TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Rencana Penculikan


__ADS_3

Dua Minggu Kemudian


DORR DORR DORR


Terdengar bunyi tembakan menggema di dalam sebuah ruangan khusus untuk latihan menembak. Ken sedang latihan menembak dipandu oleh Dave.


Dua minggu ini Dave benar-benar ekstra mengajari kakak tirinya itu bela diri, menembak, dan segala hal yang menurutnya penting untuk Ken pelajari.


Dengan cepat Ken dapat mempelajari semuanya, bahkan tubuhnya kini mulai terbentuk oleh otot-otot hingga terlihat lebih macho.


"Well, sepertinya kau sudah menguasai semuanya!" Ucap Dave menghampiri Ken.


"Kau benar. Aku sekarang sangat siap untuk melakukan perlawanan." Sahut Ken dengan tatapan tegasnya.


Tidak hanya fisik dan kekuatannya yang berubah, tatapan mata Ken pun berubah menjadi lebih tegas dan tajam.


"Aku rasa kita sudah bisa melakukan rencana kita!" Dave meraih sebotol air mineral lalu melempar air itu ringan ke arah Ken. Ken menyambutnya dengan baik.


"Siap! Aku sudah sangat siap!" Sahut Ken lalu meneguk airnya hingga tersisa setengah.


"Baiklah, ayo kita kembali dan bersiap. Aku akan arahkan anak buah kita untuk segera stand by di lokasi." Dave merangkul Ken dan mereka keluar dari markas latihan itu untuk kembali ke mansion.


"Sayang, apa yang kau makan?" Tanya Dave ketika mencium aroma makanan saat memasuki mansion.


Ia segera berlari kecil menghampiri Arvina yang sedang menyantap sesuatu di meja makan.


"Ramen dengan toping saus coklat. Cobalah!" Arvina menyodorkan mangkuk berisi ramennya pada Dave.


Dave segera menyantap makanan aneh itu.


"Wow..ini sangat lezat." Puji Dave.


"Benar-benar sindrom simpatik!" Gumam Ken tersenyum kecil melihat kebahagiaan pasangan muda yang sedang menanti buah hati mereka itu.


"Aku ke atas dulu." Ken pamit dan memilih naik ke kamarnya.


"Ken, kalian sudah pulang?" Tanya Jeymian yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sudah, Dad." Jawab Ken ramah.


"Oh yah, malam ini besan Darvin dan keluarganya mengundang kita semua untuk jamuan makan malam. Mereka mengadakan pertemuan dengan keluarga calon istri Arzevin. Kalian akan ikut kan?" Tanya Jeymian memegang pundak Ken.


"Tidak, Dad. Aku dan Dave ada urusan. Mungkin hanya Vina yang akan pergi bersama Daddy. Aku masuk dulu!" Ken segera pamit dan masuk ke dalam kamarnya.


"El, sebentar lagi! Sebentar lagi kau akan menjadi milikku!" Ken menampilkan seringai menyeramkan.

__ADS_1


•••••••••••••••••


"Sayang, kau akan pergi?" Tanya Arvina saat melihat Dave bersiap.


"Ehm..aku dan Ken ada urusan sebentar. Kau juga akan ikut makan malam bersama Daddy Jey ke rumah Daddy Darvin kan?" Tanya Dave lembut.


"Aku tidak ikut. Aku sudah minta ijin tadi. Tiba-tiba saja rasanya sangat lelah." Arvina menghampiri suaminya dan memeluknya manja.


"Atau kau mau ikut aku? Aku akan bantu Ken untuk menculik Elviana." Ucap Dave jujur.


"Kenapa?" Tanya Arvina penasaran.


"Kau tahu? Laki-laki yang akan dijodohkan dengan Elviana itu ternyata adalah Arzevin. Dan aku harap kau tidak marah karena membantu Ken melawan kakak serta orang tuamu." Ucap Dave jujur. Ia tidak sanggup menutupi lebih lama kebenaran ini.


"Hem..selama itu tidak membahayakan nyawa kalian, aku tidak masalah. Lagipula Ken memang harus berjuang." Arvina kembali memeluk suaminya.


"Aku harus pergi sekarang untuk membuat persiapan. Kau ikut?" Tanya Dave.


"Tidak. Aku di rumah saja. Lagipula tadi Liza menghubungiku, katanya ia ingin mengunjungiku bersama Aston." Jawab Arvina tersenyum lembut.


