
"Hoam.." Arvina menguap kecil dan terbangun dari tidurnya.
Arvina langsung saja memutar malas kedua matanya menyadari Aston tertidur pulas memeluk dirinya.
"Awas saja jika suamiku datang nanti, hal pertama yang akan ku potong adalah tanganmu!" Gumam Arvina.
"Potong saja! Memang adalah salahku menginginkan milik orang lain." Sahut Aston malah mengeratkan pelukannya.
"Arghh..." Aston mengerang kesakitan karena Arvina menggigit tangannya dengan sangat kuat.
"Blekk.." Arvina menjulurkan lidahnya dan turun dari ranjang.
Arvina berjalan lalu membuka pintu balkon kamar itu dan melangkah keluar untuk menghirup udara pagi yang segar.
Aston tak mau ketinggalan dan segera menyusul. Ia memeluk Arvina dari belakang.
CUP
Aston memberikan kecupan manis di puncak kepala Arvina.
"Morning kiss." Ucap Aston.
Arvina berbalik dan menghadap Aston.
"Bolehkah aku bermain di pantai?" Tanya Arvina memasang tampang memelas.
"Tentu saja, tapi aku yang temani!" Jawab Aston menggosok hidungnya pada hidung Arvina.
"Sekarang bersihkan dirimu, lalu kita sarapan!" Titah Aston mengelus pipi Arvina.
Arvina menurut dan dengan girang berlari masuk ke kamar mandi.
Aston tersenyum bahagia melihat keceriaan Arvina meski ia yakin Arvina tertekan.
"Aku janji tidak akan menyakitimu selama kau bersikap manis!" Gumam Aston.
Ia juga memilih segera membersihkan diri dan memakai kamar mandi lain yang ada di luar kamar.
Setengah jam kemudian ia dan Arvina sama-sama selesai.
"Damn.." Celetuk Aston tak sengaja melihat Arvina yang masih belum mengenakan pakaian namun ditutupi handuk.
Aston memilih keluar dan menunggu di depan pintu.
"Seharusnya aku memisahkan pakaian ku setengahnya." Gumam Aston mulai merasa kedinginan.
"Sayang, kau sudah selesai?" Tanya Aston dengan suara mulai gemetar.
"Sudah!" Jawab Arvina dari dalam.
Aston segera masuk ke dalam kamar dan memilih asal pakaian yang sedikit lebih tebal dan mengenakannya.
"Aku sudah." Ucap Aston saat ia melihat Arvina memejamkan matanya dengan kuat.
"Huf..." Arvina menghela nafas lega.
"K kau kenapa gemetar seperti itu?" Tanya Arvina sedikit khawatir.
Bukan cinta, Arvina hanya merasa khawatir karena ia merasa Aston bukanlah pria yang berbahaya selama dirinya bersikap manis.
Aston menggeleng pelan.
Entah kenapa, Arvina masih saja khawatir hingga ia berinisiatif menghampiri Aston dan memberikan pelukan.
"Apa aku yang membuatmu kedinginan seperti ini? Maaf." Ucap Arvina merasa bersalah.
__ADS_1
Arvina adalah perempuan lembut yang bisa baik kepada siapa saja yang juga baik dengannya. Bahkan sekalipun orang itu jahat, Arvina mungkin saja masih bisa baik. Sifat dan sikap Arvina saat dewasa sama persis dengan Zevina.
Aston tersenyum dan membalas pelukan Arvina.
"Ayo kita sarapan, aku sudah tidak apa-apa." Ajak Aston melepaskan pelukannya.
Aston mempersilakan Arvina berjalan di depannya.
Mereka kini berada di ruang makan dan menyantap sarapan mereka tanpa ada obrolan.
"Tuan Aston, apa kau tidak perlu pergi dari pulau ini untuk melakukan pekerjaanmu?" Tanya Arvina ragu.
"Kenapa? Apa kau merencakan untuk kabur saat aku tidak di sini?" Tanya Aston menatap Arvina.
"Bukan seperti itu. Sekalipun kau tidak di sini, bagaimana caranya aku kabur?" Ucap Arvina memelas.
"Kau tidak perlu kabur. Sudah aku bilang, aku yang akan membebaskan dirimu saat kau sudah mencintaiku." Sahut Aston tersenyum.
Arvina memutar malas matanya dan kembali menyantap makanannya.
"Pekerjaanku bisa dikerjakan dari mana saja." Ujar Aston.
Arvina hanya mengangguk pelan.
Selesai sarapan, Aston memutuskan untuk langsung membawa Arvina berjalan menikmati pemandangan pantai.
"Waaaaa...." Arvina berteriak bahagia sambil berlari ke arah pantai.
"Tuan Aston, apa jika aku memasang tanda SOS di sini, akan ada yang bisa melihatnya?" Tanya Arvina yang sebenarnya hanya mencari topik obrolan dengan Aston.
Ia percaya Aston tidak semenakutkan wajahnya.
"Coba saja sayang. Jika ada yang melihat tanda darimu, maka aku akan mengijinkan mu pergi." Jawab Aston santai sambil berjalan ke arah Arvina.
