TWINS (Belenggu Gangster Kejam)

TWINS (Belenggu Gangster Kejam)
Kabur?


__ADS_3

Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Velano dan Raina akhirnya tiba juga.


Ya, hari ini mereka akan melangsungkan upacara pernikahan dan membangun keluarga kecil mereka.


Meski ada sesuatu yang membuat mereka bersedih, tapi hal itu tidak mengurangi kebahagiaan mereka sedikitpun.


Raina tampak anggun dalam balutan gaun pengantin model off shoulder, hanya saja wajahnya sedikit pucat meski sudah diakali dengan make up.


Raina sempat mengalami morning sickness yang cukup parah tadi pagi.


Kini Raina sedang menatap bayangannya di cermin.


Ia sangat sempurna, namun ada kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan.


Menikah dengan pria yang ia cintai, namun mengandung benih pria lain yang tidak ia inginkan.


"Kau bisa Raina!" Gumam Raina menyemangati dirinya sendiri.


Raina mencoba memalsukan senyumannya.


"Princess, kau sangat cantik." Puji Jack yang masuk bersama Liz, Derex, dan Alice.


"Thank you, Dad." Raina memeluk erat Ayahnya.


"Selamat untukmu sayang. Semoga kau bahagia." Ucap Alice memeluk putri kandungnya itu.


Jack dan Alice masih menjaga hubungan baik, dan Derex pun sudah tidak se-cemburu dulu lagi.


"Dad, bisakah mengambil fotoku bersama Daddy dan Mommy ku sebelum upacara pernikahan?" Tanya Raina kepada Derex.


"Sure Princess." Jawab Derex.


Derex mengeluarkan ponselnya dan memotret Raina diapit oleh kedua orang tua kandungnya.


"Ini sempurna." Puji Derex sambil memberikan ponselnya kepada Raina.


Raina menitikkan air matanya, entah karena haru atau apapun itu.


Ia merasa seolah akan kehilangan atau berpisah dengan orang tua dan keluarga besar mereka.


"Hei, jangan menangis seperti ini! Kau harus bahagia sayang!" Liz menghampiri Raina dan menyeka air matanya dengan tissu.


"Thanks, Mom." Raina memeluk erat Liz.


Meski Alice adalah Ibu kandungnya, tapi secara kedekatan, ia lebih dekat dengan Liz yang adalah bibi sekaligus Ibu sambungnya.


"Maaf mengganggu waktunya. Tuan dan Nyonya selaku orang tua dari Nona Raina, kalian diminta untuk menuju ballroom hotel sebentar dan melakukan beberapa sesi pemotretan tanpa pengantin." Seorang pria berbicara dari ambang pintu dan menatap Raina dengan tatapan sulit di artikan.


"Ohw, baiklah." Sahut Jack.


"Sayang, kami pergi sebentar. Daddy akan kembali untuk menjemputmu sebagai Tuan Putri nanti." Ujar Jack sambil memeluk singkat Raina dan mencium singkat pipinya.


"Em..aku akan menunggu di sini, Dad." Jawab Raina tersenyum.


Keempat orang tuanya pun keluar meninggalkan dirinya sendirian.

__ADS_1


"Kau bisa Raina, kau pasti bisa!" Raina membalikkan badannya sekali lagi menghadap cermin dan menatap pantulan bayangannya.


"Nona Raina!"


••••••••••••••••••


"Wow, pengantin pria gagah sekali." Darvin memuji Velano.


Darvin dan Zevina memang dilibatkan mengingat bagaimana sayang dan terobsesi nya Raina dulu kepada Zevina.


"Thanks, uncle." Ucap Velano tersenyum bahagia.


"Hei, nanti malam lakukan dengan hati-hati! Jangan menyakiti anak gadisku!" Ucap Zevina menggoda Velano.


Velano tersenyum kecut namun tidak benar-benar ia tampilkan.


"Aku tidak mungkin menyakiti Raina, Mom." Sahut Velano.


Velano memanggil Zevina Mommy karena mengikuti Raina.


"Oh hai.." Jack menghampiri Darvin dan Zevina kemudian memeluk mereka bergantian.


"Selamat bung, sebentar lagi kau akan menjadi kakek." Ucap Darvin.


"Cih..putriku baru akan menikah." Ujar Jack meninju pelan perut Darvin.


"Dad, Mom, kalian semua kenapa kemari?" Tanya Velano bingung.


"Um, tadi ada salah satu tim EO yang menghampiri kami dan katanya ada sesi foto untuk anggota keluarga tanpa pengantin." Jelas Alice.


"Um, sepertinya tidak ada sesi begitu. Aku dan Raina memilih sesi foto bersama setelah kami mengucapkan janji suci kami nanti." Jelas Velano tersenyum bingung.


