TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Mengajak Kerja Sama


__ADS_3

...NOTE : ADEGAN DEWASA!!...


...BACA SESUAI UMUR ANDA! JIKA BELUM CUKUP UMUR, MINGGIR!!!...


.


.


.


.


.


"Bagaimana?" Tanya Aston kepada bawahannya.


Ia dan beberapa bawahannya saat ini sedang berada di London untuk menemui Velano.


"Aku sudah mengatur pertemuannya Tuan, namun Tuan Velano ingin kau menemuinya di mansionnya." Jawab sang bawahan.


"Terserah saja. Kapan aku bisa menemuinya?" Tanya Aston lagi.


"Siang ini Tuan." Jawab sang bawahan lagi.


"Baiklah." Ujar Aston bangkit dari kursi kebesarannya dan beranjak keluar dari rumahnya.


Ia memang mempunyai rumah di London, yaitu rumah tempat ia menyekap Arvina waktu itu.


Ia berjalan santai keluar dari rumahnya menuju ke jalan raya.


Dengan santai ia berjalan sambil melihat sekeliling jalanan yang ramai.


BUKK


Aston menabrak seseorang.


"Awhss.." Seorang gadis yang ditabrak Aston meringis kesakitan karena ia jatuh terduduk di aspal trotoar.


"Hei Nona, kau tidak apa-apa?" Tanya Aston mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.


Gadis itu menerima uluran tangannya.


"Tidak, aku tidak apa-apa." Jawab gadis itu sopan.


"Tapi tanganmu terluka?" Ujar Aston sedikit khawatir melihat telapak tangan gadis itu terluka.


"Tidak, tidak masalah. Aku baik-baik saja." Jawab gadis itu tersenyum manis.


"Siapa namamu?" Tanya Aston penasaran.


"Aku Liza. Oh, maaf Daddy ku sudah menunggu di sana. Aku harus segera pergi." Ucap Liza menunjuk ke sebuah mobil dimana terlihat Jack sedang melambaikan tangannya.


Liza segera berlari ke arah Jack tanpa menunggu jawaban dari Aston.


Aston menatap kepergian Liza dengan perasaan janggal.

__ADS_1


Setelah kepergian Liza, ia memilih kembali ke dalam rumahnya.


"Tuan, Tuan Velano ingin bertemu sekarang saja." Lapor bawahannya saat ia baru masuk ke dalam rumah.


Aston mengangguk dan berbalik memasuki mobilnya dan langsung mengendarai mobilnya menuju ke mansion Velano.


Sepanjang perjalanan Aston selalu tersenyum licik.


Empat puluh lima menit kemudian ia sampai di mansion Velano.


Ia segera masuk dan para pengawal tidak menghalangi karena sudah pasti mendapat pemberitahuan dari Velano sebelumnya.


Ia segera masuk ke dalam mansion Velano dan ternyata Velano sudah menunggunya di ruang utama, ada juga Raina di samping Velano.


"Hai, sepupu." Sapa Aston terlebih dulu.


"Katakan apa maumu?" Titah Velano tak suka.


Aston adalah sepupu jauh Velano.


"Bantu aku untuk menumbangkan Dave Alexon!" Pinta Aston tanpa basa basi.


Raina cukup terkejut mendengar nama Dave disebut, Velano pun sudah mengetahui tentang Dave dari calon istrinya.


"Maaf, untuk kali ini aku tidak tertarik. Kau tau prinsipku. Aku tidak akan menyakiti orang yang aku sayangi dan juga orang-orang yang wanitaku sayangi. Dave Alexon adalah suami dari adik wanitaku, jadi aku tidak akan menyentuhnya sekalipun mungkin aku ingin." Jawab Velano tegas.


"Demi seorang wanita kau sanggup menolak hal besar seperti ini?" Tanya Aston tak percaya dan berusaha memprovokasi Velano.


Velano tersenyum mengejek.


"Bodoh! Percuma saja aku datang." Gerutu Aston kesal.


"Jika kau memberitahu lebih awal tujuanmu, aku pasti akan mencegahmu datang." Ujar Velano santai dan merangkul Raina.


Aston kesal dan memilih pergi.


