
Sudah satu minggu sejak Arvina dirawat dirumah sakit.
Dave tidak mengijinkannya untuk pulang cepat karena dokter mengatakan bahwa tubuh Arvina benar-benar sangat lemah bahkan lambungnya bermasalah karena tidak mendapat asupan makanan.
Seminggu ini Dave merawat Arvina dengan telaten, namun Arvina tetap dingin padanya dan lebih banyak berdiam diri.
Ia hanya menjawab seperlunya pertanyaan dari Dave tanpa ingin bertanya balik atau berbicara apapun.
Bahkan Dave berulang kali bertanya padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi waktu itu, namun Arvina memilih bungkam.
Untuk apa menceritakannya lagi, toh Dave sudah menyiksanya terlebih dulu sebelum mendengar penjelasannya. Jadi cerita ataupun tidak, keadaan tetap sama, pikir Arvina.
Saat ini Dave sedang keluar untuk membeli makan siang untuk Arvina.
"Bosan sekali." Gumam Arvina.
Ia sedang berbaring diatas ranjangnya. Suasana hati Arvina sudah membaik, dan ia belajar menerima semua hal pahit yang menimpa hidupnya.
Arvina membolak-balikan tubuhnya karena merasa sangat bosan.
"Dad, Mom aku merindukan kalian." Gumam Arvina.
"Ini." Suara Dave membuat Arvina tersentak.
Entah sejak kapan Dave sudah ada di samping ranjangnya dan menyerahkan ponselnya.
"Untuk apa?" Tanya Arvina bingung melihat Dave mengulurkan ponselnya.
"Hubungi mereka jika kau merindukan mereka." Ucap Dave dingin dan memaksa Arvina menerima ponselnya.
"Tidak. Aku tidak ingin mengadu kesialanku pada mereka." Ucap Arvina menyindir Dave.
Dave tidak bersuara dan lebih memilih menyiapkan makanan untuk Arvina.
Arvina akhirnya kalah.
Ia mulai menekan nomor Daddy nya menggunakan ponsel Dave.
Tutt..
Panggilan tersambung.
"Hallo, ini siapa?" Tanya Darvin dengan suara parau.
"Ini aku Dad, Vina." Jawab Arvina bahagia.
"Hei, kenapa baru sekarang menghubungi Daddy? Kemana ponsel mu dan Zena? Kenapa semuanya tidak bisa dihubungi?" Darvin melemparkan pertanyaan bertubi-tubi pada putrinya.
"Slow Dad, ponsel ku dan Zena hilang saat kami makan bersama direstoran dan kami belum sempat membeli yang baru. Ini nomor teman ku. Maaf membuat kalian khawatir." Ucap Arvina terpaksa berbohong.
"Em..kalian baik-baik saja kah? Dari kemarin Mommy kalian selalu merasa tidak enak hati." Tanya Darvin khawatir.
"Kami baik Dad. Bagaimana dengan kalian?" Tanya Arvina menahan kesedihannya.
Ia sengaja memilih menelpon biasa dan tidak menggunakan panggilan video agar Daddy nya tidak melihat keadaannya.
"Kami baik. Jaga diri kalian! Jangan sampai membuat Daddy dan Mommy sedih." Ucap Darvin.
"Baik Dad. Em..Dad aku ingin makan siang dulu bersama temanku. Daddy kembali istirahat saja. Sampaikan salamku pada Mommy dan kakak." Ucap Arvina dan memilih mematikan panggilannya.
Arvina meringkuk membelakangi Dave setelah memutus panggilannya.
Ia kembali menangis, apalagi setelah mendengar nasehat dari Daddy nya.
Rasanya sakit sudah membuat Daddy nya kecewa.
Dave segera naik keatas ranjang dan memeluk Arvina dari belakang.
"Maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab untuk semua perbuatanku." Ucap Dave sendu.
__ADS_1
Arvina memilih diam.
"Sayang, sungguh aku minta maaf." Pinta Dave lagi.
