
"Dave, aku harus menyampaikan sesuatu kepadamu." Ujar Arvina yang baru masuk ke dalam kamar mereka.
Arvina tadi meminta pelayan untuk membersihkan ruangan kerja Dave, jadi Dave memilih masuk ke dalam kamarnya dan menunggu istrinya di sana.
"Nanti saja! Ayo, kau juga bersiaplah!" Titah Dave memberikan pakaian ganti kepada Arvina.
"Kita akan kemana?" Tanya Arvina bingung sambil mengganti pakaiannya.
"Mengunjungi tua bangka itu." Jawab Dave dingin. Yang dimaksud adalah Jeymian Alexon, Ayahnya.
"Tunggu, kau ingin bertemu Daddy mu? Apa itu artinya kau sudah memaafkan mereka?" Tanya Arvina berbinar.
Dave tersenyum sinis dan meremehkan.
"Aku hanya ingin melihat seberapa parah penyakitnya dan kapan dia akan mati!" Jawab Dave dengan nada penuh kebencian.
Arvina menghela nafas kesal.
"Aku tidak ikut saja." Ucap Arvina duduk di sofa ujung ranjang mereka.
"Terserah. Tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan!" Ancam Dave santai.
Arvina menyerah dan mau tidak mau akhirnya mengekori Dave dari belakang.
Mereka pun akhirnya berangkat ke rumah sakit.
Dave hanya asal menebak di rumah sakit mana Ayahnya akan dirawat, dan Dave memilih untuk pergi ke rumah sakit terbaik di kota itu.
Kurang lebih satu jam akhirnya mereka sampai di sana.
Dave dan Arvina segera turun dari mobil.
Fiuh....
Dave menghela nafas kasar dan menggenggam erat tangan Arvina.
"Tenanglah! Aku di sini!" Ucap Arvina menenangkan Dave sambil mengusap lembut lengan suaminya.
Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah sakit dan Dave segera menghampiri bagian pusat informasi.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" Tanya salah satu perawat yang sedang bertugas.
"Apakah Jeymian Alexon dirawat di sini?" Tanya Dave dingin.
Arvina bisa mendengar nada Dave penuh kebencian.
Perawat tersebut dengan segera memeriksa data pasien yang sedang dirawat dilayar komputernya.
__ADS_1
"Benar Tuan. Tuan Jeymian Alexon dirawat diruang ... " Jawab si perawat sopan.
Tanpa berkata apapun, Dave berlalu membawa Arvina menuju ruangan yang disebutkan tadi.
Dave berhenti sejenak di depan pintu ruang rawat Jeymian.
Tangannya semakin menggenggam erat tangan Arvina seolah meminta kekuatan.
"Tenanglah!" Ucap Arvina menenangkan.
Ceklek
Dave membuka pintu ruangan itu.
Hal yang pertama kali Dave lihat Rexa sedang tertawa mesra bersama Jeymian.
"Bukankah dia baik-baik saja? Untuk apa harus memintaku datang?" Tanya Dave dingin dan menatap tajam kedua orang tuanya.
"Dave, kau datang?" Tanya Rexa berbinar dan hendak mendekati Dave, namun Dave dengan cepat menghindar sebelum Rexa melangkah lebih mendekat.
"Sudah ku bilang jangan coba-coba menyentuhku!" Titah Dave penuh kebencian.
"Dave, kemarilah! Daddy merindukanmu." Pinta Jeymian melambaikan tangannya.
"Bullshit! Siapa aku bagi kalian selama dua puluh dua tahun ini? Apa setelah sebentar lagi akan mati baru kalian menganggapku ada?" Tanya Dave dingin.
"Oh yah,,kenapa sekarang kalian bisa duduk dan tertawa bersama? Bukankah dulu kau selalu sibuk dengan jalang mu? Dan kau juga selalu bersetubuh dengan pria miskin yang merayumu dengan kata-kata cinta?" Tanya Dave menyindir masa lalu kedua orang tuanya dan menunjuk kedua orang tuanya bergantian.
"Dave, itu masa lalu kami. Bisakah kau membuka sedikit saja hatimu untuk memaafkan kami?" Pinta Rexa terisak.
"Dengarkan aku baik-baik! Aku menunggu dan menunggu kalian datang meski hanya sekedar untuk memarahiku atau mengomeliku seperti saat aku masih tinggal bersama kalian. Aku menunggu selama lima belas tahun sejak aku memutuskan ikut dengan uncle dan pindah ke negara ini. Setiap hari aku menunggu sambil menangis, berharap kedua orang tuaku akan menghubungiku meski itu untuk memaki diriku. Kenyataannya adalah semua itu hanya mimpi yang tidak kunjung nyata. Akhirnya aku membuang jauh semua itu karena bagiku kedua orang tuaku sudah mati!" Ucap Dave penuh amarah.
