pil itu bukan pil pencegah kehamilan. Itu adalah vitamin dari Vina, tapi karena tidak ada tempat akhirnya aku meminta botol itu dari salah satu karyawanmu" Elviana tersenyum kaku.
••••••••••
"Dave, aku lelah" Arvina merengek manja padahal Dave.
"Sayang, olahraga baik untuk bayi kita" Dave membujuk Arvina untuk melanjutkan kelas senam kehamilan yang ia ikuti.
Usia kehamilan sudah memasuki bulan keempat. Dave sengaja mendaftarkan kelas senam kehamilan untuk istrinya sesuai anjuran dokter kandungan mereka. Tapi semakin besar usia kehamilan Arvina, wanita muda itu semakin malas melakukan sesuatu.
"Aku lelah..." Arvina kembali merengek dan kini seperti akan menangis. Inspektur senam yang memimpin mendekati Dave dan Arvina.
"Tuan Dave, jika istrimu merasa lelah atau malas jangan dipaksakan. Nanti malah akan berdampak buruk pada psikisnya. Turuti saja jika ia ingin berhenti, semua itu normal bagi sebagian wanita hamil" jelas wanita itu pada Dave. Akhirnya Dave pasrah dan membawa Arvina keluar dari ruang senam itu.
__ADS_1
"Ini minum dulu" Dave memberikan sebotol minuman dingin pada istrinya. Arvina menerima air dingin itu dan langsung meneguknya hingga tersisa setengah.
"Ah..lega" Arvina tersenyum dan bersemangat kembali.
"Apa kau lapar sekarang?" Tanya Dave lembut sambil mengusap perut istrinya yang sudah mulai membulat.
"Em...aku ingin makan steak dengan saus coklat" ungkap Arvina membuat Dave mengernyit membayangkan rasanya.
"Yasudah, ayo kita cari" Dave menuntun istrinya keluar dari tempat itu dan masuk ke dalam mobil. Dave memutuskan untuk membawa Arvina ke satu restoran milik kenalannya. Setidaknya di sana ia akan lebih membuat pesanan untuk Arvina, pikirnya. Sesampainya di restoran yang dimaksud, Dave segera membawa Arvina masuk ke dalam ruang VIP.
"Sayang, kau tunggu di sini! Aku akan buat pesanannya" titah Dave pada Arvina.
"Tidak mau. Aku yang akan membuat pesanan, nanti kau salah pesan" Arvina kembali merengek bahkan hampir menangis.
"Ya sudah, aku panggil pelayannya kemari" Dave pun menekan sebuah tombol yang ada di tengah-tengah meja. Tak sampai lima menit, seorang pelayan perempuan masuk dengan senyum ramah.
"Ada yang bisa kubantu?" Tanya pelayan itu sopan. Dave memberi kode pada Arvina untuk menyebutkan pesanannya.
"Aku ingin steak dengan saus coklat, lalu jus apel. Jus apelku beri sedikit garam dan lada" Arvina tersenyum menyebutkan pesanannya.
"Baik. Tuan ingin memesan apa?" Tanya pelayan itu pada Dave.
"Em...aku apa yang menjadi menu andalan di sini saja" Dave tersenyum kaku.
"Baik, mohon ditunggu. Kami akan segera menyiapkan pesanannya" pelayan perempuan itu keluar meninggalkan Dave dan Arvina di dalam ruangan itu. Dave menghela nafas, ia bersyukur setidaknya saat ini ia sudah tidak mengalami sindrom simpatik lagi.
Setengah jam kemudian pelayan tadi kembali dengan sebuah meja dorong. Di atas meja itu sudah tersedia semua pesanan Dave dan Arvina tadi. Pelayan itu menyusun semua makanan tersebut di hadapan sepasang suami-istri itu.
"Silakan dinikmati. Jika ada yang kurang, bisa memanggil kami lagi" pelayan itu pamit undur dengan sopan. Tanpa banyak menunggu, Arvina langsung melahap makanannya seolah semua rasa itu adalah wajar. Dave hanya menggelengkan kepala melihat keceriaan istrinya dalam menikmati makanan dengan paduan aneh seperti itu.
__ADS_1
"Daddy rasa kau seorang gadis, nak. Maka dari itu ngidam Mommymu aneh seperti ini" batin Dave bahagia.
...~ TO BE CONTINUE ~...