
"Dave, jangan memeluk diriku seerat ini!" Pinta Arvina.
Dave masih dirawat dirumah sakit. Ia sebenarnya sudah merengek ingin keluar dari rumah sakit, tapi bukan Arvina namanya jika tidak bisa menaklukkan seorang Dave dengan ancamannya.
Dave merengek meminta Arvina menginap dan menemani dirinya dan mau tak mau Arvina menurut.
Bukannya nyaman, Arvina malah dibuat sesak karena Dave memeluknya dengan sangat erat sepanjang malam hingga pagi ini.
"Astaga Dave, kau mau aku mati cepat kah?" Gerutu Arvina lagi berusaha mengangkat tangan kokoh Dave.
Bukannya mendengar, Dave malah semakin menjadi.
"Baiklah baik. Eratkan saja lagi pelukanmu! Biar aku cepat mati, dan kau bisa bebas mencari wanita lain." Ketus Arvina.
Dan itu berhasil membuat Dave melonggarkan pelukannya.
"Kenapa pagi-pagi kau sudah cerewet sekali?" Gerutu Dave dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Arvina tertegun mendengar suara sexy milik Dave.
"Ya ampun, kenapa pria ini membuat jantungku berdetak kencang seperti ini?" Gumam Arvina dan tentu saja Dave bisa mendengarnya.
"Benarkah?" Dave menatap lekat dua manik menenangkan itu.
Arvina tersipu malu membuat Dave ingin melahap bibirnya.
"Jangan mencium ku! Kau ini, mulutmu bau sampah. Setidaknya gosok gigi dulu." Oceh Arvina sambil menutup mulutnya.
Dave membulatkan matanya tak percaya mendengar perkataan yang begitu menghina dirinya.
"Apa melotot seperti itu? Itu memang kenyataannya." Ujar Arvina lagi dan turun dari ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa-apaan dia? Kemarin aku baru sadar dan menciumnya, dia tidak menolak sedikitpun dan malah membalasku begitu manis. Pagi ini dia mengatai mulutku bau sampah?" Dave bergumam sambil berpikir.
Dave memutuskan untuk turun dari ranjang dan menyusul Arvina ke dalam kamar mandi.
Dave tidak ingin terlihat lemah sekalipun tubuhnya belum benar-benar pulih.
Arvina sedang menggosok gigi.
"Bisa berikan aku pasta gigi?" Pinta Dave memberikan sikat giginya pada Arvina.
Arvina menghentikan sejenak gerakan tangannya yang sedang menggosok gigi lalu memberikan pasta gigi yang ada di depannya untuk Dave.
Setelah mengoleskan pasta gigi itu pada sikat giginya, Dave pun mulai menyikat giginya.
Arvina yang selesai duluan pun memilih keluar terlebih dulu.
Arvina duduk di sofa sambil bermain ponsel untuk mengabari keluarganya.
Dave yang sudah selesai pun keluar dari kamar mandi. Dave tersenyum licik saat melihat wanitanya sedang sibuk sendiri.
Dengan gerakan sangat pelan ia mendekati Arvina dan langsung merebut ponselnya membuat Arvina tersentak kaget.
"Dave, kembalikan ponselku!" Titah Arvina hendak merebut ponselnya namun secepat kilat Dave menghindar.
Sigap, Dave langsung mengangkat tubuh Arvina dan membaringkan Arvina keatas ranjang.
__ADS_1
"Dave, jangan seperti ini!" Titah Arvina saat Dave menindih tubuhnya dan menatapnya lekat.
"Aku ingin seperti ini bahkan aku ingin lebih." Ucap Dave menyeringai.
Perlahan tapi pasti, Dave langsung saja melahap bibir mungil tersebut dengan lembut namun menuntut.
Arvina terbuai dan ikut membalasnya.
Tangan Dave mulai bergerak nakala bermain pada puncak kembar Arvina membuat Arvina menggeliat dibawah kungkungan tubuhnya.
Ciuman Dave mulai berpindah ke leher putih Arvina membuat Arvina menggigit bibir bawahnya agar tidak bersuara.
Kini tangan Dave mulai masuk ke dalam baju Arvina.
"Ekhem.." Suara deheman seorang pria menggagalkan aksi cabul Dave.
"Dad?" Arvina terkejut bukan main saat melihat yang berdiri didekat pintu adalah Darvin dan Derex.
Dengan kuat ia mendorong tubuh Dave hingga terjatuh ke lantai.
"Arghh.." Dave mengerang kesakitan.
Panik dan salah tingkah ditambah malu karena dipergoki oleh kedua Ayahnya membuat Arvina gelagapan.
Ia memutuskan untuk membantu Dave terlebih dulu.