"Kakak.." Liza berlari dengan semangat masuk ke dalam mansion Velano tanpa melihat di depannya ada Aston yang berlawanan arah.


BUKK


Mereka kembali saling bertabrakan.


"Maaf, Nona.." Aston kembali mengulurkan tangannya dan membantu Liza berdiri.


"Tidak, tidak..aku yang...kau?" Liza terkejut karena yang di depannya adalah Aston.


"Well, aku Aston. Sekali lagi aku minta maaf." Ujar Aston dan memilih langsung pergi.


Liza menggaruk tengkuknya bingung.


Ia kembali berlari dan menghampiri Raina dan Velano.


"Kau ini, selalu saja ceroboh." Gerutu Raina gemas terhadap tingkah ceroboh adiknya.


Liza tersenyum manis.

__ADS_1


"Kau ke sini dengan siapa Liza?" Tanya Velano lembut.


"Aku dengan Daddy, tapi tadi Daddy harus kembali ke kantor." Jawab Liza tersenyum.


Liza memang gadis yang ceria, sama seperti Raina dulu.


Mereka terus berbincang tanpa tahu kalau Aston masih setia mendengar mereka dari balik pintu.


"Aku jadi penasaran, seperti apa gadis itu? Tapi sayang, aku terlanjur gila karena Arvina." Gumam Aston tersenyum licik.


Aston pun memilih meninggalkan kediaman Velano.


•••••••••••••••


ROMA, ITALIA


"Dave, sudah. Aku sudah sangat lelah." Pinta Arvina yang berada di bawah Dave.


Dave benar-benar gila dan menghajar istrinya tanpa ampun.


"No, babe. Aku harus bekerja keras agar Dave junior segera hadir." Ucap Dave yang masih sangat bersemangat memompa istrinya.


"Baiklah, baik. Lakukan saja yang kau mau. Bagus sekali agar aku cepat mati karena kelelahan dan tidak perlu melayanimu lagi." Keluh Arvina sengaja memelas agar Dave mengampuninya.


Sayang sekali, Dave sama sekali tidak termakan keluhan Arvina.


"Ouch..kau sangat menggigit sayang.." Lenguh Dave yang terus memacu miliknya.


Arvina hanya diam dan pasrah menikmati setiap permainan suaminya dengan desahan yang sesekali keluar dari bibirnya.


"Kau juga menikmatinya sayang.." Ucap Dave kini membalikkan tubuh Arvina membelakangi nya dan Dave bermain dari belakang Arvina.


"Em..Dave..seperti ini aku suka.." Ujar Arvina mengerang nikmat saat Dave menghujamnya dari belakang.


"As your wish babe.." Dave semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya mereka mencapai pelepasan bersama.


"Baiklah, aku ijinkan kau istirahat saat ini." Ujar Dave yang rebah di samping Arvina.


"Aku sudah tidak suci lagi.." Keluh Arvina pura-pura menangis.


"Bodoh! Kau itu suci, hanya aku yang menjamah dan menikmatimu." Sanggah Dave meraih istrinya ke dalam pelukannya.


"Pernikahan kita masih baru, maka dari itu kau masih bersemangat. Lihat saja nanti jika sudah berjalan lama, aku yakin kau akan sangat berubah." Gerutu Arvina.


"Oh yah? Apa kau yakin aku yang berubah dan bukannya dirimu? Sayang, wanita setelah merasakan surga dunia, mereka akan selalu merasa ingin dan ingin lagi. Aku takut kau yang berubah jika aku tidak bisa memberimu kenikmatan." Ledek Dave menggoda Arvina.


Arvina memutar malas matanya.


"Aku kan tidak maniak seperti dirimu." Gerutu Arvina membelakangi Dave.


"Kau istirahat saja! Aku akam membuatkan makanan untuk mengembalikan stamina mu yang hilang." Ujar Dave mengecup pipi Arvina dari belakang.


Dave turun dari ranjang setelah menyelimuti Arvina dengan benar.


Setelah memakai asal celananya, ia pun keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan makanan untuknya dan Arvina.

__ADS_1


......~ TO BE CONTINUE ~......


__ADS_2