TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Mengunjungi Jeymian Lagi


__ADS_3

"Sayang, kau tahu? Aku sangat senang kau mau mencoba membuka hatimu untuk kedua orang tuamu." Ucap Arvins girang sambil menyiapkan beberapa jenis makanan yang ia buat sendiri untuk diberikan kepada Ayah mertuanya.


Ia dan Dave sedang sarapan saat ini, namun Arvina selesai lebih dulu sedangkan Dave masih bertahan dan menyantap sarapannya dengan santai.


"Apa harus sesenang itu?" Tanya Dave tersenyum kikuk.


"Tentu saja. Ini pertama kalinya aku bertemu mereka, maksudku...ah intinya aku bahagia untukmu." Ucap Arvina semangat.


Dave hanya menggeleng pelan melihat antusiasme istrinya.


"Sudah?" Tanya Dave yang kini sudah menyelesaikan sarapannya.


"Sudah. Kita berangkat sekarang?" Tanya Arvina membawa rantang makanannya.


Dave mengangguk dan bangkit dari duduknya.


Arvina memberikan rantang makanannya kepada Dave dan ia menggandeng mesra lengan Dave.


Mereka berjalan beriringan hingga masuk ke dalam mobil.


Dave segera menjalankan mobilnya menuju ke rumah sakit tempat Jeymian, Ayahnya dirawat.


Satu jam kemudian mereka akhirnya sampai di rumah sakit.


Mobil Dave telah terparkir dengan baik namun Dave merasa berat untuk turun.


Arvina yang mengerti hal itu pun meraih tangan Dave ke dalam genggamannya seolah menyalurkan kekuatan.


"Jika kau rasa belum siap, sebaiknya jangan." Ucap Arvina lembut.


Dave menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


Ia mencoba memaksakan senyumannya.


"Aku bisa. Selama kau bersamaku, aku pasti bisa." Ucap Dave melepaskan tangannya dari Arvina dan memeluk lembut istrinya.


Mereka pun turun dari mobil. Arvina segera menggenggam tangan Dave untuk memberikan dukungan.


Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangan tempat Jeymian dirawat sekaligus menginap.


Dave berhenti lagi saat sudah di depan pintu ruangan Jeymian.


Arvina mengeratkan genggaman tangannya untuk menguatkan suaminya.


Fuh...


Dave menghela nafas kasar dan membuka pintu ruangan itu perlahan.


"Maaf mengganggu." Ucap Dave datar saat melihat Rexa sedang bermanja dengan Jeymian meski masih dalam batas wajar.


Rexa sedang berbaring di samping Jeymian dan mereka saling memeluk mesra.


"Dave, kau datang?" Tanya Rexa bahagia dan turun dari ranjang lalu segera memeluk putranya.

__ADS_1


Ada perasaan yang tak bisa Dave jelaskan ketika merasakan pelukan Ibu kandungnya, ia masih menggenggam tangan Arvina dan tidak membalas pelukan Rexa.


Rexa yang mengerti pun segera melepaskan pelukannya.


"Hai sweety..apa kabarmu?" Tanya Rexa kini memeluk Arvina.


"Baik Mom." Jawab Arvina membalas pelukan Rexa dengan satu tangannya.


"Ayo, kemarilah!" Rexa menuntun Arvina dan Dave untuk mendekat kepada Jeymian.


"Bagaimana keadaanmu.....Dad?" Tanya Dave kaku bahkan mejeda perkataannya untuk menanggil Jeymian Dad.


"Daddy baik Son." Jawab Jeymian bahagia dan merentangkan tangannya.


Dave membungkuk agar Jeymian bisa memeluknya.


Arvina hanya tersenyum.


"Hai, Vina." Sapa Jeymian hendak memeluk Arvina juga namun Dave menghalangi.


"Dia istriku. Hanya aku dan orang tuanya yang bisa memeluknya." Tegas Dave dingin.


"Dia Daddy mu, Dave." Sahut Arvina gemas.


"Tetap saja tidak!" Tegas Dave lagi.


"Baiklah baik." Jeymian mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"Um..aku membawakan kalian makanan." Ucap Arvina girang dan merebut rantang makanan yang Dave pegang di tangan satunya.


"Semoga saja cocok dengan selera kalian." Ucap Arvina malu-malu.


"Makanlah!" Titah Arvina sopan.


"Terima kasih sayang." Ucap Rexa mengelus pipi Arvina.


