
Satu Minggu Kemudian
"Hei, kenapa wajahmu kusut sekali?" Tanya Arvina tersenyum geli melihat wajah Drick yang tak karuan.
Sudah satu minggu ini Drick mencari Raina kemanapun, bahkan ia mengerahkan hampir semua anggota Dave untuk membantunya. Namun nihil, Raina menghilang seperti ditelan bumi.
"Diamlah!" Titah Drick menahan kesal.
Ia sedang menunggu Dave karena mereka akan mengadakan rapat di markas mereka.
"Aneh." Gumam Arvina kesal.
"Twins." Suara Arzena terdengar memanggil Arvina membuat Arvina menoleh.
"Zena.." Arvina kegirangan dan langsung berlari memeluk kembarannya.
Arzena terlihat lebih berisi dan perutnya sudah mulai terlihat.
"Vina, aku titip istriku di sini sementara. Jika rapat kami selesai, aku akan datang menjemputnya." Pinta Hansen.
"Kau tenang saja adik ipar, aku akan menjaga adikku dengan baik." Ujar Arvina semangat dan langsung memapah Arzena untuk duduk di sofa.
Mereka berbincang kecil sambil menunggu Dave.
Dan tak lama akhirnya yang ditunggu pun turun.
"Baiklah, bisa kita berangkat sekarang?" Tanya Dave sambil merapikan pakaiannya.
Drick dan Hansen mengangguk. Mereka hendak meninggalkan mansion itu.
"Dave." Panggilan Arvina membuat langkah mereka terhenti.
Dave menoleh dan menatap istrinya bingung.
"Kau tidak mau sekedar pamit dengan istrimu tercinta?" Tanya Arvina memasang wajah lucu.
Dave tersenyum gemas dan langsung melangkah lalu memeluk istrinya erat.
"Aku pergi dulu sayang. Jaga dirimu! Jangan nakal!" Titah Dave sambil melepas pelukannya dan mencolek gemas hidung Arvina.
Arvina mengangguk dan memajukan bibirnya.
Dave yang mengerti pun langsung mengecup bibir mungil istrinya.
"Aku pergi sekarang." Pamit Dave dan Arvina mengangguk.
Ketiga pria itu pun beranjak keluar dari mansion.
Arvina dan Arzena kembali berbincang-bincang saling melepas rindu.
"Hei, aku rindu dengan Mom dan Daddy, padahal tadi malam baru menghubungi mereka." Ucap Arvina sambil mengelus perut kembarannya.
"Aku juga. Bagaimana kalau kita melakukan panggilan video?" Usul Arzena.
Arvina mengangguk setuju dan meraih ponselnya untuk menghubungi Zevina.
Panggilan tersambung dan langsung dijawab oleh Zevina.
"Hai Mom, we miss you." Ucap Arzena dan Arvina serentak.
Zevina tersenyum manis di layar ponsel.
"Kami juga merindukan kalian. Kapan kalian akan berlibur ke sini?" Tanya Zevina perhatian.
"Entahlah Mom. Dave dan Hansen sangat sibuk saat ini. Zena juga bilang Hansen juga saat ini dirumah sakit sangat dibutuhkan, belum lagi urusannya dengan anggota Dave." Jelas Arvina memelas.
__ADS_1
"Ya sudah. Datang nanti jika sudah ada waktu." Titah Zevina lembut.
"Oh ya sweetheart, lihat ini siapa?" Zevina mengarahkan layar ponselnya hingga merekam wajah Raina, Jack, Liz, dan Liza.
"Oh my..mereka juga disana Mom? Oh hy kalian semua.." Sapa Arvina bahagia.
Arzena juga tak kalah bahagia.
"Dan kalian tahu, Princess Raina kita akan segera menikah. Dan ini adalah calon suaminya Velano." Ujar Zevina kemudian memutar layar ponselnya ke arah Velano.
"Hai, kak Velano. Oh my, kau tampan sekali." Ujar Arzena.
Velano tersenyum malu-malu.
"Tidak, aku biasa saja. Kalian juga cantik dan manis." Puji Velano kepada kembar itu.
"Kak Velano harus hati-hati, kakak Raina itu sangat garang." Ujar Arvina meledek Raina yang kini berada di samping Velano.
"Tidak masalah, aku menyukai yang garang. Bukankah suami kalian juga begitu?" Ucap Velano kemudian mengecup pipi Raina.
"Hei, apa kalian akan datang saat kami menikah?" Tanya Raina antusias.
"Kami akan usahakan. Semoga saja saat kakak menikah, Zena belum melahirkan." Jawab Arvina.
"Tentu belum. Kami akan menikah dua bulan lagi." Raina menimpali dengan semangat.
Mereka pun terus berbincang dan dari pihak Zevina selalu berganti orang yang memegang ponselnya.
Mereja sangat bahagia bisa melepas rindu dengan keluarga besar mereka.
"Mom, Zena sedang lapar lagi. Aku akan membuatkan Zena makanan." Arvina pamit.
"Baiklah, kalian di sana juga sudah mulai malam kan? Kami disini masih pagi." Ujar Zevina.
Panggilan pun berakhir setelah mereka mendapat ijin.
