
"Kenapa dia memelukku begitu erat?" Gumam Arvina sedikit kesal saat merasakan pelukan Dave yang sangat erat hingga membuatnya sedikit susah bernafas.
Dave memeluknya sepanjang malam tanpa memberinya celah untuk sekedar menjaga jarak.
"Bau sekali!" Gumam Arvina lagi karena bau alkohol masih sangat kuat menguar dari tubuh Dave meski tadi malam ia sudah memaksa Dave untuk mandi hingga tiga kali, bahkan Arvina menunggu hingga ia tertidur duluan.
"DAVE!" Teriak Arvina membuat Dave tersentak dan langsung bangun dari tidurnya.
"Ada apa? Mana yang sakit? Siapa yang mengganggumu?" Tanya Dave khawatir sambil memeriksa keadaan istrinya.
"Kau yang menggangguku. Memelukku dengan sangat erat hingga aku rasanya akan mati karena sesak nafas." Ketus Arvina lalu turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi sambil menghentakkan kakinya.
Dave menggeleng dan tersenyum gemas melihat tingkah lucu istrinya.
Di dalam kamar mandi, Arvina segera memberikan dirinya karena hari memang sudah pagi.
Selesai membersihkan dirinya, Arvina keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya.
"Kemana dia?" Gumam Arvina bertanya-tanya saat tidak melihat keberadaan Dave.
Arvina pun segera mengenakan pakaiannya dan mengeringkan rambutnya yang masih setengah basah.
Setelah dirasa semua selesai, Arvina memilih untuk turun ke bawah.
"Oh..woo..." Arvina kaget saat ia hendak membuka pintu kamarnya namun tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dari luar hingga membuatnya hampir terjungkal ke belakang.
"Oh..maaf sayang. Aku tidak tahu kau di balik pintu." Ucap Dave tersenyum manis.
"Em..Dave. sebaiknya kau mandi dulu! Kau masih sangat bau minuman keras." Titah Arvina sambil menutup hidungnya.
Dave tersenyum dan menurut.
"Baiklah, aku akan mandi. Kau sarapan lah dulu." Ujar Dave kemudian memberikan kecupan manis pada kening Arvina.
Dave segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya, dan Arvina menikmati sarapannya yang sudah Dave bawakan tadi.
Satu jam kemudian Dave keluar dan langsung menghampiri istrinya.
"Apa masih bau?" Tanya Dave cemas.
Arvina tampak mengendus-endus.
"Sudah tidak." Jawab Arvina yang sudah selesai menyantap sarapannya dan kini sudah bersantai.
Dave pun segera mengenakan pakaian yang sudah disiapkan Arvina.
Setelah itu ia duduk di tepi ranjang dan menyantap sarapannya yang memang disisakan Arvina dan merupakan bagian Dave.
"Pelan-pelan Dave! Tidak ada yang akan merebutnya darimu." Ujar Arvina saat Dave memakan dengan sangat lahap dan cepat.
"Aku sudah sangat lapar. Sudah lama aku tidak makan." Jawab Dave dengan polosnya.
Wajah Arvina yang sedaritadi datar, kini berubah menjadi sendu namun Dave belum menyadarinya.
__ADS_1
Selesai menyantap sarapannya, Dave akhirnya duduk di samping Arvina, menyandarkan tubuh kekarnya yang kini sangat kurus di kepala ranjang.
Tanpa aba-aba Arvina langsung memeluk suaminya.
"Dave, maafkan aku." Pinta Arvina dengan air mata yang mulai menetes.
"Untuk apa? Apa salahmu? Dengan kau mau kembali padaku, otomatis aku memaafkanmu. Aku tidak keberatan meski kau sedang hamil benih pria lain." Ucap Dave.
Dave rupanya tidak mendengar dengan jelas apa yang Aston beritahukan kepadanya kemarin.
Arvina menggeleng.
"Bukan tentang itu. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Tapi ... " Arvina menghentikan perkataannya dan menarik nafas panjang.
"Aku tidak bisa memberimu anak, aku tidak bisa memberimu keturunan." Lanjut Arvina dalam satu tarikan nafas.
Usapan lembut dari Dave di bahunya langsung terhenti.
Dave melepaskan pelukan Arvina dan kini membawa wanitanya itu untuk menatapnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Dave cemas.
"Aku...aku mandul Dave. Aku tidak bisa hamil, aku tidak bisa memberimu keturunan." Jawab Arvina dengan menunduk.
Dave seketika mematung mencerna semua perkataan Arvina.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi wanita sempurna untukmu. Aku cacat. Jika kau ingin menceraikan diriku, aku tidak keberatan Dave." Ucap Arvina kembali menunduk dan menyembunyikan wajahnya yang sudah sembab itu.
