TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Feeling


__ADS_3

"Oh my..mereka lucu sekali tadi." Ken tidak berhenti sekalipun memuji kedua bayi kembarnya.


Mereka sudah pulang dari rumah sakit sekitar setengah jam yang lalu, tapi pria desainer muda itu sama sekali tidak berhenti untuk memuji kedua bayi mungil yang masih merah itu.


Elviana hanya menanggapi dengan senyuman yang terpaksa.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Ken saat melihat istrinya tidak terlalu berniat menanggapi. Bahkan saat di rumah sakit tadi, Elviana menolak untuk menggendong Hana dan Kenzie dengan alasan takut karena belum pernah.


"Tidak. Kau sudah selesai? Aku ingin tidur." Elviana menjawab dengan malas.


Ken yang merasa ada yang tidak beres dengan istrinya pun segera mendekati wanita itu.


"Hei, jangan tidur dulu! Katakan ada apa?" Ken menarik istrinya yang hendak berbaring hingga wanita itu kembali duduk.


Tatapan mereka bertemu dan saling terkunci. Ken semakin yakin ada yang tidak benar dengan istrinya.


"Tidak. Aku hanya merasa kau sangat bahagia karena Zena sudah melahirkan." Jawab Elviana menunduk sedih.


Ken mengernyit bingung.


"Jangan bilang kau cemburu dengan Zena dan kedua bayiku?" Tanya Ken curiga.


Elviana hanya mengedik singkat.


Ken meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat.


"Astaga sayang, kau tidak perlu seperti itu. Kedua bayi itu adalah anakku, jadi bagaimanapun juga aku harus memberikan kasih sayang pada mereka. Aku Ayah biologis mereka. Aku sudah melewatkan kesempatan untuk menikmati pertumbuhan mereka saat masih di dalam rahim Zena, dan kali ini aku tidak ingin melewati masa tumbuh kembang mereka lagi." Ken mencoba menjelaskan dengan baik.


Elviana hanya menatap mata suaminya seolah sedang mencari sesuatu.


"Sayang, jika yang kau takutkan adalah aku akan jatuh cinta pada Ibu mereka, itu tidak perlu karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Dan jika yang kau takutkan adalah nantinya aku tidak bisa adil pada anak-anak kita, itu juga tidak perlu. Mereka akan mendapatkan kasih sayang yang sama karena mereka semua anak-anakku." Ken kembali mencoba meyakinkan istrinya.

__ADS_1


Ken paham dengan situasi seperti ini. Elviana sebagai wanita yang baru saja menikah dan akan memulai hidup baru dengan masa lalu suaminya yang masih akan terus mengikuti perjalanan rumah tangga mereka kelak.


"Em..mungkin aku harus belajar untuk lebih membuka hati lagi." Sahut Elviana lalu memeluk leher Ken.


Ia memilih untuk segera mengakhiri obrolan mereka. Elviana juga perlu waktu untuk beradaptasi. Ternyata semuanya tidak semudah yang ia bayangan meski dari awal ia sudah tahu persis bagaimana masa lalu suaminya. Ternyata dulu saat dia bisa menerima ada wanita lain yang mengandung anak dari suaminya karena kesalahan suaminya, kini berbeda ketika ia harus menerima kenyataan anak-anak itu telah lahir dan suaminya sangat bahagia.


Ken mengangguk tapi dia justru merasa seperti sedang memaksa istrinya.


"Sekarang ayo kita tidur. Besok adalah hari pertama kita sebagai suami istri, aku tidak ingin melewati hari baik kita." Ken melepaskan tangan Elviana dari lehernya dan menuntun istrinya berbaring di ranjang mereka.


Ken segera menarik istrinya ke dalam dekapannya berharap bisa membuat istrinya sedikit lebih tenang.


"Aku mencintaimu El! Tidak peduli apapun rintangannya nanti, aku akan tetap mencintaimu dan berjuang untukmu." Ucap Ken tulus dan serius.


