
"Amy, dimana Tuan Dave?" Tanya Drick pada kepala pelayan di mansion Dave.
Ia sudah menghubungi Dave daritadi namun tidak ada jawaban.
"Tuan Dave masih tidur, Tuan." Amy menjawab sopan.
"What? Sudah jam delapan dan dia masih tidur? Mimpi apa aku tadi malam?" Gertak Drick heran.
Drick segera berlari naik kekamar Dave.
"Astaga anak ini." Gumam Drick melihat Dave masih sangat pulas.
"Tuan bocah, bangunlah!" Titah Drick pelan.
Dave tidak bergeming sedikitpun.
"Tuan bocah, BANGUN!" Pekik Drick geram lalu menendang kaki Dave.
Dari semua bawahan Dave, hanya Drick yang berani dan diijinkan Dave bersikap seperti itu padanya.
"Kenapa kau sangat tidak sopan pada atasan mu?" Tanya Dave pelan lalu bangun dari tidurnya dan bangkik duduk.
Dave mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Tuan, ini sudah jam delapan dan kau masih tidur? Apa tadi malam kau mengkonsumsi obat tidur lagi?" Tanya Drick bingung.
Ya, saat Dave susah tidur, ia akan memilih untuk mengkonsumsi obat tidur agar membantunya untuk tidur.
"Tidak." Jawab Dave santai lalu turun dari ranjangnya dan berjalan ke kamar mandi.
Drick memilih membantunya menyiapkan pakaian.
"Dia tidak mengkonsumsi obat tidur, tapi dia bisa tidur se nyenyak itu? Aku bingung, kadang mengkonsumsi obat tidur saja dia tidur se nyenyak itu." Gumam Drick bingung.
"Hati yang bahagia." Jawab Dave santai setelah mendengar semua ocehan Drick saat ia keluar dari kamar mandi.
Drick memutar malas matanya.
"Cepat kenakan pakaian mu atau kau akan terlambat untuk rapat akuisisi perusahaan modelling itu." Titah Drick.
Dave hanya menurut.
Dave cukup menghormati Drick karena Drick juga menghormatinya walaupun kadang Drick bermain kasar.
Mereka pun keluar bersama dari kamar Dave dan langsung turun lalu keluar dari rumah Dave tanpa sarapan.
"Drick, perintahkan bawahan mu untuk menjemput kekasih ku nanti siang!" Titah Dave tersenyum.
"Senyum saja terus sampai gigimu menghitam." Gerutu Drick kesal.
Mereka sudah didalam mobil dan Drick yang mengemudi.
"Apa? Oh, kau cemburu karena aku kini mempunyai kekasih sungguhan? Aku tidak menyangka ternyata kau penyuka sejenis. Pantas saja mantan kekasih mu ingin membunuhmu." Ejek Dave menyilangkan tangannya didadanya.
Drick mencengkram kuat setir mobilnya, namun Dave tetaplah atasannya dan orang yang sudah menyelamatkan nyawanya.
"Kenapa tidak aktif?" Tanya Dave bingung saat mendapati nomor ponsel Arvina tidak aktif saat ia menghubungi.
"Perasaan ku jadi tidak enak." Gumam Dave khawatir.
"Kita sampai Tuan. Dan aku mohon sebentar saja fokus pada pekerjaan. Untuk Nona Arvina akan aku atasi." Ucap Drick.
__ADS_1
Drick memang mempunyai sikap yang profesional, berbeda dengan Dave yang bisa mencampur baurkan masalah yang satu dengan masalah lainnya.
Mereka pun turun dari mobil dan melangkah masuk kedalam gedung bertingkat itu.
Perusahaan pertama yang ingin Dave akuisisi secara fisik, bukan hanya ingin menjadi pemegang saham terbesar, Dave bahkan ingin menjadi pemimpin atas perusahaan itu.
Mereka langsung masuk kedalam ruang meeting.
Dave tidak perlu serius mendengarkan apa yang dibahas karena pendengaran yang tajam, lagipula ada Drick yang akan menjadi telinga keduanya, bahkan tubuh penggantinya jika diperlukan.
######
"Baiklah, aku segera keluar." Jawab Ken pada seseorang dibalik panggilan.
Ken pun langsung mematikan panggilan dan keluar dari rumah Arvina.
"Bagaimana, apa uangnya ada?" Tanya Ken gagah.
"Ini bos. Dan ini stok obat tidur yang kau inginkan." Ucap seorang pria bertubuh besar dan menyeramkan sambil menyerahkan segepok uang dan sebuah kotak yang isinya jarum suntik berisi cairan obat tidur.
"Ini kunci mobilnya dan ini surat-suratnya." Ucap Ken menyerahkan kunci mobil dan surat-surat mobil milik Arvina.
"Baiklah. Senang bekerja sama dengan mu." Ucap pria itu lalu pergi dengan mengendarai mobil Arvina.
Ken menjual mobil Arvina.
