
Setelah mendapat kabar bahwa Ken sedang dalam bahaya dari Keanu, Arvina langsung bergegas mengajak Dave pergi untuk menemukan Ken.
Arvina jelas tidak ingin Ken mati konyol sebelum mengetahui apapun dan sebelum mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Arvina bukan wanita yang tega meski ia membenci seseorang.
Dan di sinilah Dave dan Arvina berada sekarang. Di rooftop sebuah gedung tua terbengkalai.
Ken sedang di todong oleh sekelompok orang yang adalah kelompok gangster kecil di kota itu. Kelompok gangster yang selalu mencari aman dan tidak ingin berurusan dengan Dave tapi memegang prinsip "Siapapun yang bersalah kepadanya, maka tiada ampun baginya."
"Jarod, lepaskan dia!" Titah Dave menodongkan pistolnya ke arah Jarod.
"Tuan Dave, apa urusannya dia denganmu? Dia adalah korban ku. Jadi terserah aku mau apakan dia?" Ucap Jarod geram.
"Katakan! Katakan apa kesalahannya dan dengan apa aku bisa menebusnya!?" Titah Dave lagi.
Ken sudah berdiri ketakutan dengan kedua tangan terangkat ke atas.
"Dia mencoba membawa kabur barang-barang yang seharusnya aku jual dan mendapatkan keuntungan. Membuatku menerima kerugian yang cukup fantastis dengan memalsukan data penjualan dan keuntungan yang diterima. Lalu apa? Kau ingin aku memaafkan bedebah bangsat ini? Maaf Tuan Dave, kau tahu prinsipku seperti apa bukan? Dan aku juga tidak akan mengganggu jika tidak diganggu." Ucap Jarod panjang lebar.
"Jarod, aku bisa ganti berapapun nominal kerugian yang kau alami. Tapi lepaskan dia! Kau tidak perlu membunuhnya!" Titah Dave geram.
Arvina dilindungi oleh Dave di belakangnya.
"Cih..kenapa kau sangat ingin melindungi pria bodoh dan lemah itu? Siapa dia bagimu? Tidak mungkinkan jika dia kakakmu atau adikmu?" Tanya Jarod beruntun seolah sengaja memancing kemarahan Dave.
"Dia kakakku! Jangan sentuh kakakku!" Titah Dave lantang.
Ken langsung menoleh menatap Dave dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada perasaan aneh saat mendengar Dave mengakuinya sebagai kakak, meski tidak tahu itu tulus atau terpaksa.
"Kakakmu? Kenapa kakakmu lemah Tuan Dave? Cih..tidak sehebat dan sekuat dirimu." Ucap Jarod meremehkan.
"Terserah kau! Tapi faktanya memang begitu, dia adalah kakakku! Lepaskan dia dan kalian aman juga akan mendapatkan bayaran ganti rugi tiga kali lipat!" Titah Dave lantang.
"Hah, sayang sekali. Padahal tanganku sangat gatal ingin menembak kepalanya." Ucap Jarod remeh.
"Baiklah, kita pergi!" Ajak Jarod kepada anak buahnya.
Jarod mengajak para anak buahnya berbalik dan hendak meninggalkan rooftop gedung itu.
DOORR DOORR
Salah satu anak buah Jarod berbalik dan melepaskan tembakan ke arah Ken.
"KEN AWAS!" Teriak Arvina.
Tanpa berpikir panjang, Dave segera berlari ke arah Ken dan menghadang peluru itu hingga Dave yang menjadi korban tembakan itu.
"Dave.." Lirih Arvina langsung bersimpuh di samping Dave yang terkapar dengan darah segar mengalir dari dadanya.
Jarod dan para anak buahnya pergi begitu saja tanpa rasa bersalah.
"Bodoh! Panggil ambulance!" Titah Arvina geram kepada Ken.
Ken masih diam mematung dengan tubuh bergetar.
__ADS_1
"KEN! APA KAU INGIN ADIKMU MATI?" Teriak Arvina lantang.
Dave sudah tidak sadarkan diri.
Mendengar teriakan Arvina, Ken segera meraih ponselnya gelagapan.
Ia segera menelpon pihak rumah sakit terdekat untuk meminta dikirimkan ambulance.
Tidak sampai dua puluh menit, ambulance datang dan segera mengevakuasi Dave.
"Nona, maaf tapi Nona tidak bisa ikut kami. Ambulance yang kami gunakan terlalu kecil untuk menampung banyak orang karena keadaan darurat tadi." Jelas seorang perawat pria mencegah Arvina ikut serta ke dalam ambulance.
Arvina mengerti.
"Baiklah, aku akan menggunakan mobilku." Ucap Arvina.
Ambulance pun meluncur meninggalkan tempat itu
Ken yang sedari tadi terdiam kini mencoba untuk mencari celah agar bisa kabur dari Arvina.
"Jangan berharap kali ini kau bisa kabur lagi, bodoh! Ikut aku!" Ketus Arvina berhasil menarik baju Ken dari belakang dan dengan kasar Arvina mendorong Ken masuk ke dalam mobil.