"Ayo, kita cicipi masakan menantu kita." Ajak Rexa kepada Jeymian sambil memindahkan makanan yang dibawa Arvina ke dalam piring yang memang sudah Rexa siapkan sejak Jeymian dirawat.


Rexa dan Jeymian pun menyantap makanan yang dibawa oleh Arvina bahkan hingga habis tak tersisa.


"Wah..Vina, ini sangat lezat. Apa kau seorang chef?" Tanya Jeymian memuji.


"Tidak Dad, aku calon designer yang belum jadi." Jawab Arvina tersipu malu.


Jeymian hanya mengangguk paham.


Ponsel Arvina tiba-tiba berdering.


"My Dad..aku jawab di luar saja. Kalian teruskan mengobrol nya!" Ucap Arvina sopan.


Sebelum keluar dari ruangan itu Arvina menoleh sejenak pada Dave dan mengangguk pelan.


Dave mengerti apa yang ingin istrinya sampaikan.

__ADS_1


"Jadi....Dad, apa penyakit mu?" Tanya Dave mencoba menyembunyikan rasa khawatirnya.


Jeymian tersenyum hangat.


"Hanya penyakit ringan. Tidak akan mati." Jawab Jeymian berbohong.


Dave mengangguk pelan.


"Lalu kenapa sampai harus dirawat di sini? Bukankah di London juga banyak dokter hebat?" Tanya Dave mencoba untuk menatap kedua manik tajam Ayahnya.


"Daddy hanya berharap dengan dirawat di sini, kau bisa datang melihat Daddy meski hanya karena terpaksa." Jawab Jeymian menunduk sedih.


"Dave, maafkan Mommy dan Daddy mu. Kami tahu kesalahan kami terlalu besar dan tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi Mommy mohon, hanya sekali ini saja." Pinta Rexa berlutut di hadapan Dave.


"Berdiri Mom! Jangan membuatku terlihat buruk di depan menantu kalian!" Titah Dave dingin.


Rexa menurut dan berdiri.


"Aku hanya ingin tahu apa alasan kalian memperlakukan diriku seperti itu?" Tanya Dave kini menatap Rexa dengan penuh luka.


"Semua adalah kesalahan Mommy dan Daddy, Dave. Saat itu kami tidak saling mencintai namun menjalin hubungan yang tidak seharusnya hingga akhirnya Mommy hamil. Mommy ingin menggugurkan dirimu tapi uncle mu melarang, hingga akhirnya mau tak mau Mommy harus melahirkanmu. Maafkan Mommy." Pinta Rexa terisak pilu.


Dave hanya memejamkan matanya erat menahan air matanya menetes.


"Daddy juga minta ampun darimu Dave." Pinta Jeymian menggenggam kedua tangan putranya.


"Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan mencoba. Dan aku melakukan semua ini karena aku tidak ingin wanitaku kecewa." Ucap Dave menutupi perasaannya yang sesungguhnya.


"Kami mengerti. Dengan kau mau mencoba pun kami sudah sangat bersyukur." Ucap Rexa terharu dan langsung memeluk Dave erat.


Arvina yang sudah selesai melakukan panggilan telepon pun menahan diri untuk tidak masuk ke dalam ruangan dan mengacaukan suasana haru itu.


Arvina akhirnya memilih menunggu di luar dan memberikan waktu untuk Dave berbicara dengan kedua orang tuanya dari hati ke hati.


"Sayang.." Panggil Dave membuat Arvina yang sedang memainkan ponselnya sedikit tersentak.


"Oh, sayang, sudah selesai?" Tanya Arvina.


"Em.." Dave berdehem singkat dan duduk di samping Arvina.


"Bagaimana? Apa merasa lebih lega?" Tanya Arvina bersandar di lengan Dave.


"Em.." Dave kembali berdehem pelan.


"Dave, aku ingin bertanya sesuatu. Bagaimana seandainya ternyata kau mempunyai saudara lain? Maksudku adalah bagaimana jika seandainya kau ternyata memiliki seorang kakak tiri?" Tanya Arvina.


"Entahlah. Sekalipun aku tidak bisa menerimanya, kau pasti akan membujuk ku untuk menerimanya kan?" Jawab Dave kemudian bertanya kembali pada Arvina sambil mengusap kepala istrinya.


Arvina hanya menggeleng pelan.


"Ya sudah, jangan pikirkan itu dulu! Sekarang, ayo kita pulang." Ajak Arvina bangkit dari duduknya dan menarik tangan Dave hingga mengikutinya.


Mereka pun akhirnya meninggalkan rumah sakit dan kembali ke mansion mereka.

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2