"Minta maaf untuk apa? Bukankah kau selalu benar dan orang lain yang selalu salah? Maka dari itu kau bisa seenaknya kepada orang lain. Kau bisa mengekang hidupku semaumu. Tadinya aku berpikir kau sungguh-sungguh mencintaiku dan akan percaya padaku meski aku belum mengatakan apapun, tapi nyatanya rasa cinta yang selalu kau ungkapkan itu hanya sekedar pemanis di mulutmu. Dibalik itu semua, aku tetap orang asing yang seperti musuh untukmu." Ujar Arvina panjang lebar membuat Dave mati kutu.
"Singkirkan tanganmu dari tubuhku. Aku sama sekali tidak butuh dirimu." Ketus Arvina mengangkat lalu menepis kuat tangan Dave.
Arvina memilih turun dari ranjangnya dan berjalan keluar dari ruang inap nya. Arvina sudah tidak diinfus lagi, jadi ia dapat bergerak dengan leluasa.
"Sayang tunggu!" Panggil Dave sambil mengejar Arvina.
Arvina tidak ingin mendengar. Bukan bermaksud kabur, ia hanya merasa suntuk dikamar terus menerus.
"Astaga wanita ini." Gumam Dave.
Dave segera berlari kilat lalu menggendong tubuh Arvina ala bridal style.
"Lepaskan aku pria gila!" Teriak Arvina.
Beberapa orang yang melihat mereka hanya tersenyum.
"Kau tahu, aku tidak akan pernah melepaskan mu!" Ucap Dave menggendong Arvina hingga ke taman rumah sakit tersebut.
Dave mendudukkan Arvina diatas pangkuannya, dan ia duduk di kursi taman tersebut.
"Lepaskan aku!" Arvina meronta.
"Diamlah atau akibatnya bisa fatal." Ancam Dave.
Arvina akhirnya memilih untuk diam dan menurut.
"Aku ingin bertemu Zena." Pinta Arvina tanpa basa basi.
"Tapi bagaimana kita tahu dia dimana? Anak buah ku tidak mengetahui dia dimana sejak hari itu." Tanya Dave bingung.
"Bodoh." Ketus Arvina.
Arvina berlalu begitu saja meninggalkan Dave.
"Wanita ini kenapa suka sekali menguji kesabaran ku?" Gumam Dave mengejar Arvina.
"Mau kemana?" Tanya Dave menghalangi Arvina membuka pintu mobilnya.
"Ke rumah ku. Aku ingin menjemput adik ku." Jawab Arvina ketus.
"Are you su.."
Belum sempat Dave menyelesaikan perkataannya, Arvina sudah berhasil masuk kedalam mobilnya setelah menepis kasar tangannya.
Dave akhirnya ikut masuk. Arvina mulai menjalankan mobil Dave dengan hati-hati.
Saat melihat jalanan sedang lenggang, Arvina menambah kecepatan hingga yang paling tinggi.
Dave hanya duduk manis dan mengagumi gadis yang kini sudah menjadi wanitanya itu, akibat ulahnya.
Tak berselang lama, mereka pun sampai dirumah Arvina.
Arvina turun dari mobil lalu mencoba mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyerang jika Ken hendak menyerang.
"Apa yang kau cari?" Tanya Dave bingung.
"Senjata." Jawab Arvina seadanya.
"Kau lupa? Kau membawa senjata hidup." Ujar Dave sombong dan bersandar pada mobilnya.
Arvina akhirnya mencoba membuka pintu rumahnya dan ternyata tidak dikunci.
Ia segera berlari menuju kamar Ken, tempat terakhir kali ia disekap.
__ADS_1
Dave yang melihat Ken sedang mencumbu Arzena pun segera mendahului Arvina.
BUKK
Dave menendang Ken hingha jatuh tersungkur.
"Kau memang parasit Ken. Kau tidak tahu terima kasih. Percuma keluarga ku berbuat baik padamu." Maki Arvina sambil membungkus tubuh polos adiknya dengan selimut.