Segera Ken pun masuk kedalam rumah, tepatnya kedalam kamarnya.
"Lihatlah, kau begitu cantik sayang." Ucap Ken menatap tubuh Arvina yang ia buat setengah telanjang.
Ken bahkan tak ragu menggantikan pembalut Arvina.
Cekrek cekrek
Ken memotret tubuh Arvina.
"Ckckck..bagaimana aku bisa melepaskan mu? Bodoh sekali aku menyuruhmu untuk bersama pria berandal itu." Gumam Ken menatap foto-foto yang ia ambil tadi.
Ken kemudian kembali menyuntikkan obat tidur kepada Arvina.
Ponsel Arvina ia pecahkan menggunakan balok kayu, maka dari itu Dave tidak bisa menghubungi nya.
"Sayang sekali. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka lebih baik kau mati secara perlahan di tanganku." Ucap Ken dengan seringai menakutkan.
Siapa yang menyangka, pria lembut dan pemalu seperti Ken bisa berubah menjadi menakutkan setelah tersakiti.
######
"Sudah selesai?" Tanya Dave kesal karena rapatnya tak kunjung selesai.
"Um..sedikit lagi." Jawab seorang wanita yang menjelaskan dari tad.
Dave mengangguk dan memberi kode untuk dilanjutkan.
Ponsel Dave berdering, dan Dave segera menjawab tanpa peduli yang lainnya.
"Katakan!" Titah Dave dingin.
"Tuan, kekasih anda tidak ku temukan. Bahkan mobilnya pun tidak ada dan pintu rumahnya dikunci." Jelas anak buahnya dari balik panggilan.
"Kau sudah mencoba menekan bel rumahnya atau menggedor?" Tanya Dave mencoba tenang.
__ADS_1
"Sudah Tuan. Tapi rumahnya sangat sunyi dan juga gelap." Jawab anak buahnya lagi.
"Sial, apa dia membohongi ku dan melarikan diri?" Gumam Dave geram.
"Kau terus pantau keadaan di sana dan sekitarnya. Jika ada pergerakan segera hubungi aku." Titah Dave menahan amarahnya.
"Baik Tuan." Panggilan pun berakhir.
"Aku sudah tidak mood. Drick kau saja yang teruskan!" Titah Dave kesal.
Ia pun keluar dari ruangan rapat tersebut dan memilih pergi dari gedung itu.
Dave memilih pergi ke rumah Arvina untuk memastikan sendiri apa yang dikatakan anak buahnya.
Dave memilih untuk menaiki Taxi karena ia tidak mungkin membawa mobil dan meninggalkan Drick tanpa kendaraan walaupun Drick bisa menggunakan taksi, tapi ia tidak tega pada Drick.
Tak berselang lama, ia pun sampai didepan rumah Arvina.
"Tuan." Sapa anak buahnya yang menunggu didepan rumah.
Dave melangkah hingga kedepan pintu rumah Arvina dan mencoba menekan bel rumah Arvina.
Belasan kali namun tak ada jawaban, kin ia memilih untuk menggedor pintu rumah tersebut namun tetap tidak ada jawaban.
Ia mencoba mengintip dari sebuah lobang kecil diatas pintu itu dan didalam rumah semuanya gelap.
Ken begitu pandai membuat keadaan seolah Arvina sudah kabur.
"Apa dia kabur?" Tanya Dave mencoba berpikir positif.
Dave kemudian meraih ponselnya lalu menghubungi Angelo.
"Apa gadisku bekerja hari ini?" Tanya Dave tanpa basa basi.
"Tidak Tuan, aku kira dia bersamamu." Jawab Angelo dari balik panggilan.
Dave segera mematikan panggilan dan meminta kunci mobil pada anak buahnya dan ia segera kembali kerumahnya untuk menemui Arzena.
Tak berselang lama ia kembali sampai dirumah nya.
Ia langsung masuk kedalam rumah menuju kamar yang ia peruntukan untuk Arzena.
"Hei bi*ch, apa kau tahu sesuatu tentang tempat yang akan dikunjungi gadisku saat ia suntuk mungkin?" Tanya Dave.
"Tidak. Aku tidak tahu tentang itu. Kenapa?" Tanya Arzena bingung.
Arzena sedang sadar dan juga tidak sakaw.
"Apa dia melarikan diri?" Gumam Dave.
"Kakakku tidak seperti itu. Dia orang yang bertanggung jawab dengan perkataannya. Jika saat ini dia tidak ada, mungkin saja dia sedang menenangkan diri." Ucap Arzena membela kakaknya.
Bagaimanapun juga Arzena tetap menyayangi Arvina.
"Bersabarlah sebentar dan tunggu sedikit saja. Mungkin saja kakakku sedang berada disuatu tempat untuk menenangkan diri. Dia sudah banyak menderita akhir-akhir ini." Ucap Arzena.
Dan Dave langsung keluar dari kamar Arzena.
"Semoga saja kau benar dan aku yang salah Arzena." Batin Dave.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1