TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Arvina yang lain?


__ADS_3

"Sial! Kemana pria bodoh itu?" Gerutu Arvina kesal.


Arvina baru saja kembali dari membeli beberapa makanan dan minuman.


Saat masuk ke dalam ruang perawatan Dave, Arvina tidak mendapati keberadaan Ken di dalam ruangan itu.


Arvina segera menyimpan barang-barang yang ia bawa di atas nakas, setelahnya Arvina memutuskan untuk keluar lagi dan mencari Ken.


Arvina tidak ingin Ken membuat masalah lagi.


"Nona, ada apa?" Tanya beberapa anak buah Dave yang baru sampai ke rumah sakit karena tadi Arvina memang memanggil mereka.


"Ken menghilang. Aku ingin kalian cari dia di seluruh tempat, dan seret dia kembali ke hadapanku!" Titah Arvina geram.


"Baik Nona." Jawab ke empat anak buah Dave serentak.


Mereka pun segera berpencar dan mencari Ken sesuai perintah Arvina.


"Berani sekali dia ingin pergi begitu saja. Suamiku terluka karena menyelamatkan nyawanya tapi dia pergi begitu saja bahkan tanpa mengucapkan terima kasih." Gumam Arvina geram dan mengepalkan tangannya.


Arvina merasa muak dengan tingkah Ken yang selalu saja membuat onar, sejak ia terpuruk.


Arvina memutuskan untuk kembali ke ruang perawatan Dave, ia takut sewaktu Dave sadar dan tidak mendapati dirinya, Dave akan kecewa.


"Dave, aku akan membantumu mengurus semuanya. Jangan khawatir, kau istirahat saja dengan baik." Ucap Arvina sendu.


Satu tangannya menggenggam tangan Dave, dan satu tangannya mengelus kepala Dave.


"Kali ini biarkan aku yang membantumu dan bergerak untukmu. Kau pasti lelah selama ini selalu berjuang sendirian." Ucap Arvina namun tidak ada air mata yang mengalir dari matanya.


Entahlah, Arvina tiba-tiba saja seperti berubah menjadi sosok yang lain.


CEKLEK


Pintu ruangan Dave dibuka.


Arvina menoleh dan rupanya Ken yang masuk.


Arvina yang masih dalam keadaan emosi pun langsung mendekati Kena dan mencengkram baju Ken dengan kasar.


"Sudah aku bilang, jangan coba-coba pergi! Tapi kenapa kau masih tidak mendengar hah?" Geram Arvina, bahkan ia menyudutkan Ken hingga punggung Ken menghantam dinding dengan cukup kuat.


"A aku tadi ha hanya ke kamar mandi." Jawab Ken gelagapan.


"Jangan coba-coba membohongiku! Di sana ada kamar mandi, kenapa kau harus keluar? Hoh, atau kau sedang mencari bantuan?" Tanya Arvina menunjuk ke arah kamar mandi kemudian mencengkram dagu Ken.


"K kamar mandinya ru rusak. Ji jika kau tidak pe percaya, kau bi bisa memeriksanya." Jawab Ken jujur.


Arvina memutuskan untuk memeriksa kamar mandi di dalam ruangan itu dan ternyata memang sedang rusak.


"Bisa-bisanya mereka memberikan ruangan dengan kamar mandi yang rusak." Gerutu Arvina kesal.


"Awas saja kau sampai melanggar perintah ku. Aku tidak akan segan-segan menghabisimu dengan tanganku!" Ancam Arvina menunjuk Ken.


Ken hanya mengangguk ketakutan dan menelan kasar salivanya.


Arvina kembali berjalan mendekati ranjang Dave kemudian ia mengambil beberapa bungkus roti dan sebotol minuman.

__ADS_1


"Makanlah! Belum saatnya kau mati." Ucap Arvina melemparkan roti-roti dan minuman itu kepada Ken.


Ken menerimanya dan langsung menyantapnya dengan penuh semangat. Sepertinya Ken sangat kelaparan.


"Apa dia bergetar karena menahan lapar dan bukannya ketakutan?" Gumam Arvina iba.


Lama menatap Ken, Arvina tiba-tiba merasakan jari-jari tangannya digenggam oleh seseorang.


Arvina menoleh pada Dave.


"Dave, kau sadar?" Tanya Arvina berbinar.


Dave membuka matanya perlahan.


"Tunggu, aku akan memanggil dokter." Ucap Arvina hendak pergi namun Dave menahannya dan menggeleng.


"Dave, kau harus diperiksa dokter!" Ucap Arvina tegas namun lagi-lagi Dave menggeleng.


"Uhuk..uhuk.." Ken tersedak minumannya sendiri.


Dave mendengar suara Ken pun langsung menoleh menatap Ken dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Dave pada Arvina.


"Dia masih hidup dan baik-baik saja. Jangan pikirkan orang lain. Pikirkan dirimu dulu!" Arvina menjawab kesal.