"Maaf aku tidak sengaja." Pinta Arvina memapah Dave naik ke atas ranjang.
Dave hanya tersenyum nakal, ia tahu wanitanya saat ini pasti sedang sangat malu.
"Dad dan Dad, kenapa kalian bisa di sini?" Tanya Arvina menghampiri kedua pria bertato itu dengan salah tingkah.
Arvina menunduk malu.
"Kau tidak ingin memeluk Daddy mu?" Tanya Derex lembut.
Arvina langsung berhambur memeluk kedua Ayahnya bergantian.
"Kami kemari atas permintaan Hansen dan Drick untuk membawa Zena. Hansen ingin menikahi Zena secepatnya namun belum tega meninggalkan pria mu itu." Jelas Darvin.
Arvina hanya mengangguk pelan.
"Duduk lah!" Titah Arvina menunjuk kearah sofa panjang di pojok ruangan.
"Ini makanan untuk kalian." Derex memberikan dua bungkusan untuk Arvina.
"Terima kasih Dad. Kalian yang terbaik." Ujar Arvina girang.
Arvina membawa bungkusan makanan tersebut pada Dave dan membukanya satu untuk Dave.
"Sayang, suapi aku." Pinta Dave tanpa rasa malu.
Arvina menoleh sejenak melihat kedua ayahnya yang tentu sedang menatap tajam pada mereka.
"Sayang aku mohon. aku ini masih sakit." Pinta Dave dengan suara manja.
Mau tak mau Arvina menyuapi Dave dengan menahan malu.
__ADS_1
"Sayang, aku ingin minum." Pinta Dave dengan suara manja lagi.
Kedua Ayah Arvina menatap jijik melihat tingkah Dave.
Arvina mengambil sebotol air mineral yang ada diatas nakas lalu membukakan untuk Dave.
Dave meneguk air tersebut hingga tersisa setengah.
Dave menyimpan botol air tersebut kembali ke atas nakas.
Dave tiba-tiba meraih tangan Arvina dan menggenggamnya erat.
"Sayang, temani aku di sini. Jangan pergi!" Pinta Dave memelas.
"Kau ini kenapa posesif sekali?" Gerutu Arvina sedikit kesal dengan tingkah Dave yang tak sadar keadaan dan situasi.
"Itu manja atau posesif?" Tanya Darvin menimpali pertanyaan putrinya.
Dave hanya cengengesan tanpa rasa malu.
"Dad, jadi Zena sekarang di sini juga?" Tanya Arvina penasaran.
"Em..Zena sedang bersama Mommy kalian dirumah. Aunty Alice juga di sini." Darvin menjawab santai.
"Kenapa ramai sekali?" Tanya Arvina bingung.
"Hansen akan menikahi Zena bulan depan. Jadi dia meminta kami semua untuk membantunya." Jelas Derex.
"What? Dia ingin mendahului ku? Yang benar saja?" Dave terkejut.
"Kau itu kenapa? Memang apa salahnya Hansen ingin segera menikahi Zena? Memangnya seperti dirimu, menikahi tidak mau, tapi selalu meminta yang enak." Ketus Arvina.
"Sayang, aku juga ingin menikahimu secepatnya. Tapi kau selalu memaksaku untuk tetap di rumah sakit, jadi bagaimana bisa aku mempersiapkan semuanya?" Dave merasa bersalah.
"Tenang saja! Kami sudah mempersiapkan bagianmu. Kau tidak mau pun kami akan memaksa." Jelas Darvin membuat Dave langsung tersenyum lebar.
"Kalian yang terbaik Dad. Terima kasih atas restu kalian." Ucap Dave bahagia.
Meski ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya, tapi ia masih tahu bagaimana untuk menghormati orang tua lain apalagi mereka adalah calon mertuanya.
Dave tersenyum sumringah dan meminta Arvina menyuapi nya lagi. Arvina hanya menurut.
"Em..kalian teruskan makannya. Kami harus melihat-lihat gedung yang sudah di pilih oleh Hansen untuk bisa membuat keputusan secepatnya." Pamit Derex.
Darvin dan Derex pun keluar meninggalkan kedua anak muda itu.
"Sayang, mau lanjut?" Tanya Dave tersenyum mesum.
"Jangan bermimpi!" Titah Arvina menyuapi Dave dengan kasar membuat Dave terkekeh.
...~ TO BE CONTINUE ~...
######
BTW, aku kepikiran mau bikin grup w.a..barangkali ada yang berminat gabung?
Kalo minat, tinggalkan kontak kalian di kolom komentar atau bisa lewat chat bagi yang saling follow dengan aku 😂😂😂
__ADS_1
Siapa tau bisa saling mengenal dan bertukar pendapat serta kalian bisa saling memberikan masukan dan ide??