Arvina kini sedang berkutat di dapur di bantu oleh Amy, sedangkan Arzena ia suruh untuk duduk da. beristirahat di ruang keluarga.
"Nona, aku tidak menyangka pada akhirnya Nona lah yang berhasil menghidupkan kembali sisi Tuan Dave yang telah mati." Ujar Amy sambil memotong sayuran.
Arvina mengernyit bingung.
"Sejak Tuan besar yaitu paman dari Tuan Dave meninggal, Tuan Dave menjadi pribadi yang dingin dan tak tersentuh. Ia menjadi sangat kejam pada semua orang dan berhasil menjadi ketua gangster paling di takuti di negara ini. Namun sekarang Tuan Dave seperti menemukan kembali jiwanya yang lain. Ia menjadi lebih tenang ketika menghadapi masalah, dan juga lebih ceria." Jelas Amy membuat Arvina tersenyum malu.
"Kau bisa saja." Ujar Arvina malu-malu.
"Semoga saja kebahagiaan kalian untuk selamanya." Amy menimpali dengan harapan yang baik.
Mereka pun melanjutkan kegiatan memasak mereka.
Saking serius memasak, mereka tidak sadar Dave dan Hansen sudah kembali.
"I miss you babe." Ujar Dave yang tiba-tiba memeluk Arvina dari belakang.
"Dave, bisa tidak jangan membuatku kaget seperti ini?" Gerutu Arvina kesal.
Dave hanya terkekeh sambil mengecup leher Arvina.
"Dave, nanti saja." Titah Arvina malu karena ada Amy.
Dave tersenyum mendengar perkataan istrinya. Ia pun menurut dan berjalan ke meja makan lalu duduk manis di sana.
Tak lama kemudian Arvina dan Amy menata semua makanan di atas meja.
Mata Dave berbinar melihat semua makanan yang terhidang di depannya.
__ADS_1
"Hei, kemarilah! Istriku sudah memasak begitu banyak." Panggil Dave pada Hansen dan Arzena.
Hansen dan Arzena pun berjalan dan bergabung dengan Dave.
Arvina yang sudah selesai pun ikut bergabung.
"Amy, bergabunglah dengan kami!" Titah Arvina sopan.
"Tidak Nona, aku nanti saja." Ujar Amy tidak enak hati.
"Amy, dengarkan perintah istriku! Sejak dia menikah denganku, dia adalah Ratu di mansion ini dan apapun yang dia perintahkan kalian semua harus menurut!" Titah Dave tegas.
Amy hanya bisa menunduk dan menurut. Sungguh, Amy tidak menyangka bahwa Arvina bisa membawa perubahan untuk Dave.
Makanan yang Arvina dan Amy masak sangatlah banyak.
"Dave, bolehkah yang lain juga bergabung? Semua ini sangat banyak." Tanya Arvina dengan berbisik.
"Eriko, bawa teman-teman kalian untuk makan bersama di sini. Amy, kau juga panggil yang lain!" Titah Dave pada kepala pengawal dan kepala pelayannya.
Eriko dan Amy menurut dan langsung melakukan perintah Tuan mereka. Eriko dan Amy adalah suami istri yang sudah mengabdi di mansion itu sejak paman Dave masih hidup.
Semua pengawal dan pelayan pun bergabung dengan mereka dan menikmati makan malam bersama. Mereka menikmati makan malam tanpa ada batasan antara Tuan dan bawahan. Arvina memperlakukan mereka sama.
Arvina benar-benar memberikan kehidupan untuk mansion yang suram itu.
Selesai menikmati makan malam, para pelayan membersihkan semua yang kotor. Awalnya Arvina ingin membantu, namun Amy melarangnya.
Hansen dan Arzena terpaksa harus pamit pulang karena hari sudah malam dan Arzena tidak ingin menginap.
Dave dan Arvina kini sudah di dalam kamarnya. Dave sedang di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Tanya Dave bingung saat ia keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya terbungkus selimut.
Arvina hanya menggeleng dan tersenyum malu.
Dave segera mengenakan pakaiannya dan naik ke atas ranjang untuk bergabung dengan Arvina.
Dave memaksa Arvina membuka selimutnya.
Saat berhasil dibuka, Dave terkejut karena ternyata Arvina sudah mengenakan lingerie yang sangat sexy.
"Kau ingin itu sekarang sayang?" Tanya Dave menggoda Arvina.
Arvina hanya mematung gugup.
"Tidurlah! Aku tidak akan memintanya sekarang. Nanti saja, aku sudah mengatur jadwal bulan madu untuk kita." Ujar Dave memeluk istrinya.
"Kita akan kemana?" Tanya Arvina penasaran.
"Roma dan kita akan berangkat tiga hari lagi. Kau suka?" Tanya Dave lembut.
Arvina mengangguk semangat.
"Kita bisa bertemu Daddy Derex dan yang lainnya disana." Jawab Arvina bahagia.
Dave tersenyum bahagia melihat istrinya bahagia.
"Terima kasih Dave." Ujar Arvina memeluk erat tubuh kekar itu.
"Apapun untuk kebahagianmu." Balas Dave mengecup kening istrinya.
Mereka pun kembali beristirahat tanpa melakukan apapun.
...~ TO BE CONTINUE ~...
__ADS_1