Arvina hanya berusaha diam dan menahan sakit di tangannya karena Dave menggenggamnya dengan sangat sangat kuat.
"Dave, berikan kami satu saja kesempatan untuk menebus kesalahan kami. Daddy mohon padamu Dave." Pinta Jeymian mencoba untuk turun dari ranjangnya namun Rexa mencegah.
"Jangan lakukan itu Jey. Kakimu akan semakin parah." Titah Rexa cemas.
"Tidak masalah sayang. Sakit di kakiku bukan apa-apa. Bahkan kehilangan kakiku pun aku rela asal putraku mau memaafkan diriku." Ucap Jeymian.
BUKK
Jeymian terjatuh dari ranjangnya dan tersungkur di bawah.
"Jey.." Rexa panik dan segera membantu suaminya untuk bangun.
Arvina yang merasa prihatin pun terpaksa melepaskan genggaman tangan Dave dan berlari membantu kedua mertuanya.
__ADS_1
"Pelan-pelan." Ucap Arvina membantu Rexa memapah suaminya naik ke atas ranjang.
"Uncle, sebaiknya jangan dipaksa. Kesehatan uncle lebih penting saat ini." Bujuk Arvina kepada Ayah mertuanya.
Dave semakin menatap benci kepada kedua orang tuanya karena istrinya memberi mereka perhatian.
"Istirahat dan tenangkan diri kalian dulu. Bicarakan pelan-pelan nanti." Pinta Arvina sopan.
"Tidak nak. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Aku ingin setidaknya sebelum aku pergi, aku bisa memeluk putraku sekali saja." Ucap Jeymian menitikkan air mata.
Ada perasaan mengganjal di hati Dave saat mendengar Ayahnya mengucapkan kalimat itu.
Arvina menatap Dave sejenak, dan tatapan kebencian Dave tidak berkurang sedikitpun.
"Biarkan aku yang coba bujuk Dave. Kalian tenang saja. Istirahat saja." Ucap Arvina dan kembali menghampiri Dave.
Tanpa banyak bicara Dave langsung membawa Arvina keluar dari ruangan itu.
Dave menarik Arvina dengan sedikit kasar.
"Dave, tanganku sakit." Rintih Arvina sedikit meronta.
Dave tidak mendengar dan terus menarik Arvina hingga sampai di parkiran.
"Kenapa? Untuk apa kau baik pada mereka? Mereka penjahat, mereka tidak pantas kau panggil dengan begitu sopan dan lembut." Bentak Dave penuh amarah.
"Dave, mereka mungkin jahat. Mereka mungkin menyakitimu, tapi semua itu sudah berlalu. Mereka mencoba untuk menebus kesalahan mereka. Apa tidak bisa meski hanya berpura-pura? Apa kau tidak prihatin dengan keadaan Daddy mu?" Tanya Arvina mencoba lebih tenang.
"Mereka tidak pantas dimaafkan!" Ketus Dave.
"Mereka tidak pantas dimaafkan? Lalu kau pantas? Kau layak? Begitukah? Sadar Dave, kau juga bukan manusia suci. Mau aku sebutkan kesalahanmu? Tidak, aku memilih memaafkan dirimu Dave. Bukan hanya karna mencintaimu, tapi aku sadar setiap manusia bisa berbuat kesalahan kapanpun dan mereka bisa mengecewakan kapanpun. Kau selalu egois Dave. Egois dam selalu saja egois hingga akhirnya menyesal dan menangis memohon pengampunan. Apa susahnya mencoba sedikit saja untuk menurunkan egomu dan dengarkan kata hatimu?" Celoteh Arvina menceramahi suaminya.
Dave terdiam dan mencoba mencerna setiap perkataan Arvina.
"Terserah apa mau mu setelah ini Dave! Tapi jangan sampai kau menyesal dikemudian hari seperti sebelumnya dan mencoba memohon pengampunan yang sia-sia!" Ketus Arvina langsung meninggalkan Dave sendirian.
Arvina memilih pulang sendiri menggunakan taxi karena menurutnya Dave butuh waktu untuk sendirian dan merenungkan semuanya. Sifat ego dan keras kepala Dave terlampau besar hingga menutupi rasa prihatin dan empatinya.
"ARGHHH.." Erang Dave frustasi dan menendang ban mobilnya.
Dave masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya pergi dari rumah sakit itu.
...~ TO BE CONTINUE ~...
#####
Dua bab tadi pagi sepi banget yah..
__ADS_1
Meski sepi aku tetap tambahkan satu bab lagi untuk yang setia dan menunggu lanjutannya..makasih buat kalian