
"Kenapa kali ini begitu sakit?" Gumam Arvina dalam keadaan meringkuk.
Aston masih terlelap di samping Arvina namun ia sedang tidak memeluk Arvina.
"Mommy..sakit..Hiks.." Arvina terisak perlahan.
Mendengar suara isakan Arvina, Aston perlahan membuka matanya.
Saat ia menoleh, dirinya terkejut karena tempat Arvina terdapat darah yang cukup banyak. Arvina tidak sadar akan hal itu.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Aston panik dan berpindah ke depan Arvina.
Arvina hanya memeluk perutnya dan terus terisak.
Aston turun segera turun ke bawah dan meminta anak buahnya untuk menyiapkan Helikopter.
Setelah itu, ia naik lagi ke kamar dan membawa seorang pelayan untuk membantu Arvina mengganti pakaian dan bersiap, Aston juga bersiap dan mempersiapkan beberapa keperluan Arvina.
Setelah semuanya selesai, Aston langsung menggendong Arvina dan tidak mengijinkan Arvina untuk berjalan.
Ia menggendong Arvina hingga masuk ke dalam Helikopter.
Tak lama Helikopter Aston pun berangkat kembali ke Sydney.
Dua puluh menit di udara l, akhirnya mereka mendarat di atas kediaman Aston.
Aston turun dan segera membawa Arvina ke dalam mobil dan mereka pun meluncur ke rumah sakit.
Pikiran Aston kacau. Ia sangat takut jika ternyata tanpa diketahui Arvina sedang mengandung dan kini mengalami keguguran.
Arvina diam sepanjang jalan, bahkan saat ini pun ia hanya diam dan menahan sakit di area perutnya.
Mereka kini sampai di rumah sakit.
Aston segera menggendong Arvina masuk ke dalam rumah sakit dan membawanya ke ruang UGD.
Sebelumnya, Aston sudah meminta bawahannya untuk menghubungi dokter obgyn.
Dan saat ini dokter tersebut sudah masuk ke dalam ruang UGD dan memeriksa Arvina.
Aston sedang mondar-mandir dengan pikiran yang tidak tenang.
"Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Arvina! Jika seperti yang aku pikirkan, maka aku akan sangat merasa bersalah." Batin Aston bahkan mentikkan air matanya.
Dokter wanita yang menangani Arvina keluar dari ruangan UGD.
"Dokter, bagaimana keadaan Arvina?" Tanya Aston khawatir saat menghampiri dokter itu.
"Istri Tuan mengalami gejala Endometriosis. Tapi kami perlu melakukan tindakan Laparoskopi untuk mendapatkan hasil yang jelas. Laparoskopi adalah tindakan dengan menyayat kecil area pusar istri Tuan, lalu kami memasukkan laparoskop ke dalamnya ... "
"Lakukan! Lakukan apapun agar Arvina bisa sehat lagi." Titah Aston tanpa ingin mendengar penjelasan dokter itu.
"Baik!" Dokter tersebut pamit untuk menyiapkan segala yang ia perlukan di ruang operasi.
Tak lama beberapa perawat mendorong brankar dengan Arvina di atasnya menuju ruang operasi. Aston setia mengikuti dari belakang.
Setelah Arvina masuk ke dalam ruang operasi, dokter segera menangani Arvina dengan melakukan proses Laparoskopi.
__ADS_1
Selang beberapa waktu, akhirnya dokter wanita tadi keluar lagi dari ruangan operasi.
"Tuan, aku harus membawa sampel biopsi istri anda untuk diteliti di laboratorium untuk bisa memastikan apakah dugaanku benar atau salah jika istri anda mengidap Endometriosis." Ujar dokter wanita itu sopan.
"Lakukan! Secepatnya lakukan yang terbaik! Aku akan berikan berapapun yang kalian minta!" Titah Aston tegas.
"Baik Tuan! Sementara kami meneliti sampel biopsi istri anda di laboratorium, istri anda akan kami pindahkan ke ruang inap. Anda bisa menemaninya setelah ini. Aku permisi." Ucap dokter wanita itu lagi kemudian ia pamit undur.
Tak lama kemudian para perawat membawa brankar Arvina ke dalam ruang inap.
Arvina sedang terlelap.
Setelah para perawat pergi, Aston mendekati Arvina dan duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang nya.
Ia menggenggam satu tangan Arvina kemudian satu tangannya mengusap lembut kepala Arvina.
"Aku bersyukur kau bukan keguguran sayang. Jika sampai kau keguguran, aku akan sangat merasa bersalah meski itu bukan benihku. Maafkan aku menahanmu seperti ini. Tapi aku tidak ingin kehilangan dirimu, meski aku tahu kau sedikitpun tidak mencintaiku. Kau sumber ketenanganku Arvina." Ucap Aston mengecup punggung telapak tangan Arvina berulang kali.
"Endometriosis? Apa itu sebenarnya?" Gumam Aston bingung.
"Ehm.." Arvina menggeliat pelan dan perlahan membuka matanya.
"Sayang, kau bangun? Mana yang sakit? Apa butuh sesuatu?" Tanya Aston cemas.
Arvina menggeleng pelan.
"Aku kenapa?" Tanya Arvina pelan.
"Kau hanya sakit sayang. Dokter sedang melakukan penelitian untuk memastikan sakit yang kau derita itu." Jawab Aston mencoba tersenyum.