Arvina dengan bahagia bermain di tepi pantai ditemani ombak. Aston duduk di atas sebuah kayu besar dan memperhatikan setiap gerak gerik Arvina.
Ia kemudian meraih ponselnya dan memotret Arvina dan segala keseruannya.
"Sungguh, kau sangat indah Arvina. Kenapa Tuhan begitu tidak adil menciptakan sesuatu yang indah hanya untuk orang lain dan bukan untukku?" Gumam Aston melihat foto-foto indah Arvina.
Aston memutuskan untuk menghampiri Arvina yang sedang merentangkan tangannya menyamping.
Aston melingkarkan tangannya di pinggang ramping Arvina.
"Aku mencintaimu Arvina. Jadilah milikku!" Ucap Aston lembut.
Arvina hanya diam. Tidak mungkin dia menjawab iya, sedangkan hati dan cintanya untuk Dave. Tapi jika menjawab tidak, Arvina takut Aston akan menggila.
Aston memilih mengerti dengan diamnya Arvina.
"Cobalah sedikit saja!" Pinta Aston lagi.
"Aku tidak ingin memberimu harapan palsu yang jelas hanya akan menambah sakit hatimu nanti." Ujar Arvina pelan.
Aston tersenyum dan membalikkan Arvina.
"Aku tidak akan menyerah! Aku akan mendapatkan hatimu, tapi tidak akan menggunakan cara kotor. Aku akan berjuang dengan cara yang benar." Aston kembali memberi kecupan manis di kening Arvina.
Arvina tersenyum.
"A aku boleh bertanya sesuatu?" Tany Arvina ragu.
Aston mengangguk.
"Apa kau tidak berniat menyembuhkan wajahmu dan matamu?" Tanya Arvina dan langsung menunduk takut. Ia takut pertanyaannya akan menjadi hinaan untuk Aston.
__ADS_1
Tapi di luar dugaan, Aston memegang lembut dagunya agar menatapnya.
"Apa aku terlihat sangat mengerikan seperti ini?" Tanya Aston lembut.
"Ti tidak. Bukan begitu. Hanya saja ... maaf maaf, aku tidak bermaksud menghinamu." Jawab Arvina gelagapan karena mengira Aston sedang marah.
"Kau kenapa? Aku tidak marah. Aku akan menyembuhkan mereka jika kau memintaku." Ucap Aston kembali memeluk Arvina.
"Gila! Jika seperti ini terus, bisa-bisa aku nyaman dalam pelukannya." Batin Arvina.
"Hari sudah mulai panas, apa mau pulang?" Tanya Aston melepaskan pelukannya.
Arvina mengangguk.
Aston meraih tangan Arvina ke dalam genggamannya dan mereka berjalan beriringan untuk kembali ke kastil.
"Argh..." Arvina mengerang kesakitan tiba-tiba.
"Apa? Ada apa?" Tanya Aston panik.
"Aku menginjak sesuatu, sepertinya beling." Jawab Arvina berjongkok perlahan.
Tidak mengijinkan Arvina berjongkok, Aston langsung menggendong Arvina untuk masuk ke dalam kastilnya.
Ia mendudukkan Arvina dengan hati-hati di sofa. Segera ia mengambil kotak obat dan mengobati kaki Arvina yang ternyata memang tertusuk beling.
"Sshh.." Arvina meringis perih.
"Tahan sebentar!" Titah Aston khawatir dan segera menyelesaikan proses pengobatannya. Ia membalut telapak kaki Arvina dengan perban.
"PELAYAN, BERKUMPUL!" Teriak Aston dengan suara mencekam.
Para pelayan di kastil itu segera berkumpul dan menunduk takut.
"Siapa yang bertugas membersihkan kastil ini?" Tanya Aston geram.
Ada dua pelayan yang mengangkat tangan.
Dengan gerakan cepat, Aston mencekik kedua perempuan mungil itu bersamaan.
Arvina terbelalak kaget melihat tindakan gila Aston. Hampir berjam-jam bersamanya tadi, Aston sangat lembut dan penuh kasih sayang, tapi sekarang ia terlihat beringas dan sangat kejam.
Kedua pelayan yang di cekik Aston, menggelepar seperti ikan yang butuh air.
"Aston, lepaskan!" Titah Arvina.
Aston tidak menghiraukan.
"Jika tidak bisa bekerja, lebih baik mati!" Ucap Aston geram.
Arvina berusaha bangkit dengan menahan sakit kakinya dan memeluk Aston dari belakang.
"Aku mohon, jangan membunuh mereka! Jika kau masih ingin aku bersikap manis padamu, jangan bunuh mereka. In hanya luka kecil, tidak sebanding jika sampai kau membunuh mereka." Bujuk Arvina dengan suara bergetar dan benar saja, Aston langsung melempar kedua pelayan itu hingga terhuyung ke belakang.
"Bawa pergi dan obati lukanya!" Titah Aston dingin.
Aston menarik Arvina kedepannya dan memeluknya erat. Arvina benar-benar seperti obat penenang untuknya.
"Maaf membuatmu takut." Pinta Aston mengelus rambu panjang Arvina.
Arvina hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Dave, maafkan aku!" Batin Arvina.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1