"Aku juga mencintaimu." Balas Elviana pelan karena wanita itu sudah berkurang kesadarannya.


"Tidurlah." Titah Ken seraya mengelus rambut istrinya.


Perlahan tapi pasti Elviana mulai menjajal dunia mimpinya.


Ken akhirnya juga ikut terlelap bersama Elviana.


•••••••••••••••


"Sayang, perasaanku sedikit tidak enak." Ungkap Arvina yang sedang berada dalam dekapan suaminya.


Kulit polos mereka saling menempel dengan keringat yang masih menghiasi. Mereka baru mengakhiri sesi bercinta mereka. Meski Arvina sedang hamil, tapi itu tidak membuat Dave bisa berhenti apalagi bosan untuk menggauli istrinya. Syaratnya hanya satu, Dave harus melakukannya dengan pelan dan lembut.


"Tidak enak bagaimana?" Tanya Dave lembut.


"Entahlah. Aku melihat El sepertinya tidak terlalu senang dengan kehadiran si kembar. Mungkin juga dia tidak terlalu senang melihat semangat Ken saat menyambut si kembar." Jawab Arvina bingung.

__ADS_1


"Sudahlah. Jangan banyak berpikir, tidak baik untuk kehamilanmu. Sekarang lebih baik kita istirahat." Bujuk Dave. Ia hanya tidak ingin pikiran istrinya akan mempengaruhi kehamilan Arvina.


Istrinya segalanya untuknya, dan bayi mereka adalah nyawanya. Jadi kedua orang itu tidak boleh sampai kenapa-kenapa.


Arvina menurut dan memejamkan matanya.


Perlahan pun wanita itu terlelap. Dave akhirnya mencoba untuk ikut terlelap bersama istrinya.


••••••••••••••••


"Hans, bagaimana ini? ASI-ku belum keluar juga. Apa iya kita harus menggunakan susu formula terus untuk mereka?" Tanya Arzena bimbang.


"Sayang, itu hal yang wajar untuk Ibu baru sepertimu. Aku rasa besok pasti akan keluar. Jangan terlalu dipikirkan. Jangan sampai kau malah stres dan justru semakin memperlambat hormon tubuhmu untuk memproduksi ASI." Hansen mengelus pipi istrinya seraya menenangkan wanita itu.


Hansen akan berusaha sekuat tenaga agar istrinya jangan sampai stres apalagi mengalami baby blues.


"Terima kasih. Kau menjaga kami sampai detik ini dan mencintai kami dengan begitu besar." Ucap Arzena kini juga mengelus pipi suaminya.


Suaminya itu sedari tadi menemaninya di rumah sakit dan enggan pulang. Pria itu tidak ingin melewatkan setiap momen berharga istri dan anak-anaknya.


"Because i love you. Dan itu menjadi satu-satunya alasan untuk memperlakukan kalian dengan baik. Aku mencintai kalian seperti mencintai diriku sendiri." Ungkap Hansen tulus pada istrinya.


Tidak peduli apapun dan bagaimana buruknya masa lalu istrinya. Pria itu tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Baginya yang terpenting adalah bagaimana istrinya sekarang telah menjadi wanita yang jauh lebih baik dari saat pertama mereka bertemu. Istrinya juga sudah bisa bersikap dan berpikir lebih dewasa.


"Sekarang tidurlah. Jangan sampai kau melewatkan waktu istirahatmu." Bujuk Hansen.


"Em..kau juga." Arzena menepuk tempat kosong di sampingnya. Ranjang yang ditempati Arzena cukup besar untuk memuat dua orang.


"Sure.." Hansen yang sedari tadi duduk pun bangkit. Ia mengecup kening si kembar yang sudah terlelap sebelum akhirnya naik ke atas ranjang dan bergabung dengan istrinya.


"Good night, love." Ucap Hansen mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Good night." Balas Arzena mengecup bibir suaminya.


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2