Arvina hanya mengangguk pelan.
"Bukankah memang itu yang kau inginkan?" Tanya Arvina mendorong pelan kepala Aston yang sedang sejajar dengan tangannya.
Aston tersenyum manis.
"Aku memang ingin. Tapi aku lebih senang jika kita saling mencintai, bukan hanya aku." Ujar Aston meraih tangan Arvina kembali ke dalam genggamannya.
"Tuan Aston, maaf mengganggu. Ini makanan dan juga minuman yang Tuan pesan tadi." Ucap tangan kanan Aston saat memasuki ruangan inap Arvina.
"Terima kasih, Harry." Jawab Aston kepada Harry membuat Harry sedikit kaget karena Aston mengucapkan terima kasih padanya.
Harry segera meletakan bungkusan berisi makanan dan minuman yang ia bawa ke atas nakas lalu beranjak pergi.
"Ayo, kau harus makan!" Ucap Aston beranjak dari tempat duduknya dan mengeluarkan makanan yang Harry bawa tadi.
Aston memilih bubur untuk Arvina.
"Aaa..." Aston bersuara hendak menyuapi Arvina setelah membantu Arvina setengah duduk.
"Bolehkah aku makan sendiri?" Tanya Arvina canggung.
Aston menggeleng.
"Biar aku yang melayanimu saat kau sedang sakit begini." Ucap Aston sedikit memaksa.
Arvina menurut dan akhirnya menerima suapan demi suapan dari Aston hingga bubur di tangan Aston habis.
__ADS_1
"Ini, minumlah!" Aston memberikan segelas teh jahe hangat kepada Arvina. Teh jahe yang ia searching dari laman pencarian tadi malam saat Arvina sudah terlelap.
"Terima kasih." Ucap Arvina memberikan kembali gelas di tangannya kepada Aston.
Mereka pun melanjutkan obrolan mereka. Meski Arvina mengobrol atau sekedar bercerita kepada Aston, bukan berarti dia sudah mencintai dan menerima Aston. Arvina hanya menganggap Aston sebagai teman, tak lebih dari itu.
Tok tok tok
Pintu ruangan yang masih terbuka itu diketok.
Saat Aston dan Arvina menoleh, ternyata dokter yang menangani Arvina tadi.
"Maaf mengganggu Tuan dan Nyonya. Aku hanya ingin menyampaikan hasil penelitian ku." Ucap Dokter tersebut tidak enak hati.
"Katakan saja!" Titah Aston tegas.
"Sesuai dugaanku, hasil penelitian tadi menunjukkan istri Tuan mengidap Endometriosis." Ucap dokter itu sedikit menunduk
"Endometriosis itu apa dokter?" Tanya Arvina tak tenang.
"Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang seharusnya melapisi dinding rahim(endometrium) tumbuh dan menumpuk di luar rahim. Penyakit ini mengganggu kesuburan Nyonya, dan kemungkinan Nyonya untuk hamil sangat kecil kecuali dengan proses bayi tabung. Kabar baiknya adalah Endometriosis yang diidap Nyonya adalah Endometriosis minimal dan masih bisa diperlambat pertumbuhannya dengan penyuntikan hormon." Jelas sang dokter merasa bersalah.
Wajah Arvina seketika menjadi sendu.
"Jadi aku tidak akan bisa mempunyai anak?" Tanya Arvina dengan air mata yang sudah terkumpul.
"Bukan tidak bisa Nyonya. Hanya saja kemungkinan sangat kecil jika ingin secara Normal. Nyonya bisa memilih alternatif lain yaitu dengan proses bayi tabung. Namun jika Nyonya tetap ingin hamil secara normal, bisa coba untuk menggunakan obat kesuburan." Jelas dokter itu lagi.
"Tidak! Bagaimana mungkin?" Gumam Arvina seketika air matanya jatuh begitu saja.
Aston memberi kode agar dokter itu pergi.
"Bagaimana aku menjelaskan pada Dave nanti? Aku tidak bisa memberinya keturunan." Gumam Arvina memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya.
Aston ingin marah karena yang Arvina pikirkan hanyalah Dave, sayangnya untuk saat ini kondisi Arvina lebih penting.
"Sstt..jangan menangis. Dokter bilang kau masih bisa punya anak dengan alternatif lain. Jangan berpikir yang tidak tidak!" Bujuk Aston menenangkan Arvina.
"Aku cacat. Aku wanita cacat!" Ujar Arvina terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Tidak! Kau wanita hebat! Tuhan memberimu cobaan ini karena Dia yakin kau kuat!" Aston kini memeluk Arvina.
"Aku cacat.." Arvina terus saja mengulangi ucapannya.
••••••••••••
"Dave, segera ke rumah sakit! Aku melihat istrimu di sini!" Ucap Hansen melalui sambungan telepon.
Ia memang sudah melihat Arvina dan Aston, tapi ia tidak sempat mencari tahu apa yang terjadi karena harus segera menangani pasien.
"Baik. Aku segera ke sana!" Sahut Dave langsung mematikan panggilannya.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#########
Well, untuk Endometriosis itu hanya penjelasan sesingkat yang aku bisa..jika ingin tahu lebih lanjut bisa di search di mbah2 G itu..
__ADS_1
Maaf juga bila ada yang mengerti medis dan mungkin penyampaian ku kurang tepat atau salah..🙏