Arvina hendak membawa adiknya, namun sigap Dave menggendong Arzena.
Arzena sedang tidak sadarkan diri, mungkin karena disuntik obat tidur oleh Ken.
Mereka hendak berjalan keluar dari kamar Ken, namun tangan Arvina kembali ditarik Ken.
"Dave!" Teriak Arvina.
"Sialan!" Dave berbalik dan langsung kembali menendang Ken dengan sangat kuat.
Dave meminta Arvina jalan terlebih dulu, kemudian ia menggendong Arzena dibelakang.
"Biar aku yang menyetir." Tegas Dave merebut kunci mobilnya dari Arvina.
Mau tidak mau Arvina menurut.
"Dave, sebaiknya kita kembali ke mansion mu. Aku tidak mungkin membawa adikku kerumah sakit dalam keadaan seperti itu." Usul Arvina terus melihat kearah belakang, menatap adiknya yang sedang tak sadarkan diri.
Dave pun menurut dan segera menambah kecepatan laju mobilnya hingga akhirnya mereka kini sampai di mansion Dave.
Mereka turun dari mobil dan Dave kembali menggendong Arzena hingga masuk kedalam kamar yang sempat Arzena tempati.
"Aku panggilkan dokter!" Ucap Dave lalu menelpon dokter pribadinya.
Setengah jam kemudian seorang dokter berparas tampan masuk kedalam mansion Dave.
Dokter itu tampak berumur sekitar tiga puluh tahun.
"Hei bung, sudah lama sekali kau tidak memberikan pekerjaan padaku." Kelakar dokter itu.
"Diamlah Hansen, dan lakukan tugasmu!" Tegas Dave.
Hansen pun masuk kedalam kamar Arvina.
"Oh hi! Wow..kalian kembar." Ucap Hansen takjub.
"Periksa adikku dan jangan melirik sedikitpun tubuhnya." Titah Arvina tegas.
Walaupun ia sudah memberikan pakaian pada Arzena, tapi tetap saja semua pakaian yang ada dilemari Arzena adalah pakaian kurang bahan.
Arvina keluar dari kamar Arzena dan berjalan mondar-mandir, gelisah.
"Apa bangsat itu juga menyuntikkan obat tidur secara beruntun pada Zena seperti yang ia lakukan padaku?" Gumam Arvina dan jelas Dave dapat mendengarnya, namun Dave masih bingung.
Mereka masing-masing tenggelam dalam pikiran masing-masing hingga tak sadar kalau Hansen sudah didepan mereka.
"Adikmu sangat cantik Nona. Jika boleh aku ingin sekali menjadikannya istriku." Ucap Hansen membuyarkan lamunan kedua orang itu.
"Jangan pernah berharap. Hidup kami sudah menderita, jadi jangan menambah beban kami lagi." Ketus Arvina.
Hansen terkekeh.
"Adikmu dalam keadaan yang baik, hanya saja tubuhnya lemah karena sepertinya dia dalam pengaruh obat tidur dengan dosis tinggi. Aku tidak membawa alat lengkap, jadi hanya bisa memeriksanya semampuku." Jelas dokter Hansen.
"Terima kasih." Jawab Arvina ketus dan langsung masuk kedalam kamar Arzena.
"Well bung, kekasihmu sangat temperamen seperti dirimu. Dan kau tahu, aku sudah jatuh cinta pandangan pertama pada adik ipar mu." Ucap Hansen merangkul Dave.
"Coba saja dekati, jika kau mampu." Tegas Dave dingin.
"Jika aku sudah mendapatkan lampu hijau dari kakak iparnya, maka aku pasti mampu menaklukkan hati adik iparnya." Ucap Hansen sombong dan berlalu dari hadapan Dave.
__ADS_1
"Sebaiknya aku membuat sedikit makanan untuk kedua wanita itu. Terserah lah mereka akan memakannya atau tidak." Gumam Dave lalu turun menuju dapurnya.
......~ TO BE CONTINUE ~......