Tanpa menunggu lama, Arvina mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Arvina, lepaskan aku! Aku bukan orang yang kalian cari! Aku bukan kakak Dave!" Pinta Ken merayu.
"DIAM!" Bentak Arvina kesal.
Mereka akhirnya sampai di rumah sakit dan segera menuju ke ruang operasi.
Ken masih berusaha kabur, hingga terpaksa Arvina memborgol tangan Ken bersama tangannya menggunakan borgol yang Arvina dapatkan dari dalam mobil Dave tadi.
"Arvina aku mohon, lepaskan aku! Aku tidak ingin mati di tangan Dave!" Pinta Ken memelas.
"Lebih baik kau mati di tangan adikmu daripada mati di tangan orang lain." Ucap Arvina kejam.
Ken menelan kasar salivanya. Ia tidak menyangka Arvina bisa mengatakan hal sekejam itu mengingat Arvina adalah sosok perempuan yang lembut meski dengan penampilan yang cenderung boyish.
Ken akhirnya memilih diam dan menurut.
Arvina merogoh ponselnya dari saku celananya dan menghubungi Drick.
"Drick, aku minta bantuan mu sebelum kau berangkat ke London!" Pinta Arvina tegas.
"Katakan saja Nyonya! Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin." Titah Drick serius.
"Temui Jarod dan anggotanya, selesaikan semua masalah yang Ken ciptakan! Bayar berapapun nominal ganti rugi yang mereka sebutkan! Dan lukai anak buahnya yang sudah melukai Dave tadi!" Titah Arvina geram.
Entah kenapa Arvina saat ini seolah dikuasai oleh dirinya yang lain.
"Dave terluka? Kalian dimana sekarang? Dan kau menyebut Ken dan Jarod?" Tanya Drick beruntun.
"Lakukan saja perintah ku!" Ucap Arvina langsung memutus panggilan sepihak.
__ADS_1
Ken benar-benar tidak habis pikir Arvina bisa mempunyai sisi kejam seperti itu.
Menunggu hampir lima jam akhirnya lampu merah di atas pintu ruangan operasi dimatikan pertanda proses operasi telah selesai.
Tak lama seorang dokter keluar dari ruangan operasi dan menghampiri Arvina dan Ken.
"Bagaimana keadaan suamiku dokter?" Tanya Arvina cemas.
Dokter tersebut tersenyum.
"Peluru hanya mengenai dada suamimu, Nona dan itu tidak dalam. Hanya saja suamimu sempat mengalami syok karena kehilangan banyak darah tadi, tapi semuanya sudah bisa kami tangani dan suamimu sudah dalam keadaan normal." Jelas dokter itu.
Arvina akhirnya bisa bernafas lega.
"Terima kasih dokter." Ucap Arvina.
"Sebentar lagi suamimu akan dipindahkan ke ruang perawatan. Kau bisa melihat dan menemaninya dengan lebih leluasa di sana. Kalau begitu aku permisi dulu." Ucap dokter itu tersenyum.
Arvina hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kau dengar sendiri bukan? Suamimu baik-baik saja! Sekarang lepaskan aku!" Pinta Ken lagi.
"Menurut saja jika kau ingin bertemu dengan Ibu kandungmu!" Titah Arvina mengangkat tangannya ingin memukul Ken namun ia urungkan.
Mendengar kata Ibu kandung membuat wajah Ken menjadi sendu.
"Apa sungguh aku masih mempunyai Ibu?" Tanya Ken sendu.
"Kau masih mempunyai Ibu. Tapi maaf, Ayahmu sudah tiada karena dihukum Daddy Derex." Ucap Arvina terus terang.
"Kenapa Ayahku dihukum?" Tanya Ken penasaran, ia tidak marah karena ia tahu Derex bukan tipe yang menghukum tanpa alasan.
"Hah, Ayahmu itu gila dan menyiksa Mommy ku saat Mommy ku sedang mengandung kak Ar." Jawab Arvina kesal.
Mendengar itu, Ken hanya menunduk sedih.
"Sudahlah! Tidak terlambat untuk memperbaiki hubunganmu dan Dave." Ucap Arvina menenangkan.
Tak lama beberapa perawat membawa Dave keluar dari ruang operasi menuju ke ruang perawatan.
Arvina dan Ken mengikuti dari belakang.
"Terima kasih." Ucap Arvina setelah para perawat mempersilahkan dirinya dan Ken melihat Dave.
Dave masih tertidur.
Arvina akhirnya memilih melepaskan borgol yang yang mengikatnya dan Ken.
"Aku akan keluar sebentar untuk membeli makanan dan minuman. Kau tunggu di sini! Jika kau coba-coba kabur, maka nikmati saja sisa hidupmu di jalanan dan jangan pernah berharap untuk bertemu dengan Ibu kandungmu lagi!" Ancam Arvina.
Ken hanya mengangguk pasrah. Arvina segera keluar dari ruang perawatan Dave untuk membeli beberapa makanan dan minuman.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1