"Em..baiklah. Oh ya, aku titip ini untuk Aston. Dokumen kerjasama kami." Dave meraih seberkas dokumen dari dalam laci lemari dan memberikan pada Arvina.


Arvina mengangguk dan membuka dokumen tersebut untuk melihat-lihat.


"Ya sudah, aku pergi sekarang. I love you, Daddy love you little." Ucap Dave mengecup kening istrinya lalu perut istrinya yang masih rata.


"Wow...gagah sekali!" Puji Dave melihat penampilan Ken yang terlihat jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya.


"Kau yang mengajariku." Sahut Ken datar.


"Ayo, kita ke markas besar dulu untuk mengarahkan para anak buah kita." Ajak Dave dan mereka berjalan beriringan hingga masuk ke dalam mobil.


Mereka segera menuju ke markas besar tempat para anak buah Dave berkumpul.


"Dave, entah kenapa dadaku terasa sedikit sesak." Keluh Ken tiba-tiba.


"Minum dulu! Mungkin karena kau berlatih dengan keras beberapa hari ini." Dave menyodorkan sebotol air kepada Ken.


Ken membuka penutup botol air itu dan meneguk airnya hingga tandas.


"Apa sudah lebih baik?" Tanya Dave khawatir.


"Hem..sedikit lebih baik." Jawab Ken sedikit lemah.


"Sebentar lagi sampai. Kau istirahat saja dulu!" Titah Dave sopan.

__ADS_1


Hubungan mereka memang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, dan Dave sudah bisa menghargai Ken selayaknya seorang kakak.


Tak lama kemudian mereka akhirnya sampai di markas besar Dave.


"Tuan Dave, Tuan Ken!" Sapa para anak buah yang berbaris rapi menyambut kedua pria itu setelah turun dari mobil.


"Bagaimana? Apa semua sudah berkumpul?" Tanya Dave tegas sedangkan Ken sesekali masih memijit dadanya yang terasa sesak.


"Sudah Tuan! Sesuai yang Tuan inginkan, kami sudah mengatur semuanya sedemikian rupa agar penculikan itu nanti terlihat seperti penculikan asli!" Jawab salah satu anak buah Dave.


Mereka memang berencana untuk menculik Elviana.


"Bagus! Sekarang aku akan arahkan beberapa titik lokasi untuk kalian berkumpul di sana! Pastikan tidak menimbulkan kecurigaan pada orang-orang di sana terutama keluarga Elviana dan keluarga Daddy Darvin. Hansen mungkin ada di sana, tapi dia sudah tahu rencana kita. Jadi dia aman." Titah Dave sambil mengatur bidak catur dia atas selembar kertas yang sudah ia gambari dengan denah tempat kedua belah pihak keluarga besar itu akan berkumpul.


"Baik Tuan!" Jawab para anak buah Dave serentak.


Mereka kemudian segera menyiapkan senjata api untuk melengkapi penyamaran mereka.


Setelah siap, mereka masing-masing masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan sesuai rencana.


"Apa kau masih sakit?" Tanya Dave khawatir melihat Ken yang sedari tadi hanya diam.


"Tidak!" Jawab Ken singkat. Dave tersenyum dan mengangguk.


"Bersiaplah untuk menjemput wanitamu!" Dave menyalakan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya meninggalkan markas besar mereka.


Mereka menuju ke sebuah restoran mewah yang di sewa khusus untuk pertemuan dua keluarga itu. Dave sudah memastikan restoran itu tidak akan dijaga ketat, jadi mereka akan lebih mudah beraksi.


"Akhirnya kita sampai." Gumam Dave semangat.


"Lepaskan putriku!" Samar-samar mereka mendengar suara teriakan disertai suara keributan.


"Berikan putrimu pada kami!" Seseorang menyahuti.


Dave dan Ken yang penasaran langsung saja turun dari mobil meski tidak langsung masuk ke dalam.


"Apa itu orang-orang kita?" Tanya Ken khawatir.


"Bukan! Sepertinya ada kelompok lai yang mengincar El." Jawab Dave tegas. Ia sangat yakin itu bukan para anak buahnya karena mereka baru saja sampai dan Dave tidak jadi menempatkan anak buahnya dilokasi lebih dulu.


"Kenapa Hansen tidak melawan?" Tanya Ken geram..


"Mungkin dia salah mengira. Siapkan senjata kalian untuk menyerang kelompok itu!" Jawab Dave lalu memberi perintah pada anak-anak buahnya.


"KEN.."

__ADS_1


...~ TO BE CONTINUE ~...


__ADS_2