"Sungguh? Ah, kenapa mereka membuat bingung begini?" Ucap Liz sedikit kesal.


"Ya sudah, sepertinya kita harus menjemput Tuan putri kita sekarang Alice." Ajak Jack sambil melirik jam tangan yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.


Alice dan mengangguk dan keduanya pun keluar dari ruangan ballroom hotel itu.


Para tamu undangan mulai berdatangan dan mengambil posisi duduk mereka termasuk Drick yang datang dengan setelan formal.


Drick menghampiri Velano dengan gagah dan tersenyum menantang, namun wajah Drick sedikit pucat.


"Selamat, bung." Ucap Drick meski Velano melemparkan tatapan penuh kebencian kepadanya.


Drick mendekati Velano dan memposisikan wajahnya di samping telinga Velano.


"Selamat menikmati bekas ku." Ucap Drick tersenyum menghina Velano.


Velano mengepalkan kuat tangannya dan mengeratkan rahangnya.


Ingin sekali Velano menghancurkan Drick jika saja ini bukan hari bahagianya.


Drick kemudian kembali ke tempat duduk yang sudah disediakan.


"VELANO!" Terdengar suara teriakan Jack dan terlihat Jack sedang berlari tergesa-gesa menghampiri Velano.

__ADS_1


"Ada apa Dad? Dimana Raina?" Tanya Velano mencoba tersenyum.


"Raina kabur. Kami menemukan ini di kamarnya." Bisik Jack lalu memberikan selembar kertas kepada Velano.


Velano tergesa-gesa membuka kertas itu dan membaca isinya.


"Velano, maafkan aku! Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku tahu ini pasti berat untukmu, tapi aku tidak sanggup membuatmu kecewa lagi. Yang terjadi di antara kita, lupakan saja! Hiduplah dengan lebih baik tanpa diriku! Jangan dan tidak perlu mencariku! Aku pergi karena memang aku harus pergi. Kita bertemu bukan untuk bersatu! Sekali lagi aku minta maaf."


Velano meremas kasar kertas yang ia pegang.


"Tidak, Raina tidak mungkin melakukan ini!" Velano menggeleng frustasi.


Velano menekan earphone yang terpasang sempurna di telinganya.


"Cari dan geledah diseluruh tempat! Aku yakin dia belum jauh dari sini, lagipula penjagaan sudah diperketat dan tidak ada yang bisa keluar masuk dengan mudah apalagi dia adalah pengantin." Titah Velano kepada seluruh anak buahnya.


"Kau menguji kesabaranku Raina." Batin Velano geram.


Velano memutuskan untuk keluar dari ballroom hotel itu dan ikut turun tangan mencari calon istrinya.


"Kenapa bisa jadi begini?" Liz bertanya bingung menghampiri Jack.


"Aku tidak tahu. Entahlah, tapi aku merasa ini bukan hal yang baik." Ucap Jack gusar.


"Ada apa Mom?" Tanya Jacki yang baru saja sampai.


"Maaf aku terlambat." Ucap Jacki memeluk Liz singkat.


"Kakak mu menghilang dan hanya meninggalkan selembar surat. Bahkan ia pergi tanpa membawa apapun selain kartu Identitas dan passport serta surat berharga lainnya." Jelas Liz sedih.


"Kak Raina kabur? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Tanya Jacki khawatir.


"Entahlah. Tapi sedari tadi dia memang bersikap sedikit aneh." Jawab Jack memijat keningnya.


"Ya sudah, aku akan bantu Kak Velano untuk mencari kakak." Jacki pun keluar dari ruangan itu untuk menyusul Velano.


"Indah bukan kado pernikahan yang aku berikan kepada kalian?" Batin Drick mengulum senyumnya.


Satu jam kemudian, Velano kembali ke ruang ballroom hotel dengan wajah kecewa sekaligus marah.


"Bagaimana?" Tanya Derex khawatir.


Para tamu undangan sudah tidak ada lagi termasuk Drick.


Darvin dan Zevina masih tinggal untuk menemani para kakak dan kakak ipar mereka.


"Tidak ada di seluruh hotel. Tapi aku janji, aku pasti akan menemukan Raina ku." Jawab Velano.


"Aku harap putriku baik-baik saja." Gumam Alice sedih.


"Ya sudah, sebaiknya kita pulang dan mencari di luar saja." Ajak Derex menuntun Alice keluar dari ruangan itu di susul yang lainnya.


"Semoga kau bukan sengaja kabur Raina! Aku muak dengan tingkah kekanak-kanakan mu!" Batin Velano geram.


...~ TO BE CONTINUE ~...

__ADS_1


__ADS_2