Dave tersenyum dan mengangkat tangannya untuk mengelus pipi istrinya.


"Bagaimana dengan Jarod?" Tanya Dave cemas.


"Sudahlah! Kau hanya perlu diam dan memulihkan tubuhmu! Yang lainnya biar aku yang urus." Titah Arvina kesal dengan sifat keras kepala suaminya.


Arvina mengernyit bingung.


Tangan Dave terangkat meraih tengkuk Arvina dan membawa wajah Arvina semakin memdekat kepadanya.


Dave mencium lembut bibir istrinya.


"Uhuk..uhukk.." Ken yang sedari tadi diam dan menyantap roti-roti yang diberikan Arvina, lagi-lagi tersedak minumannya saat melihat Dave mencium istrinya tanpa kenal tempat.


Dave dan Arvina tidak menghiraukan suara Ken dan masih betah dengan kegiatan mereka.


"Se sebaiknya aku ke keluar dulu.." Ucap Ken gugup. Ken juga pria normal yang bisa tergoda dengan tontonan live seperti itu.


Dave menghardik Ken dengan tangannya yang sedari tadi menahan pinggang Arvina.


Ken akhirnya keluar dari ruangan Dave untuk sementara waktu.


Setelah Ken keluar, Dave mengakhiri kegiatannya.


"I love you." Ucap Dave tersenyum manis kepada istrinya.


Arvina tersenyum dan membantu suaminya untuk setengah duduk.


"Jangan banyak permintaan dulu. Kau sedang sakit." Ucap Arvina meraih sebotol air mineral, membukanya dan memberikannya kepada Dave.


Dave menerimanya dan menyeruput air mineral tersebut dengan sedotan yang sudah Arvina sediakan di dalam botol.

__ADS_1


Setelah puas, Dave menyimpan botol air mineral itu ke atas nakas.


"Sayang, bagaimana aku harus mulai berbicara dengannya?" Tanya Dave lirih sambil menggenggam tangan Arvina.


"Dave, utamakan kondisimu dulu. Kita urus yang lain nanti saja." Ucap Arvina sedikit kesal.


"Tapi ... "


"Dave, kau bukan robot! Jangan memaksakan dirimu harus bisa dan melewati segala hal sekaligus! Aku ada untuk mendukung dan menemanimu." Ucap Arvina sedikit meninggikan suaranya.


"Tapi aku ... "


"Dave, jika kau bicara satu kali lagi dan keras kepala sekali lagi, jangan salahkan aku memilih pergi dari hidupmu selamanya. Aku tidak akan mempertaruhkan hidupku dengan pria yang selalu membahayakan dirinya. Aku tidak siap menjadi janda di usia muda." Ancam Arvina kesal.


"Baiklah..baik. Aku diam dan menurut kepada istri cantikku." Ucap Dave pasrah dan tersenyum manis.


"Aku akan memanggil dokter dulu.." Usul Arvina namun lagi-lagi Dave menghentikannya.


"Sayang, tidak perlu. Aku tidak suka mendengar ucapan dokter yang selalu membuatku berpikiran buruk tentang diriku dan kesehatanku. Kau menangis kemarin juga karena mendengar perkataan dokter." Ucap Dave.


"Tapi kau ... "


"Sudahlah! Percaya padaku. Luka seperti ini sudah sering aku dapati. Selama kau bersamaku, maka aku akan baik-baik saja." Bujuk Dave tersenyum manis.


Dave memang sangat tidak suka sebenarnya jika harus berhadapan dengan rumah sakit dan dokter.


"Baiklah." Arvina akhirnya mengalah.


"Apa perlu memberitahu Mommy dan Daddy tentang hal ini?" Tanya Arvina.


Dave menggeleng.


"Tidak perlu. Akan repot jika mereka datang ke sini mengingat kondisi Daddy seperti itu." Tolak Dave dengan senyuman.


"Baiklah." Sahut Arvina.


Dave menatap lekat wajah cantik istrinya yang tampak sedikit berbeda. Istrinya tidak menangis dan wajahnya tidak sembab.


"Sayang, apa kau sungguh Arvina ku? Atau kau sebenarnya Arzena yang menyamar?" Tanya Dave terkekeh.


"Hei, untuk apa adikku menyamar menjadi diriku? Suaminya jauh lebih baik darimu." Ketus Arvina kesal.


Dave tersenyum jahil.


"Em..aku rasa aku ingin bicara dengannya sekarang." Pinta Dave tersenyum getir.


"Kau yakin?" Tanya Arvina memastikan.


Dave mengangguk yakin.


"Baiklah, aku panggilkan." Ujar Arvina kemudian keluar untuk memanggil Ken.


"Ken.."


...~ TO BE CONTINUE ~...


...••••••••••••...

__ADS_1


...__ MAMPIR YOKKK __...



__ADS_2