"Sejahat itukah aku dimatamu? Apa aku tampak seperti pria yang mengejar keturunan darimu?" Tanya Dave dengan nada yang sulit di artikan.
"Tapi kau sangat ingin punya anak Dave." Ucap Arvina dengan suara parau.
Dave kembali memeluk erat istrinya.
"Jangan bodoh sayang! Jika memang tidak bisa, untuk apa aku memaksamu? Aku mencintaimu, bukan hanya untuk mendapatkan keturunan tapi yang terutama adalah dirimu." Ucap Dave sendu.
"Maafkan aku Dave, maafkan aku." Pinta Arvina juga memeluk erat suaminya.
"Sudah, jangan meminta maaf terus! Bukan kau yang bersalah, tapi keadaan yang belum memungkinkan. Aku yakin pasti ada jalan untuk kau sembuh." Bujuk Dave kepada Arvina.
"Maafkan aku." Pinta Arvina lagi.
"Jika kau meminta maaf lagi, maka aku akan memakan mu saat ini juga." Ancam Dave kesal.
"Bukankah itu memang yang kau inginkan?" Tanya Arvina menggoda suaminya.
Dave tersenyum licik.
"Memang itu yang aku inginkan." Jawab Dave langsung mengecup leher jenjang Arvina.
Tok tok tok
Pintu kamar mereka diketok dari luar membuat Dave mau tak mau harus menghentikan aksi cabulnya.
__ADS_1
Dave segera turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Eriko? Kau menganggu kesenanganku saja." Tanya Dave kesal sambil menggerutu.
"Maaf Tuan sudah mengganggu. Tapi pria bernama Ken yang Tuan sekap itu kini sedang demam tinggi. Jadi aku ingin bertanya apa tindakan yang harus aku ambil?" Tanya Eriko dengan sopan.
"Panggilkan dokter untuknya dan keluarkan dia ke kamar!" Titah Arvina dan mendekati Dave.
"Baik Nona." Eriko pun pamit dan melakukan perintah Arvina.
"Hei, untuk apa kau memanggilkan dokter untuknya? Kau lupa bagaimana dia memperlakukan dirimu dan adikmu?" Tanya Dave kesal setelah menutup pintu kamarnya.
"Dave, dia begitu semua karena kita. Apa kau tidak sadar, dia kehilangan pekerjaan karena dirimu. Aku juga bersalah karena memilihmu meski aku tahu dia tidak mencintaiku dan hanya terobsesi karena aku baik padanya. Tapi semua kejahatan yang dia lakukan, semua itu awalnya dari kita." Ucap Arvina meraih tangan Dave ke dalam genggamannya.
"Tapi aku tidak ingin dengan kau berbuat baik padanya, dia akan semakin menjadi." Ketus Dave hendak melepaskan tangannya dari Arvina namun Arvina menahannya.
"Percaya padaku. Ijinkan aku yang berbicara dengannya." Pinta Arvina lembut.
Dave terlihat ragu.
"Baiklah, tapi kau harus mejaga jarak minimal tiga meter darinya." Ucap Dave akhirnya memberi ijin.
"What? Tiga meter? Kenapa tidak sekalian aku disuruh berbicara tanpa masuk ke dalam kamar?" Ketus Arvina kesal.
"Ah, itu lebih baik sayang. Jadi aku tidak perlu khawatir lagi." Dave menimpali dengan tersenyum manis.
"Kau ini.." Arvina langsung menggelitik perut Dave membuat Dave tertawa terbahak-bahak.
Tok tok tok
Pintu kamar mereka kembali diketok.
Dave segera membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" Tanya Dave dingin kepada Amy.
"Maaf Tuan, tapi di bawah ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Tuan." Ucap Amy sopan.
"Siapa?" Tanya Dave dingin.
Dave tidak merasa dirinya mempunyai urusan dengan perempuan mana pun.
"Beliau tidak menyebutkan nama Tuan. Dilihat dari penampilannya, beliau seperti seumuran dengan Mommynya Nona Vina." Jelas Amy sopan.
"Mengganggu sekali." Ketus Dave dan langsung keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.
Arvina memilih mengikuti dari belakang.
"Siapa kau?" Tanya Dave kesal pada wanita yang sedang berdiri membelakanginya.
Wanita itu berbalik.
Melihat wanita itu membuat Dave mengepalkan kuat kedua tangannya.
__ADS_1
"Kau?" Tanya Dave mengeratkan rahangnya.
...~ TO BE CONTINUE ~...